Jadilah orang yang bermanfaat, bukan orang yang pandai memanfaatkan orang lain. Jangan oportunis dan jangan egois.
Husainspiratif, 2017
seen from Germany
seen from China
seen from India

seen from Singapore
seen from Uruguay
seen from Germany
seen from United States

seen from Brazil

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Germany
seen from Romania
seen from Australia
seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from United States
seen from Poland
seen from Romania
seen from China
seen from China
Jadilah orang yang bermanfaat, bukan orang yang pandai memanfaatkan orang lain. Jangan oportunis dan jangan egois.
Husainspiratif, 2017

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Semoga kita tidak menjadi manusia oportunis, yang menginginkan sesuatu yang paling baik tapi enggan berusaha dan berkerja keras. Semoga kita selalu bersama para pejuang, yang menyadari bahwa kejayaan hanya bisa dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan serta ridho dari-Nya
16. Bangsa oportunis ----- Pict from Tumblr. · · Hampir tiga hari dua malam, di H-3 lebaran, saya sekeluarga terjebak di jalan. Sepanjang 10km hingga kampung ayah saya, kecepatan mobil kurang dari 2km/jam. · Musholla, sekolah, hingga pinggiran jalan jadi alternatif untuk menepi sejenak. Bagian terparah dari kemacetan panjang berlarut-larut adalah pasokan makanan, minuman serta bahan bakar semakin menipis sementara manusianya makin membludak. · Hal yang paling ditakutkan ayah saya pun terjadi, kehabisan bensin dan hampir kehabisan aki. Jika ini terjadi pada kondisi normal, tentu bukan masalah. Tapi, saat itu berbeda. · "Berapa bang?" "Gocap seliter!" "Gila! Lu mau jualan apa ngerampok!" "Terserah deh! Mau apa kagak?! Gue jual lebih tinggi juga masih pada banyak yg mau!" "....." "Pom bensin masih 2kilo lagi dan belom tentu ada bensin disana." · Manusia yang kehausan dan manusia yang memanfaatkan hal yang mereka miliki untuk menjadi oportunis yang rakus adalah pandangan saya saat itu. · Dengan terseok-seok, mengandalkan beberapa liter yang dibeli dari si oportunis yang rakus, mobil kami pun sampai di lima ratus meter sebelum pom bensin. · "Bang, kalo mau kesana jangan lupa bawa dirigen sendiri." Begitu kata salah seorang bapak yang menenteng sebuah dirigen ke mobilnya. · Bukan lagi kendaraan melainkan manusia yang mengantri di dalam pom bensin tersebut. Makian, cercaan, turut mewarnai senja hari saat itu. Polisi pun ikut turun dan menengahi tapi berakhir miris sekali. Satu orang hanya diperbolehkan membeli tidak lebih dari tiga liter dengan alasan, tangki pemasok bensin belum sampai. Di titik itu, kami menyerah. · Si rakyat kecil dan penguasa. Si oportunis berdasi dan oportunis bersendal jepit. Sudah tidak terdapat beda lagi akan kedua subjek itu. · Menyedihkan. Bagaimana mungkin saling maki hanya untuk seliter bensin? Bagaimana mungkin saling libas hanya untuk beberapa liter air? · Mirip. Saya merasa dejavu. Ini seperti saat kau menonton Mad Max: Fury Road. Bahkan jauh lebih buruk. · Bagian buruknya? Ini bukan lagi film. Ini Indonesia. · Dan ini realitas bangsa kita saat ini. · · · #30hbc1716 #30haribercerita #indonesia #madmax #oportunis (at Indonesia)
saya adalah tipikal oportunis yang jejalannya ke gramed, nyatet harga, terus belinya di togamas.
Oportunis
Pengalaman. Ya pengalaman. Itu yang sebenarnya paling aku cari dari berkehidupan di kampus ini.
Selagi masih jadi mahasiswa di kampus yang sudah lengkap sarana dan prasarananya. Kapan lagi bisa memanfaatkan kesempatan seperti ini. Ada waktu dan masih muda juga.
Itu pikirku.
Oportunis yang positif menurutku.
Awalnya masuk unit, gak aktif, cuma dateng kalo lagi perlu atau karena terpaksa gara-gara kuorum, apalagi udah ngerasa lebih asik sama temen-temen sefakultas waktu itu.
Terus masuk jurusan, ikut himpunan. Sebenernya lupa alesan sampai mau ikutan osjur tuh apa, yang jelas banget pasti bikin capek dan ngabisin waktu liburan. Dulu cuma kepengen jadi panitia Gaung Bandung yang menurutku banyak penelitian dan terjun ke lapangannya.
Seru. Pikirku. Himpunan banyak acara 'main' yang bermanfaatnya.
Ketika udah masuk, ternyata isinya, bisa manggil senior pakai nama doang, ke sekre buat ketawa-ketiwi, magang tapi cuman kumpul gak gawe. Kalau dari aku yang (sekarang) kurang suka main, mending di kostan, bisa banyak kegiatan kayak beresin kamar, main hamster, ngenet, ngerawat diri, atau mungkin jalan-jalan keliling kota. Bandung, punya sejuta pengetahuan untuk dipelajari. Mumpung lagi tinggal di sini.
Di saat itu pula, aku ditawari menjadi ketua syukwis di unitku. Konsep telah matang. Tapi acara tidak sesuai harapan, kita orang yang telah aku percaya sebagai kadiv acara justru 'menghilang'. Bukan kesuksesan acara yang aku kejar di sini. Itu adalah acara unitku yang pertama dengan partisipasi calon anggotanya. Di sini aku bukan memikirkan acaraku, bukan memikirkan bagaimana orang menilai hasil kerja acara yang dibuat aku seorang. Tapi bagaimana caranya membentuk karakter anggota baru yang bisa melihat unitku sebagai suatu organisasi yang profesional, memang belum sebenarnya, tapi aku ingin 'mendidik' mereka bahwa ketika mereka masuk nanti akan seperti yang aku harapkan pada acaraku itulah semestinya mereka berkegiatan.
Pagelaran seni dan sebagai konseptor artistik. Bukan alibiku untuk menghilang dari himpunan. Tapi ketika di sana aku bisa bermanfaat bagi pihak lain, buat apa aku lebih memilih bersantai ketawa-ketiwi di sekre himpunanku. Persetanlah disebut karena "sudah mendapat kekeluargaan di unit". Ini adalah pilihan, kekecewaan ketika image yang diberikan ketika osjur berbanding 180 derajat dengan kenyataannya. Apalagi alasan "gengsi sama senior", mudahlah itu.
Dua hasil kerjaku itu yang akhirnya kini membawaku menjadi Presiden sebuah acara, di mana di dalamnya terdapat 3 pre-event yang duanya dilaksanakan di Palembang dan main event. Lebih jauh lagi aku dari himpunanku, bahkan dari angkatanku, bukan karena gengsi, tapi waktu yang kurang. Waktu sebagai alibi. Kesal kadang dengan diriku sendiri ketika ada tanggungjawab di himpunanku sebagai staf intrakampus dan panitia osjur yang terpaksa dikesampingkan. Bukan membedakan prioritas. Andai jadwal kegiatannya bisa aku yang mengatur, kuusahakan mengikuti semuanya.
Aku takut dibilang tidak amanah atau lalai tanggungjawab. Aku takut mengecewakan banyak orang yang sudah aku beri harapan. Aku takut dibilang 'that kind of' oportunis.
Kini, datang lagi sebuah tawaran untuk menjadi salah satu calon ketua acara di kampusku. Kadang aku masih bingung apa pertimbangannya memintaku. Katanya, aku salah seorang yang dipilih, calonnya ada dari beberapa unit lain. Terlebih aku masih minim pengalaman dan tidak punya bayangan apa-apa mengenai acaranya nanti jika dibawa dengan konsep 'baru'.
Imajinasiku harus bermain dulu supaya memiliki konsep untuk Hearing nanti. Kalau buntu, baru aku menolak tawarannya. Maaf sampai sekarang masih menggantung.
Dua quotes yang paling menginspirasiku ialah:
Sering-seringlah berkegiatan di kampus, maka kamu akan menjadi semakin dewasa dengan itu- Kak Mahdi PL'09
Sekarang sudah bukan zamannya lagi memprioritaskan hal. Semuanya penting, tapi bagaimana kita bisa mengatur waktu sehingga semuanya berjalan dan dengan maksimal- Kak Diana AR'09

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
<< bocah yg selalu beda sendiri (bilang aja oportunis sih)
Teman 1 (T1) : gue mau ambil kelas aikido!
Teman 2 (T2) : gue mau ambil kelas craftmaga!
saya (S) : gue mau...........! kalo jalan2 kemana2 bareng kalian biar aman :D
---
T1 : nas, kerjaanlu jalan2 melulu sih
S : iya dong, keliling dunia, dong.
T2 : mau doong keliling dunia, apalagi kalo dibayarin..
T1: ya gw jg mau sih kalo dibayarin.
S : oke, doakan gw supaya cepet sukses sesukses2nya sampe bisa bayarin kalian keliling dunia.
T123456... : .............
Sedih engga sih, orang - orang di sekitar lo, menghubungi lo kalau ada kepentingan pribadinya aja :(
Dito Dewa. Sedih, tapi mau - mau aja. Ikhlas :-)
Pragmatisme itu mendekati Oportunis
Terimakasih