Untuk 2020, Aku Titip 2019, ya.
Nggak banyak kok yang dititip.
Hanya sepenggal kisah yang tiap kali diingat lebih sering bikin dada sesak daripada membuang napas lega. Antara ingin mengucapkan selamat tinggal atau dipeluk erat-erat.
Ah, dilema lah pokoknya.
Salah satu memori yang paling melekat ada di bulan Februari. Waktu umur nambah tua tapi rasanya tingkah laku nggak juga dewasa. Alhamdulillah, dapat dua keik cokelat dari orang-orang baik yang hatinya begitu lapang. Kalian mungkin nggak akan pernah tahu, tapi doa selalu kupanjatkan untuk kalian agar Tuhan membalas semua kebaikan kalian dengan sesuatu yang jauh lebih baik.
Semoga doa-doanya sampai tepat waktu, ya.
Kenangan lain yang mau kutitip juga terjadi di bulan April. Di akhir bulan itu, ada yang nekat terbang ke negeri orang bareng teman-teman lain yang sama nekatnya. Nggak tahu udah berapa kali bersyukur sempat jalan-jalan sama kalian walaupun proses jalan-jalannya agak gagal karena kami mengalami sebuah penjompoan dini. Mau terbang ke negeri siapapun, counterpain selalu jadi sahabat setia.
Ini penting, selain mie instan dan air putih, ternyata counterpain wajib dibawa.
Terimakasih ya sudah ingat untuk mengajakku jalan-jalan! Lain waktu, semoga kita jompo bareng lagi di tempat wisata yang beda, ya.
Ngobrolin tentang jompo, tahun ini rasa-rasanya tahun ketika kunjungan rumah sakit bagian dokter umum UGD jadi lebih sering. Seumur-umur, baru tahun 2019 yang namanya bolak-balik ketemu dokter di rumah sakit udah kayak kunjungan wajib. Ada hubungannya sama umur kali, ya. Tapi kok khawatirnya karena masalah mental yang akhir-akhir ini nggak stabil juga, ya?
Katanya, kesehatan fisik linear sama kesehatan mental. Jadi, mau usaha disembuhin kayak apapun kalau mentalnya nggak baik, ya fisik juga nggak bakal baik.
Atau mungkin aku hanya mendramatisir.
Di pertengahan tahun juga ada drama di kantor. Orang-orang baik yang seharusnya tinggal malah dipaksa pergi secara tiba-tiba. Lubang yang mereka tinggalkan ternyata cukup besar sampai mengganggu keseimbangan situasi kala itu. Banyak yang akhirnya galau, antara ingin memperjuangkan yang masih bisa diperjuangkan tapi menyerah selalu terdengar lebih baik.
Hal-hal baik yang selalu diselingi tawa dan diselipkan jajan sore-sore itu pelan-pelan mulai menghilang. Yang mulanya padat, sampai akhirnya lowong. Kemungkinan bersama dalam jangka waktu yang lama mendadak saja terdengar muluk dan nyaris mustahil.
Orang-orang baik itu juga akhirnya mulai terpisah. Mau nggak mau, hidup memang harus berlanjut dan perpisahan itu terjadi juga.
Yah, mau diapakan lagi.
Banyak yang ingin dititipkan dari tahun 2019, tapi terlalu banyak yang dititip takutnya memberatkan langkah untuk maju.
Tahun 2019 adalah tahun ketika kesehatan rekening diuji nyali. Garis pembatas antara manusia hedonisme dan fakir hampir nggak kelihatan. Tapi nafsu nyatanya selalu menang. Udah tahu fakir di depan mata, tetap aja dunia hedon nggak bisa ditinggal. Ujung-ujungnya stres karena tabungan hanya ajang siapa cepat gali lubang-tutup lubang.
Mungkin itu yang pada akhirnya membuatku bulat memutuskan untuk keluar dari si kantor zona nyaman. Aku sadar sesadar-sadarnya, selamanya nggak akan aku menemukan tempat nyari cuan senyaman di sana. Dengan orang-orang baik yang selalu ingin kubahagiakan, rasanya berat untuk mengangkat kaki dari lingkaran zona nyaman itu.
Tapi, ya itu tadi, mau diapakan lagi. Hidup terus berjalan. Sampai Tuhan bilang ‘cukup’, hidup akan terus berputar apapun tantangannya di depan. Sebuah ketidakpastian, kesendirian, dan kesedihan yang mendalam mungkin sudah menunggu. Tapi yakin bahwa ada kebahagian yang menyambut nantinya pada garis finis, kapanpun itu.
Alhamdulilah, ada banyak tempat yang baru pertama kali kukunjungi tahun ini. Termasuk liburan singkat yang sesuai itinerary bareng sohib wacana. Rencana liburan bertahun-tahun yang tadinya mau keliling Bandung tapi berubah jadi ke Malang sampai akhirnya tiba juga di pulau sebelah Sumatera.
Itu random, asli. Tapi aku bahagia. Semoga ada banyak hal-hal random lain yang bisa dilakukan kedepannya ya, wahai sohib wacana.
Kalau ada hal positif yang bisa diambil dari tahun 2019, bahwa ibukota yang kejamnya keterlaluan itu ternyata juga masih menyimpan orang-orang baik yang nggak menutup mata satu sama lain. Bahwa setiap air mata yang turun itu nggak percuma dan memang harus turun.
Jadi, untuk tahun-tahun berikutnya, nggak usah ditahan lagi ya. Kalau mau nangis, ya nangis saja. Meski nggak paham juga alasan dibalik tangisan itu, tapi dikeluarkan lebih bikin lega daripada ditahan-tahan.
At the end of the year, aku ingin bilang banyak terimakasih sama orang-orang baik yang mungkin nggak akan kusebut disini, tapi percaya deh, Allah hafal nama-nama kalian. Apapun keburukan yang terjadi di tahun 2019, semoga tidak terbawa ke tahun 2020 dan tetap di sana selama-lamanya. Sekecil apapun kebaikan yang kalian lakukan, aku berharap akan dibalas berjuta-juta lebih baik sama Allah, ya.
Sayang kalian :*
Oh, tapi ada beberapa nama yang terselip di chapter-chapter tertentu di sepanjang tahun 2019. Yang mungkin nggak akan aku ingat di tahun berikutnya kecuali Tuhan bertanya;
“Siapa penyebab setiap luka yang tak terlihat dan air mata yang kerap turun itu?”
Terimakasih 2019. Semoga tahun berikutnya lebih sehat.




















