Meniti Jalan Menuju Allah.
Bismillahirahmaanirahiim.
Kemarin itu hari Selasa tanggal 12 di bulan September Ceriaโฆ.yeay!
Iya ceria seharusnya, tapi mendung nampaknya belum bisa move on dari memori masa lalu.heu
Tapi proses, tak mengapa.. perasaannya diterima, karena kehilangan orang terkasih tidak selalu mudah. Apalagi jika seseorang itu begitu spesial. Bahkan sebelum saya lahir, sosoknya menjadi alasan kenapa diri ini hadir di dunia.
Lima tahun yang lalu tepatnya, di waktu subuh mendapat kabar yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, secepat itu, semendadak itu. Di tengah-tengah suasana tugas akhir, Papap yang masih sehat dikabarkan sudah menghembuskan nafas terakhir di waktu sepertiga malam.
Perasaannya super campur aduk, tapi rasa sesal mendominasi. Sekarang rasa sesal sedang berusaha ditransformasi jadi sesuatu yang lebih berfaedah. Karena salah satu hal yang aku percaya, bahwa hanya doa dari seorang anak yang soleh/solehah yang dapat menjadi wasilah bagi orangtua saat harus menghadapNya lebih dulu. Pertanyaannya adalah : sudah solehah kah saya? (merembes mili di pipi). Rasanya masih harus terus belajar dan berproses. Toh ini hanya masalah waktu, soon or later saya pun akan menyusul.
Sudah lima tahun ya ternyata?
Sudah sejauh apa progres transformasinya Lik?
Tentu bukan jalan yang mulus, bahkan pernah minus. Saat lupa peran di dunia, saat lupa rasa sesal yang pernah menghampiri, dan obsesi mendominasi, Dia bermain dengan skenario terbaikNya. Allah mengkondisikan diri di posisi jatuh menuju dasar, sampai tak ada yang mampu menolong kecuali Dia.
Bentuk kasih sayang yang sungguh unik. Belakangan baru saya sadari itu caraNya saya โdipaksaโ tau diri. Bahwa diri ini hanya makhluk lemah yang diberi kesempatan untuk hidup dan diberi sedikit titipan yang bisa diambil olehNya kapan saja suka-suka!
Kemarin di tanggal yang sama, tahun yang berbeda, kembali diingatkan dengan ini :
Setiap Selasa malam, temen-temen muara.id rutin mengadakan kajian kitab Al-Hikam karangan Syekh Ibnu Athailah As-Sakandari. Lika biasanya mantengin live IG nya di @muara_id setiap jam 19.30.
Surprisingly, entah kenapa topiknya lagi โpas bangetโ. Meski ini sudah Hikmah ke-30 tapi insyaAllah pesannya masih bisa dipahami. Hikmah ke-30 โ Semua atas Takdir Allah :
โTiada suatu nafas terlepas dari padamu, melainkan di situ pula ada takdir Allah yang berlaku atas dirimuโ_Ibnu Athailah As-Sakandari
Setiap nafas yang keluar darimu telah ditakdirkan Allah, baik yang terkandung didalamnya ketaatan, maksiat, nikmat maupun petaka. Setiap nafas yang keluar darimu adalah satu dari sekian takdir Allah untukmu yang ditetapkan bagimu. Maka siapapun dirimu tetaplah menjaga kesopanan dihadapanNya, dan menyadari bahwa dia selalu mengawasimu, seperti seorang salih yang meniti jalan menuju Allah. Itu makna dari meniti jalan menuju Allah sebanyak desahan makhluk.
Setiap nafas yang kita hembuskan memiliki kadar ketentuan Allah. Setiap desahan nafas yang keluar, artinya setiap kesempatan berkurang :(
Akan dipertanyakan setiap nafas, bahkan setiap detak jantung dipergunakan untuk apa?
Apa kabar saat iman naik turun? Hati mudah dibolak balik? dan Sifat manusia yang mudah lupa ๐
Meskipun iman naik turun, kondisi ideal โtrenโ nya tetep naik! sharing dari bung Gilang Abi Madien. Baiklahโฆ bahasa seorang akuntan menarik ya pake grafik, tapi sangat membantu buat Lika yang lebih suka visual.
Jadi catatan untuk diri, saat goalsnya transformasi dari Putri seorang Ayah mewujud jadi hambaNya yang taat dan mengerjakan amal soleh. Maka hal pertama yang perlu disadari justru dari diri sendiri, mulai dari aware bahwa setiap desahan nafas akan dipertanyakan. Konsekuensinya diri ini harus sadar betul, meniti jalan menuju Allah memang tidak mudah. Dihadapkan pada dua pilihan mengikuti petunjuk Allah atau selain Allah.
Q.S. Al-Baqara: ayat 38
ููููููุง ุงููุจูุทููุง ู
ูููููุง ุฌูู
ููุนูุง ููุฅูู
ููุง ููุฃูุชููููููููู
ู
ูููููู ููุฏูู ููู
ูู ุชูุจูุนู ููุฏูุงูู ููููุง ุฎููููู ุนูููููููู
ู ููููุง ููู
ู ููุญูุฒูููููู
โTurunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hatiโ.
Mau ikut petunjuk Allah aja.. kalau selain Allah sering tersesat soalnya! Setidaknya saat sadar memilih petunjuk Nya, Allah menawarkan 2 kondisi tidak khawatir dan tidak bersedih hati. Bukankah 2 kondisi itu yang selalu jadi akar pencarian manusia? cari apalagi mba? mas?
Pap, semoga kita dipertemukan lagi di surganya Allah.
Aamiin Allahuma Aamiin :)
Dago, 13 September Ceria 2017.