Cinta adalah perasaan yang lumrah. Ada pada tiap-tiap diri manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Tanahnya lah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah pengkhianatan, kepalsuan, kesewenang-wenangan. Tapi jika ia jatuh pada tanah yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, serta budi pekerti yang tinggi. Jika cinta telah diizinkan tumbuh di hati kita, terikat setia pada tali pernikahan, rawatlah ia untuk tumbuh lebih berarti. Jatuh cinta tak terlalu sulit, follow up cinta lah yang jauh lebih sulit. Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan dari diri kita sendiri yang kita temukan di dalam dirinya. Setelahnya, dalam pernikahan, cinta tak pernah meminta. Ia senantiasa memberi. Cinta terkadang membawa penderitaan. Tapi ia tak pernah mendendam, tak pernah membalas dendam. Dimana ada cinta, disitu ada kehidupan dalam keluarga kita. Manakala muncul kebencian di sana, itulah awal kesengsaraan keluarga kita. [Tony Raharjo - Inspirasi Keluarga MQFM]