di antara tahun yang hampir usai ✨
Di antara tahun yang hampir usai, aku belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus seperti peta. Kadang ia bergerak melingkar, menyisakan jejak-jejak kecil yang kita kira sudah hilang, tapi diam-diam masih mengikuti langkah kita dengan cara yang lembut dan agak menyakitkan.
Ada hari-hari yang terasa seperti kabut menghalangi pandanganku, membuat segalanya tampak samar dan jauh. Ada juga hari-hari yang justru terlalu terang, hingga aku menutup mata karena cahaya yang datang terlalu cepat, terlalu jujur.
Di tengah semua itu, aku menyadari bahwa tidak semua kehilangan datang untuk mengosongkan hidup kita. Beberapa hadir sebagai ruang baru, tempat hal-hal lain tumbuh perlahan meski awalnya tidak kita kehendaki. Kadang kehilangan itu sendiri adalah cara dunia menunjukkan bahwa kita telah berjalan terlalu lama membawa sesuatu yang bukan milik kita lagi.
Dan lucunya, di antara segala hal yang pergi, ada juga hal-hal yang tetap tinggal— entah sebagai rasa, entah sebagai ingatan kecil yang hangat, entah sebagai sesuatu yang tak bisa kulukiskan, tapi tetap menemani melewati malam-malam panjang yang sunyi.
Aku tidak menyebutnya takdir. Mungkin hanya kebetulan yang terlalu lembut untuk disebut kebetulan, atau pertemuan yang terlalu tenang untuk disebut kebahagiaan. Sesuatu yang berdiri di antara “pernah” dan “ingin lagi,” tanpa tergesa menuntut jawaban.
Tahun ini mengajariku banyak hal dengan cara yang tidak selalu manis. Ada patah yang datang tiba-tiba, ada luka yang menuntut perhatian, ada kelelahan yang membuatku duduk tanpa tahu apa yang sebenarnya kucari. Tapi dari semua itu, aku belajar bahwa bertahan kadang adalah bentuk keberanian yang paling sederhana. Bahwa hati yang lembut juga bisa kuat dengan caranya sendiri.
Dan ketika tahun berganti, aku ingin membawa satu hal saja: keyakinan bahwa tidak apa-apa jika aku belum tahu semua jawabannya. Tidak apa-apa jika beberapa hal tetap samar, tetap menggantung, tetap menunggu waktu yang lebih baik untuk didefinisikan.
Yang penting, aku terus berjalan— meski pelan, meski dengan hati yang sesekali goyah. Karena dunia ini, di balik segala tragedi kecilnya, masih menyimpan banyak hal baik yang sedang menunggu untuk kutemukan.
Dan mungkin, hanya mungkin; tahun berikutnya akan menjadi ruang di mana semuanya akhirnya terasa lebih masuk akal. Lebih lembut. Lebih jujur. Lebih seperti rumah.


















