Sora Bukan Soraria
Nggak terasa jatah cuti melahirkanku sisa kurang dari sebulan lagi
Lama cuma ada di pikiran, akhirnya malam ini aku coba mencicil menulis perjalanan melahirkan Sora Januari lalu sambil menemani adek tidur di sampingku. Aku sendiri nggak yakin tulisan ini akan selesai dalam satu waktu. Hahaha!
Aku masih ingat, tahun lalu, ketika ART-ku berhenti karena beliau sakit, aku berdoa seusai sholat. Bercanda saja karena waktu itu aku sudah merasakan 'nikmatnya' kuliah dan beberes rumah tanpa ART sekian waktu. Pulang kerja-beberes rumah sebentar-cuci baju kemudian jemur seusai kuliah-lanjut beberes lagi yang kurang-kurang. Iya, aku sudah telanjur merencanakan kuliah dan akhirnya daftar kuliah jauh sebelum ART-ku berhenti. Doaku sambil bercanda, "Ya Allah. Ini akan lebih nikmat kali ya kalau udahlah kuliah, Emak berhenti, ketambahan aku hamil. Tapi…lucu kali ya kalau misal hamil, anaknya lahir di Januari juga. Hahaha". Hanya bercanda. Niatnya.
Qadarullah, awal Juni 2025, kabar itu datang. Aku hamil dan kalau kuhitung sendiri, perkiraan lahirnya di…Januari. Betul, pemeriksaan bidan Puskesmas dan dokter mengatakan HPLnya di Januari 2026 :')
Tidak sempat membayangkan ke depan akan seperti apa. Yang pasti Juni aku disibukkan dengan ujian semester 1 perkuliahan. Begadang karena deadline yang ketat. Tugas pekerjaan (yang alhamdulillah support kondisiku yang sedang hamil). Lanjut perkuliahan semester 2, menyimak kuliah sambil ngemil (hahaha!) dan kadang kesliyut ketiduran (ASTAGHFIRULLAH jangan dicontoh ya frenkuu) terutama di jam-jam sesi 2 kuliah (20.30-22.10). Hikswkwk. Berangkat kantor motoran. Boncengan antar Nambi les lego ketika weekend pagi dan naik mobil layanan online antar Nambi les bahasa Inggris di weekend siang (keduanya ketika jadwal mas Adi nggak pulang). Persiapan persalinan yang slow aja (dimulai dengan mencari baju Nambi dan Adik Ka jaman bayi dulu). Mengalir aja semuanya. Sampai usia kandungan 34 minggu, Nambi mulai diantar akung atau uti untuk les. Alhamdulillahnya pun, HPLku tepat ketika libur semester 2. Seakan semua sudah diset untuk dimudahkanNya. Masyaa Allah.
Seperti kala aku mengambil cuti melahirkan yang pertama, 2020 lalu, aku berencana mengambil cuti melahirkan yang kedua ini mepet HPL. Seminggu sebelum HPL. Mulai 19 Januari 2026 aku cuti. Hari pertama dan kedua cuti kuhabiskan untuk duduk di depan laptop di rumah (karena bingung kalau nggak ngapa-ngapain di rumah) dan mengantar pre school perdana Nambi di Senin siang! Selasa siang aku mengajak mama jalan-jalan ke mall. Kami makan siang di Ahpek (padahal Jumat sebelumnya aku sudah ke sana bareng teman kantor! Hahaha. Sengaja karena aku pengen makan menu yang sama. Ketagihan *cryyyyhahaha). Kami belanja keperluan Nambi (bukan adek!) di Matahari. Itung-itung olahraga jalan santai untuk ibu hamil aka aku. Beda sama kehamilan pertama yang aktivitasku masih banyak (aku bahkan masih survey ke lapangan waktu itu), kehamilan kedua ini aku lebih banyak duduk di depan monitor…sambil ngemil. Ibu hamil tidak bercerita, tiba-tiba order makanan. Ya Allah, maafkan 🤣
Akhir November lalu aku menyimak status WA Mizana, rekan kerjaku. Sedang umroh rupanya dan berkenan dititipin doa masyaa Allah. Tanpa babibu, lancar kuketik "Semoga Shelly Devina Anggraeni melahirkan dengan lancar dan normal (boleh nggak siihh pengennya normal) ketika usia kandungannya cukup. Selamat dan sehat ibu dan bayinya. Dilancarkan segala perjalanan pasca kelahiran serta anak yang dilahirkan tumbuh menjadi anak sholih. Amiin ya Rabb". Mizana yang baik hati menambahkan doa baiknya ke aku begitu tahu aku sedang hamil :') iya, aku ingin persalinan normal meski aku tahu upayaku ke sana minim sekali :')
Seperti pengen banyak-banyak jastip doa, aku juga jastip doa lewat teman kantor. Lekas kuketik di sela reminder pekerjaan, "Pak Rekaaa. Nitip doaaa semoga Shelly Devina Anggraeni lahiran dengan proses yang lancar, mudah, selamat serta sehat ibu dan anaknya. Amiiin ya Rabb". Kali ini aku pengen lancar dan mudah karena aku tahu apapun mau normal atau sesar nantinya aku pengen lancar dan mudah 🤲🏻
Pagi itu menjelang subuh, 21 Januari 2026, aku terbangun. Merasakan ada yang "keluar" tanpa banyak berpikir aku langsung WA Mas Adi, "Ayah. Hari ini nggak usah lari dulu". Untung langsung dibalas karena telat sikit, udahlah keduluan lari tanpa membawa hp. Setelahnya, aku membangunkan mama-juga papa. Singkat cerita (skip adegan aku bernada tinggi dan was-was "Utiiii anterin aku ke RS Tiiii" :')) , diantar tetangga dekat, aku dan mama sampai di IGD RS Muhammadiyah.
Betul, ketuban rembes (atau pecah?). Aku belum pernah mengalami ketuban rembes. Was-was. Dicek, baru pembukaan 1. Dipindah dari IGD ke ruang observasi. Ibu dan bapak mertua menjengukku hingga Mas Adi sampai sekitar pukul 10.00 pagi (alhamdulillah Allah mudahkan mas Adi dapat tiket pulang pagi itu. Flight yang cukup lancar meski awan mendung di Jakarta). Kondisiku diobservasi sampai pukul 13.00. Pengecekan berkala oleh bidan dan perawat. Pukul 13.00 dicek oleh dokter Santi sendiri, pembukaan nggak bertambah signifikan namun detak jantung bayi aman semua. Dikasih pilihan mau langsung operasi (sesar) atau induksi. Sayangnya, aku yang nggak pernah mengalami induksi, aku iyakan induksi (aku telat WA bestie aku aka Riris! Katanya yang pernah diinduksi "Sakitnya luar biasaa" Huhuhaha. Udah semangat aja aku iyakan induksi) yang ternyata iya…sungguh membuatku beristighfar tiap waktu masyaa Allah pengen nangis eh tapi udah nangis waktu itu. Terima kasih ayah, sudah menampung air mata ibu di sela sakitnya induksi :'''')
Observasi induksi tiap satu jam ini juga nggak ada penambahan pembukaan yang berarti, hingga akhirnya pukul 16.00 dokter memutuskan operasi saja karena dari awal aku sampai IGD sudah dalam kondisi ketuban rembes (atau pecah). Kami (aku dan mas Adi, maksudnyah) saling pandang (mungkin saling menguatkan), mengiyakan. Semua berkas administrasi sudah kami tanda tangani. Mas Adi juga sudah dibrief oleh petugas. Mas Adi setuju untuk ikut masuk ke ruang operasi.
Operasi dijadwalkan pukul 18.00 namun schedulenya maju. Pukul 16.30 aku sudah dibawa ke ruang operasi. Sambil berbaring di bed, sepanjang lorong menuju ruang operasi aku teringat dan tiba-tiba mulai sangsi, "Perasaan kemarin aku udah nitip doa ke teman-teman langsung jalur umroh pengen normal (dan mudah) tapi kenapa…..". "Bu, ini kok rasanya ada yang mau keluar terus ya, Bu?, tanya saya ke perawat yang mendampingi saya. "Oh nggak apa, Bu. Memang begitu kalau habis diinduksi". Okeh.
Begitu masuk ruang operasi, segala disiapkan termasuk anestesi. Entah hanya perasaanku atau karena aku sudah nggak bisa menahan desakan dari dalam, waktu berjalan sangaat lambat ketika persiapan anestesi di punggung. Badanku diminta untuk melengkung selama proses anestesi, bukannya makin tenang, adek di dalam perut malah mendesak ingin keluar. "Dok, saya ingin mengejan Dok. Ini sudah pengen keluar", ujarku sambil mengejan. Desakan pertama membuatku diposisikan telentang. Namun, karena posisi bayi yang "tidak pas" membuatku dikembalikan ke posisi melengkung proses pembiusan untuk operasi sesar. Aku diminta untuk menahan. Aku atur napas, "Tarik, hembuskan….". Napas yang pertama dan kedua aku masih bisa menahan. Begitu napas yang ketiga aku menyerah "Dok, saya udah nggak bisa nahan. Saya ingin ngejan terus". Akhirnya saya diposisikan telentang lagi, dua tarikan napas mengejan, adek keluar masyaa Allah. "Bu Shelly, anaknya sudah lahir Bu. Alhamdulillah", kata dokter Santi. Nangis aku senangisnya. Mas Adi ada di sampingku, "Adek sudah lahir ayah". Mas Adi mengangguk sambil mengusap dahiku.
Aku baru sadar sejam setelahnya sambil menghadap pintu kaca. Di luar sudah ada ibu dan bapak mertua (nenek dan kakek) menyusul mama, papa dan Nambi datang. Karena posisi yang "tidak pas" tadi, adek baru bisa kami temui keesokan paginya. Sungguh masyaa Allah. Banyak perawat yang bilang, "Masyaa Allah anaknya udah ganteeng" begitu melihat adek pagi itu :'''')
Ini dia anak ganteng pagi itu (hari ini juga besok-besok). Namanya Sora.
Oh iya, ada cerita di balik pemilihan nama Sora. Waktu itu kami bertiga berdiskusi pemilihan nama untuk adek. Ayah: (sampaikan beberapa nama) Nambi: Sora aja lho Ibu: Sora yang mana? Ada 2 kan nama panjang Sora-nya. Sora apa? Nambi: Soraria (Solaria, maksudnya. Waktu itu Nambi belum lancar bilang "r") Diam sejedak… Ayah dan Ibu: HAHAHAHAHAHAHA Nambi: (menyusul) Hahahaha🤣🤣
Terima kasih banyak kepada keluarga juga semua teman-teman yang sudah mendoakan keluarga kecil (empat orang masih kecil kan ya?) kami, terutama bestie aku (Riris), juga Mizana dan Mas Reka yang sudah berkenan dititipin doa. Semoga teman-teman sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amiin ya Rabb.
Adek Sora, terima kasih sudah berjuang keras mencari jalan dan menerjang jalur untuk menemui ibu (juga ayah dan mas Nambi). Terima kasih atas upayanya, Nak. Semoga adek Sora tumbuh jadi anak sehat dan sholih. Amiin ya Rabb. Ayah, mas Nambi juga ibu sayang adek, Nak, meski mas Nambi sering usil ke adek. Maaf ya, Nak! :'''')
Bismillah kita minta Allah lagi ya, agar Allah mudahkan segalanya untuk kita karena Allah pasti dengar doa kita seperti bagaimana ketika ibu minta teman untuk mas Nambi juga bagaimana ketika ibu titip doa agar Allah lancarkan persalinan ibu (jadi kalau ditanya ibu normal atau operasi, ibu jawabnya "Normal di ruang operasi" :''')) Amiin ya Rabb :'')
Penuh cinta,
Ibu













