2: Benang Merah
"Seperti filosofinya sebenarnya benang merah tak pernah putus. Hanya saja, terkadang jaraknya terlalu panjang hingga kita tak mampu menjangkaunya lagi"
Kalian pernah dengar kata-kata seperti "Kita jangan sampai asing ya. Kita harus sama-sama selamanya," tidak ?
Kata-kata yang menenangkan dan penuh harap bahwa kita akan bersama selamanya. Menjadi bagian di tiap-tiap kehidupan, entah senang maupun sedih. Menjadi orang yang "penting" di tiap-tiap kejadian. Menjadi orang yang selalu mendapatkan kabar darinya. Betapa senang ketika pernyataan itu muncul dari orang lain. Berharap kalimat tersebut menjadi kenyataan dengan segenap jiwa.
Namun, baru satu hari sejak kalimat itu di ucapkan dan jarak mengambil ruang pada hubungan ini, kata-kata itu jadi terdengar sarkas dan menyebalkan. Rasa harap dan bahagia itu seketika hilang menjadi sedih berkepanjangan. Menjadi ribuan tanya dengan awalan "kenapa?" Sebenarnya apakah benar karena jarak ? Atau sebenarnya sejak awal memang hanya saya yang mengaminkan ?.
Malam ini, ribuan tanya dan perasaan tidak menyenangkan itu akan saya lepaskan. Rasa lelah selalu berpikir banyaknya kemungkinan dan alasan, saya ganti menjadi rasa cukup. Melepaskan usaha-usaha kecil yang selalu dilakukan untuk tetap bersama. Chat-chat tidak penting, menanyakan kabar, me-reply insta story dengan emotikon lucu, atau sekedar memberi tanda suka pada postingannya akan menjadi hal normal, layaknya individu menghabiskan waktu di media sosial.
Saya akan coba mempercayai bahwa memang,
"Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya".
Meskipun sebenarnya dalam hati saya begitu banyak pertentangan. Karena sejak awal yang saya yakini adalah tetap bersama dalam waktu lama atau sebentar adalah pilihan. Namun apabila kejadian seperti ini terjadi berkali-kali, maka berarti saya yang harus belajar kembali bahwa ada hal-hal yang hanya sementara. Ada orang-orang yang menjadi tokoh utama dalam cerita pendek, bukan novel berbab-bab. Bahwa pembelajaran dengannya memang hanya singkat, karena saya harus naik level dan bertemu dengan orang lainnya untuk belajar kembali. Bahwa yang selamanya akan bersama saya adalah diri saya sendiri.
Saya jadi menyadari betapa saya selalu mudah memberikan rasa sayang dan kasih itu kepada orang-orang di sisi saya. Namun saya juga selalu mudah melupakan diri saya, dan lupa memberikan rasa sayang kepada diri ini. Barangkali perginya orang-orang tersebut adalah karena Tuhan sayang dan tau bahwa kita akan kehilangan diri kita sendiri jika benang merah ini terus berlanjut.
Maka dari itu, saya akan tetap berterima kasih kepada semua orang-orang yang hadir di tiap-tiap masanya. Saya akan tetap menghargai waktu-waktu yang dihabiskan bersama di masa lampau. Saya tetap akan menyimpan ribuan kenangan indah dan beribu alasan betapa cocoknya kami menjadi teman akrab di masa itu. Selebihnya, biarkan hanya doa dan takdir yang menuntun kita. "Biarkan semesta menentukan, apakah benang merah kita akan bertemu lagi dan menjadi cerita baru ?"



















