Menik dan Ina sedang asyik ngerujak di rumahnya, sembari sesekali nyeruput es degan. Mereka nampak gembira, santai dan nikmat. Tiba-tiba muncul Rudi yang baru pulang dari sekolah. Melihat kakak dan adiknya asyik makan rujak, langsung saja nimbrung. Masih mengenakan seragamnya, ia buru-buru melepas sepatunya. Lalu ikut menyerbu rujak itu.
Tapi kemudian suasana nikmat dan menyenangkan itu jadi rusak. Menik dan Ina tiba-tiba merasa mau muntah. Kemudian kedua cewek itu ngomel. Bukan karena keberatan rujak mereka dihabisi Rudi. Kalau kedua hidung mereka kembang-kempis, sama sekali bukan kepedesan terlalu banyak makan sambal. Sama sekali bukan itu penyebabnya. Melainkan karena bau sepatu Rudi yang rasa busuk, badek, menyengat. Ini memang salah Rudi, menaruh sepatu bau badek sembarangan. Kontan kedua cewek itu mulutnya ānyeplosā nggak karuan.
āSepatu busuk jangan ditaruh di dekat sini. Bawa ke gudang sana atau direndam air sabun,ā maki Menik.
Ina pun segera nyahut, ā Mbok ya kalau sepatu tiap hari dipakai, sekali tempo dicuci biar nggak bau. Tiga hari atau seminggu sekali kek. Jangan dibiarin busukā.
Memang ini masalah sepele. Tapi sering kali merusak suasana. Dampaknya melebihi yang ditimbulkan bau kentut. Bau kentut saja sudah cukup membuat orang lain berkomentar tak enak atau lebih ngeri lagi, ngomel. Padahal dalam waktu yang tak lama, bau kentut akan hilang dengan sendirinya. Sedangkan bau sepatu busuk akan tetap menusuk-nusuk hidung selama masih dekat dengan sumbernya. Anehnya hal ini sering terlambat disadari oleh si empunya sepatu. Karena yang pertama kali mencium bau tak sedap ini malah orang lain.
Masih untung hal ini cuma di rumah. Sebab bisa mungkin masalah ini terjadi di tempat lain, di kantor, atau di sekolah, misalnya.
Di kantor
Sebenarnya kurang sopan bila seorang pegawai di kantor bertelanjang kaki, terutama pada jam kantor. Bisa jadi akan dicap sebagai pegawai yang tak disiplin. Apalagi kalau pas ada tamu, akan menimbulkan nilai kurang terhadap kantor perusahaan di mata si tamu tersebut.
Tapi kelakuan tak baik ini dilakukan Kirno. Sebagai petugas lapangan mungkin tak betah, karena rasa panas, bila seharian bersepatu. Begitu masuk kantor, langsung lepas sepatu. Terus enak saja meneruskan pekerjaan kantor, meski keringatnya masih ādleweranā. Sementara hidung teman-temannya mulai bersungut-sungut. Suasana kerja yang semula enak jadi rusak setelah kehadiran Kirno. Karena diam-diam sepatu Kirno yang baru dilepas masih dalam keadaan lembab dan berkeringat mulai menyerang hidung teman-temannya.
Kirno sendiri, si empunya sepatu busuk, baru menyadari dan merasakan bau itu setelah teman-temannya saling ngomel. Apalagi ada teman putrinya yang terpaksa lari ke belakang karena mau muntah yang disebabkan bau itu.
Seharusnya kita tak sembarangan mencopot sepatu kalau sekiranya bisa menimbulkan bau. Melepas sepatu saat menghadapi pelajaran di sekolah, juga tak baik. Bisa mengganggu konsentrasi belajar teman-temannya.
Sepatu yang jarang dicuci/ dibersihkan akan menimbulkan bau. Di musim penghujan, sepatu yang basah akan mudah menimbulkan bau yang tak sedap. Kalau tak segera dicuci, akan membusuk. Bisa dibayangkan baunya. Kalau hal ini terus-menerus terjadi, akan dijauhi orang justru pada saat Anda tampil trendi (bersepatu). Kebersihan adalah cermin kepribadian. Kalau Anda tampil dengan bau tak sedap, Anda dicap jelek, dan siapa yang akan kerasan mendekat?
Mungkin yang jadi masalah kalau sepatu terbuat dari kulit atau bahan yang akan cepat rusak kalau tiap hari dicuci dengan air. Maka di samping tetap dibersihkan tanpa menggunakan air, kaus kaki tiap hari harus ganti. Apalagi kalau sedang apel apel ke rumah pacar. Supaya kalau melepas sepatu di rumah calon mertua, tidak membuat polusi udara. Ini penting. Sebab meski sepatu tiap hari ganti tapi kalau kaus kakinya tak pernah ganti atau atau dicuci, ya sama saja. Bisa jadi akan kena kritik dari pacar sendiri. Masih untung kalau cuma dikritik dan si pengkritik masih tahan terhadap bau khas sepatu atau kaus kaki Anda. Bagaimana kalau si doi sampai muak. Otomatis akan mengurangi kemesraan. Padahal hati Anda mungkin sedang bersenandung. āKemesraan ini janganlah cepat berlalu. ā¦..ā.
Dalam musim penghujan, seringi jadi masalah bagi yang punya sepatu cuma sepasang. Terutama anak sekolah yang belum bisa beli sendiri, karena masih menggantungkan pada pemberian orang tua. Kalau kebetulan hujan terus-menerus dan sepatu yang cuma sepasang masih basah, kadang terpaksa harus pinjam pada yang lain. Soal pinjam-meminjam ini ada etikanya sendiri. Orang meminjam (apa saja) sebenarnya telah merepotkan orang lain (yang dipinjami). Maka jangan sekali-kali malah merugikan atau menyusahkan orang yang dipinjami. Kalau memang kotor, sepatu yang baru dipakai hendaknya segera dicuci atau dibersihkan sebelum dikembalikan pada pemiliknya. Nah, selamat memperbaiki diri bagi yang merasa tersinggung. Ini demi kebaikan dan ketenangan bersama.










