Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kajian di Masjid Ibadurrahman, Sukoharjo, yang diisi oleh Ustadz Adian Husaini dengan judul 'Pendidikan Guru Keluarga', yang mana beliau menyampaikan ada sekitar lima poin utama yang perlu diajarkan pada anak. Selain lima poin itu beliau juga menceritakan hal-hal lain, mulai dari bagaimana beliau mendidik anak-anaknya, tentang bagaimana beliau menjalankan sekolah yang beliau dirikan demi memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya, dan juga tentang bagaimana pendidikan jaman dahulu dan sekarang. Ada satu hal menarik yang baru saya sadari jauh hari setelah mengikuti kajian tersebut. Bukan tentang apa-apa saja yang disampaikan oleh ustadz Adian Husaini itu, tapi lebih pada beliau. "Gelar Sarjana Kedokteran Hewan diperoleh di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, 1989. Magister dalam Hubungan Internasional dengan konsentrasi studi Politik Timur Tengah diperoleh di Program Pasca Sarjana Universitas Jayabaya, dengan tesis berjudul Pragmatisme Politik Luar Negeri Israel. Sedangkan gelar doktor dalam bidang Peradaban Islam diraihnya di International Institute of Islamic Thought and Civilization — Internasional Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), dengan disertasi berjudul “Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council: A Critical Reading of The Second Vatican Council’s Documents in The Light of the Ad Gentes and the Nostra Aetate”". https://gigihuzaman.wordpress.com/2011/10/29/biografi-singkat-dr-adian-husaini/ Menakjubkan, bukan? maasyaallah. Belum lagi berbagai kajian kitab dan mulazamah guru yang telah beliau lakukan, tentu menambah kekayaan ilmu yang beliau miliki. Namun, sekali lagi, judul kajian yang saya ikuti kemarin adalah 'Pendidikan Guru Keluarga', jauh dari semua titpe pendidikan beliau, meski memang tidak sedikit karya-karya beliau yang menyinggung masalah pendidikan, disamping banyaknya buku beliau yanag bertemakan pemikiran. Selain Ustadz Adian, ada juga ustadz lain yang cukup membuat saya berpikir pula: Ustadz Budi Ashari. Seperti yangsudah kita ketahui, beliau adalah salah satu pendiri serta pembina dari Kuttab Al Fatih, sebuah institusi pendidikan untuk anak usia 5-12. Beliau adalah lulusan terbaik dengan predikat cumlaude dari Fakultas Hadits dan Studi Islam di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Mengkaji konsep dan sistem islam selama enam tahun di sana, lalu pulang ke Indonesia mendirikan kuttab dan memberikan konsep-konsep pendidikan yang berbeda. Hal yang menarik dari dua ustadz yang jelas punya kekayaan ilmu yang berlimpah adalah bagaimana beliau-beliau memberikan perhatian khusus pada dunia pendidikan. Ustadz Adian yang sangat paham tentang berbagai macam pemikiran kontemporer yang tersebar, bagaimana 'Wajah Peradaban Barat', serta Ustadz Budi yang mengerti rantai sejarah dari jaman Rasulullah (bahkan jaman-jaman sebelumnya) hingga perputaran rodanya yang terjadi hari ini; pendidikan (terutama pendidikan keluarga terkhusus anak) menjadi pilihan tema yang senantiasa diingatkan oleh beliau berdua. Seberapa penting kah ia? Ah, barangkali memang pendidikan keluarga adalah langkah pertama dalam menghadapi berbagai masalah yang ada di dunia hari ini, serta sebuah langkah pertama dalam membangun peradaban yang maju, peradaban yang baik untuk seluruh umat manusia. Bukan yang menguntungkan satu pihak atau pihak-pihak yang tertentu saja. Pendidikan keluarga, pendidikan anak, bukan hal yang bisa disepelekan dan sembarang dilakukan bukan? It's not about trial-error, tapi sebuah langkah pertama dalam membangun peradaban yang lebih baik dan lebih maju. Yangmana semua itu dimulai dari mendidik diri sendiri agar menjadi pribadi yang baik dan sholih agar kedepan bisa menyiapkan keturunan yang baik nan sholih pula dan kemudian terus berlanjut melahirkan generasi yang baik dan sholih pula. Kamu, sudah siapkah mendidik dirimu sendiri agar bisa mendidik keluargamu kelak kah? Wallahu a'lam. (11/06/19)















