Perumpaannya adalah sebuah tombak yang menusukkan racun ke dalam tubuh yang beraga ini. Mengimlementasikannya pun memerlukan sebuah konseptualisasi dari berbagai arah. Mengikuti arah anginpun bukan sebuah jalan keluar bagi kita kaum kaum proletar. Hanya mengikuti apa yang mereka inginkan dan kebebasan kitalah yang menjadi acuannya. Tak tahukah apakah kita sedang di bodohi, di perbudak, atapun di hikmahi. Hanya mencari jalan keluar dan pertolongan Tuhan menjadi tumpuannya.
Dunia yang nyata sungguh tak bisa diketahui. Apakah yang kita rasakan dikonstruksikan oleh kategori-kategori internal mental. Bergulat dengan pertanyaan yang sama dan berkesimpulan bahwa kita hanya dapat mengetahui realitas melalui metode pengasingan dan dengan bantuan Tuhan. Dengan segala segenap daya upaya kita dapat mengetahui dunia tetapi akhirnyapun kita hanya dapat terpaku pada pandangan itu.
Sebuah keaslian yang tak tahu keabsahannya. Meremehkannya pun tak bisa dan meninggikannya pun terlalu berlebihan. Benarkah semua itu dapat kita interpretasikan? Sungguh sulit menyimpulkannya karna tak tahu ada siapa disana. Bertumpu dan terus bertumpu pada hal maya yang tak terkontrol di mata borjuis. Salah benarnyapun hanya Tuhan yang tahu.
Pada akhirnya, pertanyaannya pun adalah, “Apakah kita dapat berupaya dengan gigih, melihat kampung kita yang sebenarnya, ataukah kadar dari pengalaman kita dalam raga ini bersifat mental, tersusunkah dari sesuatu yang tampak?” Jadi, adakah seseorang disana?