Senyawa’s Alkisah
seen from Finland
seen from South Korea
seen from China

seen from United States
seen from Italy
seen from Kenya

seen from Singapore

seen from United States
seen from Australia
seen from China
seen from Philippines

seen from Australia
seen from China

seen from India

seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from Philippines
seen from China
seen from United States
Senyawa’s Alkisah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Senyawa - Alkisah
November 17, 2021: Alkisah by Senyawa
*Bandcamp here
Resources for social change:
Palestine masterpost
Black Lives Matter masterpost
(via https://open.spotify.com/album/6UzywNNYcmbPlAEvFyt1my?si=V0x7ch7QQfGY9GhVRgSmRg)
Ini hanyalah bagian dari sudut cerita dari halaman blog ini, siapapun yang ingin menulisnya akan kami baca. Cerita yang dalam, cerita yang sejati, cer
story of recent
Pesan moralnya itu lho, yang sudah sangat langka pada zaman kini
Tiga cerita kenangan masa kecil dulu...

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
15 track album
Our rework for “Istana” by avantgarde Indonesian duo Senyawa is part of Maka, an album gathering reworks, remixes and covers from Alkisah, last work by the duo, released on a network of 40+ labels and imprints worldwide. In order to follow and support the decentralization enterprise, Italian based labels Communion and Artetetra conjured 15 italian artists, selected on the base of affinity and intents with the duo, contributing to the celebration of Alkisah reworking the tracks in 15 new personal versions.
Cermin (.)
Kisahnya menghidupkan sayyidina Ali dan Fatimah Az Zahra, namun berujung mulia seperti Qais dan Layla. Sebegitu kah memurnikanNya ? dialah pecinta, yang sungguh mencinta kepada cinta sejatiNya . “Saya mencintainya dengan cara mengkhitbahNya. Walau pun di akhir bukanlah takdir saya, tidak sama sekali hidup rasa kecewa. Saya bersyukur, itulah terbaik bagi kami dariNya” tuturnya sembari tersenyum simpul dan menyeka air matanya.
Alkisah... dalam 24 Jam
Hari ini, Sobat Digital, Para Pembaca Secangkir Kopi, saya ingin mengatakan banyak hal yang terjadi di seluruh dunia, Alam Semesta, dan sebagainya. Seberapa banyak? Tak terhingga, saya rasa.
Sinar matahari menyinari langit Sahara. Sang Tuareg kembali harus melanjutkan perjalanan mencari sesuatu untuk dimakan, dan juga air. Sudah beberapa bulan hujan tidak turun. Panas Sahara yang membara tidak melarutkan semangat sang Tuareg untuk mencari sumber penghidupan. Sekiranya ia pikir begitu; ia perlu melanjutkan perjalanannya pada sore hari, menjelang malam. Sang Tuareg mendapat instruksi untuk mulai berkemas. Mereka berangkat esok pagi. Di kejauhan, ia melihat untanya. Ia tahu unta itu lelah, begitu juga dirinya. Baiklah, ia pikir. Setenggak air terakhir untuk perjalanan esok hari. Sembari mengambil air, sang Tuareg bersenda gurau tentang beberapa ‘makhluk besi’ yang ia lihat beberapa minggu yang lalu. Makhluk itu dikendarai oleh ‘sesuatu yang menyerupai jin dari seberang gurun, dengan kulit yang cerah lagi memerah’.
Memiliki silsilah filogenetis yang langsung dari dinosaurus tidak menjamin kehidupan yang mudah untuk sang julang. Ia baru saja memiliki dua ekor anak yang harus diawasi dan diberi makan 24/7. Hutan di sekitarnya terancam dibabat untuk pembangunan ‘rumah’ besar-besaran oleh segerombolan ‘kera botak yang muncul dari beberapa binatang raksasa berbentuk aneh dan bersuara seram’. Ia tahu itu; sumber makanannya, buah ara yang kaya nutrisi dan rasanya yang bagaikan segelas pinot noir, mulai sulit dicari. Anak-anaknya hanya bisa merengek minta makan. Apa daya, insting sang julang berkutik. Dengan adanya segerombolan binatang aneh yang merusak pohon tanpa alasan jelas ini atau tidak, ia harus mencari makan, sampai anak-anaknya tahu cara terbang. Ia pun kembali mengarungi angkasa, melihat sepetak tanah yang gundul di bawahnya. Tanah itu dulunya adalah supermarket, tempat sang julang berbelanja buah ara dan bertransaksi dengan beberapa tupai bandel.
Seluruh data sudah lengkap. Pengaturan algoritma sudah teratur. Inisiasi program. Dan bergeraklah sang robot, mengikuti instruksi dari komputer yang ada di sampingnya. Instruksi itu simpel; ia hanya perlu melakukan beberapa gerakan tertentu dan mengangkat barang. Tes pertama sukses. Inisiasi tes kedua. Saat mempersiapkan untuk tes kedua, sang operator, yang mengoperasikan seluruh program pada komputer, berpikir, seperti apa tes robot pada dekade berikutnya? Imajinasi liarnya meluap-luap. Ia berpikir tentang Tes Turing yang takkan lagi relevan, namun tes-tes lain yang menguji empati mesin buatan manusia. Namun ia tepis imajinasi itu jauh-jauh. Di dindingnya tertera tulisan mengenai Tiga Hukum Robotik Asimov. Selama tulisan itu masih ada, ia masih akan percaya diri untuk menjalani tes-tes berikutnya. Tes kedua sukses. Inisiasi tes ketiga.
Dunia permukaan. Itu hal yang asing bagi generasi muda makhluk-makhluk laut dalam di sisi terdalam Samudra Pasifik. Para tetua mendambakan makanan-makanan dari ‘dunia permukaan’, seperti sepotong kecil surga jatuh untuk memberi karunia di dunia yang dinyalakan oleh mereka yang berpendar. Namun, hari ini, datanglah ‘sang Messiah’, yang tidak lain adalah bangkai paus biru, menurut operator ‘EVNautilus’. Dari kejauhan, segerombolan kepiting, hagfish, dan isopod berdatangan, mengambil karunia yang berlimpah ini. Sebuah jamuan makan yang mungkin hanya akan ada beberapa dasawarsa sekali. Entahlah, mengapa ‘EVNautilus’ ini tidak ikut makan? Ia hanya menyinari lautan dengan matanya, mungkin menunggu. Mungkin ia makan tulang belulang. Namun para isopod tak peduli. Dagingnya disajikan medium-rare.
Sang aktris menunggu gelisah sebelum ia memulai retake ke-12 dari salah satu adegan film yang ia mainkan. Tak lama, seorang audioman melangkah. Ia menghampiri sang audioman dan menanyakan apa ia ingin mengobrol sebentar. Entah apa yang dipikirkan sang audioman, ia mengangguk setuju. Setelah duduk bersama, sang aktris menanyakan sesuatu. Sesuatu di luar produksi film. Ia menanyakan tentang seberapa kacaunya masyarakat di dunia maya mengenai program pemerintah yang tidak sesuai Protokol Kyoto. Sang audioman hanya bisa memberi pernyataan kecil. Ia tidak tahu menahu tentang Protokol Kyoto - persetujuan pengurangan pemakaian gas-gas pemicu pemanasan global, namun ia juga tidak mau mengecewakan sang aktris. Ia perlu belajar banyak. Pasalnya, ibunya percaya bumi itu datar. Namun perlukah opini ilmiah dan sistematis dalam industri film? Sang sutradara menyuarakan pemulaian shooting, dan mereka bergegas ke lokasi. Sang aktris merapikan rambutnya, menutup persona aslinya dengan karakter yang ia mainkan sebelum mencari lagi siapa yang ingin membahas Protokol Kyoto. Lights, camera, action!
Sel tidak perlu berpikir untuk memulai aksinya. Mereka hanya mengikuti reaksi kimia yang menentukan apa yang harus mereka lakukan. Sel-sel ini perlu berkembang biak. Membelah diri merupakan opsi yang bagus, dan hanya itu yang bisa mereka lakukan. Membelah diri satu per satu, mereka membentuk koloni. Satu per satu sel juga mati, digantikan oleh sel-sel muda. Proses ini terus berlanjut, sampai mereka menemui ‘ujung dunia’. Cawan petri tempat mereka memulai hidup mereka sesak oleh sel. Sang saintis yang melihat hal tersebut mengambil cawan tersebut dan mensterilkannya. Sel-sel itu tidak tahu tentang teologi, dan mereka terlalu sibuk berkembang biak.
Masih banyak cerita yang menunggu untuk diceritakan. Tapi saya tahu kalian dan saya juga bosan. Kita lanjutkan suatu hari lagi!