Dulu, saya selalu merasa khawatir seperti apa nanti ketika saya akan periksa ke dokter sendirian tanpa Mas Adi karena memang Mas Adi bekerja di luar kota. Sempat saya berdoa, "Nanti aja mungkin ya Nak, kalau ayah sudah pindah kerja ke sini" sambil elus perut meski belum ada dedeknya. Hehe. Nggak papa, pemanasan.
Itu dulu ketika belum ada yang membuat saya deg-degan ketika harus periksa ke dokter.
Suatu ketika kami di mobil perjalanan ke Surabaya, saya bertanya ke Mas Adi, "Apa karena aku khawatir ya, jadinya Allah belum kasih?".
Mas Adi menjawab, "Enggak lah"
Tapi sejak itu, saya ubah doa saya, "Semoga kalau memang adek datang, yang sabar ya nak, yang kuat, soalnya ibu nggak deket ayah terus. Ayah kerjanya di Jakarta". Berulang kali setiap ingat. Masih sama adegannya, elus perut. Meski belum ada. Nggak papa pemanasan :)
Ini gawat kalau saya cerita! Akan panjang. Hahahaha
Alhamdulillah. Assalamualaikum, Sayang. Terima kasih ya, Nak, pinter, ikut ibu kerja motoran dari rumah ke kantor, sesekali ibu ajak mampir dulu ke kurir antar paketan orderan buku, ikut ibu jalan kaki jauh tiap Jumat (enggak, ibu sudah stop lari sejak tahu ada kamu), sehat, sabar dan kuat banget, bikin ibu selalu happy tanpa muntah atau keluhan berlebihan sampai hari ini. Sampai nanti-nanti ya, Nak.
Ternyata kekhawatiran ibu salah, ibu dan ayah bisa dapat jadwal periksa dokter di weekend. Meski kemarin beberapa kali ibu nggak selalu periksa ditemani ayah. Tapi nggak papa, ibu bisa karena kamu juga yang membuat ibu bisa. Antre dokter di jam kerja dari jam 3 sore sampai jam 7 malam? Nggak papa, Nak. Besok kalau memang harus periksa sendiri tanpa ditemani ayah, sebelum ke RS kita makan dulu ya yang banyak, kayak kemarin. Biar waktu antre nggak kelaparan. Hahaha
Terus kayak gini ya, Nak. Ibu nggak capek kok beli makan lagi karena bekal makan siang ibu selalu habis sebelum jam 11.30. Berat badan ibu naik? Nggak papa.
Kata ayah, nanti kalau sudah bisa nendang jangan suka nendang di dalam perut ibu. Kata ibu, nggak papa tendang aja. Ibu tunggu! Hihi.
Terus kayak gini ya, Nak. Yang sabar, sehat, kuat. Ajari ibu buat jadi ibu yang cerdas. Bismillah. Temani ibu di perutnya Ibu sampai waktunya kita ketemu nanti ya.