Entah datang darimana, rasa penasaran tiba-tiba mengetuk kamar ku yang terbuka dua puluh lima derajat. Tanpa dipersilahkan masuk, ia menghampiri. Membisikkan sesuatu yang halus ditelinga.
âApa kabar ia? lama tak kau sambangiâ
Seolah terhipnotis, pertanyaan itu disambut oleh impuls di dalam otak, mengulang pertanyaan sama beberapa kali. Embrio penasaran pun terbentuk. Terbelah. Ia terbelah. Lahir dalam wujud motorik tangan yang beradu pada tuts papan ketik komputer. Tak lama, tertulis dalam kolom pencarian sebuah alamat blog yang sangat ku kenal.
http://azmifikkri.blogspot.co.id
âsudah cukup lama tidak dibuka. iya ya, bagaimana kabarnya ...â
Tombol enter sudah ditekan. Memuat. Sekian detik, terpampang jelas rupa sebuah halaman blog yang sangat tidak asing bagi ku. Blog lama yang sudah hampir tiga tahun tidak diurus dan belum memposting tulisan terbaru apapun. Terlihat jelas beberapa tulisan-tulisan yang paling akhir terposting.
Membaca. Membaca. Aku mulai membaca hampir semua tulisan yang pernah ku tulis sendiri. Setiap katanya ku coba resapi. Tiba-tiba aku tertarik pada tulisan cerita pendek berseri yang ku buat berdasarkan kisah yang aku jalani sendiri. Masih teringat, pada saat aku menulisnya dulu, emosi yang aku hidupkan kala itu adalah sebuah rasa kagum kepada lawan jenis. Dan, ajaibnya, tanpa tedeng aling-aling emosi itu muncul lagi, sangat persis seperti bagaimana hari itu â dulu â aku menulisnya.
Beralih ke tulisan lain. Tulisan yang dulu aku hidupi dengan rasa rindu yang teramat sangat. Ajaibnya, lagi, emosi itu muncul persis seperti dulu saat aku merancang untuk menulisnya. Meski terasa sedikit canggung, ini tidak menghentikan laju tetikus ku untuk scroll down lebih jauh, mengeksplor tulisan-tulisan lama yang lain.
Kemudian membaca post dimana aku mencoba berlaga seorang blogger hits. âSay hello to blogger worldâ,â selamat malam para pembacaâ, membuat alasan sok sibuk karena keterlambatan memposting tulisan, dan sapaan-sapaan lain yang menggambarkan seolah blog ku memiliki banyak pengikut. Sejujurnya, bagian itu ketika dibaca hari ini, terasa sangat menggelikan.
Kemudian, beralih ke tulisan-tulisan lain yang memiliki penjiwaan berbeda-beda. Seolah tiap kalimat mempunyai kandungan kimianya masing-masing, begitu banyak ragam emosi muncul di kepala ku. Aku tenggelam membacanya. Tenggelam dalam tawa. Tenggelam dalam ketidaksetujuan. Tenggelam dalam ke-jijik-an. Tenggelam dalam rasa heran, aneh, canggung, kelucuan yang dipaksakan, dan momen masa lalu yang juga tidak ingin ketinggalan. Semua larik-larik ingatan dan penjiwaan kembali muncul persis seperti saat aku menulisnya. bak pergi melewati lorong waktu.
Ada hal penting yang aku dapatkan dari itu semua; bahwa kita mampu belajar dan berkaca pada masa lalu. Melalui media apapun. Terutama tulisan. melalui tulisan, semua tergambar, mulai dari kekonyolan sudut pandang, mempelajari sebuah diksi yang pernah dipakai namun ternyata saat ini sudah jarang digunakan, belajar tentang prinsip yang dulu dipahami, dijalani, dianggap benar, namun ternyata saat ini itu semua dirasa kurang tepat. Belajar tentang bagaimana dulu bersikap dan merespon terhadap sesuatu. Belajar sebuah arti keluguan yang ternyata saat ini berguna sebagai bahan lelucon dan tertawaan untuk diri sendiri. Belajar tentang sudah sampai mana saya berubah, ke arah yang baik kah atau malah semakin terpuruk.
Belajar memaknai masa lalu. Kita yang dulu, bisa jadi adalah yang kita anggap keliru saat ini. Dan bisa jadi pula, kita yang dulu adalah yang kita benci saat ini.
Meski beberapa tulisan tersebut terasa menjadi sebuah aib diri sendiri, aku benar-benar tidak berniat untuk menghapusnya. Biarlah itu menjadi sebuah catatan yang mampu aku pelajari lagi dilain waktu. Menjadi pengingat bahwa aku pernah selugu, sekotor dan sekeliru itu. Dan karena tulisan merupakan representatif dari ide, prinsip, dan cara berpikir seseorang, aku hargai semua tulisan sebagai sebuah proses mendewasakan diri.
Dan selain dari semua kecacatan dan penyimpangan-penyimpangan yang terkandung pada tulisan ku, ada hal lain yang ku temukan dan ku anggap berharga, yaitu sebuah kejujuran dalam menulis.
Aku mendapati, bahwa kejujuran dalam menulis itu perlu. Meski dulu, aku dalam menyampaikan tulisan sering menggunakan ejaan dan kalimat serapan yang amburadul, selama tulisan itu ditulis dengan jujur, ia akan hadir dengan keluguan dan maknanya sendiri. Hingga sampai pada hati yang memiliki frekuensi seirama.
Semoga, pada tulisan-tulisan selanjutnya, bukan topeng yang sedang ku ukir, pahat, dan hias untuk dipamerkan, melainkan sebuah ekspresi dari kejujuran hati.
Selamat berjujur kepada diri sendiri~
:)
Semarang, 22 Oktober 2016 | Ahmad Azmi Fikri