Sebenarnya, keresahan lama sih. Ga tertarik lagi ngomongin yang begituan. Tapi, kejadian pagi itu buat aku pengen lagi nulis. Mungkin bukan buat teman-teman mahasiswa. Tapi, diri sendiri. Takut, ikut terhanyut dengan budaya belajar yang buruk seperti ini. Tulisan ini tak lebih dari self reminder.
Ada perbedaan mendasar antara 'ilmu/science/ilmu pengetahuan dan ma'lumat/knowledge/pengetahuan.
Salah satunya adalah kedetailan.
Misal, kita sama-sama tahu kalau sebuah gabus jika dilemparkan ke air akan mengapung. Tapi, ilmu fisika memaksa kita menghitung berapa gaya apung gabus tadi dengan cara menghitung volume × massa jenis air × grafitasi. Rumit kan ya?. Yang pertama adalah maklumat. Yang kedua adalah ilmu.
Jadi, tabiat ilmu itu adalah kedetailan dan kerumitan. Oleh karenya, ilmu itu sulit. Kalau kamu belajar sebuah ilmu tapi kok gampang kali, kamu patut curiga, ini ilmu atau maklumat ?
Kadang aku merasa, kita perlu berterimakasih kepada guru-guru killer. Guru killer itu, ketika mengajar, menjelaskan sampai ke detail-detail kecil. Menyebut banyak istilah-istilah ilmu. Ketika buat soal, soalnya sulit. Ya karena namanya ilmu memang harus sulit. Cara mengajar dan jenis soal ini yang membuat ilmu tampak berwibawa di depan mahasiswa. Mahasiswa menjadi haus ilmu dan tertuntut untuk berusaha lebih.
Guru-guru seperti ini tak salah sama sekali. Karena ia sedang berusaha memenuhi hak ilmu.
Dan orang yang membuat ilmu itu tampak gampang, sebenarnya sedang menipu. Termasuk juga ketika membuat soal, soalnya gampang. Bahkan orangg yang cuma baca ringkasan saja bisa lulus. Akibatnya, mahasiswa cenderung meremehkan ilmu, ga mau berusaha lebih, mencukupkan diri dengan ringkasan-ringkasan buku.
Guru-guru seperti ini yang zolim teradap ilmu.
Coba kita pikir, apa sih arti dari universitas/jamiah/university itu? Apa arti mahasiswa itu? Kalau kita masih berharap yang gampang-gampang saja, mending ga usah kuliah. Ngulang SMA sekali lagi kayaknya lebih cocok.
Kejadian tadi pagi itu buat aku bertanya-bertanya,
"Apakah budaya belajar seperti ini di fakultas ini aja atau di banyak fakultas.? Di univ azhar aja atau di banyak univ. Mesir.? Di mesir saja atau semua negri arab?"
Satu lagi yang mengherankan, gedung kuliah di buat dengan biaya milyaran. Tapi kok cuma digunakan untuk ujian?
Budaya belajar di Universitas Azhar sering membuatku terheran-heran. Ini yang membuatku berpikir dua kali untuk lanjut S2 di Azhar.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Selagi Masih Muda (part 1) . Sekolompok pemuda memilih untuk tetap mempertahankan imam mereka ditengah kejaran penguasa durjana. Pilihannya hanya 2, jika ingin selamat maka tinggalkan iman dan tauhid kalian , jika tidak nyawa melayang . Namun mereka memilih unuk tetap beriman , lari dari kejaran sang raja durjana hingga sampailah mereka ke dalam sebuah goa, mereka pun tertidur di sana. . 309 tahun sudah waktu berlalu , musim berganti, bilangan tahun bertambah, generasi telah berubah . Dalam kehatia-hatian salah seorang dari mereka keluar untuk membeli makanan, uang yg mereka miliki tidak lagi digunakan, penjual heran kenapa orang ini memiliki uang yg digunakan di era raja durjana yg telah binasa. Akhirnya diketahui bahwa mereka adalah beberapa orang yg dulu lari dari kerajaa. Raja durjana untuk menyelamtkan iman mereka, sekarang mereka dapati semua penduduk disana sudah beriman kepada Allah SWT. . bagi orang beriman selalu ada jalan keluar yang Allah berikan dari setiap permasalahan. . Dia lah Allah yang telah memberi rezki kepada Siti Hajar dan bayinya di lembah tandus yang tak ada kehidupan. . Dialah Allah yang telah menyelamatkan Nabi Yusuf AS ketika saudara2nya melemparkannya ke dalam sumur . . Selagi muda, tempalah diri untuk menjadi muslim sejati, belajarlah tanpa kenallelah untuk menggali potensi diri kemudian memberi kontribusi untuk Agama ini. . #renunganmalam #renungankita #pengingatdiri #selfreminder #masisir #instamasisir #cairo #alexandria #superstory #abdanstory #pemudakahfi (di Cairo, Egypt)
Kalau menghubungi orang tua, kamu lebih suka video call atau voice call?
Survei membuktikan, 99% anak rantau memilih menggunakan video call
Namun tampaknya, aku ini 1% di antara suara mayoritas. Bukan sok-sokan mau jadi yang berbeda, atau jadi yang langka. Tapi itulah fakta. Aku jauh lebih memilih voice call ketika menghubungi orang tua.
Why??
Entahlah, aku hanya merasa lebih nyaman. Merasa lebih tenang dan fokus mendengar cerita umi, juga wejangan abi. Apalagi mendengar tawa canda adik-adik kecil. Ahh, rasanya itu.. seperti diri ini hanyut tenggelam dalam atmosfer rumah yang hangat. Hangat sangat.. Seakan diriku ada bersama mereka. Melebur dalam meja makan ruang keluarga. Berbincang apa saja yang baru saja kita jumpai di jalanan. Ah, jadi makin rindu saja.
Dan lagi.. Aku tidak bisa. Atau lebih tepatnya, sulit untuk melepas rindu yang menggelayut dalam jiwa. Sehingga diri ini tak kuasa membendung air mata, ketika mendengar suara sanak keluarga, apalagi orang tua. Suara doang log, bukan video. Lebay dikit gapapa lah ya~ toh, yang aku rasakan memang begitu.
Nah, oleh karenanya, berat rasanya jika menghubungi mereka dengan video call. Kenapa? Karena aku pasti akan menangis. Atau setidaknya, berkaca-kaca menahan tangis sebab aku yang sok-sokan kuat gitu deh. Tapi ya, memang yang aku maunya begitu. Aku enggan terlihat sedih di mata mereka. Bukan apa-apa, aku tak mau beban mereka bertambah setelah melihat ekspresi sedihku atau tetesan air mataku. Cukuplah mereka tahu di sini aku bisa tersenyum sebagaimana dulu aku di samping mereka.
Judul ini aku temukan di El-Asyi, sebuah majalah mahasiswa Aceh di Mesir. Di kolom ini mereka mengajukan beberapa pertanyaan terkait pernikahan ke beberapa senior yang sudah menikah.
Namun, ketika membaca jawaban-jawabannya, aku merasa kurang puas. Jawaban mereka terlalu klise. Tak ada sesuatu yang baru atau prespektif lain. Maka, sambil berkhayal diwawancarai dengan pertanyaan-pertanyaan itu, aku akan coba mengajukan jawaban dari prespektif lain:
1- Menurut Anda bagaimana cara kita memilih pasangan yang benar dan tepat?
Pertama kali kita harus tahu dulu tujuan menikah. Karena kriteria tergantung tujuan. Nah, menurut saya tujuan menikah itu dua:
Pertama, untuk diri kita sendiri.
Kedua, untuk keturunan kita.
Tujuan pertama berarti tujuan fitrah manusia yaitu kebutuhan biologis dan psikis. Maka, carilah yang nyaman Anda pandang (paras). Kemudian carilah yang karakter sesuai dengan Anda.
Saya tidak ingin munafik ketika mengatakan carilah menurut paras dahulu, baru yang lain. Karena salah satu tujuan menikah memang ini kan? Buktinya nabi bersabda yang artinya,
“wahai pemuda, barangsiapa yang sudah siap, maka menikahlah! Karena itu lebih membantu untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.”
Kemudian, setelah itu carilah karakternya sesuai dengan Anda. Dan ini menurutku alasan terbesar manusia menikah yaitu menemani jiwa yang sepi. Bukankah Hawa diciptakan lantaran Adam merasakan sepi? Padahal ia hidup dalam kenikmatan surga...
Tujuan kedua berarti tujuan peradaban. Saya sebut peradaban karena narasi yang harus dibawa memang harus sebesar dan semuluk itu. Mencari pasangan berarti mencari orang yang Anda ingin membangun peradaban bersamanya. Kualitas lahan dan bibit berbanding lurus dengan hasil panen. Kebaikan orangtua menentukan kebaikan keturunan. Persis seperti pepatah,
“apel jatuh tak jauh dari pohonnya”
Berbicara peradaban berarti berbicara aktor-aktornya yaitu manusia. Ketika berbicara tentang manusia, maka takkan lepas dari pendidikan. Dan pendidikan menyasar dua hal inti pada manusia: kognitif dan afektif.
Perlu diingat bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Pendidikan dari orangtua lah yang membentuk alam bawah sadar anak. Maka, ketika memilih pasangan, kualitas pendidikan (kognitif dan afektif) pasangan termasuk jadi pertimbangan penting.
Saya tidak bilang setiap sarjana sudah pasti berpendidkan. Ini dia masalahnya, kita temukan tak semua sarjana yang mampu berpikir kritis, logis, rasional. Atau tak semua sarjana punya keterbukaan pikiran dan kerendahan hati. Entah itu masalah sistem pendidikan kita yang bobrok atau gimana, yang pasti gelar sarjana tak menjamin seorang berpendidikan.
Ketika mencari pasangan, carilah pasangan yang berpendidikan. Artinya, dia memiliki kualitas kognitif dan afektif yang bagus. Kualitas kognitif seperti kemampuan verbal, kemampuan berpikir logis, sistematis, kritis dan problem solving. Kemudian, kualitas afektif seperti keterbukaan pikiran, kerendahan hati, disiplin, ulet.
Gimana cara mengetahuinya? Salah satu cara yang saya temukan adalah dengan melihat jurusan, asal kampus, riwayat organisasi dan nilainya di kuliah. Pokoknya gimana kondisi dia di kampus.
Seperti nge-hire calon karyawan bukan? Ya, mau gimana lagi, kita tidak bisa menilai kecuali dari zahir. Kita takkan sanggup untuk merasakan dulu hidup beberapa tahun dengan setiap manusia di dunia ini (baca:pacaran) agar mengetahui kepribadiannya. Bahkan, orang yang sudah pacaran enam tahun aja, ketika menikah mereka mengaku masih sering terkejut dengan perilaku pasangan mereka yang baru mereka temukan ketika menikah.
Akhirnya usaha terjauh adalah menilainya secara zahir. Misal, nilai IPK di kampus biasanya menunjukkan seberapa baik sifat tanggung jawab dan disiplin seseorang. Di sini kita sudah bisa nilai afektifnya. Tapi, nilai sering ga menunjukkan kualitas kognitif seseorang.
2- Mengapa Anda memutuskan menikah?
Karena saya belum menikah maka pertanyaannya akan saya ubah sedikit menjadi:
Kenapa Anda menikah? Dan apa yang membuat Anda akhirnya memustuskan untuk menikah?
Dulu saya pikir menikah hanya akan menambah beban. Karena kalau bisa hidup sendiri kenapa harus menikah? Menikah menurutku hanya menambah masalah baru dalam hidup. Bayangkan saja, masalah Anda sendiri aja belum beres, trus mau nambah masalah baru!?
Tapi, baru-baru ini saya menyadari bahwa jiwa secara fitrah membutuhkan pendamping. Bahkan hal ini saya rasakan ketika masalah hidup semakin berat. Saya merasa butuh pada seorang yang pelukannya menghilangkan ketakutan. Tatapannya meneduhkan hati yang gelisah. Saya ingin hidup ini dijalani berdua. Kata pepatah, “jika engkau hendak menempuh perjalanan pendek, maka pergilah sendirian. Namun, jika perjalanan panjang, maka pergilah bersama!”
Tapi, hal yang membuat saya akhirnya memutuskan unutk menikah belum terpenuhi. Yaitu berupa kematangan mental dan finansial. Dua hal ini menurut saya harus terpenuhi bagi seorang yang ingin menikah.
3- Apa yang membuat Anda yakin dengan pasangan Anda?
Kalau sudah terpenuhi kriteria yang saya sebut sebelumnya.
4- Apa visi misi Anda menikah?
Seperti yang saya sebut sebelumnya, visi menikah ada dua yaitu visi pribadi dan visi peradaban.
Visi pribadi adalah untuk memenuhi kebutuhan biologis dan psikis. Sedangkan visi peradaban adalah untuk melahirkan keturanan yang berpendidikan.
5- Bagaimana cara Anda memelihara dan menjaga pernikahan hingga ke surga?
Rumah tangga langgeng karena adanya jalinan komunikaasi yang baik antar pasangan, saling memahami dan mampu meredam ego masing-masing.
Sebenarnya, dalam hubungan apapun itu, baik persahabatan, pertemanan, pernikahan atau bahkan hubungan antar komunitas, ada satu hal yang menjamin sekaligus menghancurkan hubungan. Yaitu kemampuan mengatur ego. Pertengkaran dan perselisihan selalu bermula dari salah satu atau kedua pihak memaksakan egonya. Tidak ingin memahami sudut pandang lain. Inilah yang membuat suatu hubungan retak.
Sebaliknya, ketika masing-masing pihak mampu mengendalikan egonya dan berusaha memahami pihak lain, maka suatu hubungan akan terjaga.
6- Apa yang harus dilakukan jika belum menemukan teman ke surga?
Seperti yang dikatakan ustzh. Mutzatul Armi, Lc bahwa boleh jadi pintu-pintu kebaikan lebih banyak terbuka sebelum, sesudah atau tanpa pernikahan. Aku setuju dengan beliau. Pasti ada beberapa kondisi kita berubah 180o . Seperti pembagian waktu, pikiran, tenaga dan keuangan.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan ketika sudah menikah yang tidak bisa kita lakukan saat sebelum menikah. Begitu juga banyak hal yang bisa kita lakukan di saat sebelum menikah yang mungkin di saat menikah Kita ga bisa lagi melakukannya. Jadi, manfaatkan masa jomblo Anda sebaik-baiknya!
Di saat jomblo ini kita bisa mempertaruhkan segalanya tanpa dibayangi ketakutan. Eksplorasi hal-hal baru, Keluar dari zona nyaman dan lain-lain. Berbeda ketika sudah menikah nanti. Kita sudah punya tanggung jawab terhadap orang lain. Ada hidup orang yang bergantung dengan hidup kita. Setelah menikah kita pasti ga bisa seenaknya keluar dari comfort zone. Malah kita berusaha gimana hidup selalu dalam comfort zone. Daerah-daerah eksplorasi kita menjadi terbatas ketika sudah menikah.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pernah ga kalian merasa ngantuk level dewa setelah lama baca Qur'an ataupun dengerin temen baca Qur'an?
Aku selalu ngerasa ngantuk kalau murojaah ataupun tasmi' temen"..
Pdhl baru 4 juz, kantuknya kuar biasa pdhl udh berkali" ganti posisi duduk..😪
Jadi ingat dulu waktu bimbingan testing timur tengah, guruku suka berbagi pengalamannya menghafal, beliau murojaah setiap sholat fardhu dan setelahnya 5 juz.. berarti 25 juz perhari 😱
MasyaaAllah.. emang keren banget tu ust 😣
(Ya.. kifikir dia org paling keren di dunia🤣) 👈 abaikan
Tapi ternyata setelah tiba di bumi kinanah, Masyayikh disini standby duduk d kursi dengerin kita murid"nya tahfidz dan tahsin dr pagi jam 9 sampe malam hbs isya.. bukan cuma di satu tempat doang, tapi di semua markaz tahfidz..
(di Mesir kan banyak banget tuh markaz tahfidz lgsg ke syeikh qiroat bersanad)
Duduk anteng ga ada kantuknya
Kata kakak" kelasku, istirahat para Masyayikh ya memang dengan Qur'an..
(Persepsiku berubah. ternyata banyak org keren di dunia 😂 jd silau) 👈abaikan
(emang beda jauh lah maqomnya sama aku😥)
Tapi ya cukup memberiku pelajaran, kalau Al Qur'an sudah mendarah daging, duduk bersamanya berjam" justru lebih nikmat dan nyaman daripada tidur..