"Asing dan Sampai"
Setelah beberapa waktu terakhir, upayaku men'senyap'kan hari-hari. Jauh dari segala kerepotan isi bumi. Tak banyak tau segala urusan manusia. Tak banyak terkoneksi dengan berbagai rupa manusia. Sungguh, menjadi asing itu menenangkan :)
Aku, yang biasa bergelut dengan aktivitas yang terbilang padat. Sedari pagi, hingga pagi lagi. Aku disibukkan ihwal duniawi yang tiada habisnya, yang bahkan belum tentu kemaslahatannya, yang bahkan setelah banyak kupelajari; kutemukan banyak sumber-sumber mafsadat, khususnya sumbu rusaknya aqidahku.
Aku, yang masih bergelut dengan amanah perkuliahan, yang tentu saja membuatku berdampingan dengan dua fitnah terbesar didunia; syubuhat dan syahwat (halus, lembut, dan menyambar-nyambar), yang bahkan juga hingga hari ini aku masih menjadi bagian dari pergumulan sebuah hizbiyyah, semua ini kusadari betapa jauhnya aku dari kriteria muslimah yang memiliki ketaatan untuk ber-ittibaa' kepada Salaaful Ummah dengan sebaik-baik upaya.
Aku, yang hatinya masih sangat lemah. Tidak kupungkiri, terkadang masih saja muncul keinginan-keinginan yang pada hakikatnya memang sudah menjadi tabiat diri ini, mengingat di salah satu konsep mesin kecerdasan yang sedikitnya sempat kupelajari, aku adalah seorang Intuiting yang tentu saja, sangat menyukai semua hal yang berbau dengan "seni", musik, film, gambar rupa, dan segala jenis kesenian lainnya. Tentunya, semua ini menjadi tantangan tersendiri bagiku untuk mengeluarkan effort yang lebih tangguh lagi untuk melawan dan meredam syahwat diri. Percayalah, menafikan hal-hal yang biasa menjadi tabiat diri, sejatinya tidaklah mudah :')
Sebuah kesyukuran yang tiada henti, untuk akhirnya sampai pada pemahaman ini membutuhkan proses yang tidaklah singkat. Qadarullah wa maa syaa-a fa'al, jalan lurus ini pun terbentang dengan sangat terangnya. Apalah arti segala pencapaian yang sifatnya duniawi. Semua itu terasa seperti buih-buih bak debu kosmos yang melayang-layang di ruang hampa. Mikroskopis, kecil, amat kecil, tak berarti. Itulah, hakikatnya dunia. Fana, dan menipu.
Aku paham benar siapa saja yang menjadi lingkunganku. Ya. Sejatinya, secara fisik aku masih sendiri. Menjalaninya sendiri. Melewatinya sendiri. Memahaminya sendiri. Menguatkan diri sendiri. Memang masih sendiri. Kalau bukan Ke-Maha Besar-an Allaah yang menuntunku berada dijalan ini, barangkali aku sudah enyah. Bukan tak ingin mencari teman, bukan begitu. Tapi barangkali memang aku yang belum menemukan jalan yang Allaah beri untuk mendapatkan teman sepemahaman. Biarlah begini dulu. Biarlah kusesapi segala getir pahitnya menjalani proses ini. Semua ini terasa nikmat, nanti. Besok dengan takdir baik-Nya, Allaah pasti beri jalan yang lebih terang untukku bisa bertemu dan berkumpul dengan para akhowat wa ummuhat yang senantiasa kokoh di jalan yang mulia ini. Kemudian saling membersamai mengenyam dan mempelajari lautan ilmu Allaah yang amat sangat luas ini. Besok, in syaa Allaah :)
Banyak hal cerita yang ingin sekali kutulis, namun biarlah mengendap di relung hati ini. Besok, kita bisa bercerita lagi, ya. Banyak frasa yang tak cukup bisa mewakili damainya diri ini setelah sampai pada pemahaman ini.
Kau, kalian. Tak akan pernah mengenyam nikmatnya menjadi asing, sebelum kau merasakannya sendiri :)
"Kun Salafiyyan 'alal Jaddah"
- النسآء نورالأفئدة-
12.50



















