100% Perempuan
Awal tahun ini saya mendapat penghakiman serta penghinaan terbesar, yang pernah saya alami seumur hidup saya. Seorang teman, laki-laki, berkata persis di depan wajah saya, ākamu itu sempurna sebagai seorang perempuan, Nov. Sayangnya, kamu enggak bisa punya anak.ā
Untuk teman-teman dan kenalan yang gak tahu, saya memang pernah menderita kanker rahim semasa SMA. Waktu itu, pertengahan Februari tahun 2010, untuk menyelamatkan hidup, saya perlu menyerah akan rahim saya. Sebuah keputusan yang sampai hari ini tidak pernah sama sekali saya sesali.
---
Sebelas tahun sejak saya kehilangan rahim, berkat ucapan seorang teman, untuk pertama kalinya saya mempertanyakan keberadaan dan keutuhan saya sebagai perempuan.
Apakah dengan tidak memiliki rahim, saya sudah gagal jadi perempuan?
Apakah dengan tidak bisa memberikan keturunan untuk calon suami saya kelak, maka saya tidak bisa sempurna sebagai perempuan?
Apakah segala daya dan upaya saya menjadi perempuan keren, perempuan yang punya sikap, mimpi, dan keinginan kuat untuk bekerja keras, lantas jadi sia-sia karena rahim saya sudah tidak ada?
---
Oh saya paham betul soal betapa pentingnya rahim untuk perempuan; untuk laki-laki; dan untuk orang tua si laki-laki. Punya rahim, apalagi dengan keadaan yang normal, tentu jadi karunia yang sangat perlu disyukuri. Yang tidak saya pahami kenapa rahim jadi penentu utuhnya seorang perempuan?
Memangnya apa sih indikator buat seorang perempuan bisa dikatakan perempuan yang sempurna? Apa cukup dengan punya rahim dan ngasih cucu untuk mertua? Apa yang jago masak? Yang menikah cepat? Yang diam di rumah mengurus anak? Apakah yang penurut? Yang jadi tidak punya opini karena melulu ngikutin maunya suami?
---
Sungguh saya terbilang beruntung karena tumbuh dikelilingi keluarga dan teman perempuan yang positif dan suportif. Hingga saya paham, tidak ada satu pun sempurna yang sama di tiap-tiap perempuan.
Banyak banget perempuan keren mengelilingi kehidupan saya sehari-hari.
Di kantor, atasan saya yang paling dihormati, disegani, dan paling berpengaruh adalah perempuan. Perempuan yang punya integritas, loyalitas, dan etos kerja paling tinggi.
Manajer marketing yang paling jago cari uang buat perusahaan, penuh kharisma, dan yang paling juara ngambil hati klien-klien kaya, semuanya perempuan.
Di rumah, kakak saya yang kini seorang ibu, masih bisa kerja Senin sampai Sabtu. Sambil susah payah mompa ASI dan mikirin makanan pendampingnya yang cukup gizi.
Mama saya, ngurus cucu dari pagi sampai Kakak saya pulang. Si paling sabar, perhatian, punya kekuatan besar dalam diamnya. Malem-malem masih bisa begadang, ngerjain hobi atau mantengin oppa dan ahjussi.
Adik saya, perempuan galak paling ceplos. Si gak punya alis, tapi juga gak punya takut untuk jadi dirinya sendiri.
Teman-teman perempuan saya yang kerennya saya pantau via sosial media, gak pernah berhenti bikin kagum. Ada yang jadi ibu rumah tangga, sambil tetap melakukan yang mereka suka. Ada yang pilih tampil di layar kaca, baik wajahnya atau karyanya. Ada yang jadi penulis, bikin film, berbagi opini dan inspirasi, sampai bisnis jual ini itu di sana sini.
Sedikit banyak, para perempuan disekitar saya telah membentuk opini saya soal banyak hal, termasuk soal menjadi perempuan. Melihat punggung teman-teman perempuan saya yang super keren, menumbuhkan rasa percaya diri dan pemahaman saya soal menjadi perempuan.
Bahwa perempuan yang utuh itu adalah mereka yang bebas dan dibebaskan untuk bersuara. Mereka yang dengan sadar memilih untuk melakukan apa-apa yang mereka ingin lakukan, tanpa perlu mengambil hati berbagai penghakiman.
---
Sampai hari ini, meski setelah menerima hinaan itu pun, saya tidak sama sekali merasa kurang sebagai perempuan. Meski tanpa rahim, saya tetap perempuan; yang penuh kelembutan dibalik beraninya; yang punya kehangatan dibalik kuat dan mandirinya; yang bisa mengurus banyak hal, terutama dirinya sendiri; yang dikelilingi empati dalam tiap langkah dan putusannya; yang bergerak dengan logika dan hati nurani.
Meski tanpa rahim, saya tetap perempuan yang sempurna, dengan cara saya sendiri.
āNothingāand no oneācan make you feel less like a woman, unless you did think so.ā
Selamat hari Kartini, perempuan Indonesia!
















