Agustus yang cerah dan berbagai euforia perayaan hari kemerdekaan. Katanya Indonesia sudah 77 tahun merdeka. Aku menghitung dalam kepala, 100 - 45 jadi 55, lalu ditambah 22. Totalnya 77, tepat!
Kamu menarik-narik tanganku agar segera berlari menuju kantin perpustakaan. Jam 11.45 sangat berdekatan dengan jam makan siang, katamu. Gerombolan mahasiswa baru itu akan menghabiskan hampir semua tempat di kantin. Bangku sampai lesehan, dari mulai yang pesan soto hingga mereka yang menyantap bekal makan siang. Belum lagi stok bakwan jagung yang katamu akan terancam. Padahal kami sangat menginginkan itu sejak pagi.
Bangku paling belakang jadi pilihan kami, diapit oleh bapak-bapak berbaju biru muda yang duduk di 2 bangku depan kami. Sepertinya pegawai perpustakaan. Tapi hei, ini masih belum jam makan siang. Kami tertawa kecil saat saling tatap, seakan punya pemikiran yang sama. Entahlah.
"Jadi gimana respon pesan yang kau kirim kemarin?" tanyaku sambil mengelap meja dengan tisu.
"Ya, seperti biasa. Aku tak pernah berharap lebih,"
"Mungkin memang sedang sibuk,"
"Setiap hari?" tanyamu yang lebih mirip pelampiasan rasa kesal.
"Ya gimana, besok kirim pesan lagi saja," saranku sedikit bercanda. Aku yakin kemungkinan besar kamu tak akan bersedia.
"Gapapa," katamu pada akhirnya.
"Aku sudah pasrah. Kayaknya dengan hasil yang sekarang pun, aku masih baik-baik saja." sambungmu.
Aku seketika mengepalkan tangan di depan dada. Sekaligus tersenyum lebar.
"Fighting!" seruku. "Ayo semester ini kita lebih giat belajar," sebuah pernyataanku yang lebih mirip ajakan yang membutuhkan persetujuan dari lawan bicara.
Pesanan kami pun datang. Soto kuah kuning yang katamu lebih enak disantap dengan kecap. Dan aku yang menentang keras itu. Kataku, kecap yang manis akan mengalahkan sensasi segar kuah soto. Namun kamu juga tetap bersikukuh. Hingga suatu hari seorang mahasiswa baru yang duduk satu meja dengan kami, dengan sopan menyodorkan botol kecap padaku,
"Kecapnya, Mbak!" serunya sambil menyodorkan botol kecap itu. Mungkin ia sadar aku menyantap soto tanpa kecap dan berpikir aku segan meminta botol itu dari hadapan dia dan teman-temannya.
Aku hanya mengangguk dan kamu tersenyum menang.
"Memangnya, pada umumnya orang makan soto pakai kecap?" tanyaku lirih yang ternyata didengar kamu.
"Tentu saja," katamu yakin.
Semangkuk soto ini pun akhirnya sudah habis kami santap. Kamu beranjak mengambil camilan di samping kantin yang tampaknya baru dititipkan tadi pagi. Tentu saja ini terlihat dari jumlahnya yang masih banyak dan tertata rapi.
"Apa?" tanyaku yang heran. Karena tak biasanya kamu makan banyak, apalagi sampai mengambil camilan penutup makan siang.
"Entah," jawabmu sambil juga penasaran.
Aku pun turut penasaran. Kulangkahkan kaki menuju keranjang camilan itu. Memilah yang bentuknya paling rapi dan kecil. Aku tidak bisa menyangkal bahwa sebenarnya aku cukup kenyang, tapi aku penasaran dengan apa yang kamu makan. Wujudnya tampak menggemaskan.
Ya. Camilan isi sayur atau sesekali ada suwiran ayam. Saat menulis cerita ini aku berselancar mengunjungi laman daring Kamus Besar Bahasa Indonesia, aku ketikkan kata "Kroket", dan menemukan jawaban sesuai yang aku inginkan:
n penganan yang dibuat dari kentang yang dihaluskan, diisi daging di dalamnya, dibentuk lonjong, lalu digoreng
Tapi namanya hidup, dunia tak akan berkeliling hanya di sekitamu saja. Hari itu kami ingin meng-undo kehidupan. Setidaknya untuk 5 menit yang lalu. Membatalkan untuk mengulurkan tangan menyentuh kroket itu.
Tidak ada yang salah, isi kroketnya cukup memenuhi ekspektasi. Tapi ternyata adonan yang dibuat sebagai kulitnya bukan terbuat dari kentang, ataupun terigu. Tapi ia mirip roti yang empuk. Aku masih tahan menghabiskannya, tapi milikmu kau sisakan sekitar 1/6. Sebentar, kuhitung. Sekitar 0,1666666666666667 bagian. Dibulatkan jadi 0,167.
"Andai hidup bisa di-undo," katamu spontan.
"kujadikan buku, ya?" seruku spontan juga.
"Hahaa ya. Aku jadi pembaca pertama nanti," katamu girang.
"Ya, kapan-kapan, di masa depan." candaku.
Sebuah tulisan yang dibuat untuk mempertahankan cerita lebih lama. Ada banyak orang baik dan orang yang sebaliknya di dunia ini. Bertemu mereka adalah hal yang tak dapat aku hindari. Maka terkadang ingin menggunakan Ctrl + Z pada beberapa momen. Namun bertemu mereka adalah takdir dan cara Tuhan. Setidaknya cerita akan membuat mereka terkenang sebagai mereka.