Book Review, Ayesha At Last: The halal romance youāve been waiting for.
Saking banyaknya hal yang pengen gue bagi tentang buku ini, gue sampai bingung mau mulai darimana.Ā
Oke. Mungkin dari chapter pertama dari buku ini kali, ya.
Di awal-awal cerita, kita sudah disuguhi Khalid, pemeran laki-laki utama kita, yang kena isu rasis di kantornya. Khalid adalah seorang muslim yangĀ ātaatā. Dia punya jenggot yang tebal dan panjang, pakaiannya juga panjang semata kaki, dan doi pun ke kantor menggunakan skullcap (semacam kopeah gitu nggak sih?). Karena ketaatannya, Khalid juga nggak mau bersentuhan sama perempuan yang bukan mahramnya.Ā
Selama lima tahun kerja di perusahaan Livetech, Khalid nggak pernah punya masalah sama siapapun bahkan atasannya, John, menyukai Khalid. Masalah baru muncul saat John digantikan dengan seorang wanita skeptikal yang tersinggung karena Khalid nggak mau salaman bernama Sheila.Ā
Katanya sih, Sheila pernah tinggal di Saudi Arabia dan tahu hal-hal buruk yang bisa dilakukan orang-orang berpenampilan seperti Khalid. Tapi berhubung si masa lalu Sheila ini nggak dibahas lebih jauh, jadi ya, anggap saja Sheila punya trauma sama orang-orang muslim.Ā
Sheila mulai melakukan hal-hal rasis ke Khalid. Gimana dia mengomentari cara berpakaian Khalid dan betapa nggak sopannya doi menolak jabatan tangan bosnya. Khalid jelas bersikukuh sama pendiriannya, menjelaskan gimana islam mengajarkan apa yang dikerjakannya dan Khalid tidak punya intensi lain selain menghargai Sheila sebagai perempuan.Ā
But of course, Sheila doesnt care.Ā
Khalid mulai diperlakukan tidak adil dengan diberikan proyek membangun website design salah satu klien Livetech yang sebenarnya bukan jobdesk Khalid sebagai e-commerce manager. Yang lebih parahnya lagi, klien yang dimaksud Sheila adalah perusahaan pakaian dalam wanita. I mean, a religious man disuruh bikin website pakaian dalam wanita? Wow.Ā
Skip ke chapter berikutnya.Ā
Kita punya Ayesha, si bintang utama dari buku ini, tentu saja. Wanita yang baru memulai karir sebagai guru honorer di sebuah sekolah SMA. Ayesha ini umurnya udah 27 tahun dan sedang mengalami krisis identitas karena apa yang dikerjakannya tidak sesuai dengan apa yang diimpikannya. Ayesha senang puisi. Sesekali, Ayesha mengunjungi sebuah lounge bersama bestienya Clara dan kadang dia manggung di sana buat menampilkan puisi-puisi karyanya.Ā Ā
Ayesha diceritakan berasal dari keluarga yang miskin. Sejak ayahnya meninggal, Ayesha pindah ke Amerika bersama ibu dan adiknya (plus, kakek-nenek yang nggak mau ditinggal di India) dibantu oleh pamannya yang kaya raya. Sepanjang hidupnya, Ayesha selalu dibantu oleh Sulaiman Mamu (pamannya yang kaya raya) dalam segala hal. Rumah, pendidikan, makan, semua dibantu secara finansial.Ā
Karena itu, Ayesha merasa berhutang budi. Dia membalasnya dengan menjaga anak pertama Sulaiman Mamu bernama Hafsa. Gadis modis yang manja dan cengeng, banyak mau, dan sama sekali nggak tahu terimakasih. Hafsa baru berusia dua puluh tahun tapi sudah mulai mencari suami dengan mengikuti tradisi ristha. Ristha itu kalau dilihat-lihat sih semacam taaruf gitu, ya. Pake CV dan sebagainya gitu.
Ayesha mulai dibanding-bandingkan sama Hafsa. Mereka sangat bertolak belakang padahal satu keluarga. Tetangga-tetangga di komunitas muslim nih mulai bisik-bisik merendahkan Ayesha yang katanya nggak bakal laku karena sudah terlalu tua. Like, sheās freaking 27, dan mereka pikir itu terlalu tua? Damn. Their life must be so boring, huh.
Long-short story, Khalid dan Ayesha tinggal di daerah yang sama. Mereka sama-sama ketemu di masjid besar di daerahnya untuk menjadi panita acara konfrensi anak-anak muda. Oh, waktu pertama kali mereka ketemu, Khalid dan Ayesha sama-sama sedang di lounge/bar. Like, Khalid langsung judgemental kalau Ayesha bukan muslim baik-baik karena nongkrongnya di tempat jualan alkohol sementara dirinya sendiri datang ke lounge karena dipaksa oleh temannya.Ā
Khalid dan Ayesha mulai saling sinis-sinisan. Khalid pikir pergaulan Ayesha terlalu bebas, sementara Ayesha pikir Khalid terlalu closed-minded. Tapi balik lagi, Khalid adalah orang yang percaya dengan agamanya. Dan dalam islam, perempuan harus diperlakukan dengan hormat dan lemah lembut. So, Khalid sering kali merasa bersalah dan meminta maaf duluan pada Ayesha dengan memberikan makanan buatannya sendiri.Ā
So, yang pengen gue diskusiin di sini sebenarnya 1) Ternyata laki-laki muslim juga kena isu rasis karena pakaiannya. 2) Betapa polosnya Ayesha sampai dihina berkali-kali oleh Hafsa tapi masih bisa sabar. 3) Orang yangĀ ātaatā dengan agamanya bisa berubah karena situasi.
Jujur, mungkin cara berpakaian Khalid memang terlihat mencolok di antara kaum mayoritas. I mean, kalau di Indonesia ada yang ke kantor pake baju jubah panjang, kopeah, dan berjenggot panjang, dia akan tetap menjadi pusat perhatian. Itu di Indonesia loh yang penduduk muslimnya sangat besar. Memang sih kita dikasih kebebasan untuk memeluk agama dan menjalankannya dikehidupan sehari-hari selama tidak mengganggu orang lain. Tapi, Khalid nggak mesti berpakaian seperti itu untuk menunjukkan apa yang dipercayanya, kan?Ā
He would be still a muslim no matter what he wear. Apa yang dia pakai nggak akan mengubah jati dirinya. Benar?Ā
Sementara Ayesha, mungkin pergaulannya nggak seliar Hafsa. Tapi Ayesha percaya sama kebebasan bersuara. Ayesha nggak mau jadi seorang istri yang cuma diam di rumah, masak, dan nunggu suami pulang. Ayesha mau keliling dunia, nulis puisi, dan berpetualang. Now, I feel a lil bit conflicted about it.Ā
Nggak ada yang salah kalau memang mau memutuskan jadi istri yang nggak kerja dan mengurus keluarga di rumah. Itās hard, you know, being a housewife. Tapi gue sendiri ngebayanginnya aja udah bosen. Diam di rumah? Nunggu suami pulang? Ugh! Tapi di sisi yang lain, being a good housewife is a goal too. Dapat pahala, iya. Nggak perlu capek-capek kerja ke kantor, iya. Plus setiap sore suami pulang bahagia lihat istrinya di rumah. Gue nggak kebayang ada berapa pahala yang di dapat dalam satu hari hanya sebagai housewife.Ā
Now, gue lebih berat ke Ayesha. Jujur, Ayesha itu hampir kayak gue versi fiksi. Too young to be called old, too old to be called young. Serba nanggung dengan karir nggak jelas, relationship yang cuma sekadar mitos, punya keluarga yang sebenarnya pengertian tapi kita sadar diri kalau mereka sebenarnya pengen anaknya buru-buru keluar dari rumah.Ā Ā
Gue mau mengejar mimpi gue dan gue percaya umur bukan hambatan yang sesungguhnya. You could still pursue your dream no matter how old you are, right? Tapi keputusan Ayesha di akhir buku ini bikin gue tergugah untuk juga mengejar mimpi. Gue sama sekali nggak mau menghabiskan hidup gue buat berangkat ke kantor 9-5 tiap hari tapi gue sama sekali nggak menikmatinya. I dont want to die penuh dengan rasa kekecewaan. No, no, and no.
Dan, di akhir buku ini, keyakinan Khalid masih sekuat di awal sih. Cuma ada beberapa rules yang dilanggar sama dirinya sendiri karena kebutuhan duniawi. Like, shaking hands with not mahram woman. Kalau orang yang sepercaya itu sama keyakinannya bisa berubah karena urusan dunia, hal buruk apalagi sebenarnya yang bisa terjadi?Ā
Gue kasih buku ini lima dari lima bintang. Perfect stars. Gue suka moral yang dikasih sama buku ini, plotnya, karakternya, isu-isu yang dulu nggak pernah gue pikirin tapi tiba-tiba jadi penting buat gue. Pokoknya, buku ini kece. Buku romance yang sweet and cute tapi tanpa kissing dan hal-hal haram lainnya.Ā
Its like... a halal book? Lol.