Dunia sejak awal memang sudah kacau, perang, penindasan hingga penghinaan terjadi dimana-mana. Namun semua itu semakin parah dengan adanya sosial media.
Ra, aku tau teman-temanmu disana pasti sering sekali bercerita padamu kan kalau mereka sedang ada masalah? Tapi jangankan mereka Ra, aku pun sering seperti itu. Bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak ku pedulikan pun aku selalu mengeluh padamu. Mengeluh tentang bagaimana manusia itu bertindak dengan seenaknya, berbicara semaunya, menipu kawannya bahkan menipu diri mereka sendiri.
Sebenarnya aku ingin sekali tidak peduli pada apa yang ada di dunia ini lagi Ra, sudah terlalu banyak kekecewaan yang sebenarnya bukan salah orang lain namun salahku sendiri yang terlalu banyak harap. Tapi Ra, setidak peduli apapun manusia mereka hanya mencoba mengelak dari kenyataan.
Akupun sedang berusaha mengelak dari kenyataan-kenyataan pahit dengan cara menyalahkan orang-orang yang tak sependapat. Hanya saja semua itu ku simpan sendiri Ra, tak ingin ku umbar pada dunia bahwa aku membencinya. Tak ingin diketahui mereka yang ku salahkan karena takut akan menyakiti perasaan.
Sekarang ini mudah sekali orang-orang itu menuliskan sesuatu untuk mengomentari kejadian dengan maksud yang buruk, atau mungkin maksudnya baik namun caranya yang buruk. Kemudahan teknologi semakin membuat orang-orang ini melampiaskan kekesalannya dengan seenaknya sendiri. Menuangkan cuka pada luka orang lain. Mungkin mereka ingin sekali melupakan lukanya sendiri dengan membuat orang lain lebih terluka. Dengan melihat orang lain lebih terluka mungkin akhirnya mereka bisa sedikit lega karena yang merasa sakit bukan hanya dirinya namun juga orang lain yang bahkan tak dikenalnya.
Beberapa hari yang lalu aku menemukan hal yang lucu Ra di sosial media. Tentang berdebatan orang-orang perihal bersyukur atas kesedihan orang lain. Ada mereka yang berkata bahwa bersyukur diatas kesedihan orang lain adalah cara kita lebih merendahkan orang lain, ada pula yang berkata bersyukur dengan menengok orang yang memiliki kesedihan itu tak apa-apa, bahkan itu cara terbaik katanya. Tak usah ku jelaskan padamu kan aku berada dipihak yang mana? Kau tau sendiri aku tak pernah berani memihak, biarkan mereka percaya dengan keyakinannya masing-masing.
Yang selalu ku pertanyakan begini Ra, apakah memang sepantasnya kita mengumbar dan memposting komentar kita di jagat maya? Bukankah lebih baik kita simpan sendiri apa yang tidak kita sukai agar orang lain yang awalnya biasa-biasa saja juga tidak tertarik dan akhirnya tidak ikut membenci apa yang kita tidak sukai itu.
Aduh Ra, dunia semakin kacau dengan adanya sosial media. Orang-orang merasa bebas berpendapat, merdeka menyampaikan sesuatu yang ia suka dan apa yang ia tidak sukai. Tapi sekali lagi, manusia tempatnya lupa, mereka lupa bahwa kebebasan mereka pun terbatas. Kebebasan kita terbatas dengan kebebasan orang lain, makhluk lain dan dunia itu sendiri.