Tuhan.boleh kah aku meminta satu dari semua doaku,kau kabulkan? "Hilangkan rasa rinduku padanya,jika Rindu membuatku semakin menggila"
seen from United States
seen from United States

seen from India
seen from Germany

seen from Australia
seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from RƩunion

seen from Mexico
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Sweden
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Russia
Tuhan.boleh kah aku meminta satu dari semua doaku,kau kabulkan? "Hilangkan rasa rinduku padanya,jika Rindu membuatku semakin menggila"

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
"Mari Bertemu Hal Baik di Bulan November"
Ngomongin tentang November jadi inget sesuatu hahaha. Tepat pertengahan bulan ini, setahun lalu, awalnya hanyalah hari biasa yang kulalui tanpa ekspektasi apa pun. Tapi, di tengah kesederhanaan itu, ada seseorang yg tanpa sengaja ku perhatikan, pria tinggi berkaos polo warna navy dan celana jeans, begitu pas dengan gaya kasualnya dan terkesan rapih. Dengan tenang, dia memperkenalkan diri dan menjabat tanganku. āPria yang ramah,ā batinku saat itu.
Sejujurnya, setelah itu aku tidak terlalu memperhatikannya karena dia duduk di baris bangku belakangku. Aku memperhatikannya saat sesekali dia memberi masukan di kelas, āPria yang pintar, aku suka pemikirannyaā pikirku lagi. Entah mengapa, aku tertegun sejenak, ingin sekali berbincang dan mengenalnya. Sialnya, aku mulai mengaguminya dari cara berpikirnya yang tajam dan penuh percaya diri. Sederhana sekali caraku mengagumi seseorang kali ini hahaha.
Ingin rasanya mengulang hari itu, kembali ke saat-saat itu. Melihatmu dari sudut kelas yang sama. Rasa penasaran ini terus menggoda pikiranku: Apakah kita bisa bertemu kembali? Apakah ada kesempatan untuk menjadikan kenangan itu lebih dari sekadar fragmen masa lalu?
Ziarah
Backsong: The Wind of Life: Asian Dream Song by Joe Hisaishi
Book: Isyarat Cinta yang Keras Kepala by Puthut EA
Aku merasa bahwa bagaimanapun harus ada sebuah prosesi untuk menziarahi situs-situs masa laluku denganmu. Itu semua juga tidak mudah. Tapi aku harus melakukannya. Harus ada tahapan maju untuk jarak tempuh yang terus semakin jauh. Mungkin di sana dibutuhkan keberanian untuk kembali merasa sakit. Bagaimanakah harus menumpulkan ketajaman sebuah benda tajam? Membenturkannya. [Hal: 92, Isyarat Cinta yang Keras Kepala]
Secara tak sengaja, aku melakukannya tadi pagi. Bersepeda menyusuri tempat pertama kali kita pergi, kursi pinggir taman kota jika kamu masih ingat aku ada fotonya juga. Lalu ke taman yang pernah kita singgahi awal ku goreskan tintaku di sketchbook mu, Mcd tempat ku menunggumu dengan cemberut khawatir kamu lupa jadwal nonton kita (hahaha lucu sekali jika diingat) hingga berlanjut ke sepanjang jalan tua, festival pertama kali yang kita singgahi. Mempertajam genangan #eh kenangan, memang tidak mudah. Makin disinggahi makin terasah tajamnya memori itu.
Cuaca yang memang sangat mendung pagi ini (favoritmu bukan). Beriringan dengan lelahnya kaki ini mengayuh sepeda. Sejauh mana bisa menziarahi situs-situs masa laluku denganmu. Ternyata aku bisa, setidaknya melewati tempat-tempat ini. Namun, ada satu tempat yang aku belum berani untuk singgah dan kemungkinan sudah tidak ada kesempatan lagi untuk kesana. Kamu tau itu dimana? Tempat awal ku kenal denganmu, dimana semuanya dimulai, semuanya tumbuh subur dan disitu pulalah aku pernah kehilanganmu pertama kali. Entah memang semesta memainkan peran apa untuk kita, tempat itu berakhir seiring dengan berakhirnya hubungan kita. Lucu bukan?
Kenangan tidak bisa dihilangkan. Kenangan hanya bisa dihadapi atau diperam dengan risiko membusuk di dalam. Aku menghadapinya. Menghadapinya. Menghadapinya.
Mmm..Aku kangen kamu saat ini. [Hal: 99]
Kemudian perih lagi diri ini. Ahhh kamu, huft! Lagi-lagi aku memimpikanmu siang tadi.
Mendungnya Surabaya disaat libur panjang (kata orang-orang), 30 Oktober 2020.
Pura-pura baik-baik saja
Aku pikir dengan berpisahnya kita, semua akan baik-baik saja. Yah memang sih, kita tidak pernah membuat memori yang indah layaknya pasangan lain selama kita bersama. Bisa dibilang sedikit sekali menurutku. Mungkin itulah yang membuat diriku marah dengan semuanya. Karena aku rasa itu tidak adil, momen kita hanya sebentar saat kita masih dalam satu frame yaitu pekerjaan. Sisanya? Aku baru mengetahui setelah kita berpisah ternyata kamu memang menghindariku. Cukup sedih atas pengakuannmu itu. Namun tidak dipungkiri bahwa sebenarnya kita masih punya rasa yang sama. ((Lagi-lagi itu menurutku))
Sama-sama besarnya, sama saling rindu, sama masih merasakan kehilangan satu sama lain. Apa aku yang terlalu percaya diri? Ah aku rasa tidak. Aku yakin sekali itu. Rasa kita masih sama kuatnya. ((Lagi-lagi menurutku))
Rindu? Mungkin aku agak sedikit benci dengan kata ini. Tapi karena dialah juga aku masih bisa merasakan bahwa aku manusia ternyata.
Memasuki musim hujan, musim favoritmu bukan? Hahhh, yah ini memang musim kesukaanmu. "Dingin", katamu kala itu. Dan kami bertolak belakang soal ini. Aku tidak suka musim hujan, karena badanku yang kecil penuh tulang ini aku merasa udara dingin terlalu menusuk di tulangku. "Ahhh, iya kamu ga suka dingin ya?", katamu mengklarifikasi.
Pernah ku bertanya, "kenapa kamu suka musim hujan?". "Dingin aja enak, kalau kemana-mana enak soalnya kalo panas aku mimisan", begitu penjelasanmu soal hujan. Cukup logika sih menurutku, yah memang kamu adalah master of logic. Semuanya kamu logika.
Sampai suatu ketika, logika mu hilang porak poranda. Aku tidak tahu pasti itu kenapa. Ada apa dengan logika mu?
Memorable, dan tiba-tiba aku mengingatnya kali ini. Hmmmm.
Muncul kembali di alam bawah sadar,
Surabaya, 20 Oktober 2020
Datang Lagi
Kemarin kamu datang lagi, kali ini bahasan kita masih sama seperti pertemuan sebelumnya yakni tentang jualan. Lagi-lagi saya berekspektasi lebih lagi bahwa kita akan yaaaaa karena sekian lama tidak bertemu, kupikir akan duduk dan saling ngobrol dengan baik. Namun, lagi-lagi saya menyadari untuk tidak berharap lebih jika yang bersangkutan tidak mengajakmu ke arah sana. oke baiklahhh.
Dia, yah seperti yang saya tahu bukan tipikal orang yang gampang mengajak seperti pada umumnya. Akan bertemu jika ada tujuan yang jelas. Yah saya paham, bukankah apapun di dunia ini harus jelas memang ya? supaya anda tidak salah jalan. Google maps saja selalu menanyakan kemana kamu akan pergi. iya kan?
Tiap kali saya bertanya,Ā āudah gini aja?ā disetiap pertemuan kami yang hanya karena tujuan tertentu itu. Disetiap itu pula lah dia berkata,Ā ālah trus?ā. Ah diri ini selalu saja berekspektasi lebih. Bukankah hal paling menyeramkan di dunia ini adalah ekspektasimu sendiri ya?
Saya memang tidak bisa menduga apapun tentang sejauh mana semesta membercandai. Yang saya tahu harusnya sudah siap dengan lelucon yang terjadi. Tertawa seperlunya. PS: Akhirnya kamu ketemu Adit ya, setelah sekian lama hanya lewat HP saja
Surabaya, 5 Oktober 2020

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Melihatmu hanya lewat update social media.
Wah, untungnya saat ini sedang social distancing
Setidaknya kita mulai terbiasa dengan hal ini
Terkadang ((bukan terkadang, setiap hari woi))! Tuhan memang baik :)
Membiarkan peristiwa perpisahan disaat seperti ini
Coba bayangkan jika hal ini terjadi saat hari-hari normal
Betapa susahnya untuk deal dengan semua ini
Paling tidak, saat ini semua bisa menemanimu
Sama-sama saling di rumah menjaga semua supaya berjalan baik-baik sajaā»
Selamat berdamai
__7 Juli 2020 6:08 p.m
Gini Toh Rindu
Saya menerapkanĀ āaturanā bagi diri sendiri
atau setidaknya, badan/hati saya mengizinkan konsep ini:
bahwasanya, ketika saya pernah dekat dan menghabiskan waktu berkualitas dengan seseorang, pantang bagi saya memutus komunikasi dengannyaĀ
Siapapun itu Saudara, teman, gebetan, mantan pacar, bos, atau apalah itu. Sampai hari ini.
Dan berujung saya memendam rindu yang lumayan hebat karenanya.
Cailah!
Saya masih ingat Seorang pria yang pernah selama 4 bulan menghabiskan waktu bersama dengan saya, tahun lalu.
Di sekitaran bulan ini
Kami, dua manusia dewasa dengan tujuan yang sama namun kendaraan berbeda Tujuan yang sama namun dikelilingi lingkaran yang tak sama Dipertemukan tahun lalu.
Namun tampaknya Tuhan hanya mempertemukan, tidak untuk menyatukan.Ā
Kini, hari-hari saya terselip memori baik bersamanya Tak hanya tawa, tapi juga bagaimana saya melihat adanya sisi diri saya yang bertambah baik setelah mengenalnya
Saya kira, Januari 2019
Semuanya sudah benar-benar selesai. Setelah dia mengakhiri hubungan kami. Saya kira benar-benar berakhir dengan baik ...karena setidaknya dia masih memilih bertemu dan menyampaikannya empat mata Bukan sekadar menghilang.
Saya kira ini benar-benar selesai ketika setelahnya saya memilih memutus komunikasi dengannya Saya, kala itu masih berprinsipĀ āAll or Nothingā memandang hal ini ...yang artinya ketika dia memilih selesai, ya selesai hubungan kita sebagai antar anak manusia Saya tidak bisa (berpura-pura) baik-baik saja di saat di dalam hati hancur karena pernah memberi maaf seluas itu sebelumnya namun berakhir dengan penyelesaian begini darinya.
perasaan saya campur aduk waktu itu
Antara terkejut, lega, menyesal, benci, dan menyalahkan diri sendiri.
Bahkan sempat berpikir kalau rasa itu tidak pernah dia miliki sejak awal Bahkan ketika sebulan setelahnya, dia bilang bahwa
āKita cocok sebenarnya Tapi ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkanā
Saya merasa sudah selesai. Tapi, tiba-tiba belakangan ini saya merasa butuh ada satu pertemuan lagi.
Satu dan terakhir pun tak apa.
Saya mau bilang, terima kasih.
Saya jadi lebih bisa belajar menghargai, mengapresiasi orang-orang yang saya sayangi. Dari caramu memperlakukan orang yang kamu sayangi dan bagaimana minimnya yang saya lakukan selama ini untuk kamu dan mereka. Saya juga belajar bahwa berdoa dengan perasaan tawakal itu perlu. Saya mengilhami ini ketika menyadari bahwa kamu, yang waktu itu ada di hadapan saya adalah antitesis dari banyak kriteria yang saya cari, yang saya doakan. Tapi membuat saya betah, membantu saya menemukan, maunya diri ini.Ā Membantu saya mengukur kapasitas diri, masalah seperti apa yang bisa saya toleransi
Kamu tahu, setelah Januari 2019, saya sempat bertekad untuk tidak mau punya pasangan baru yang kriterianya ada di kamu. Suku, pekerjaan, usia, bahkan nama.
Ya, sekonyol itu memang.
Tapi, 10 bulan berlalu ya Saya kembali pada diri saya
Saya paham satu hal Waktu itu, hati saya tidak cukup luas Bukan untuk memaafkan kamu Tapi untuk menerima bahwa kenyataan gak selalu sesuai harapan
Kalimat klasik ini, tapi sungguh kuat. Hehehe
Saya waktu itu menjauh karena marah
Saya marah karena memaksa Saya memaksa karena menurut saya, bersama adalah yang paling benar Saya merasa itu benar karena kesan dan harap yang saya bangun sejak awal Saya membangun kesan tersebut karena kurang membuka mata dan hati
Bahwa kita boleh memikirkan akhir terburuk dari suatu cerita Tapi, sekalipun tahu, saya alpa menyiapkan diri untuk itu Saya didorong oleh narasi yang saya munculkan bahwa: lelaki dewasa seperti kamu tidak mungkin mengambil keputusan sekonyol ini. Harap saya setinggi itu memang.
Tapi kembali lagi, saya pelan-pelan mengendurkan ego saya Sekali lagi, demi kebaikan diri sendiri.Ā
Akhirnya saya sadari, kamu pun mungkin sudah melalui proses panjang untuk mengambil keputusan ini
Dan saya? Mencoba melihat ke depan sejak masih bersama kamu dan tetap saja, keraguan satu itu sedikit demi sedikit muncul
Saya memang salah, malam itu dengan lancang membuka ponselmu dan menemukan percakapan kalian yang mengejutkan itu.Ā Tapi malam itu jadi pintu bagi keputusan-keputusan besar yang kita ambil setelahnya, kan? ...termasuk untuk melanjutkan hidup bahagia masing-masing
Asal kamu tahu, Beberapa kali saat terbersit rindu, dibandingkan menggerakkan jari mengirim pesan dari aplikasi ponsel hijau, saya malah memilih berdoa.
Jika saya dan kamu direstui bertemu lagi, saya minta dipertemukan dalam momen kebaikan, dengan cara yang baik, dan membawa kebaikan bagi kita setelahnya. Saya berdoa kamu dilindungi, didekatkan dengan kebaikan, tidak mengulangi masa lalu yang buruk, dan dimudahkan rezeki.
Ya, cicilan rumahmu masih sekitar 13 tahun lagi kan?
Hhe~
Sekali lagi, saya mau bilang makasih
Lewat kamu, saya bertumbuh Lewat kamu, saya menemukan sisi lain diri Lewat kamu, saya jadi mendapati teman-teman baik yang mengerti Kita dua manusia baik yang tidak diizinkan bertumbuh menua bersama
Jika nanti sudah ketemu yang baru (atau mungkin sudah), sampaikan padanya, kamu pernah punya waktu baik bersama gadis yang mengenalkanmu pada standup comedy, serta mencintai buku dan galeri seni ya
haha
⣠RINDU⣠⣠Namanya Rindu. Aku hampir saja menemuinya selepas membaca pesan singkat di handphone "Kamu ke gang VII ya". Aku tidak benar-benar tahu posisi gang VII yang dimaksud, hari itu baru dua hari aku hidup di Jogja, kota yang begitu beda dengan desa tempat tinggalku sebelumnya, jalannya banyak. Selepas menghidupkan motor, aku telusuri jalan yang baru pertama kali ku lewati, waktu berjalan cepat, pesan singkat kembali aku terima "Kamu sampai mana? Aku duluan ya, sudah mau telat", aku hanya membaca sembari berputus asa. Waktu itu hari pertama penyambutan mahasiswa baru, aku seharusnya menjemput Rindu karena dia belum bawa kendaraan dari rumah, tapi kebiasaan saya yang buruk selalu saja ikut: berangkat mendekati waktu telat.⣠⣠Selang berhari-hari, berminggu-minggu, hingga sudah 2 tahun lebih aku kenal dekat dengan Rindu, dia orang yang baik, matanya menyala ketika bercerita, pipinya tirus, dan dagunya lancip. Dia adalah satu dari tujuh sahabatku yang kutemukan di kota istimewa ini.⣠⣠Suatu hari aku dan Rindu pergi melancong ke Solo untuk menemui sahabat kami yang kebetulan sedang di sana, tentu alasannya simpel seperti namanya, kami rindu sahabat kami, sekaligusnya memberi kabar bahwa Rindu akan pindah dari Jogja. Setelah sehari di sana kami berdua kembali ke Jogja, di stasiun aku melihat Rindu sendu, ⣠āKamu kenapa?ā⣠āEnggak kenapa-kenapaā⣠āKamu sedih? Meninggalkan Solo? Meninggalkan Langit?ā⣠āAku sedih akan meninggalkan kalianā⣠āJangan sedih rindu, bukankah setiap hal selalu punya resiko? Begitupun perjumpaanāā£. ⣠Mata Rindu berbinar-binar, celakanya mataku ikut, aku tak bisa menyembunyikannya, kepalaku menengok dan ku usap air mata yang hampir jatuh. Aku pura-pura menguap agar tak ketahuan.⣠⣠āHidup itu, Rindu, hanya silih bergantinya pertemuan dan perpisahan dan kita sebisa mungkin mengisi sebelum pergantiannya. Kepergianmu bukan untuk meninggalkan, kita hanya berjarak untuk dapat menabung lebih banyak rindu, seperti namamu.ā⣠⣠Rindu memeluku, mataku berkaca-kaca.⣠___⣠#30hbc19⣠#30hbc1909 #30haribercerita⣠#30hbcrestuak⣠#ceritarindu⣠#dialogimajiner⣠@30haribercerita (di Kalikuning) https://www.instagram.com/p/BsaTGFXFzhh/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=168k4chz7ur7y