Hai, sudah lama sekali sejak aku terakhir kali berenang di kanal ini. Rasanya seperti berjumpa teman lama dan tak pernah punya cukup waktu untuk membahas kenangan bersama. Sampai hatiku bertanya, seperti inikah rasanya kembali pulang?
Perjalanan tak tertebak dari semesta mengantarkanku menjadi seorang ibu, yang masih jauh dari kata sempurna. Kebahagiaan besar di keluarga kecil kami ternyata hampir tertelan oleh perasaan takut, bingung, dan tidak percaya diri yang campur baur di dalam hati. Bagaimana caranya bisa membiarkan anakku tumbuh di alam liar agar ia bisa merasakan keindahan dari langit biru, pohon-pohon tua yang dingin, bunga-bunga kecil di rumput dan hal lainnya? Di sisi lain, hatiku tak pernah tabah jika dengan sengaja melepaskan ke dunia yang aku tak tahu bentuk pastinya. Oleh karena itu, perjalanan awalku sebagai ibu ditandai dengan beban belajar dalam dada. Ditambah pula kewajiban untuk selalu hadir saat ia butuh, yang mana di kemudian hari rasa seperti ia membutuhkanku selama 25 jam dalam sehari.
Lalu apa hasil belajarku? Yang paling kentara adalah aku menjadi master untuk menomor entah berapa-kan urusanku sendiri. Selama tidak menyangkut hidup dan mati, urusanku masih bisa menunggu. Dari menunggu beberapa menit, sehari, dua hari, sampai tiba-tiba menjadi bertahun-tahun.
Tentu saja salah satu urusan yang harus kutinggalkan adalah menulis. Sebagai penulis ingusan, aku butuh kepala yang lowong dan waktu kosong untuk bisa meramu kata-kata, yang mana sangat jarang aku dapatkan. Makanya, hari ini akan kusebut saja sebagai hari baik. Sebab entah bagaimana ceritanya, semuanya berjalan mulus sampai aku bisa merapalkan kata-kata di laman ini. Dan rasanya deja-vu! Menyenangkan. Seperti ada kupu-kupu di perutku. Kalau tahu begini, aku tidak akan hiatus menulis.
Seorang teman baik pernah menanyakan bagaimana perasaanku setelah punya anak. Aku butuh waktu beberapa saat untuk merangkum segala macam episode kehidupan setelah menjadi ibu, lalu ku jawab, "Bahagia dengan cara tidak terduga."
Menjadi seorang ibu seperti membanting setir kapal. Tanpa sadar aku akan memprioritaskan anakku, selalu. Entah bagaimana caranya, Tuhan tidak hanya menumbuhkan janin tapi juga cinta yang teramat besar pada bayi ini. Membuatku tak pernah sanggup untuk menomordua kan nya. Rasa inilah yang berhasil membantuku terus berusaha untuk hadir dan meninggalkan yang lain, termasuk menulis.
Makanya...
Eng ing eng!
Aku senang sekali bisa kembali ke kanal ini, rasanya seperti ke rumah lama. Semoga perasaan ini terus terjaga agar kelak anakku bisa menjadi pembaca terdekatku.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Qualityβ Free Actions
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Tentang [5] : Ilmu Parenting dan Dunia Orang Dewasa
Mulanya, aku tidak terlalu suka belajar dari buku self development. Bagiku, buku-buku itu terlalu naif untuk dunia yang kompleks. Sampai suatu ketika, aku membaca tentang buku parenting dan tiba-tiba merasa bahwa manusia adalah makhluk yang sederhana.
Ya, sederhana.
Sederhana tapi seringkali terpaksa menjadi rumit. Mengapa terpaksa? Sebab, kita terkadang tak tahu bagaimana cara menyampaikan keinginan pun perasaan dengan baik. Seperti bayi yang sebagian besar alat komunikasinya adalah tangisan. Alih-alih berniat untuk menyakiti, bayi berusaha memberitahu perasaan kesal mereka karena ada keinginan yang tidak dipenuhi.
Semakin bertambah umur manusia, semakin tebal keyakinannya akan kondisi ideal (yang harus dipenuhi semua orang untuk dirinya). Dengan memperhitungkan semua usaha yang dilakukan manusia dewasa, mungkin amarah karena idealisme mereka tidak terlaksana bisa dikategorikan sebagai 'wajar'. Rasanya pasti kesal saat ada orang yang tidak mengerti harapan kita dan malah jadi penghalang. Lalu, 'menangislah' kita dengan kata-kata.
Saat membaca buku parenting, aku menyadari, bahwa tidak semua orang yang gagal memahami kita adalah musuh. Bisa jadi mereka berusaha namun tidak berhasil. Seperti seorang ibu yang bingung saat anaknya menangis. Bukannya tidak mau meredakan tangis anaknya, tapi ibu itu masih dalam proses menerjemahkan maksud dari tangisan bayi.
Seberapa sering kita menganulir usaha dari orang lain yang berusaha memahami kita? Seberapa sering kita mengecap buruk orang yang terlihat tidak sejalan dengan kita? Seberapa sering kita memilih berkata-kata buruk pada orang yang sebenarnya sayang pada kita?
Kompleksitas isi kepala manusia ini kadang-kadang membunuh perasaannya sendiri. Merasa selalu ingin dipenuhi keinginannya. Merasa curiga kalau orang lain ingin menyakitinya. Merasa dunia tak pernah adil padanya.
Tentu saja tak ada yang kasihnya lebih dalam daripada ibu kepada anaknya. Akan tetapi dunia juga mendatangkan banyak orang yang mau merangkul masalahmu. Pertanyaannya, sampai kapan kamu mau menangis terus seperti bayi? Atau kamu mau belajar menyampaikan dan memahami perasaan orang lain?
Sewaktu SMA aku bercita-cita untuk bekerja di bidang perkimiawian. Untuk menghidupi cita-cita itu aku belajar sangat keras. Sampai dititik aku dipanggil guru kimiaku, "Secara matematis nilai kamu sempurna. PR, kuis, tugas, pertanyaan di kelas, ulangan harian, UAS, dan UTS kamu jawab dengan sempurna. Tapi Bapak tidak bisa memberi kamu nilai seratus. Supaya rapormu tidak terlihat turun. Jadi bapak turunkan ya nilainya?" Aku hanya mengangguk. Tak masalah nilaiku diturunkan, yang penting aku memang sudah paham materinya. Lalu di semester-semester berikutnya sampai kelulusan (kebetulan gurunya sama) aku tetap dipanggil oleh beliau untuk permakluman yang sama, nilaiku seratus tapi di rapor tidak boleh ditulis demikian. Aku tetap mengangguk, dalam hati diam-diam mengaminkan cita-citaku bisa menjadi kimiawan.
Di tempat les, menjelas persiapan tes masuk perguruan tinggi, dilakukan assesment minat dan bakat. Berdasarkan hasil try out, peserta ajar ditanya, "Mau kuliah apa? Dimana?" Aku menjawab pertanyaan itu dengan mantap. Akan tetapi saat mendengar jawabanku, dahi pengajarku berkerut-kerut. Aku ingat betul beliau bilang, "Hmm... kalau nilaimu segini kamu bisa tembus FK di kampus A, B, C..." sambil menunjukkan tabel passing grade jurusan kedokteran beberapa kampus ternama. Mendengar respon beliau dahiku juga berkerut. Aku mengangguk saja.
Pada assesment berikutnya, aku dipanggil lagi. Sebab jurusan dan kampus pilihanku tidak berubah. Singkat cerita, mereka minta berdiskusi dengan orangtuaku, tentu saja berkaitan dengan jurusan pilihanku. Sempat ada kalimat, "Sayang kalau dengan nilai begini tapi tidak mengambil jurusan kedokteran."
Di waktu yang berdekatan, sekolahku juga melakukan assesment minat dan bakat. Hasilnya, lagi-lagi aku dipanggil oleh guru di sekolah. Entah berapa kali aku dipanggil guru BK, wali kelas, guru mata pelajaran sampai kepala sekolah untuk memintaku masuk jurusan kedokteran.
Oh, tentu saja orangtuaku juga dipanggil.
...
Awalnya aku biasa-biasa saja dengan jurusan kedokteran. Akan tetapi karena rasanya semua orang memandang remeh pilihanku, sampai sekarang aku tidak suka betul pada pandangan, "Kalau pintar harusnya jadi dokter." Memangnya apa yang salah dengan jurusan yang aku pilih?
Bertahun-tahun aku mempersiapkan diri untuk bisa lulus di jurusan yang aku inginkan. Bertahun-tahun aku menjadikan mimpi itu sebagai semangat belajar. Namun di saat-saat penentuan, jangankan dipilih, mimpiku itu bahkan tidak masuk sebagai pilihan. Saat itu aku belum bisa berdiri di dua kakiku sendiri. Jadi wajar saja jika sedikit banyak kata-kata dari orangtua menentukan hidupku.
Tentu saja aku menangis.
Mempertanyakan mengapa keinginan yang aku perjuangkan malah dipandang sebelah mata? Bertahun-tahun aku mempersiapkan diri hanya untuk disayangkan pilihannya. Kenapa orang-orang menganggap masuk kedokteran sebagai ajang pembuktian diri? Bagaimana aku bisa menikmati hasil kalau usahaku saja tidak dianggap? Sakit, bukan?
...
Sekarang, aku sudah bekerja. Bukan sebagai kimiawan. Aku tak bisa menjadi apa yang dulu ku impikan sampai rela belajar hingga larut malam.
...
Aku tak bisa memungkiri kalau sekali waktu aku masih berandai-andai semenyenangkan apa kehidupanku kalau aku bisa menghidupi mimpiku? Akankah aku lebih bahagia? Akankah aku bisa bekerja dengan perasaan sukacita?
Tak ada yang tahu. Kecuali satu hal, apa yang kujalani saat ini adalah jalan terbaik dari Tuhan. Dikirimkannya banyak kebaikan selagi aku meniti jalan ini. Diberikannya aku teman kuliah yang baik, rekan kerja yang baik, taraf hidup yang baik, suami yang baik dan ridho orangtua. Setidaknya kebaikan-kebaikan itu yang menjagaku sampai sekarang. Banyak hal-hal baik yang datang dari apa yang kujalani sekarang. Kujadikan saja itu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terus menari dalam kepala.
Mungkin aku belum sepenuhnya tenang tapi aku akan terus belajar untuk mengikhlaskan. Masih banyak cara agar aku bisa berbahagia. Lagipula sudah seperti ini tidak mungkin putar balik bukan?
Jadi kita kencangkan saja sabuk pengaman dan menikmati perjalan. Kira-kira kejutan apa lagi yang akan menanti?
"Saat mengalami kemalangan, manusia menyalahkan orang lain. Akan tetapi saat mengalami kebahagiaan, manusia menganggapnya itu datang karena usaha mereka sendiri."
Semua bereaksi atas aksi
Hidup ini tak akan lepas dari yang namanya sebab-akibat. Ada aksi ada reaksi. Semua hal yang terjadi pada diri kita adalah hasil dari putusan-putusan yang kita ambil di masa lalu. SEMUA HAL. Baik yang membahagiakan pun yang menyedihkan. Apa mungkin sesuatu bisa tiba-tiba terjadi? Bahkan Tuhan saja menciptakan dunia dengan proses meskipun ada perkataan "kun fayakun". Percayalah, semesta bukan tukang sulap. Semuanya berproses dan terjadi karena pilihan-pilihan yang pernah diambil. Hanya saja kadang-kadang manusia salah dalam bertindak dan seringkali tidak mengakuinya.
Orang baik tak pernah jadi korban
Aku tahu, tak mudah untuk mengunyah konsep ini. Sebab kita terlalu didoktrin untuk menjadi bahagia dan menganggap kegagalan adalah hal yang tabu dan memalukan.
"Orang yang hidupnya baik adalah orang yang selalu bahagia."
Pada akhirnya ada banyak manusia yang denial terhadap masa lalu dan menganggap dirinya sebagai korban dari kesialan atau kesalahan orang lain. Lalu berlarut-larut dalam perannya sebagai korban, padahal dirinya juga turut andil dalam menciptakan skenario, bukannya boneka yang hanya menjadi objek tak berkeinginan. Mungkin itu sebabnya ada istilah playing victim. She/he enjoy the play as a victim. Menimpakan beban kesalahan ke orang lain nampaknya menjadi sumber ketenangan bagi mereka.
Kesetaraan perasaan
Akupun sempat terjebak dalam kubangan itu. Sampai suatu hari seorang kawan dekat menyadarkanku kalau semua perasaan itu sama pentingnya. Perasaan senang, sedih, marah, cinta, dan sebagainya itu sama derajatnya. Dengan kata lain, setiap kejadian yang menghasilkan perasaan-perasaan itu juga sama kedudukannya dalam kehidupan kita. Kejadian yang membuat perasaan benci sama pentingnya dengan kejadian yang membuat perasaan bahagia. Yang satu jadi pelajaran yang satu jadi harapan untuk diulang. Mau bagaimanapun manusia tidak dibekali penghapus masa lalu. Lagipula, di masa lalu kita sempat menganggap keputusan yang diambil adalah jalan terbaik (sebelum perasaan menyesal datang). Bukan korban namanya kalau kita masih punya kuasa untuk mengambil jalan. Validating our emotion means accepting our past without blaming anyone.
'Merantai' kehidupan
Rantai-rantai kehidupan manusia semakin lama semakin panjang. Memilih keputusan tertentu akan menyebabkan keputusan-keputusan lain harus dijalankan. Kabar baiknya, rantai itu tidak mengikat kaki-kaki manusia. Akan tetapi jadi catatan yang akan sangat berguna jika mau dibaca ulang. Mana keputusan-keputusan yang baik untuk hidup. Mana keputusan-keputusan yang tidak menyenangkan untuk diulang. Rantai kehidupan mana yang harus disambung dan mana yang harus diputus. Rantai-rantai kehidupan akan semakin panjang tapi tidak sedikit manusia yang malah merantai hidupnya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Qualityβ Free Actions
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Setelah bertahun-tahun bergelut dengan pengumpulan dan pengolahan data di pekerjaan, salah satu hal yang nampaknya bisa ditarik sebagai pelajaran hidup adalah prinsip "Garbage in, garbage out" dalam statistika. Prinsip ini dapat dijelaskan dengan: "Sepandai-pandainya ahli statistik mengolah data, kalau datanya sampah ya hasilnya tetap sampah." Berpegang pada prinsip ini, aku dan rekan-rekan kerja di kantor dituntut untuk bisa memastikan data yang dikumpulkan benar berkualitas. Apakah variabel, responden, pun instrumen pengumpulan datanya sudah reliable? Jangan sampai ada sampah-sampah yang masuk.
Di kehidupan, prinsip garbage in, garbage out ini seringkali aku jadikan sebagai pengingat untuk memperbaiki diri. Membersihkan aliran diri dari hulu agar bagian hilir tetap bersih. Berusaha agar aku tetap meniatkan kebaikan dalam semua sikap, tingkah, pun putusan yang aku ambil. Berniat baik mungkin bisa jadi bias di mata orang lain. Akan tetapi niat buruk tetaplah menjadi buruk meskipun dipoles dengan sedemikian rupa kata-kata pujangga. Garbage in, garbage out. See?
Lalu bagaimana jika ada orang yang melemparkan 'sampah' ke kehidupan kita? Ya, tinggal dibuang. Ada banyak hal penting lain yang bisa kita olah untuk dijadikan informasi. Nothing good coming from garbage that we keep in our pocket. Cepat atau lambat kita paham kalau sampah-sampah itu harus dibuang.
Beberapa waktu belakangan, aku mulai menerima tidak semua hal harus sejalan dengan keinginan kita. Rencana, doa, pun harapan yang kita aminkan tak serta merta selalu diwujudkan bulat-bulat begitu saja oleh alam raya. Pencapaian dalam hidup bukan hanya masalah objek yang mau dicapai tapi juga bagaimana kita bisa menikmati lika-liku prosesnya. Tentu saja dengan rasa damai. Bagiku, pemahaman seperti ini adalah sebuah pencapaian.
.
Bisa jadi aku sudah mengatur tangga prioritasku. Akan tetapi Tuhan yang Maha Mengetahui menunjukkan ada hal lain yang harus kulakukan terlebih dahulu. Sekarang aku mulai bisa merasa, "Tak apa, mana yang lebih dulu akan sama saja." Mengimani ketetapan Tuhan akan membuat tawakal jadi lebih mudah, bukan?
.
Lagipula semakin bertambah umur, semakin banyak yang ditimang pun ditimbang. Saat masih kecil, aku yakin bahwa akan selalu aman untuk berlari kencang di jalan yang terjal sekalipun. Sebab aku tahu ada banyak tangan yang siap menjaga. Sekarang, giliranku yang menjadi penjaga. Berkeras kepala malah akan menambah pelik. Berniat baik saja kita masih bisa menyakiti. Apalagi sengaja menyakiti (sudah pasti tidak ada kebaikan yang menyertai). Mungkin itu juga yang membuatku semakin sering tenggelam dalam isi kepala sendiri. Bukan tenggelam dalam badai, kok. Melainkan aku sibuk menelisik keping-keping puzzle. Kalau dulu aku hanya dihadapkan pada satu atau dua puzzle berukuran kecil, sekarang aku harus menyusun banyak puzzle. Beribu-ribu keping masih menanti untuk dicari, dicocokkan, dan ditempatkan.
.
Menariknya, semakin aku tenggelam dalam kegiatan menimbang-nimbang, semakin aku nyaman menutup pintu rapat-rapat. Barang yang kubutuhkan, orang-orang yang kusayang sudah ada semua di balik pintu. Tak perlu lagi aku mencari validasi dari orang-orang yang tak benar-benar kuijinkan untuk bertamu. Lain kali akan kujelaskan mengapa demikian.
.
Pemahamanku ini tentu saja belum bulat, masih banyak lubang di dalamnya. Tak apa, aku percaya bahwa kita semua pasti bertumbuh menjadi lebih baik. Semoga kepala kita tetap terbuka untuk mengerti bahwa tak ada yang benar-benar bisa mengukur pun mendikte pencapaian manusia. Daripada sibuk menghakimi pertimbangan orang lain, lebih baik kita mengurus timbangan sendiri. Apakah bisa lebih berat kanan daripada kiri.