You wake me up from a long sleep
Aku sempat lupa kalau punya akun ini. Sepertinya, dulu aku mau hapus. Tapi entah kenapa, semua kembali mendadak bangun seketika. Bangun dari tidur panjang akan kata-kata yang biasanya aku ukir setiap kali berjumpa siapa saja.
Pertama kali aku menulis karena, cinta. Iya, beneran. Cinta apalah anak 20-tahunan yang emang suka lawan jenis atau cinta yang abstrak banget. Aku mulai menghitung cinta itu saat aku 6 tahun lalu, masih 22 ya. Bertemu orang yang ujung-ujungnya aku tinggal juga. HAHHAHA.
Jujur, itu adalah pengalaman pertama bersama orang yang sampai aku kenal keluarganya. Lama juga, sampai 2 tahun. Tapi ia keburu pergi ke Ibukota karena pekerjaan. Lantas, aku menemukan teman baru yang bikin hati dagdigdug.
Kayanya 2020-2021 begitu cepat. Dua tahun yang penuh lucu-lucuan, tapi dimasukkin hati, kemudian cari pelabuhan, enggak ketemu juga. Banyak lucunya, banyak lika-likunya. Sampai pada 2022 membuat semuanya lihai bermain kata, berpandai-pandai menyita waktu untuk jalan cari makan ke kecamatan sebelah.
Belum lagi dengan berbagai pertemuan yang berawal dari pesan di Instagram. Semua kelihatan serba cepat dan entah kenapa hari ini bisa sampai pada titik bahwa semua penuh dengan keseriusan.
Ternyata, kita (atau aku) hanya memilih dari hasil memilah setiap carik-carik sikap seseorang. Meski utuhnya kita tak mau, tetapi lapisan demi lapisan yang ia miliki sejatinya telah diakui. Ibarat memakan cake yang diambil bolunya saja ketimbang whiped cream yang bejibun di atasnya. Atau, hanya mengambil ceri dan potongan strawberry kemudian dipinggirkan sisaannya.
Begitukah melihat manusia?
Lantas, melihat manusia secara utuh sebagai hubungan yang kau dan aku adalah teman, mungkin bisa. Namun, apakah iya ada ekspektasi melampaui batas yang nantinya akan memperumit keadaan? Setidaknya, aku sudah bilang sejak awal. Bahwa aku baik sebagaimana engkau baik, meskipun ya tidak baik-baik. Setidaknya aku ingin mengakhiri dengan baik, tapi apakah ada awal dan akhir dalam sebuah perjumpaan?
Kemungkinan aku yang tidak memberi batas, namun entah apa rasanya. Atau, aku tidak pernah bertanya padamu bagaimana perasaanmu?
Kita bisa keliling kota cari makan di tempat langganan usai Isya. Kemudian bisa berlanjut mencari bubur kacang hijau sebelah Ken Ally. Makan indomie kari dengan telor dan sawi, lalu aku minta cengek sebagai kondimen. Seringkali barisan kursi penuh, kemudian kita menunggu beberapa menit agar mereka segera hengkang, lalu kamu memesan telor setengah matang.
Juga kepada nasi uduk di jalanan Kemanggisan, atau bakmi yang sering masuk liputan. Nampaknya, kau hapal setengah dari kota metropolitan. Atau 3/4-nya?
Kini pesan-pesanmu rancu, atau kamu ingin begitu. Setelah ditinggal sehari saja terbang, kamu bagai ayam kehilangan induk. Mengapa bisa?
Aku hanya menulis tentang apa yang selama ini kamu nyatakan, baik lewat kata maupun nyatanya. Seperti membawakan air hangat, mengusap kepala secara tiba-tiba, dan hari-hari busuk yang tiba-tiba aku tulis jadi sajak.














