Berwudhu. memakai sarung. memakai kemeja. tak lupa memakai sedikit wewangian. kemudian berjalan ke arah musholla dekat rumah. saat itu waktu isya. beberapa masjid sudah mulai ber-shalawat, tanda bahwa masjid atau musholla tersebut sudah bersiap adzan. namun tidak dengan musholla tujuan saya. belum ada suara speaker sedikit pun.
dengan hati yang sangat bersemangat dan kaki yang serasa begitu ringan, berangkatlah saya ke masjid dengan satu keinginan besar,
"saya ingin Adzan! saya ingin adzan!"
ketika diperjalanan tidak ada hal aneh. semua terlihat biasa dan normal. sekitar 10 meter jarak saya dengan pintu musholla. tiba-tiba dari belakang terdengar suara langkah lari yang begitu ringan dan cepat. seorang anak kecil berumur 8 tahun mendahului langkah saya. langkah larinya begitu polos. memakai peci putih yang terlihat agak kumal. langkahnya gontai. kemudian melepaskan sandal dan membuka pintu musholla yang memang tak dikunci. secepat itu juga ia menuju ruang peralatan pengeras suara. dengan lincahnya Ia menyambar gagang microphone yang tergantung di dinding.
Dia mengumandangkan Adzan...
langkah saya terhenti persis di depan pintu melihat sosok kecil tersebut adzan. entah perasaan apa yang muncul namanya. rasa itu seperti; 'seseorang baru saja mencuri dompet saya'. 'mencuri handphone saya'. 'mencuri laptop saya'. seperti seseorang baru saja mengambil hal yang saya ingin miliki dan sangat saya inginkan; keutamaan seseorang mengumandangkan adzan.
saya seperti seseorang yang kalah dalam olimpiade atau perlombaan dimana hadiahnya sangat besar nan memukau. iya sungguh! rasanya seperti itu. perasaan kecewa terhadap diri sendiri muncul. ada sebuah kekesalan kenapa saya tidak bergegas. namun tidak lama. segera saya meluruskan niat~
kemudian anak kecil itu menyelesaikan perannya sebagai muadzin. menaruh kembali microphone pada tempatnya. ia berbalik arah menuju tempat wudhu. sekilas menegur saya dengan senyuman khas anak-anak. penuh arti.
ini bisa saja terjadi oleh siapapun. bahkan bisa kita katakan bahwa ini merupakan peristiwa sepele. namun Allah memberikan saya sebuah pelajaran yang sangat luar biasa dengan menjadikan anak kecil itu perantara.
dalam beribadah dan melakukan kebaikan apapun tak cukup hanya bermodalkan Niat dan hal penunjang yang mumpuni.
ada suatu hal terpenting lagi sebagai pelengkap itu semua.
"Menyegerakan" Ya, kita harus Bergegas!"
pernah kah membayangkan suatu hari - yang sudah mutlak kepastiannya- amal kita di hisab (dihitung) dan ditimbang. saat itu tidak ada Naungan yang lebih mulia daripada naungan-Nya. Tidak ada syafa'at yang lebih indah daripada syafa'at-Nya. kemudian mendapati bahwa amal kita ternyata belum cukup untuk masuk ke dalam jannahnya. dan kita sadar hal apa yang menyebabkan itu; Tidak bersegera memenuhi panggilan-panggilannya.
bersyukur kepada Mu yang menjadikan seorang anak kecil-lugu sebagai perantara Hidayah-Mu, kepada hamba mu yang berlumuran dosa ini.
Demi Dzat yang Jiwaku ada dalam Genggamannya.
jadikan kami pribadi yang selalu Bersegera dalam kebaikan. jadikan kami sebagai hambamu yang selalu istiqomah memenuhi panggilan mu. Tanpa menunda~
2014, December 17 | 21:36 WIB | @azmifikkri