Berbeda dari hari minggu pagi biasanya yang saya isi dengan bermalas-malasan, minggu tanggal 24 Maret kemarin saya isi dengan mengikuti Kajian Ahad Pagi yang rutin diselenggarakan oleh Masjid UI. Kajian tersebut bertemakan "Profil Orang Tua Hebat dalam Al-Quran" yang disampaikan oleh Ustadz Bendri Jaisyurahman.
Sebagai pengantar, Ustadz Bendri mengatakan bahwa kriteria keluarga terbaik adalah memiliki pasangan, anak, dan cucu yang salah/salehah. Ustadz menceritakan bahwa di dalam Al-Quran juga terdapat kisah yang tidak termasuk keluarga terbaik tetapi ada nilai baik yang dapat kita pelajari dari sosok Nabi Adam a.s dan Nabi Nuh a.s.
Nabi Adam a.s tidak termasuk dalam kategori keluarga terbaik karena anaknya yang bernama Qobil merupakan pembunuh pertama di muka bumi. Walaupun demikian, Allah SWT. tetap memilih Adam dan tidak mengecamnya. Mengapa? karena Adam memiliki sifat i'tirof, yaitu sifat selalu mengevaluasi diri, melakukan intropeksi lalu mengakselerasi diri. Contohnya ketika Nabi Adam a.s tergoda oleh rayuan iblis untuk memakan buah khuldi, dan akhirnya Adam menerima ganjaran dengan keluar dari surga, Adam tidak menyalahkan iblis (tidak mengatakan bahwa apa yang dilakukannya karena bujuk rayu iblis), tetapi Adan mengevaluasi diri bahwa mungkin keimanannya yang harus diperkuat agar tidak tergoda kembali.
Kisah tersebut menjadi teladan ketika kita kelak menjadi orang tua. Ketika anak lebih suka main games atau lebih dekat dengan pembantu dibanding dengan orang tuanya, sebagai orang tua sudah sepatutnya kita melakukan intropeksi diri: apakah perhatian yang diberikan kurang, komunikasi dengan anak sangat minim, atau ada pelajaran yang belum diberikan kepada anak. Orang tua tidak boleh sepenuhnya menyalahkan anak tersebut atau bahkan memarahinya.
Selanjutnya adalah Nabi Nuh a.s yang juga tidak termasuk keluarga terbaik. Hal tersebut karena istri dan anak Nabi Nuh a.s adalah seorang kafir. Lalu apa yang bisa kita teladani dari Nabi Nuh a.s ? ISTIQOMAH. Nabi Nuh a.s tidak pernah putus asa dalam berdakwah kepada keluarganya. Walaupun istri dan anaknya durhaka kepadanya, Nabi Nuh a.s tetap sayang dan selalu mengajak keluarganya untuk berjalan di jalan Allah SWT. Ustadz menegaskan bahwa proses lebih utama dibandingkan hasil. Walaupun istri dan anaknya kafir, Allah SWT. tetap memilih Nabi Nuh a.s.
Kisah tersebut juga menjadi teladan bagi orang tua untuk terus berjuang dalam mengasuh dan memberikan kasih sayang terbaik untuk anak-anaknya. Memiliki anak yang soleh/solehah merupakan kehendak Allah SWT. tapi sebagai orang tua sudah sepatutnya berikhtiar membentuk anak-anaknya menjadi anak-anak terbaik karena proses pembentukan tersebut merupakan amal baik yang akan dihisab kelak. Dan dari sosok Nabi Nuh a.s mengingatkan kita untuk menjadi orang tua yang Ulul Azmi, yakni orang tua yang memiliki keteguhan hati.
Sekian ya ringkasan materi yang saya dapatkan dari Kajian Ahad Pagi Masjid UI kemarin. Semoga bermanfaat dan Allah SWT. ridhoi kita untuk menjadi keluarga terbaik dan orang tua hebat bagi anak-anak kita nantinya. Aamiin... :)