Mantra akhir-akhir ini:
"ayo jangan kabur. Jangan kabuuur"
"gapapa, indirak. Kamu sejatinya secara umum keren, ko. Alias yaudah gaskeun!!!"
"ayo banguuun. Geraaaaaaaak. Tritmen bayarnya mahaaaaal."
"ayok indirak jangan biarkan otakmu mubajir."

roma★
𓃗

izzy's playlists!

Origami Around

PR's Tumblrdome

Love Begins

Andulka
trying on a metaphor
macklin celebrini has autism
d e v o n

Discoholic 🪩

if i look back, i am lost

pixel skylines
NASA
noise dept.
I'd rather be in outer space 🛸
🪼
Misplaced Lens Cap

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Canada

seen from United States

seen from Ecuador
seen from Indonesia
seen from Argentina
seen from Switzerland

seen from Vietnam

seen from Malaysia

seen from Argentina

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Oman
seen from Netherlands
seen from Türkiye

seen from Netherlands

seen from Australia

seen from Netherlands
@notesaurel
Mantra akhir-akhir ini:
"ayo jangan kabur. Jangan kabuuur"
"gapapa, indirak. Kamu sejatinya secara umum keren, ko. Alias yaudah gaskeun!!!"
"ayo banguuun. Geraaaaaaaak. Tritmen bayarnya mahaaaaal."
"ayok indirak jangan biarkan otakmu mubajir."

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
... hidup terlalu singkat untuk kamu lewatkan tanpa mencoba cintaku.
Lagi tricep pushdown sambil mikirin kenapa siku gue nggamau lurus diem pas rope-nya ke bawah, tibatiba banget radio muter lagu kebangsaan patah hati jaman masi jadi ((backburner)) bertahun-tahun silam, alias Broken Vow. WK.
Badut bener tapi pedih sebenernya. Tapi tetep badut tolol. Tapi pedih. Wk. Sekarang mah tawain ajalah. Namanya juga lyfe.
Tapi trus gue matiin radio dan nyalain lagi lewat spotify pas abis finisher, buat gue dengerin sambil nurunin heart rate sebelum jalan pulang. Gue merenungi satu bait lirik yang paling... apaya, sebenernya sedih, tapi tolol, tapi sedih.
Tolol. Tapi sedih. And when it comes to love, we're all voluntarily being tolol.
I was that tolol one too, once.
Sekali doang tapi membekas selamanya dan jadi bagian belajar yang penting banget sepanjang gue hidup.
I used to think love worked that way. Sacrificing, giving your all, though I got nothing left for myself. Every tiny little feedback that I got was such an enormous deal, though it's actually a bare minimum. I claimed myself that I loved best, because I just gave it even no one was asking. I thought I was obliged to do that "too much" so I could be loved back.
I literally would give away my soul to hold you once again.
And I thought that was the right thing to do.
Ya mungkin pada saat itu memang begitulah cara gue menyalurkan cinta dan menerima cinta. Pada saat itu buat gue itulah yang terasa benar. I was not wrong. Gue hanya belum menemukan variasi lain yang ternyata terasa lebih benar.
Bahwa ternyata;
love should make you have more to give to yourself. Love may need sacrifice but it works on both side, but it never takes you more than you can afford. It starts from all the bare minimums, and up to all the maximums. It holds you gently, even when you're not holding back. It keeps your souls in the right place, so much that you never think of giving it away.
Love should feels like breathing; easy and steady. Not rushing, not crushing.
Ciye.
Dahlah mau pulang dulu makan soto.
the basic form of love is loving yourself enough to know what you want, how to get it and how to enjoy it.
I love you, lemon madeleine guten morgen 🤍
Tadi begitu sampe stasiun sepulang kerja, hujan. Gue ngeluarin mantel, ganti sendal, lalu jalan dari stasiun ke rumah sambil dengerin radio. Di tengah jalan, sebuah lagu jadul terputar, dan gue termenung bahkan sejak lirik pertamanya mengalun.
'... for all the time that you rained on my parade'
Gue hapal banget lagu ini, jaman kuliah sering dengerin bolakbalik sampe jadi salah satu lagu karokean juga. Tapi kali ini, gue baru bener-bener meresapi liriknya tang ternyata, wow.
Lagu itu menceritakan si tokoh utama yang akhirnya moved on dari mantan yang 'told him his opinion was wrong', 'made him forget where he came from', made him feel small, so low, vulnerable. Tapi sekarang ceritanya dia dah sadar, dah nggamau sedih-sedih lagi. Bahkan bisa bilang; the only problem was with you and not them.
Ada satu kelompok lirik yang membuat gue merenung cukup banyak sampe tiba di teras rumah;
"I fell in love, now I feel nothing at all. Was I a fool to let you break down my walls?"
Kalo urusannya sama perasaan cinta, apakah adil kalau perilakunya ini disebut 'bodoh'? Kayanya ngga, ngga sih?
Kita tau kalo setiap orang tumbuh dan besar dengan bentuk cinta yang berbeda-beda. Seiring berjalannya waktu, bahasa yang membuat mereka merasa dicintai ini akan berubah, bergeser, bahkan bisa jadi berkebalikan dari sebelumnya. Apakah ada bahasa cinta yang paling benar atau paling salah, paling pandai dan paling bodoh?
Di lagu itu, tokoh utama pernah jatuh cinta, maka berarti ada hal-hal yang dilakukan si mantan yang membuat dia merasa dicintai, ya kan. Tapi seiring berjalannya waktu, data variasi dari bentuk cinta itu di kepalanya mulai berubah. "Kok gue sebel ya disalahin terus pendapat gue?", "kok gue ngga nyaman ya dia bilang dia benci semua temen-temen gue?". Dia mulai merasa ngga dicintai, sehingga rasa cinta dia juga memudar. Then he decided to leave.
Dulu, pada masanya gue pernah merasa dicintai, entah dalam lingkup relasi darah, relasi platonik, ataupun relasi romantik, yang kemudian lama kelamaan berunah dan memudarkan rasa cinta yang gue punya terhadap mereka.
Gue kira dilarang itu bentuk cinta, ternyata eh kok gue ngga boleh ngelakuin hal harmless kayak gini sih? Gue kira, dibentak itu bentuk cinta, tapi eh kok gue sedih dan jadi takut sih setelahnya? Gue kira, ditarik-ulur itu bentuk cinta, kok tapi gue jadi gelisah terus sih? Gue kira, di-invalidasi perasaannya dan dianulir pendapatnya itu bentuk cinta, trus kenapa gue malah gemeteran dan marah yah?
Bahkan, gue pernah dengan gamblang bilang ke psikolog gue:
"Saya pikir, saya pantas dipukul karena itu bentuk sayang dan peduli mereka ke saya"
Oke, ini dalam norma apapun salah. This is not love. This is a big fockin red flag.
Balik lagi ke contoh-contoh sebelumnya yang tidak se-ekstrim itu. Pada masa itu, kumpulan informasi di kepala gue mengenai perilaku mencintai dan dicintai itu ya baru segitu aja. Gue belum cukup mapan mengelola varian-varian emosi yang muncul dalam kondisi dicintai dan mencintai ini. Pendek katanya, gue iya-iya aja. Gue belum tahu.
Gue bahkan kepikiran satu hal lagi; jangan-jangan saat itu gue juga berperilaku demikian dalam hal mencintai orang terkait. I simply got what I deserved. Mungkin gue juga suka ngebentak, jadi orang bentak gue balik. Mungkin gue suka ngatur-ngatur orang, jadi orang ngatur gue balik.
As the time goes by, ya gue manusia yang bertumbuh, berkembang, yang kemudian akhirnya berubah. Gue bertemu varian cinta lain yang lebih membuat gue nyaman, yang akhirnya membuat gue meralat definisi "dicintai" yang gue pegang sebelumnya. Bahkan, gue jadi tau bahwa definisi sebelumnya itu "tidak cocok" untuk gue.
Ini di luar bentuk-bentuk yang melanggar segala norma tadi lho ya. Kalo itu fix salah.
Cinta itu katanya ngga nyakitin fisik dan mental. Tapi seringkali, kita tuh nggatau apasih yang bikin fisik dan mental kita sakit? Kita nggatau karena nggapernah nyobain sebelumnya, tapi apa iya kita harus ngalamin dulu semua bentuk cinta paling jahanam sebelum kita tau? Jawabannya adalah judul dari lagu yang gue dengerin tadi:
Love Yourself.
Lo ngga akan pernah tau lo mau dicintai seperti apa, kalo lo aja ngga cinta sama diri lo sendiri atau nggatau gimana caranya mencintai diri lo sendiri.
Kalo lo udah cukup cinta sama diri lo sendiri, minimal lo tau batasan sejauh mana lo layak diperlakukan, karena begitulah lo memperlakukan diri lo sendiri. Lo ngga akan bilang "apaan sih gitu doang" ketika diri lo lagi seneng abis beli bakso tusuk enak depan stasiun kan? Atau, lo ngga akan "iket rambutnya yg bener, jangan digerai-gerai gitu kayak lonste" ke diri lo sendiri yang lagi manjangin rambut kan? Dan sebagainya.
Karena pada akhirnya satu-satunya pertahanan diri ketika perlakuan orang lain mulai bikin lo ngerasa ngga dicintai itu adalah cinta lo ke diri lo sendiri. Kalo lo merasa ngga layak diperlakukan begitu, lo jadi punya cukup alesan buat pergi. Bukan malah ngemis bertahan hanya karena satu-satunya cinta yang lo punya cuma dari dia.
Ini berlaku ngga cuma ke relasi romantik, btw.
Gue mungkin belum nyicipin segala varian "dicintai" dari orang lain. Tapi setidaknya, detik ini, di relasi yang gue pilih saat ini, gue sedang dalam masa dimana gue merasa dicintai, dengan baik dan cukup.
Ternyata, gue merasa dicintai ketika diterima, didengarkan, tapi tidak selalu diiyakan. Ternyata, gue merasa dicintai ketika dipeluk, digenggam, tapi tidak selalu dipegangi. Ternyata, gue merasa dicintai ketika ditemani, tapi juga diberi ruang untuk sendiri. Ternyata gue merasa dicintai dengan makanan enak, inside jokes garing tapi tetep diketawain, keusilan-keusilan random, celetukan-celetukan judes, atau bentuk-bentuk tidak didukung sambil dikata-katain kalo emang lagi melenceng dari jalur.
Ternyata, dicintai itu rasanya hangat, sekaligus sejuk, tergantung dalam situasi seperti apa. Ternyata, dicintai itu tidak selalu dalam mode tergesa-gesa, berdebar-debar. Seringkali bentuknya malah perlahan-lahan, bersantai-santai, dengan napas satu tarikan demi satu tarikan beserta jeda sepersekian detik.
Tentu saja, gue bisa mengelola semua itu setelah gue tau, gue maunya apa, gue butuhnya apa. Dan gue bisa tau itu semua setelah gue punya cukup cinta untuk diri sendiri.
Ya ngga selalu sih, kadang mah suka pengen nyabet kepala sendiri pake ujung sapu, tapi ya gitulah you know what I mean.
Gue selalu percaya; we get the love we deserve. Jadi ya mulai dari diri sendiri dulu biar jadi 'deserve' tu gimana. Kalo merasa dicintai dengan didengarkan, ya belajar dengerin diri sendiri dan orang lain. Kalo merasa dicintai dengan dipeluk, ya belajar ngga mukul diri sendiri dan orang lain.
Intinya, dengerin apa kata Mz Bieber:
'You should go and love yourself'
Sekian dan terima doughlab the nationalist 🍪

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Semua manusia dibumi ini berpotensi untuk mengecewakanmu, jadi siap-siaplah.
Kamu boleh mengira ada orang yang tulus, tapi tetap sisa kan ruang untuk ikhlas dihatimu.
Semoga ga ada yang selingkuh di aplikasi ini ya 😂🤭
Di usia berapa pun seseorang berada, ada satu hal yang hampir semua orang pelajari dengan cara yang sama. Pelan-pelan, tidak nyaman, tapi sangat perlu yaitu tentang batas diri. Batas itu bukan tanda bahwa seseorang sedang menjauh, tapi cara paling sederhana untuk menjaga agar hati dan energi tidak terkuras habis.
Kadang kita baru sadar pentingnya batas setelah terlalu sering berkata “iya” ketika sebenarnya ingin berkata “tidak.” Setelah terlalu lama memaksakan diri menjadi kuat, sampai lupa bahwa kekuatan pun ada kapasitasnya.
Dan semakin dewasa seseorang menjadi, semakin jelas bahwa tidak semua hal harus direspon, tidak semua undangan harus dihadiri, tidak semua percakapan harus dijelaskan, tidak semua orang harus diberi akses ke keadaan hati kita. Batas diri bukan tentang ego, tapi tentang memahami bahwa menghargai orang lain dimulai dari belajar menghargai diri sendiri.
Ada orang yang merasa lega saat mereka mulai berani menetapkan jarak. Ada juga yang merasa takut kehilangan hubungan. Dan ada yang hanya merasa bersalah karena terbiasa memikul lebih dari yang seharusnya. Semua itu wajar karena boundaries adalah keterampilan, bukan sifat bawaan. Dan yang paling sering dilupakan adalah batas diri tidak selalu berarti “menolak,” kadang itu hanya tentang memilih waktu, memilih ruang, dan memilih versi diri mana yang sanggup hadir.
Pada akhirnya, batas bukan untuk mengeraskan hati, tapi justru untuk menjaganya tetap lembut, agar kita bisa memberi tanpa merasa terkuras, menerima tanpa merasa terpaksa, dan hadir tanpa kehilangan diri sendiri.
—Rini Alfianita, Rain 💧
Seneng banget ngeliat IG akhir-akhir ini, melihat banyak orang menikmati hidupnya (terutama yang kufollow yaa). Kek bahagiaaaa gitu, menjalani hal-hal yang disuka. Entah dibaliknya lagi personal branding atau yaa yang susah-susah emang gak ditunjukin aja. Tapi tuh, nyampek ke yang lihat positive vibes-nya dapet bangettt. Jadi ikut happy. Jadi kalo kamu lihat medsos makin ngerasa rungsing, mungkin perlu decluttering siapa aja yang difollow gasih? Cheers 🥂✨️
terimakasih atas perasaan dihargai tanpa emosi. terimakasih karna telah diajari tanpa kenal secara langsung. terimakasih telah diberi contoh tanpa harus dipeluk secara nyata. terimakasih telah mendukung tanpa harus menjatuhkan. dan terimakasih atas sabar mu yang kau peluk secara hangat setiap hari.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ya Allah jangan ada lagi part gue ngemis-ngemis perhatian ke orang lain, siapapun itu!! Tolong cukupkan aku dengan kasih sayangMu tanpa harus mencari dan bergantung pada manusia.
Trusting someone's ability to make judgments and decisions.
Ketimbang selalu memahami, aku lebih suka mengakui bahwa pemahamanku terhadap setiap orang tidak pernah akurat. Kita sebagai manusia, tidak bisa lepas dari bias kognitif. Jadi, ada kalanya aku hanya perlu percaya pada kemampuan seseorang untuk membuat penilaian dan keputusan. Dan pada akhirnya keputusan setiap orang tidak perlu masuk akal buatku.
Aku mulai menyadari bahwa memahami seseorang sepenuhnya adalah hal yang nyaris mustahil. Jangankan orang lain, diri sendiri saja sudah sulit. Setiap orang membawa pengalaman, luka, impian, dan cara berpikir yang tak selalu bisa kutebak, sekeras apa pun aku mencoba.
Dulu, aku sering berpikir bahwa jika aku cukup banyak bertanya (probing) dan cukup banyak mengamati (observing), aku akan sampai pada titik di mana segalanya masuk akal. Tapi nyatanya, ada hal-hal yang memang tak dirancang untuk kumengerti.
Jadi, sekarang aku belajar untuk lebih banyak menerima. Tidak semua keputusan seseorang harus sesuai dengan logikaku, tidak semua jalan yang mereka ambil harus bisa kupahami. Kadang, yang lebih penting bukanlah mencari alasan di balik pilihan mereka, tetapi memberi ruang bagi mereka untuk menjadi dirinya sendiri, dengan cara khasnya sendiri.
Aku memilih percaya bahwa mereka tahu apa yang mereka lakukan, bahkan jika aku tak selalu melihatnya dengan cara yang sama. Aku harap ini memberikan rasa aman bahwa aku tidak akan mencoba menebak dan berasumsi apapun mengenai motif dasar yang mereka lakukan dalam setiap pengambilan keputusannya.
— Giza, untuk teman-teman, maaf sebab pernah mendikte kalian menurut "penggaris" subjektif ala dirinya sendiri
Terkadang kita lupa, sebagian solusi dari beberapa persoalan adalah mengalah, bukan mengeluh.
Mengalah, tahu diri, kalau memang bukan milik kita ya sudah jangan dipaksakan.
Mengalah, tahu waktu, kalau memang belum juga ada, ya sudah ikhlaskan. Mungkin saat ini memang bukan waktu terbaiknya kan?
Mengalah, tahu tempat, kalau memang sudah di luar kemampuan kita, ya sudah lupakan. Lain waktu mungkin adalagi kesempatan.
@azurazie
Kita harus satu visi misi. Untuk mencari solusi. Agar tidak dicaci maki sama atasan sendiri 🤣
Let people respect their own choices.
Not everyone takes the brightest road.
Some of us take the quieter one.
The one that doesn’t sparkle,
but holds us gently.
There are no good or bad decisions.
Only the ones we regret,
and the ones we learn to embrace.
Even the hardest path softens
when we walk it with patience.
Not because it gets easier—
but because we stop trying to escape it.
And when we stop asking for permission to belong,
the road becomes ours.
~ Dea, setiap kali pilihan hidupnya dipertanyakan orang lain 🤣

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
There are so many burdens we carry simply because we think everything is about us. The awkward silence in a conversation. The unread message. The decision someone else made without telling us.
But here’s the truth: we are not the center of the world. And that is a gift.
When we stop imagining ourselves as the main character in everyone else’s story, we free ourselves from unnecessary weight. We begin to see that most people are caught up in their own worries, their own storms, their own endless to-do lists.
Realizing this doesn’t make us insignificant. Instead, it makes us lighter. We can finally walk without dragging the invisible expectations that were never ours to carry.
Maybe peace is not found in making everything revolve around us, but in learning how small we really are—and how liberating that smallness can be.
2024,
IT ENDS WITH US 🥀