Hidden Gem yang Jarang terkuak dari sosok Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Ahmad bin Hanbal salah satu Imam empat Mahzab yang mahsyur, namun dari sosoknya ada sisi lain yang jarang terkuak, yaitu bagaimana ia (Rahimahullah) menjadi teladan yang baik dalam rumah tangganya.
Dari pernikahannya dengan Ummu Shalih kutipan berikut dapat menjadi renungan kita :
“Istriku hidup denganku selama 30 tahun, dan aku dengan dirinya tidak pernah berselisih dan berdebat walaupun hanya untuk satu kalimat atau untuk satu kasus”
Bagaimana hal ini dapat terjadi, rahasianya adalah terciptanya kebahagiaan dalam rumah tangga. Kebahagiaan rumah tangga ini tidak serta merta didapat, melainkan adanya peran seorang suami yang menjadi pemimpin rumah tangga yang sempurna dalam menjalani perannya. Kesempurnaan peran seorang suami ini tidak didapatkan melainkan dari hati seorang suami yang bersih dan tunduk (taat) kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Hati yang bersih dan tunduk ini didapatkan dari kematangan seorang suami baik dalam hal ilmu nafi’ dan ilmu kauniyah.
Ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat) merupakan bekal dalam menjalani rumah tangga. Seperti firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam surat Al-kahfi ayat ke-68
“Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedangkan engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?”
Hal yang dapat kita pelajari dan ambil hikmahnya dari sosok Imam Ahmad adalah bagaimana ia dalam menuntut ilmu nafi’. Imam Ahmad sosok yang luar biasa ini terbentuk dikarenakan ia memiliki guru-guru yang tidak diragukan keshalihannya, ia pun sendiri sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu salah satunya melalui perjalanannya yang sangat jauh bahkan untuk mendapatkan sebuah ilmu hingga dari hal tersebut ia dengan taufiq dari Allah Subhanahu wa ta'ala dikaruniai database ilmu/dalil yang sangat banyak, ia hafal Al quran dan jutaan hadist, dan menguasai cabang-cabang ilmu dalam delapan bidang. Dan yang terpenting, dari semua ilmu yang ia miliki ia sosok yang selalu mengamalkan ilmu tersebut.
Ilmu kauniyah, adalah ilmu yang didapatkan dari pelajaran kehidupan. Tempaan kehidupan merupakan pelajaran yang berharga yang dengan itu dapat menghadirkan karakter yang kuat dalam diri seseorang. Imam Ahmad, sejak kecil adalah seorang yatim yang hanya dibesarkan oleh Ibunya. Dan hal ini merupakan hal yang menguntungkannya, yang menguatkan jiwa, karakter dan mentalnya sejak kecil. Secara duniawi, Imam Ahmad memiliki kehidupan yang susah, dan ini merupakan jalan yang dipilihnya yang semakin mendekatkannya dengan Allah Subhanahu wa ta'ala. Selain itu juga, peran guru beliau, selain mendidik juga menempa beliau menjadi sosok yang kuat. Dan ia pun menjalani kehidupan yang sangat fakir, dan pernah terdzalimi serta dipenjara selama bertahun-tahun. Tempaan yang kurang besar apalagi yang dengan ini menciptakan karakter yang luar biasa seperti beliau.
Imam Ahmad menikah pada usia 40 tahun, dimana pada usia tersebut merupakan fase yang sangat matang dari usia seseorang. Seperti yang kita ketahui, Para Nabi mayoritas diutus ketika mereka di usia 40 tahun. Namun, hal ini bukan persoalan angka , namun perihal kematangan seseorang yang tidak serta merta bisa dinilai dari sebuah angka. Untuk itu menikahlah ketika sudah memiliki standar kematangan jiwa.
Selain sosok suami itu sendiri, yang terpenting adalah sosok seorang istri. Ada sebuah kaidah umum “mendampingi orang besar itu susah” hal ini dikarenakan standarnya yang tinggi.
Seperti firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam surat al kahfi ayat ke-28 :
"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya..."
Sosok istri yang luar biasa yaitu Ummu Shalih memiliki karakter yang luar biasa juga, ia adalah sepupu dari Imam Ahmad, disini bisa kita ketahui bahwa Ummu Shalih juga berasal dari nasab yang baik seperti halnya Imam Ahmad. Ummu shalih juga merupakan istri yang peka, taat dan selalu mencari ridho suami bahkan sampai pada hal yang terkecil. Bahkan pertanyaan yang selalu ia tanyakan kepada Imam Ahmad adalah hal apa yang beliau tidak sukai dari Ummu Shalih, dan luar biasanya Imam Ahmad menjawab tidak ada sama sekali kecuali sendal yang ia pakai tidak biasa dengan sendal yang biasa dipakai wanita lainnya. Dan keesokan harinya Ummu Shalih menjual sendalnya tersebut dan mengganti sendal yang Imam Ahmad sukai. Tidak ada satu celahpun Ummu Shalih tidak mendapatkan ridho dari suaminya. Dan karakter lainnya dari Ummu Shalih adalah ia merupakan istri yang helpfull, tidak pasif dan selalu menolong suaminya. Hal tersebutlah diantara karakter Ummu Shalih yang mendampingi Imam Ahmad sehingga rumah tangga mereka dapat bahagia.
Dan yang terakhir yang perlu dimiliki untuk meraih pernikahan impian adalah keterikatan/satu frekuensi. Terkait ini, ada sebuah teori dalam ilmu fisika yaitu teori Quantum Entanglement. Teori ini menggambarkan fenomena fisik yang terjadi ketika sepasang partikel saling mempengaruhi walaupun dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Ketika dua partikel yang saling berinteraksi, mereka layaknya seperti dua pasang foton yang akan tetap saling terhubung satu dengan yang lainnya, dan secara instan saling menyamakan kondisi fisik keduanya, berapapun jauhnya jarak yang memisahkan.
Dalam hal pasangan suami istri, keterikatan/sefrekuansi ini haruslah ada. Untuk itu agar dapat saling memiliki keterikatan maka dua hal berikut haruslah dimiliki, pertama yaitu tujuan/purpose haruslah clear. Dimana sepasang suami istri harus memiliki tujuan yang sama agar sama sama dapat meraih tujuan tersebut. Kedua adalah harus memiliki pola-pola yang sama dalam jangka waktu yang cukup. Pola-pola ini dapat mencakup rutinitas harian, ibadah dan hal lainnya. Dan agar dapat sefrekuensi hal ini dapat diusahakan, bukanlah sesuatu yang mutlak tidak dapat diubah.
Untuk seseorang yang belum menikah maka hal ini memiliki peluang besar untuk masih dapat mengupayakan keterpautan. Namun, jika sudah berumahtangga jika pada akhirnya ikhtiar untuk dapat sefrekuensi ini sangat susah untuk diupayakan, maka bersabarlah dan bertakwalah seperti halnya yang disebutkan dalam firman Allah berikut :
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. "
QS. Ali 'Imran[3]:200
Resume half deen series - Pernihakan Impian
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri
Jakarta-21 Agustus 2022










