Ada puitisme pujangga lara yang kesepian menemani malam bersama elegi industrial pop dan konstelasi bintang untuk spektrumnya, aku yang ketika menulis ini menggadaikan imanku pada num sarwa, aku yang berkontemplasi dengan diriku yang semakin lama semakin tersesat, semakin terjerat, semakin erat.
Kudengar gonggongan anjing yang melolong menyayat sepi, gonggongan yang mencitrakan agresi sementara pada hakikatnya anjing itu ingin disapa, dibuai bagai kucing anggora atau marmut lucu di keberuntungan lain. Aku yang sadar akan hal itu kemudian mencari sumber suara berharap anjing itu sudah kenyang atau giginya tak setajam tatapan tetangga, Benar saja! dia anjing yang manis, aktif, hanya saja bau, bau natural dari seekor binatang yang tidak tahu cara mandi, untungnya aku tahu. Setelah instingnya setuju bahwa aku bersahabat maka anjing itu kuajak pulang, ku perkenalkan ke separuh keluarga karena mama dan nenek takut, takut akan gigitannya atau memang dogma perihal jilatannya yang haram sudah terpatri dari ibu sebelum mereka.
Esok paginya aku pergi menuju kantor yang rasanya berada di ujung Dunia, kuberikan pelukan hangat untuk orang tuaku dan Theo, Theo adalah anjing yang kutemukan kemarin. Di perjalananku aku ditemani 30 Seconds to Mars dan Hurricane nya, rasanya Jared Leto hari itu sedang sakit padahal aku memutar audio playback, atau mungkin hanya perasaanku saja yang sakit. siapa yang tahu?
Buah Batu, jalur menyebalkan untuk warga Bandung. hiruk pikuknya begitu hangat, sehangat radiasi mesin mobil yang memberikan panas menyaingi matahari, mungkin karena jumlahnya banyak atau hanya aku yang mudah kesal. Di depanku ada dua pasang pasutri yang sedang berdebat, ku kira soal politik, ternyata soal kompetisi siapa yang benar. Mereka mengalami kecelakaan ringan, beberapa bagian kendaraannya rusak tergores antar satu dengan yang lain sehingga mereka rasa harus ada yang benar, dan yang kalah mengganti biaya reparasi. Ku lalui pemandangan kompetisi sengit itu, karena akupun sedang berkompetisi dengan waktu.
“Aku hampir sampai” kataku, hanya tinggal beberapa blok aku terhenti oleh sebuah persona, auranya memikat perhatianku. Mungkin karena dia wangi atau aku yang mudah ditaklukan. 50 millisecond dia menyebrang berlalu dan aku masih mengingatnya hingga desain terakhirku selesai hari itu.
Perasaan itu merusak rasionalitasku, mengganggu setiap garis untuk desain yang kubuat. mungkin dia cenayang yang menyebarkan magis lewat bebauan. atau hanya aku yang masih menyesal tak bertanya tentang namanya.
Akhirnya dia kunamai Rasa, karena esensinya hadir namun tidak terlalu padat, mungkin hanya sebuah gas atau dalam bentuk hologram di ruangan dalam imajiku.