Is He/She The One?
. Tidak lama setelah menikah, saya dihadapkan dengan "kasus" perceraian seseorang beberapa bulan setelah mereka taaruf. Iya memang, taaruf tak menjamin hubungan suami istri akan langgeng. . Waktu itu, saya nanya ke suami, "Padahal prosesnya sudah benar lewat taaruf, kenapa bisa cerai ya?" Jawabannya, "Wallahu a'lam, barangkali ada niat yang keliru di awal, atau ada proses dalam taaruf yang tidak terjaga, atau memang itu ujian saja untuk beliau. Banyak yang harus diintrospeksi." . Whuaaah jleb! Tak semuanya yang katanya taaruf, menjalani proses sesuai syariat Allah :"" . Kalau ada yang tanya ke saya, "Gimana ya caranya kita bisa yakin bahwa dia pasangan yang benar-benar baik dan tepat untuk kita?", jawabannya: wallahu a'lam, tugas kita hanya berusaha melalui prosesnya sesuai tuntunan Allah dan RasulNya. . Kita mungkin tidak akan pernah benar-benar yakin bahwa she/he is the one, tapi bagi saya yang terpenting adalah prosesnya harus benar. Ibarat penelitian, gimana biar hasilnya valid? Asalkan prosedur penelitian ditempuh dengan benar, maka hasil penelitian akan dianggap valid dan benar. . Maka dalam langkah menuju pernikahan, perhatikan dan jaga setiap prosesnya, jangan sampai ada hal yang tidak Allah ridhai dan akan mengurangi keberkahan pernikahan. Teruuus mendekat ke Allah, minta pada Allah, "Jika dia memang baik untuk masa depanku, baik untuk agamaku, baik untuk dunia dan akhiratku, maka mudahkan kami untuk bersatu ya Allaah... Tapi jika dia tidak baik menurutMu, maka jauhkan ya Allah, gagalkan dengan cara-Mu ya Allah.." . Kalau di tengah jalan Allah tunjukkan keburukannya, ya jangan diteruskan, itu juga salah satu bentuk ketaatan kan? Jangan ngeyel thoo.. . Masa-masa pemilihan pasangan, harus netral, harus berserah, harus taat. Katanya mau membangun pernikahan yang Allah ridhai dan berkahi, tapi melalui proses yang Allah tidak ridha, atau dinodai hal-hal yang mengurangi keberkahan, ya terus gimana kita mengharap berkahnya dong?











