Data TNP2K itu penting dan bagus, please lanjutin dong ~
Baru banget kemarin tanggal 23 November 2021 aku sama temen aku yang lagi ngelengkapin data untuk penelitian tentang hubungan pengembangan wilayah dengan risiko multibencana tuh tersadar gitu, si Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) ini tuh bagus banget datanya?? Jujur, jarang buanget aku muji institusi yang milik pemerintahan. Sebelum aku nemuin website dia, susaahhh banget yang namanya cari data tentang kemiskinan dari aspek yang agak interseksional (menyilangkan antar hal rentan). I know what youâre thinking, tapi Badan Pusat Statistik (BPS) dan dinas-dinas di tingkat daerah itu honestly, beda-beda kualitasnya di tiap tempat. Provinsi DI Yogyakarta, khususnya Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman masih relatif lebih bagus daripada kabupaten/kota dan provinsi di sekitarnya. Selain itu, DKI Jakarta juga oke, sih, portal Satu Data-nya. Lainnya, aku jarang menemukan yang bagus.Â
Kebetulan buat penelitian ini aku ambil daerah Kabupaten Bekasi, dan yaampun padahal kan masuk Kawasan Strategis Nasional (KSN) ya dia mah bareng sama Jabodetabek-Punjur, tapi naudzubillah datanya kurang update pisan. Aku kadang bingung sama pemerintahan apalagi yang daerah, kenapa yaaaa susah banget cari data yang terbuka dan relatif lengkap gitu, baik BPS ataupun web pemerintahan lainnya? Piye yo... Tapi kadang tuh padahal mereka kalau disambangin gitu, punya datanya yg digital hanya belum atau nggak mau di-update di internet, kenapa siiii kok susah banget?? Rugi apa mereka?? Kalau alasan internet security, harusnya ya itu yang ditanggulangi bukan malah out of the box ngide milih ansos menutup diri dan nggak mau naroh ke website??? Rakyatmu dan pihak-pihak sing meh bekerjasama denganmu ki butuh ngerti manggon ning wilayah sing koyo piye, ngunu lho, Bro. Aku kadang geregetan deh kalau menyoal data pemerintah makanya prefer banget ke big data (belagu banget padahal beloman bisa).
Nah, singkat cerita, si TNP2K ini publish data yang sangat melengkapi kebutuhan data kita karena BPS ngga ada. So pasti lingkupnya cuma tentang kemiskinan. Tapi dia tetepin ada 16 indikator, intinya tuh isinya tentang keterangan sosial ekonomi anggota rumah tangga (nama, jenis kelamin, tanggal lahir, umur, kecacatan, penyakit menahun, status perkawinan, kepemilikan tanda pengenal, pendidikan, dan kegiatan ekonomi anggota rumah tangga) dan Status kesejahteraan berdasarkan berbagai variabel meliputi keterangan rumah tangga, kepemilikan aset, akses ke fasilitas pendidikan/kesehatan/sanitasi atau lain-lain. Cumaaann, masalahnya, waktu aku coba download tuh ternyata isinya data Program Penanganan Fakir Miskin (PPFM) tahun 2015. Ya kalau sekarang yang udah tahun 2021, jelas udah 6 tahun lewat dong :â)). Anywaay, itu tuh data se-Indonesia, cuy. Unit analisis terkecilnya ada di tingkat kecamatan, tapi bukan berarti kita ngga bisa lihat yang tingkat kabupaten dan provinsi. Itu kan ada nama-nama provinsi tuh kan ya, itu kalau di-klik bisa masuk ke makin detail gitu tingkat administrasinya loh. Misal, aku klik, âJawa Baratâ, ntar bisa keluar âKabupaten Bekasiâ, âKota Bandungâ, âKabupaten Bogorâ, etc. Terus aku klik lagi, âKabupaten Bekasiâ, ntar voila, munculah itu rentetan kecamatan-kecamatan beserta data 16 indikatornya. Buat aku yang cari datanya di tingkat wilayah administratif tingkatan ke-3 (kecamatan), semua udah bikin terharu si (again, daripada kagak punya data sama sekali) :â))Â
Jarang-jarang sih menurut aku ada website dengan User Interface (UI) yang rapi, mudah dibaca, dan (User Experience) UX yang interaktif. Kuakui bahkan susah untuk dapetin data di ranah sosial yang udah tergambar secara tabulasi maupun spasial, kayak data PPFM dari si TNP2K ini. All in all, ini sebenarnya lebih dari sekedar kata âlumayanâ, ya walaupun masih ada ya tadi kekurangan tentang update-nya, terus besaran populasi, yang mungkin bikin kurang bisa menyesuaikan kebutuhan untuk perencanaan yang lebih ke populasi seluruh wilayah tersebut. Tapi ini sebagai perwakilan data (daripada nggak ada dan berhubung TNP2K juga datanya tersebar di seluruh kecamatan di riap kabupaten/kota), tentu ini lebih dari sekedar âbahan bakarâ. Apresiasi sih kalau ada program yang diseriusin kayak gini. Ternyata bisa ya kita punya open data? Cuma penasaran aja sih, kenapa ya data yang integrated sampai tingkat desa di seluruh Indonesia itu juga nggak ada? Tapi bingung dehhhh serius, kenapa ngga di-update berkala, sih? Kayak cuma mereka gitu loh padahal satu-satunya yang ngasi update lengkap, ada peta sampe tabel, sampe csv!! Aku pribadi soalnya cukup desperate untuk perkara cari data kalau sifatnya sekunder dan harus dari data pemerintah.. Sesusah itu yang modelnya untuk dapetin data dari website yang macem one-stop-shopping.. Ya walaupun itu tuh datanya juga nggak semua populasi, kek mereka cuma fokus pada data orang-orang dengan pendapatan 40% terendah di suatu kabupaten/kota. Tapi padahal dengan banyaknya data yang terkait statistik dengan jenis data rasio tuh ya bakal banyak juga penelitian, pengembangan, bisnis, inovasi, kejahatan (ups naudzubillah tapi ini emang ancaman dari open data). Aku yakin si dengan ini tuh kegiatan regional planning apapun yang PASTI punya keterkaitan dengan kelompok marginal bakalan lebih valid dan efektif secara proses dan hasil. Apalagi pendekatan yang dipakai sama TNP2K itu tuh menurut aku perlu banget ditiruin institusi lain yaitu pendekatan interseksionalitas.
Sebenarnya, mereka tuh pengennya open gitu loh buat kalau ada yang butuh data. Padahal kemiskinan tuh relate banget dengan berbagai aspek kehidupan yang nggak semata pendidikan, kesehatan, gitu-gitu. Tapi juga relate dengan komunikasi, tata ruang, geografi, transportasi, investasi, keyakinan/agama, psikologi, dan lain sebagainya yang itu tuh dijamin luas banget.Â
Thus, I beg you Mr. Vice President or whoever that took part in this institution, please open it widely and punctually. Karena emang ya itu kan everybodyâs business, gitu....Â
Sayang banget aja kalau mau minta datanya karena (1) nggak fleksibel secara waktu dan tempat bagi kedua belah pihak aka yang butuh dan yang mau ngasih, (2) nggak semua orang bisa lihatr datanya karena nggak semua mau dan mampu bikin surat formal dengan kop dan cap (gimana dengan para penyintas kemiskinan yang melek informasi tapi nggak punya akses institusi?? thatâs why, inklusivitas dalam mengakses data is a must), (3) terus aku ngga bisa yakin apakah benar mereka akan memberikan soft copy secara sukarela (pengalaman pribadi, bahkan di kota besar pun, masih ada kantor yang ngasihnya nggak mau soft copy.... Yap, it was T H A T generation). Unless if, ini data-data bisa diperoleh via e-mail atau whatsapp, but wait... kalaupun bisa pasti tetep butuh scan surat pengantar lagi-lagi........ :)
Aku tuh gimana ya... Yakin banget bahwa open data itu tuh jalan satu-satunya menuju transparansi dan kebaikan yang berkelanjutan.. Ya Allah....., kadang sampe mikir, amal jariyyah nggak sih itungannya bikin open data gitu? Kenapa susha banget ya..... :â)Â