âFocus on you. People wake up with different feelings everyday.â
â Unknown
DEAR READER

PR's Tumblrdome
Misplaced Lens Cap

çĽćĽ / Permanent Vacation

izzy's playlists!
Stranger Things
trying on a metaphor
dirt enthusiast
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

ellievsbear
One Nice Bug Per Day
sheepfilms
AnasAbdin
tumblr dot com

pixel skylines
he wasn't even looking at me and he found me
styofa doing anything
we're not kids anymore.
$LAYYYTER

seen from Peru
seen from Peru

seen from Peru

seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@rahmaanfsh
âFocus on you. People wake up with different feelings everyday.â
â Unknown

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
LIGHT 14 (LIttle thouGHT)
How is it going?
Over six hundred days have passed by and since then we've been holding hands with each other and I promised to never let you down like how it wasâwhen we were trapped in the middle of unnamed roadsâand we weren't meant to be anything. I know our next chapters have(n't) been written yet. Instead of letting the fear win, just do whatever makes you happy but keep in mind that it's intertwining between here and hereafter, so beware. If it makes you happy here, is Allah happy to see you choose that choice?
There are episodes that people do not (necessarily) see about what we have been through for these past years and some of them are priceless pieces of life puzzles we surprisingly need most.
Alhamdulillahilladzi biniâmatihi tatimmush sholihat, all praise to our greatest RabbâThe Most Merciful, The Providerâbecause of His divine love, both of us have safely landed at the place where we taste the sweetness of iman (faith). How many times does iman save us? How many times does iman make all the nonsense become very logical at the end? Isnât it beautiful how iman changes the way you seeâeven the most bitterâthings were (actually) always a khayr (kindness)?
Our journey is way long to go âtil weâre back.
But chill out, I got you (like always!), self <3
-rahmaanfsh
It's my 15 year anniversary on Tumblr đĽł
"And after all this time?"
"Always!" đŤś
Thankyou for (at times!) being my top of mind as a place to share my thoughts with. I can even jump into my 12 years old version only in minutes because you keep them all well since 2009!
-rahmaanfsh
Isn't it too soon to just give it up now? Don't you think it's rude to say that it's impossible while actually you (always) have Allah beside?
LIGHT 13 (LIttle thouGHT)
How many times have you felt your heart was ripped into several pieces and you feel like the unluckiest person on the earth? From a thousand episodes passed, what were the worth lessons that you learned? Have you ever realized why it happened at times you might own a choice to not to have the same story? Why in the end we always met this partâhaving disappointment in a personâeven with our loved one?
Itâs because we tied ourselves to them in a name we label as expectation.Â
When we are attached to a person, sometimes our souls are automatically shared to this person while at the same time we become dependent on this soul. The bitter truth is, whoever this person might beârelatives, friends, loversâare only a creature. All these creatures are meant to be gone one day either will be taken by its creator, Allah, or they choose to leave. Therefore, if our happiness depends on their presence, once they are no longer here, youâll be disappointed. You may feel that you are broken. You may feel that you are left behind. It is because theoretically, we are that weak. When we let some of our parts be gone with the weak one, then weâll hurt.
But if you alter it into the other perspective, you depend on the Creator of all lives, it will be significantly different. You have chosen the right path because Allah will never leave you. No matter how heavy the situation is and how bad your condition is. Then, if you are holding your hand to trust Allah then you are not going to beâeverâdisappointed.Â
On the other hand, when you depend on Allah, youâll pack whatever you wish in a duâa. Because you know that none of this world could help you, but Allah. Youâll see whatever the answer towards your du'a is the best thing Allah has designed for you to accept it today. Not too soon, not too late. Not too much, not too little. The less you expect from a human, the more ease you will receive.
Then, be wiser in creating expectations.
Hasbunallah wa niâmal wakil maula wa niâman nashir.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Palestine will be free; from river to the sea.
Aku dan Kamu
Dari milyaran cara unik untuk kita bisa saling mendeteksi satu sama lain, semoga kita saling jatuh adalah pada cara yang paling Allah sukai.
Terlebih, memang karena Allah mau kita saling tahu. Tidak perlu buru-buru. Karena kamu dan akuâpastiâakan bertemu. :)
-tertanda, yang setia menunggu (cuma kadang gak sabaran, dikit)~
Menerima Kisahnya
Nanti, saat kamu menikah dengan seseorang, kamu tidak sedang menerima lembar buku yang kosong. Kamu akan mendapatkan seseorang yang sudah menulis begitu banyak catatan dan kisah, yang kamu baru akan benar-benar mengetahui kisahnya sesaat setelah akad terucap.
Pada kisah yang begitu menyedihkan, atau pada kisah yang begitu bahagia maka selalu siapkan hati yang lapang untuk menerimanya.
Sebab orang yang kamu nikahi adalah akumulasi dari masa kecil hingga ia dewasanya, bahkan sampai ia menemukanmu.
Tidak apa-apa, siapkan saja ilmu pernikahan dan mengelola rasa dalam berumah tangga. Kapan kamu harus menekan ego dan emosi, kapan kamu harus bersabar dulu untuk sesaat sebelum mengutarakan maksut dengan berbicara padanya.
Menerima kisah seseorang itu tidaklah mudah, terkadang ia jauh dari apa yang kamu harapkan, terkadang bahkan bertolak belakang dengan apa yang kamu bayangkan.
Sebab pernikahan itu menyatukan dan saling memperbaiki, kisah-kisah buruk dan hitam di masa lalu tidak perlu diungkap dan dibuka. Tutuplah serapat mungkin dan kubur sedalam-dalamnya, mulailah menjalani hari-hari dengan kebaikan yang penuh dengan keberkahan.
Andai kamu sedang menunggu seseorang yang datang padamu, maka siapkan ilmunya, perluas hatinya, dan mulailah melangitkan doa, agar apa yang kamu doakan senada dengan apa yang Tuhan takdirkan
Selamat malam, dariku yang tengah duduk di kereta menuju stasiun terakhir.
Gambir, 19 September 2023.
@jndmmsyhd
Melangkah Searah
Halo, teman-teman tumblr! :)
Di kesempatan yang baik ini, izinkan aku untuk menceritakan pengalamanku membaca buku âMelangkah Searahâ yang ditulis Mba Aji Nur Afifah atau biasa disapa Mba Apik..
Profil Buku
Judul : Melangkah Searah
Penulis : Aji Nur Afifah
Tahun terbit : 2019
Penerbit : QultumMedia
Jml. halaman : 210
Review Buku
Buku ini dalam pandanganku, bisa dibawakan mba Apik dengan penuturan yang nyaman tapi betul-betul sarat makna tentang bagaimana perjalanannya berubah peran dengan melewati fase-fase dari menjadi istri, menjadi ibu, dan peran-peran lainnya ketika menikah.Â
Bahkan di beberapa bagian, ikutan teraduk emosinya ketika sedang kesal, sedih, atau senang menceritakan kejadian-kejadian di dalam rumah tanggaâdan bagi yang belum menikahâsebagai bekal yg bisa di take note, sebagai pengingat. Jadi seperti lebih menyaksikan sisi-sisi lain pernikahan yang tidak banyak diceritakan, karena memang nanti pengalamannya akan sangat personal. Tapi lewat buku ini, seperti mendapatkan wanti-wanti yang berharga.
Setelah baca ini, jadi berpikir ulang soal hal mendasar sih, jadi menelusur lagi niat kenapa ingin menikah, apakah benar-benar sudah karena Allah atau belum? Karena niat akan sangat menentukan apapun yang kita lakukan ketika menjalaninya. Menikah adalah berkompromi seumur hidup, maka tidak cukup bertemu dengan orang yang baik, tapi orang yang tepat.
Tidak semua yang baik, tepatâbaiknyaâuntuk kita.
Di tengah banyaknya kasus yang memperlihatkan betapa mudahnya mengikat-lepaskan ikatan sakral ini, semoga kita adalah yang ditakdirkan atas bantuan-Nya untuk tidak main-main ya.. banyak sekali berkahnya bisa berkolaborasi untuk meraih ridho Allah bersama-sama lewat pernikahan. Bukankah akan luar biasa rasanya?
Buku ini kurekomendasikan dibaca untuk yang belum menikah sekalipun sih, karena banyak hal baik yang bisa diambil. Tentunya, untuk jadi salah satu contoh bahwa pernikahan yang berhasil masih lebih banyak. Jangan lupa selalu libatkan Allah.
Catatan :
Ada sedikit tambahan dengan salah satu materi di sesi di Career Class yang juga diisi oleh Mba Apik dan suaminya Mas Kurniawan Gunadi kalau mempertahankan untuk tetap berjodoh dengan jodoh ada sebuah tugas yang panjang. Pernikahan tidak boleh saling meniadakan impian individu tapi harusnya bisa saling percaya bahwa impian itu bisa tercapai karena bersama pasangan. Maka, laa hawlaa walaa quwwata illaa billaah. Semoga Allah pasangkan kita dengan yang sama-sama mau melangkah searah⌠menuju surga-Nya :)Â
Cukup temukan satu alasan
Seseorang yang pada dasarnya memang ingin berniat pergi, bagaimana pun kamu menahan nya ia akan tetap meninggalkan mu,
Hanya perlu satu alasan paling tepat untuk membuat seseorang bertahan, meskipun ada banyak kemungkinan membuat nya pergi.
Saat Kehilangan satu pegangan paling Fundamental untuk bertahan, tidak ada hal lagi yang dirasa mampu membuat sebuah raga bertahan lebih lama.
Jangan menahan sesuatu yang tidak ingin tinggal.
@ceritajihan

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
LIGHT 12Â (LIttle thouGHT)
We face uncertainty every single day. Whatever hasn't come yet is a mystery. Too much time allocation for thinking allows us to develop huge terrifying future clips and stops the begin button we never pushed before. Our duty is limited to give it a try for what we think is worth fighting for but what kind of result we will own, it's another story. It's risky to just only depend on our endeavour, therefore we have to make it safer by combining it with one of the greatest weapons that humans can do to compete between what has already been destined for and what they wish for : praying.
In my point of view, as humans, we have no power to execute. Everything happens because of Allah's permission. Without having it, no matter how hard the efforts we have given towards a wish, it is not going to ever happen. But when Allah says yes, no matter how impossible it is, it will find its way to be possible. The more intense our small talk with Allah about our dreams or even anything, the more likely we'll be more willing to accept our faith regardless of whether we stick to our plan or not. I can't explain you much about behind the scene in how I finally arrived in this thought (because it is quite private, wqwq yea perhaps in other writing I'll do share it), but do not ever underestimate about how powerful your words when you invest it in the last third of the night (close to Fajr) where Allah and the angels are watching and waiting for those of you who want to have an intimate discussion with them about your what you desires.
As an honest testimony, you'll meet a package of surprising answers and directions in incredible ways. I'm mesmerised. A LOT.
So, [ I also tend to repeat this to myself even though it takes time to accept when things don't work out in the way we want ], don't stop. Keep your hopes lifted up to the sky, because when you keep delivering it repeatedly, there will be an action back to you as a response to what you are asking for.
Pray with a belief : whatever the answer, it's the best thing you can own for now. Allah doesn't want to see you sad. Allah wants to give you something better than what you're praying for. You'll see, insyaAllah. :)
Memaknai Ke(tidak)hadiran
Hadirmu pernah membawaku sampai pada muara rasa bahagia
Melarutkan segala emosi ke dalam bentuk yang lebih bermakna
Cara pandangmu mengantarkanku sampai pada pemahaman baru tentang dunia
Meleburkan semua ego diri untuk bisa memahami dengan lebih bijaksana
Dari tiada jadi ada
Dari aku, kamu, jadi kita
Hingga yang kita tahu hanya : cinta, bahagia, dan selamanya
Namun lupa jika selamanya bukan aturan milik manusia
Yang kita punya hanya fana
Sampai pada waktu tidak ada jalan terang untuk apa yang kita anggap berbeda
Kita putuskan untuk berjalan tanpa ada di definisi yang sama lagi soal : cinta, bahagia, dan selamanya
Lekatnya rasa hampir membuat kita buta
Bahwa cinta kepada Tuhan haruslah melebihi cinta pada dunia dan seisinya
Karena menggantung harap pada manusia sudah pasti kecewa
Jika apa yang kita yakini tidak berakhir pada ujung yang sama
Harus sejauh apa kita memaksa?
Ketidakhadiranmu jadi bahan bakarku untuk bisa selalu percaya
Bahwa apapun yang sudah dituliskan-Nya untuk kita pasti akan datang pada waktunya
Sesuatu yang hilang mungkin tidak akan pernah kembali
Tapi akan selalu ada cara ia akan terganti  Â
Untukmu yang kini sedang beristirahat, entah beristirahat dari mencintai atau memperjuangkan sesuatu, tenangkanlah hati dan jiwa, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Kuatkan lewat doa dan tanyakan pada hati perihal apa yang sebenarnya dicari. Jangan terburu-buru, ya!
@jndmmsyhd
Espresso
Espresso was never my top choice. I am sure enough that I will not be able to cope with the bitterness it offers to my sweet tooth tongue. However, shaking hands to something we never tried before must be at least in our list, once.
Meeting you at first sight was described as receiving a cup of flavourlessness and perplexity. Out of the blue, your attendance emits an intoxicating air to my breath. Yet, you helped me rebuild my broken trust in this unfair universe workflow. You showed me how a thousand miles separation is not an excuse for two souls to detect each other's existence.
(pic source : google)
In the midst of adapting theâslight ofâsweetness that you bring to my life, I sense something else coming up. A drop of unbearable bitterness slowly kicked every sweet molecule I've been enjoying. It wipes away the cloud of confusement of what is your (final) flavour in my perception ; bitter. Â
The velvety sweet I recognized is a part where I believe it's hidden for a long time in you. Some content of acidity level popped up, showing that perfection does not consist of a single taste. Regardless of how close the possibility of our dots will be, I think now is the time to let you go.
As it is said,
a perfect shot of espresso has a delicate balance of bitterness, sweetness, and sourness.
And,
you are the first espresso that I fearlessly observe until the last sip. It's (mainly) bitter but I (gladly) did not leave the cup but took it instead.
Petualangan Arunika
Kepingan 6 - Rumah Keluarga Harissadananta, Bandung, Jawa Barat
Mungkin ada benarnya jika tak mendengarkan perkataan orangtua, kita pasti kena batunya juga. Sejak kecil diingatkan untuk tidak memakan makanan yang bukan diproduksi langsung di dapur dengan peralatan fancy milik keluarga Harissadananta, ia kemarin nekat memakan semuanya dalam satu waktu sekaligus bahkan tanpa memilah terlebih dahulu. Terbawa suasana pembicaraan oleh si pemandu, ia akhirnya tak bisa mengendalikan diri sendiri dan hari ini berakhir di kamarnya. Kondisinya lemas, wajahnya pucat, tenaganya seolah baru saja tersedot sesuatu hingga tak menyisakan sedikit pun energi untuk beraktivitas.
Sudah hampir delapan kali sejak pagi ini, ia bolak-balik kamar mandi. Ia merasakan lilitan cukup kencang di perut yang berujung pada pengeluaran isi dari saluran pencernaannya yang padahal menurutnya sudah tak ada lagi isinya karena hampir setiap jam terkuras dengan begitu cepat. Padahal, baru kemarin lidahnya bersalaman dengan aman dan damai dengan makanan-makanan yang ternyata punya rasa lezat diluar prediksinya sendiri.Â
âJujur deh sama mama, kamu makan apa? Mama paham riwayat kesehatan kamu, belum pernah kamu diare separah ini..âujar Ayu Harissadanantaâterlihat cemas, panik, dan marah terefleksi dari bagaimana cara ia berbicara.
âEnggak aneh-aneh, ma. Tapi, mungkin aku aja yang ceroboh gak pilih-pilih makanannya dulu. Kemarin kepepet karena aku posisinya laper banget.âbalas Arunika sekenanya.
âOke, mama sudah panggilkan dokter. Ditunggu aja.â
Arunika segera meraih ponselnya dan mengirim pesan lewat satu-satunya sarana berkomunikasiâyaitu emailâdengan orang yang ia pikir seharusnya bertanggung jawab soal hal ini. Si pemandu. Ya ampun, kenapa sampai hari ini ia tidak terpikir untuk menanyakan namanya? Bukankah perkenalan nama di awal itu sebenarnya adalah krusial?Â
âAku diare ini, sedih deh..âtulis Arunika pada laman obrolan di gawainya. Kemudian tak lama ia kembali menghapusnya.âTau gak? Gara-gara kemarin, aku diare..âlagi, Arunika menghapusnya dan menggaruk-garuk rambutnya, kebingungan kata-kata apa yang harus ia bilang. Bagaimanapun, sebenarnya dia tidak salah juga, tapi ya salah juga sedikit.
âAku dapat hukuman langsung dari Allah karena durhaka sama orang tua. Sudah kubilang, merubah budaya keluarga itu susah.â
Terkirim.
Di tengah kondisi lemasnya, ia mencoba untuk meraih surat yang diterimanya seminggu yang lalu di bagian atas lemari baju setinggi 3 meter dengan bantuan sebuah kursi. Perlahan, kakinya menaiki kursi tersebut disusul tangannya yang coba meraih kotak tempat ia meletakkan kiriman terakhir dari neneknya itu. Belum sempat ia memastikan kertas itu ada di tangannya, tiba-tiba ia merasakan turbulensi yang tak biasa di sekitarnya. Kepalanya seolah diputar-putar dengan cepat dan beberapa detik berlangsung begitu lama dengan potongan cahaya lampu yang seolah redup-nyala diluar kendalinya. Dalam hitungan detik, Arunika ambruk ke lantai.
â
Ada sayup-sayup suara anak-anak kecil berlari tertangkap oleh daun telinganya. Entah ada dimana letaknya, suara gemericik air ikut ada di antara riuhnya suara tadi. Lewat kulit tangannya, ia merasakan ada hangat yang mencoba menggapai tubuhnya. Di tengah sapaan dari hangat yang ia pun tak mengerti berasal dari mana, ia rasakan seseorang ikut mengusap-usap pelan punggung tangannya. Tekstur kulitnya cukup lembut, maka ia meyakini bahwa orang tersebut adalah wanita.
âArunika..âakhirnya sebuah suara membuat kepekatan matanya tiba-tiba melonggar hingga ia samar-samar bisa memastikan bahwa memang ada orang lain di ruangan ini selain dirinya. Tapi, dimanakah ia? Mengapa yang terlihat adalah tembok-tembok bernuansa putih polos tanpa hiasan dinding? Semakin jelas penglihatannya, ia memastikan bahwa ini bukan kamarnya dan dengan terkejut, ia melihat sang nenek duduk di pinggiran ranjang kasurnya.Â
Sebentar, apakah aku sudah menyusul nenek?
âBagaimana, rasanya berjalan-jalan? Keluar dari lingkungan serba nyaman di rumah?âtanya sang nenek, dengan suara jelas. Arunika berusaha untuk bangun dari posisi terbaringnya. Masih diantara rasa tidak percaya bahwa akhirnya ia kembali bertemu dengan neneknya, ia seketika memeluk neneknya cukup kencang. Benar, ini nyata, bukan? Ia bisa merasakan aroma tubuh, derajat hangat, dan ciri yang khas pada neneknya.
âLebih dari yang pernah aku bayangkan, nek. Aku bahkan merasa aku terlalu banyak berputar di satu titik yang sama semenjak kecil. Aku gak mau menyalahkan siapapun atas itu, termasuk mama dan papa. Karena mereka pun ada di situasi ini bukan karena permintaan, tapi tuntutan dari Harissadananta terdahulunya.âjawab Arunika, masih dalam setengah pelukan neneknya.
âIni aku sekarang sudah bisa kumpul sama nenek lagi ya?â
âYa belum, ka. Besok kamu ulang tahun.âjawab nenek kemudian perlahan melepaskan pelukannya karena ingin menatap cucu yang ditakdirkan lahir dengan kemiripan hampir identik dengan dirinya itu dengan seksama.âKamu sudah diberi kesempatan belajar sesuatu yang tidak dipelajari Harissadananta yang lain. Nenek sengaja, karena hal seperti itu terlihat remeh padahal penting, bukan? Siapa sangka dari hanya berjalan di tengah hutan kamu bisa memaknai soal perjalanan jauh? Siapa sangka dari makanan pinggir jalan, cimol ya? Bisa bikin kamu menyadari pentingnya peduli soal keadaan sekitar. Ya, meskipun sekarang kamu jadi diare begini.â
âArunika, hidup tidak akan statis. Ia dinamis. Keluarga kita belum ada di dalam zona pemikiran yang sama, maka mereka bisa jadi ada dalam bahaya karena tidak bersiap soal apapun. Kita tidak tahu di lima atau sepuluh tahun ke depan, dengan perubahan dunia yang semakin menjadi, barangkali nama kita sudah tidak dikenal orang lagi. Maka, merendahlah dan berbaurlah. Kamu sudah mempelajari dengan baik, lewat bantuan orang yang kamu sebut pemandu.âjelas nenek di tengah-tengah suara paraunya karena usia.
âSi pemandu itu siapa sih nek sebenarnya? Dia betulan teman nenek?â
Neneknya mengangguk.âTeman spesial karena dia sudah dalam proses panjang melalui seleksi sampai akhirnya terpilih buat ketemu kamu. Diantara tujuh miliar manusia di bumi, kita akan ditakdirkan untuk bersama dengan seseorang, Arunika. Maka, pilihlah dengan bijak. Nah, sebelum area tempat kamu mencari akan dipersempit oleh kriteria Ayu dan Candra, nenek sudah pilihkan agar kamu bisa tinggal memutuskan, mau bersamanya atau tidak. Atau mau cari lagi. Karena, teman hidup kita selain cerminan, adalah pilihan.â
âDan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).â
Arunika tidak siap dengan kalimat-kalimat di bagian akhir. Ia tiba-tiba jadi takut salah bersikap jika mereka berdua bertemu lagi.
â
âIni diminum tiga kali sehari ya bu, sekali minum dua tablet. Kalau yang ini, sesudah makan satu tablet saja, dijeda kira-kira sepuluh sampai lima belas menit. Diberikan sampai gejala diarenya hilang ya bu.âjelas dokter yang menjadi one-call-away-doctor keluarga Harissadananta kemudian meletakkan tiga plastik obat berisi masing-masing satu strip tablet.
Hampir saja Arunika melompat dari kasurnya, begitu melihat si pemandu kini berdiri nyaris hanya terpisah satu atau dua hasta darinya. Tetap, dengan setelan parasutnya. Kini berwarna hijau army. Ah, hangat sekali bertemu dengan nenek, meskipun itu semua ia alami melalui mimpi.
âKok?â
âCepat-cepat taubat ya anak durhaka. Kalau nggak, nanti kamu dikutuk.âujar si pemandu. Sebentar, apakah ia berpindah lagi ke dimensi mimpi yang lain? Tapi, kali ini ia bisa memastikan dinding-dinding putih yang baru saja dilapisi sebuah wallpaper besar yang menyulap sekeliling kamarnya jadi miniatur tata surya. Selain itu, tingkat keempukan kasur ukuran king dengan springbed yang dijahit oleh seorang penjahit tersohor di New Zealand juga terasa begitu nyata.
âKamu, bisa masuk gimana caranya? Emang dibolehin?â
âBoleh.âjawab si pemandu santai.âAku kan masuknya sopan, dengan permisi, izin dulu. Termasuk sekarang sama kamu, baiknya kita kenalan dulu. Namaku, Fadlan. Maaf baru sempat memperkenalkan diri. Agenda kita kemarin sibuk banget kan?â
âAku kan sudah ajak kamu kenalan pas di awal. Kamu bilang nanti.â
âKadang sesuatu ditunda, supaya hasilnya lebih baik.âFadlan menyengir.âOh ya. Selamat mengulang bulan yang ke 276 kalinya.âujar si pemandu sebelum ia sempat menambahkan sepatah dua patah kata.âKalau kamu pengen memperbaiki generasi selanjutnya, kamu butuh teman untuk⌠membuat generasinya dulu kan?â
âEH,âkan. Arunika membatin. Ia jadi salah tingkah begini.Â
Nek, aku pilih yang ini saja. Pejalan jauh, cek. Rendah hati, cek. Baik dan bijak, cek. Lengkap.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Petualangan Arunika
Kepingan 5 - Alun-Alun Bandung, Balonggede, Jawa Barat
Malam ketika bintang-bintang hadir dengan jelas di sisi langit yang terlihat di balkon rumah mewah keluarga Harissadananta, Arunika duduk termenung ditemani secangkir coklat beramoma daun mint yang belum disentuhnya karena baru beberapa detik lalu terlarut sempurna dalam 250 mililiter air mendidih. Ia ingin sejenak meluruskan kaki-kakinya yang mencetak rekor dibawa kesana kemari tanpa istirahat yang mumpuni.
Perjalanan selama tiga hari yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Bagaimana bisa ia berjalan bersama orang yang baru dikenalnya dengan modal percaya bahwa memang neneknya yang sudah mengatur ini semua? Arunika ingin sekali bertanya pada sang nenek, tapi ia tahu tak ada lagi jalur komunikasi yang bisa digunakan kecuali melalui doa. Maka, ia hanya bisa meminta perlindungan jika memang si pemandu adalah seorang kriminal atau sejenisnya, maka lenyapkanlah segera. Tapi sejauh ini, Arunika harusnya banyak berterimakasih. Berkatnya, telinganya jadi mengenali berbagai suara spesies burung di tengah hutan kota, punya kesempatan saling pandang yang sangat dekat dengan langit, dan kesempatan menapakkan kaki di atas tanah berunsur salah satu unsur terbanyak di bumi.
Lebih jauh lagi, pengalaman itu diantarkan sepaket dengan tafsir yang ada bersamanya.Â
Memang doa bisa sebegitu kuatnya.Â
Saat ia menemui jalan buntu soal bagaimana cara untuk merubah diri dan sekitar, ia hanya punya doa yang setiap hari dipanjatkannya, dan di kirimkanlah cara yang tak biasa untuk ia bisa keluar dari masalahnya.
Sesuai dengan agenda pamungkas program ini, hari ini mereka akan ke pusat kota untuk wisata kuliner sederhana. Seumur hidupnyaâjujur sajaâyang ia kenal hanyalah makanan dengan takaran nutrisi yang pasti, diproses dari dapur rumahnya atau dari tempat yang teruji kebersihannya. Maka, bukan karena tak mau untuk membeli penganan pinggir jalan, tapi karena tak terbiasa, lama-lama ia segan mencoba.
Tempat berpetualangan (terakhirnya) : Alun-Alun Bandung
Baiklah, saatnya mendobrak budaya keluarga. Jajan jajanan di pedagang kaki lima. Semua juga diusahakan dulu saja, karena hasil kan bukan urusan kita.
âBeli dua porsi ya mang,âujar si pemandu mengambil dua kursi bakso warna hijau.âKita ini masuk sesi santai. Karena, makan gak akan nikmat kalau kita banyak pikiran. Makan dulu aja, merenungnya nanti saya kasih waktu tambahan.â
Di balik gerobak kaca, tahu-tahuâberwarna kuning dengan isian cacahan ikan tenggiriâberjajar rapi di atas wadah rotan dengan cepat dipotong diagonal lalu dibalur campuran tapioka, terigu dan daun bawang yang telah dilarutkan dengan air. Kesemuanya siap dilandaskan ke dalam tungku besar berisi minyak yang telah panas. Sisa cacahan ikan tenggiri sengaja ditambah tepung tapioka yang ditakar, kemudian dibentuk jadi adonan-adonan mungilâdinamai siomayâyang satu persatu dibalut kulit pangsit dan akan ikut menyelam beberapa menit di dalam minyak yang sama. Tada, kini semua telah berubah tekstur dan wujudnya jadi makanan paling dicari di kota ini.
Di lain sisi, serbuk kacang tanah goreng yang telah dicampur airâsecukupnyaâkemudian dituangkan sedikit demi sedikit kecap manis dan diaduk hingga mewujudkan kekentalan dan warna yang kelihatan legit untuk segera dicicipi.
"Batagor. Baso tahu goreng. Top banget ini, apalagi makan langsung di sini, panas-panas. Duduk sini."ujar si pemandu membuyarkan penyusunan memori dengan judul âtahapan membuat batagorâ di otak Arunika.
Penuh ragu, Arunika duduk di hadapan si pemandu dengan dua piring berisi tahu dan siomay yang telah bersama-sama dengan bumbu kacang siap memanjakan lidah Arunika untuk pertama kalinya. Dalam hatinya, ia dengan kuat melafalkan sugesti bahwa makanan ini aman, tidak akan membawa bahaya apapun padanya, karena semua orang disini pun makan makanan yang sama.Â
Oke, relax Arunika, makan saja. Jangan bikin malu.
Pada gigitan pertama, Arunika bisa merasakan gerahamnya berhasil melibas renyahnya potonganâbaso tahu goreng alias batagorâdalam mulutnya seraya merasakan seluruh rasa gurih, pedas dan manis bersatu padu. Ia meyakini siapapun harus mencoba makanan ini dalam kondisi baru diangkat dari penggorengan. Walaupun nanti jadinya âhatahor hanasâ sih ya.
Sengaja menyisakan banyak ruang untuk makanan selanjutnya, kali ini, masih serumpun dalam komposisi dan cara penyajian yang hampir mirip dengan batagor, mereka bergeser ke penjual makanan lainnya.
Si pedagang mengeluarkan dua mangkuk putih yang kemudian dibubuhi sejumput bubuk garam, merica, vetsin dan taburan bawang goreng serta seledri sebelum dituangkan minyak sayur hasil racikannya sendiri. Lalu, dari dalam sebuah panci besar berisi air mendidih yang dibawa dari rumahnya hingga kesini, diangkatlah komponen-komponen penting dalam kudapan ini : satu tahu putih rebus, satu tahu coklat goreng, tiga siomay goreng, dan satu butir ukuran sedang bakso ayam. Jangan sampai ketinggalan, kuah bening yang telah direbus berjam-jam lamanya, tanpa permisi mengguyur isi dalam mangkuk untuk bersiap menciptakan sensasi rasa yang akan membuat yang menikmati pasti ingin menambah satu porsi lagi. Ini dia, cuanki.
"Kenapa sih namanya cuanki?"tanya Arunika ditengah melumat makanannya, hati-hati.
"Cari UAng jalaN kaKI. Cuanki."
"Yang bener?"
"Bener. Gak percaya? Lihat penjualnya bawa kendaraan gak? Enggak kan? Nah ya itu dia jalan kaki."
Berpuluh tahun menginjak tanah di kota ini, dia baru tahu cuanki itu singkatan dan malah tak ada hubungannya dengan isi di dalam mangkuknya.
Terakhir, sebagai teman bersantai untuk proses penafsiran hikmah, si pemandu mengenalkannya pada salah satu olahan khas tanah pasundan yang dibuat dari tepung tapioka atau diterjemahkan âaciâ dalam bahasa sunda. Iya! Cimol atau aci digemol, jadi jenis aci yang akhirnya sampai di lidah Arunika. Adonan dari tapioka, air dan bawang putih yang digoreng dan diberi macam-macam bumbu.
âOke, makan-makannya sudah banyak. Pelajarannya dapet?â
Arunika masih mengunyah sisa-sisa terakhir potongan cimol yang maksimal tercampur bubuk pedas dan balado, karena ada di bagian paling bawah.âApa ya.. Enak semua ini. Jajajan bandung, enak. Sayangnya, aku gak bisa bawa makanan-makanan ini ke rumah.â
"Nah, itu poinnya dapet. Apa masalahnya berarti?"
Arunika terdiam sejenak setelah menelan potongan cimol terakhirnya.
"Keluargaku.. tidak kenal ini semua, padahal enak."balas Arunika."Bisa kubilang tanah dan aset keluargaku, semua pusatnya ya di tanah pasundan ini. Tapi kita terlalu banyak membatasi diri, termasuk sama makanan-makanan seenak ini. Kalau mamaku tau aku makan ini. Besok, aku pasti dibawa ke dokter."
"Tenang, nanti gak gitu lagi. Bisa bebas kapan aja beli ini."
"Maksudnya�"
Si pemandu hanya membalas dengan mengangkat kedua alisnya dan menyunggingkan senyum yang sangat mencurigakan.
Petualangan Arunika
Kepingan 4 - Kawah Putih, Ciwidey, Jawa Barat
Hasil melatih kekuatan otot di tempat gym selama hampir 2 tahun terakhir ternyata nyaris terasa sia-sia ketika akhirnya ia harus menaiki undakan terjal menuju bukit bebatuan kemarin siang. Efeknya, hari ini ia sesaat ingin menanggalkan kaki sementara untuk kemudian nanti digunakan kembali. Tapi, tak ada toleransi. Ia harus tetap melanjutkan perjalanan hari ini.
Oke, belajarlah dari pengalaman.
Hari ini, tak ada barang dengan harga pembelian nominal setara satu jam tangan lapis emas putih seberat lima gram melekat mengikutinya keluar rumah. Dengan sengaja, ia menggunakan pakaian usangâmeskipun se usang-usangnya pakaian di rumah ini tidak sesusang di rumah kebanyakan dari kitaâuntuk berkamuflase untuk tidak terlihat sebagai seorang Harissadananta. Kemarin, di satu jam menuju senja, si pemandu sempat memberinya waktu untuk menyerap sari-sari pelajaran yang coba diajarkan alam meski untuk membantunya menguraikan kegundahan pencarian identitas di umurnya yang akan menjelang 23 dalam waktu kurang dari empat hari.
âJadi, sudah terbayang mau jadi Harissadananta yang seperti apa?â
âBelum full. Masih samar-samar. Tapi, tetap saja, mendobrak budaya keluarga adalah tugas berat.â
âYa, pelan-pelan. Saya lihat kamu memang satu jiwa sama nenek. Pembelajar cepat, cukup adaptif meskipun tetap banyak ngeluhnya. Manusiawi, lah.âtimpal si pemandu.
âSebetulnya, besok kita jadwal makan-makan. Tentunya, bukan makanan dengan porsi sedikit tapi harga menjerit di atas piring porselen mengkilap resto-resto dengan lampu mewah ya. Tapi kita akan makan makanan yang pasti kamu belum pernah makan. Aku bisa bilang, sebagai orang bandung, gak sah kamu tuh.â
âMakanan kayak gimana?â
âNah, itu tandanya kamu memang belum pernah makan makanan ini.âbalas si pemandu.âTapi, kita taruh makan-makan di edisi terakhir. Saya mau ajak lagi ke satu tempat lainnya. Saya juga suka berkali-kali kesana. Tidur yang cukup, posisikan kaki senyaman mungkin, karena besok kita akan jalan lagi. Pakai kupluk, kalau mau kembaran sama saya.â
Begitulah pesan terakhir si pemandu sebelum pagi ini mereka bertemu lagi.
âKaki aman?â
âEngga, sebenernya. Tapi yaudah. Nanti durhaka sama nenek, gitu kan?â
âAhahaha, jangan cemberut atuh. Kita harus awali setiap perjalanan dengan aura yang positif. Aura negatif akan menghambat jalur komunikasi kamu dengan alam.âbalas si pemandu.âLetsgo. Cie, berkupluk. Nanti fotolah kita.â
Kali ini, mereka akan naik ke wilayah lebih atas namun akan melihat sesuatu yang lebih dalam. Sebuah kawasan yang punya level kesohoran diatas dua destinasi sebelumnya, sehingga harus bersiap jika memang akan banyak kerumunan yang bisa membuyarkan daya inderanya untuk mencerna pelajaran baru.
Tempat berpetualang yang ketiga : Kawah Putih
Pada pijakan pertama, bagi Arunika, komposisi tanah yang mengenai alas kakinya terasa lain. Seperti ada kerikil-kerikil yang menusuk tapi tidak sampai melukai. Jika harus, tangannya mampu meraup segenggam pasir putih di tempat saat ini ia berdiri. Langit menyerukan eloknya perpaduan sempurna warna biru dan cyan dilengkapi helaian awan-awan yang bergerak malas menuju ke timur secara horizontal.
Sebuah kawah yang airnya dengan anggun memantulkan warna turqoise telah ada di sana bahkan sebelum ia lahir ke dunia. Dalam beberapa suasana, air akan pasrah pada koloid yang diterjemahkan jadi warna apapun oleh langit diatasnya. Seolah memeluk kawah dan seisinya, tebing bebatuan tua nan raksasaâyang sebagian terselimuti rindangnya hijau lumut rerumputanâberjajar rapat melingkar untuk menghadang segala jenis mara bahaya yang mungkin ada.Â
Milyaran pasir putih dominan meramaikan sekitaran bibir kawah. Makin dekat, makin jernih airnya terlihat. Kabut menyembunyikan keindahan warna hijau emerald dari alang-alang di bagian bawah tebing. Pada beberapa titik, ada asap yang menggambarkan dahsyatnya gejolak panas yang ditahan perut bumi berjuta tahun lamanya.
Pepohonan beranting kecil dengan dedaunan ala kadarnya tertancap tak beraturan melengkapi asrinya suasana. Ada hal lain yang coba ditangkap oleh silia-silia pada hidung siapapun yang melintas, termasuk Arunika.
âAgak bau..âujar Arunika, selagi langkahnya terus membawanya turun dan mendekat pada air.
âBukan agak, memang bau. Familiar dengan bau apa?â
Arunika memastikan apa yang dideteksinya adalah benar. Memorinya mengantarkannya pada pengalaman di laboratorium eksperimennya. Ini adalah riuh dari bertautnya ratusan atau bahkan jutaan keluarga senyawa sulfida.
âTelur busuk?â
âKentut.â
âKentut siapa?â
âYa, kentut manusia dong Arunika. Emang ada kentut mahluk lain yang bisa kita tahu aromanya?â
âIh, jorok. Ini tuh bau belerang. Jadi, apapun yang ada belerangnya, ya baunya seperti ini.âbalas Arunika mencoba memindai barangkali ada spot dimana ia bisa menyusun kesimpulan.âAku mau merenung di jembatan. Agak sulit, karena bau ini.â
Dua hal yang telah dipelajarinya adalah dua kepribadian yang tak banyak ia jumpai pada sebagian besar tipikal Harissadananta, termasuk orangtuanya. Dengan kuasa, mereka tak perlu bersusah payah untuk menempuh proses panjang demi menggapai sesuatu, karena kalau ada cara cepat mengapa harus memilih yang membutuhkan waktu lebih lama? Padahal, pada proses merangkak menuju sesuatu yang kita inginkanlah yang memaksa keluar banyak mutiara-mutiara kehidupan bersembunyi untuk jadi pelajaran.
Dari paduan rasa lelah, kecewa, sedih, marah, gundah, lara, kita akan bertemu dengan rasa bahagia ketika telah sampai di ujung perjalanan.
Berada di posisi ekonomi yang stabil berpuluh tahun lamanya, membuat keluarganya seringkali merasa keadaan akan selalu sama. Sejauh ini, ya benar juga. Tapi, perasaan itulah yang mengakarkan perasaan jumawa. Padahal dengan semakin diatasnya posisi mereka, maka hantaman ombak ujian yang akan diberikan akan sepadan pula. Jika kita merasa sedikit saja angkuh terhadap apa yang kita miliki dan memandang rendah pada siapapun yang tidak seberuntung kita, akan dengan mudah kita dihancurkan oleh perilaku kita sendiri.
Harusnya manusia tidak punya ruang untuk menyombongkan diri. Memang dibandingkan dengan siapa dia bisa merasa jadi âyang palingâ?
Lalu, apa yang harus ia ambil dari perjalanannya di sini? Jangan sampai hanya memori bau menyengat saja yang ia bawa pulang. Ingin menjadi seperti apakah ia nantinya? Kemampuan apa yang harus dimiliki seorang Harisssadananta menghadapi dunia yang bentuk kekejamannya seringkali diluar nalar manusia?
Si pemandu menghampirinya seolah-olah mendengar batin Arunika yang meminta bantuannya.
"Apa yang akhirnya membuat kawah ini sanggup menahan dorongan energi panas di perut bumi untuk tidak memuntahkannya dengan sengaja ke dunia? Ia tahu kapan harus meledak-ledak kapan harus diam tergenang. Apa yang akhirnya membuat seorang manusia mampu mengendalikan amarahnya ketika hal itu menggebu-gebu ada dalam benaknya, tanpa harus meluapkannya secara paksa pada orang-orang di sekitarnya?"
âJika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri..â
"Aku tahu... dan semoga ini benar.âtimpal Arunika memejamkan kedua matanya. Mencoba menajamkankan kembali bisikan bebatuan, rumput, dan apapun yang coba menyampaikan sesuatu padanya.
âKelembutan hati. Kebijaksanaan pikiran."jawab Arunika menatap damainya peleburan warna putih-hijau-biru di hadapannya."Kita selalu bisa memilih antara kebaikan dan keburukan. Jika menahan, kita berarti pilih yang baik. Jika meledak, maka sebaliknya."
Si pemandu mengangguk-angguk.
The third Harissadanantaâs future skill to unlock : be kind and in one packageâwise!