Ketika kau lenyap dari rutinitasku, butuh waktu beberapa lama untuk sadar bahwa aku perlu berhenti mengasihani diri. Bahwa aku harus melanjutkan hidup. Aku berdiri, perlahan. Berjalan, tertatih awalnya. Lalu aku mulai tegak, melangkah dengan suatu keyakinan yang pernah aku pikir tak akan mungkin sanggup kumiliki lagi. Aku mengikuti perputaran dunia, dan seiring dengan berlalunya tanggal, bulan, dan tahun, aku menyatakan diri sebagai manusia merdeka. Aku telah bebas darimu, bebas dengan diriku.
Namun hari itu datang. Hari yang seolah menamparkan realita ke wajahku. Ketika aku melihatmu di kejauhan. Hanya melihatmu, di tempat yang tak terjangkau. Bak petir di siang bolong, rasa sakit itu kembali berdenyut dalam dadaku. Ia bernapas, menggeliat, menancapkan kuku-kuku tajamnya di sekujur tubuhku. Perasaan yang aku kira sudah mati, ternyata hanya berada dalam mode laten. Menunggu momen yang tepat untuk menyerang kembali. Menunggu pemicu yang tepat, yang adalah kau.
"Jangan ulangi lagi!" Akalku meraung-raung. "Selama ini kau sudah bisa bertahan tanpa kehadirannya! Dan kau bisa terus bertahan! Kau akan terus bertahan!"
Aku berbalik, melihat sosok diriku yang mengabur di belakang. Ia tak berucap sepatah kata pun. Hanya tersenyum lemah dan mengangguk. Namun itu sudah cukup. Aku mengabaikan logikaku dan berlari mengejarmu. Aku tak bisa membiarkanmu berlalu, lagi. Aku tak bisa membiarkanmu jatuh dalam pelukan yang salah, lagi. Aku harus mendapatkanmu, bagaimanapun caranya.