Traveling Itu Untuk Mikir!
Ini tentang traveling.
Kau mendatangi tempat-tempat indah mempesona, tetapi jarang mendatangi rumah-Nya..
Kau juga memuji keindahan alam, tapi sedikitpun tidak memuji Sang Pencipta-nya..
Lalu kau pun bernyanyi bahagia di alam bebas, tapi tak pernah berzikir mengingat-Nya..
Syahdan, kau sering berkelana kemana-mana, tapi pulang tidak menambah keimanan kepada-Nya..
Bagaimana bisa?
Padahal di setiap keindahan yang kita lihat dan di setiap kesempurnaan yang kita kagumi, tak akan lepas dari kuasa Allah. Di manapun kaki berpijak, semua pesona adalah milik-Nya. Di setiap decap kagum, harusnya ditujukan untuk Allah, bukan? Sebab Dialah:
“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.” (QS. 67: 3-4)
Lalu, apakah kesempurnaan ciptaan-Nya itu hanya sekadar untuk dinikmati? Diambil fotonya? Atau sekadar untuk berbahagia? Tidak. Ada hikmah di balik setiap penciptaan. Allah menjamin ini:
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah.” (QS. 38: 27)
Well, hikmah itu untuk apa dan untuk siapa? Traveler seharusnya tahu bahwa:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. 3: 190-191)
O zaman (jadi), traveling itu bukan sekadar melepas penat, mencari kebahagiaan, atau mengabadikan momen luar biasa. Sederhananya, traveling itu untuk menjadikan kita manusia yang berpikir. Mengingat Allah dalam segala kondisi sambil memikirkan tentang indahnya alam–sebab hikmah berserakan di situ. Lalu kita memohon agar Allah melindungi dari akhir yang memilukan.
Itu esensi dari traveling. Jadi, mari berpetualang! Yuk!
İstanbul, 29 Nov 2014.
Foto: pagi hari di ujung Jawa Timur.
Traveling itu untuk memompa energi agar semakin dekat dengan-Nya. Ini bukan klise, tapi jelas pesan ini tersurat di al-Quran bahwa kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku, agar saling mengenal satu dengan lainnya. Sehingga kita makin merunduk, toleran, dan mengakui kebesaran-Nya.

















