Musik mempunyai kekuatan magis untuk memutar ulang waktu, menghadirkan kembali perasaan yang pernah kita rasakan di masa yang lalu.
Ada sebuah folder di dalam laptop saya. Folder itu berisikan lagu-lagu yang saya kumpulkan beberapa tahun silam. Folder yang tak pernah ingin saya buka, tapi belum juga mampu saya hapus. Folder itu juga ada di kepala. Folder yang memuat berbagai perasaan yang terkadang tidak ingin saya ingat, tapi juga belum mau hilang dari memori.
Malam ini saya memimpikan kamu lagi, atau kamu ada di mimpi saya. Sebab kalau bisa memilih, saya tidak ingin kamu di dalam mimpi saya. Karena sebangunnya, beberapa pasang detik setelah kesadaran saya benar-benar kembali, rasanya seperti diguncang dan dipaksa untuk ingat kembali akan kenyataan. Kenyataan bahwa kamu jauh sekali dan tidak tergapai. Kenyataan bahwa kamu begitu mustahil seakan tidak nyata. Bahwa saya hanya mampu dekat dengan kamu di dalam mimpi, itupun sudah beruntung sekali. Dan perasaan-perasaan itu sungguh tidak mengenakkan.
Mimpi itu membuat saya kembali membuka folder lagu lama tadi. Di antaranya kebanyakan adalah lagu-lagu dari salah seorang penyanyi. Penyanyi yang suaranya tak begitu saya sukai, yang genrenya bukan kegemaran saya. Penyanyi yang tentu jadi saya dengarkan karena dia adalah kesukaanmu dulu-sering kita menjadikannya bahan pembicaraan. Kemudian saya putar salah satu lagunya. Seketika, semua perasaan saya di kala itu seperti dibawa kembali muncul di dada. Perasaan deg-degan itu. Perasaan ketika saya mampu membuat kamu tertawa. Perasaan ketika saya tersipu karena kamu mengatakan kalimat-kalimat yang manis untuk saya. Perasaan ketika saya sulit tidur di tengah malam karena pikiran saya sibuk menerka-nerka.
Saya merindukan perasaan itu. Tapi saya tidak mau merindukan kamu. Saya tidak cukup berani. Merindukan seseorang biasanya identik dengan sebuah tindakan agar rindu itu bisa terobati. Apa yang bisa saya lakukan? Sementara kamu kian memudar dan tak lagi begitu saya kenali. Apa yang harus saya perbuat? Sementara bisa saja kamu sudah melupakan saya. Saya tidak akan mampu menghadapi perasaan patah itu kembali. Belum lagi dengan rasa ketidakpantasan ini. Mata saya memandang kamu terlalu istimewa dan tidak biasa, dan saya tidak ada apa-apanya. Karena sebegitunya saya menyukai kamu, sampai saya merasa kamu layak dengan orang yang lebih baik. Sudah lihat kan? Satu kata itu saja bisa membuat saya nyaris gila karena memikirkan segalanya terlalu berlebihan. Merindukan kamu itu perasaan yang berbahaya, dan saya tidak mau rindu membuat saya bertindak bodoh.
Lagi pula saya tahu, hari ini hanya akan menjadi salah satu dari hari itu. Hari yang datang sesekali dalam suatu waktu, biasanya ketika tiba-tiba mendengarkan lagu kesukaanmu diputar di tempat umum, atau ketika dunia terasa terlalu sepi sewaktu saya memandangi lampu kota dari balik jendela, atau ketika kamu ada di mimpi saya seperti hari ini. Hari dimana saya teringat akan kamu, dan kamu mengisi pikiran saya seharian penuh. Karena sisanya di kebanyakan hari, saya sudah belajar untuk hidup tanpa kamu. Saya sudah menerima bahwa kita bukanlah ide yang baik. Bahwa hidup saya berjalan seperti seharusnya, ada atau tiadanya kamu, dan saya akan tetap baik-baik saja.
Seperti ketika saya berjalan sendirian di keramaian. Saya sibuk memainkan ponsel saya-atau lebih tepatnya berpura-pura sibuk-saya malas harus menyapa ketika bertemu dengan orang yang saya kenal. Kemudian ketika berjalan, tiba-tiba saya mendengar suara itu. Suara yang sedikit parau, namun tidak berat. Suara dengan logat daerah yang masih sedikit kental. Suara yang saya hafal betul, yang membuat saya refleks langsung menoleh dari layar ponsel di tangan. Ada kamu di hadapan, berjalan menuju ke arah berlawanan. Tapi kamu tidak melihat saya. Kamu sedang asik bercerita, entah dengan siapa. Beberapa detik itu terasa begitu cepat namun juga lama secara bersamaan. Kepala saya memperhatikan dan merekam kamu, mengabadikan detik-detik itu. Dunia mendadak senyap, yang saya dengar hanya hela nafas saya yang terlampau kencang. Langkah kaki saya melambat ketika kamu akhirnya melalui saya. Hingga kemudian saya berhenti, menimbang-nimbang apakah saya harus melihat ke belakang atau tidak. Sedetik, dua detik, tiga detik pun berlalu. Dengan sangat hati-hati saya memalingkan kepala ke belakang. Kamu kian menjauh, masih asik bercerita dengan entah siapa yang tidak begitu saya perhatikan. Saya terlalu sibuk memperhatikan kamu, tetapi saya tidak mau memanggil kamu. Ada bagian dari diri saya yang berharap kamu menyadari keberadaan saya dan menoleh ke belakang. Namun sebagian lagi bersyukur kamu tidak melihat saya. Karena saya tahu, seperti ini saja lebih baik. Karena dengan begini, cerita saya ini jadi lebih indah. Tidak ada rasa sedih, kecewa, atau perasaan negatif lainnya yang bisa merusak ingatan saya akan kita. Seperti sebuah lukisan, kamu dan perasaan-perasaan itu saya ingat sebagai sesuatu yang indah.
Kamu tersimpan dalam sebuah folder yang rapi di dalam kepala saya. Yang mungkin suatu waktu nanti akan saya buka kembali ketika saya merindukannya. Seperti hari ini. Hingga akhirnya tidak lagi.
Ditulis saat Tumblr sudah resmi diblokir oleh pemerintah Indonesia. Entah saya tetap akan menulis di sini atau mencari platform baru untuk berbagi tulisan saya, Tumblr adalah wadah saya bertumbuh dalam dunia menulis sejak hari pertama. Tumblr tetap menjadi sebuah tempat yang baik dalam ingatan saya.