Ketidakmungkinan dalam Kisah Nabi Musa dan Pengaturan Allah dalam Kisah Nabi Yusuf
Hari ini gue baca surat Thaha dan sampai pada doa Nabi Musa:
"Ya Rabb lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku atas segala urusanku"
Lalu gue jadi bertafakkur pada kisah dua Nabi. Nabi Musa AS dan Nabi Yusuf AS. Kehidupan keduanya terabadikan dengan sangat indah dalam Al Qur'an dan tentu ada banyak hal yang bisa kita pelajari.
Salah satunya adalah bahwa kehidupan Nabi Musa AS itu dipenuhi banyak "ketidakmungkinan". Bahkan mukjizat yang diberikan oleh Allah ke beliau pun bertentangan dengan sunnatullah yang dipahami manusia. Laut terbelah, tongkat tiba-tiba jadi ular, makanan turun dari langit, dan banyak lagi.
Di antara segala ketidakmungkinan itu juga masih ada "ketidakmungkinan" lain. Beliau adalah bayi yang seharusnya dibunuh tapi akhirnya malah dirawat oleh Fir'aun. Beliau juga tidak mampu berbicara dengan fasih tapi lawannya Fir'aun yang sudah seperti tuhan bagi kaumnya. Menurut hitungan manusia, Nabi Musa AS tidak mungkin menang.
Maka dalam segala ketidakmungkinan itu, Allah juga memberi jalan dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka kita melihat jejak-jejak doa nabi Musa AS adalah doa yang sangat pasrah dalam segala usaha beliau. Dan sesuai janji-Nya, Allah tidak pernah meninggalkan Nabi Musa AS.
Di sisi lain kita melihat Nabi Yusuf AS. Sepanjang hidup beliau diuji dengan kesulitan, kebencian sesama manusia, dan fitnah. Dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara, dan dilupakan.
Namun justru melalui semua itu, jiwa beliau ditempa. Hingga pada akhirnya beliau mampu menjalankan amanah dengan sangat baik sebagai petinggi kerajaan yang membantu Mesir melewati masa paceklik.
Maka ucapan beliau setelah melewati semua badai itu adalah:
"Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
Ada banyak jalan dari Allah untuk membentuk manusia dan membantu manusia menyelesaikan masalah. Kadang Allah menempa manusia seperti Dia menempa Nabi Yusuf AS dan Nabi Musa AS. Kadang Allah menyelesaikan masalah lewat arah yang tidak pernah kita sangka. Atau kadang Allah membantu kita dengan hidayah melalui logika sehingga kita bisa membuat keputusan-keputusan yang baik di saat-saat genting.
Cara Allah menyapa hidup kita bisa lewat sesuatu yang tampak luar biasa. Bisa juga melalui sunnatullah yang sudah sangat kita kenali. Bahkan kadang lewat kelapangan dada untuk terus melangkah satu hari lagi.
Maka di saat-saat sempit, ketika hati kita masih terasa lapang, syukurilah. Karena itu salah satu bentuk pertolongan Allah.
Lalu bermohonlah pertolongan-pertolongan yang lain. Jangan pernah berputus asa.
Karena Rabb yang mengurus kita adalah Rabb yang mengurus Nabi Musa AS dan Nabi Yusuf AS. Dia menemani hamba-Nya yang sedang berusaha. Dia juga tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang tetap bertawakkal dalam segala keluh kesahnya