Bahkan seribu kehidupan mungkin belum cukup untuk mengenal diri sendiri. Kita terus berubah, berkali-kali runtuh, berkali-kali tumbuh. Mungkin, itulah harga untuk tetap hidup.
Tidak ada manusia yang benar-benar selesai menjadi dirinya. Setiap hari selalu ada sesuatu yang patah, tumbuh, hilang, lalu lahir kembali di dalam hati.
Ada hari ketika kita merasa setangguh gunung, lalu pada hari lain satu kalimat sederhana saja mampu mengguncangkan seluruh isi dada. Begitulah manusia; belajar tanpa pernah lulus, bertahan tanpa pernah benar-benar terbiasa.
Barangkali kesempurnaan memang bukan tujuan kita. Sebab jika seluruh luka hilang, seluruh takut lenyap, dan seluruh tanya terjawab, mungkin kita telah berhenti menjadi manusia.
Kita sering tergesa-gesa ingin sampai, padahal semesta tidak sedang menilai seberapa cepat langkah, melainkan seberapa berani kita tetap berjalan meski rasanya seluruh dunia sedang runtuh di atas bahu.
Sebab menjadi manusia bukan tentang akhirnya berhasil mengalahkan semua badai, melainkan tetap memilih hidup ketika hati terasa lebih berat daripada seluruh langit yang sedang memikul hujan.
Written by Aftansa


















