ada beberapa novel lain juga yang dibaca, tapi kebanyakan baca bukunya Ika Natassa. ada 1 set, Antologi Rasa, A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Twivortiare. sama 1 lagi, Critical Eleven (gak termasuk dalam 1 set tadi). yang paling ngetop kayaknya Twivortiare sama Critical Eleven karena dibikin film. gue pribadi lebih suka Divortiare.
berat sih nih ceritanya.. tentang Alexandra Rhea Wicaksono, the most workaholic Banker who married Beno Wicaksono, the most busiest Cardiothoracic Surgeon. yaudah bayangin aja mereka sibuknya kek mana..
dari awal mereka ketemu itu gemes sih sebenernya, perjalanan sampai akhirnya mereka nikah. konflik yang terjadi karena sama-sama sibuk, Beno yang cuek dan emang sangat sibuk, Lexy (panggilan Alex) yang juga wanita karir dan pengennya diperhatiin Beno tapi lupa kalau dia kawin sama bedah thorax.
ada satu cerita dimana Beno telat pulang karena ada operasi cito pasiennya dan dia lupa ternyata itu adalah wedding anniversary-nya. Lexy udah nunggu dirumah, dolled up so pretty and all the romantic candle light dinner thingy was served perfectly. kesel banget pas Beno pulang telat, dan marah-marah karena dia lebih pilih pasiennya. disitu Beno jawab "ini nyawa orang". Lexy udah kesel lalu pergi. hhh. ya pasti kesel sih ya, tapi lu urang kawin sama bedah thorax ya udah risiko juga kan sis
lalu mereka divorce, and that's why the book named Divortiare. saat pisah ini mereka belum benar-benar pindah. mereka tau kalau mereka saling merasa memiliki dan mencintai, entah gimana caranya karena ego masing-masing jadi ended up divorce.
sebenernya sedikit banyak udah kebaca sih ending-nya gimana, tapi perjalanan ceritanya, cara Ika Natassa menggambarkan setiap situasi secara detail, itu jadi bikin kita masuk ke dalam ceritanya. kayak ada ditengah-tengah kehidupan Beno-Lexy.
ada sepenggal percakapan dari Divortiare yang lumayan deep nih. walaupun mereka ngomongin tato, bukan berarti gue juga pengen nato ya wkwk nanti gak bisa sholat, aku berdosa :"( wkwk
Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep. Tapi kemudian mungkin kita tiba di satu titik ketika rasanya benci banget melihat tato itu, and all you wanna do is get rid of it. So then you did. And you’re fine without any tattoo for a while.
Tapi bisa aja kan, tiba-tiba kita merasa: kok kayaknya hidup gue polos banget tanpa si tato itu. Ketemu pula dengan tato baru yang oke. Mulai mikir lagi, nato lagi nggak ya? Banyak orang bilang kalau udah pernah menato sekali, harusnya yang kedua gampang. Toh udah pernah ini. Udah tahu sakitnya, tapi udah ngerasain enaknya juga. Jadi harusnya kalau ketemu tato baru yang oke, ya tinggal dilakukan aja.
But there’s where you’re wrong. There’s always the first tattoo factor. Tato yang pertama itu akan selalu jadi tato yang pertama. Yang sebelum di-tato butuh waktu lama untuk mikir, waktu mau dihilangkan juga prosesnya susah. Sudah hilang pun, masih ada bekas lukanya juga, kan? Sekecil apa pun, baret itu pasti masih ada. Dan tidak mudah menemukan tato yang bisa menyembunyikan bekas luka itu.
-Â Alexandra Rhea Wicaksono -