Dalam diam disudut pojok kenangan, aku memikirkan tentang berbagai macam hal yang terjadi dalam kehidupan. Kadang pula aku mengkhawatirkan tentang diriku sendiri. Bagaimana tentang aku di masa depan nanti?
Terlintas, aku melihat sesuatu yang begitu nyata dihadapan.
Tentang dia yang dulunya begitu taat ternyata kembali mengulang maksiat.
Memang betul, tidak ada yang menjamin hati. Begitupula tidak ada yang bisa menjamin tentang kita di masa depan nanti.
Tapi bukankah kita punya pilihan atas apa yang akan terjadi kedepan? Saat orang yg berbuat maksiat ingin taat, justru kenapa, kita yang sudah Allah pilihkan hidayah untuk membaik malah mundur seketika.
Tentang dia yang begitu menjaga, kini seperti terperdaya.
Memang benar, istiqomah bukan hal yang mudah. Banyak rintangan yang pasti menjadi penghalang. Namun, kenapa tidak meluaskan saja syukur? Diantara banyaknya hamba, kita yang Dia izinkan untuk kembali ke jalanNya.
Tentang dia yang dahulu penuh semangat, perlahan melayu dan meragu.
Kenapa tak dinyalakan saja lagi api semangat itu agar tetap membakar? Bara masih tersedia dan air belumlah menjadi satu-satunya pilihan untuk memadamkan.
Tentang dia yang hatinya kalut dan ingin berbalik arah.
Kenapa begitu saja menyerah? Bukankah sudah banyak pengorbanan yang berhasil dilalui untuk sampai di titik ini?
Aku masih terus berpikir, tentang dia.
Tentang dia, sosok didalam cermin dihadapanku.
Sosok yang kerap kali membuat bingung dan mengecewakanku. Sosok yang perlahan berubah tak ku kenali.
I&G II Sudut Kehilangan, 6 Januari 2021.