Adalah kutipan dari salah satu manusia paling bijaksana yang pernah saya temui (hidup sejaman) di dunia yang telah menguatkan saya di beberapa tahun ke belakang sejak kali pertama menemukannya. . . Dan di 2 tahun ke belakang, kutipan ini juga yang membuat saya bertahan hidup. Kutipan ini yang membuat saya tidak pernah merasa terlarut dalam kesedihan, kelelahan, kedukaan dan kepahitan yang sebenarnya hanya terasa ketika dirasa-rasakan. . . Saya teringat monolog dalam hati di sebuah halte bus di Singapura, pada tahun 2014. Selepas membaca buku The Zahir, saya bertanya, "Setelah ini, tantangan atau ujian apalagi yang akan menanti saya?" . . Waktu itu, saya merasa hidup saya sedang mengalami titik infleksi. Akademik tiba-tiba lancar, rezeki dalam bentuk materi cukup. Padahal sebelumnya uang udah pas-pasan di negeri orang dengan nasib yang belum jelas pula. Lalu tiba-tiba teman yang tadinya kondisi 'tampak'-nya lebih baik, berubah 180 derajat. Di situ, terkupas lagi satu kulit bawang mengenai pemahaman akan putaran roda kehidupan. . . Dan beberapa bukit dan lembah kemudian, semalam, pada renungan shower (metode klasik) saya kembali pada kontemplatori yang sama seperti di halte 2014: Orang bilang, manusia-manusia arif lebih suka hidup pada ketidaknyamanan. Karena di situ dia temukan kesejatian bermanusia. . . #personal #note #miniblog #favoritequote https://www.instagram.com/p/B8v6B3mhYjL/?igshid=1rqn4g7kai9vl















