Yawla plis jangan puyeng dulu mau giiiiiiiiymmmmmmm ๐ซ ๐ซ
Aqua Utopia๏ฝๆตทใฎๅบใง่จๆถใ็ดกใ
we're not kids anymore.


bliss lane

ellievsbear
todays bird
๐ฉต avery cochrane ๐ฉต
๐
One Nice Bug Per Day
Sade Olutola

Kiana Khansmith
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

PR's Tumblrdome

romaโ
Sweet Seals For You, Always
The Stonewall Inn
hello vonnie
Misplaced Lens Cap
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Philippines

seen from United States

seen from United States
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from Italy
seen from Italy

seen from Serbia
seen from United States
seen from Germany

seen from Germany
seen from Italy

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from Italy
@crescenthemums
Yawla plis jangan puyeng dulu mau giiiiiiiiymmmmmmm ๐ซ ๐ซ

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch โข No registration required โข HD streaming
Dear parents (especially you, mothers),
your eldest kid, is not your mini version. So stop asking her/him to parent your youngers. She/he is your kid, too. You never want to know what disaster could happen to that eldest years after due to this situation.
If your hands are easy to be full, then stop breeding. Just have one, or nothing.
Hari ini kembali workout di gym paska kejadian almost black out beberapa hari lalu. Start slow and alert. Pokonya puyeng dikit stop. Tapi untungnya sampe kelar ngga ada puyeng. Cuma pas incline chest press set kedua, baru mau dorong sekali udah meleyot-meleyot, jadi gue cukupkan dua set aja.
Pas mau finisher cardio, udah gamang banget iya apa ngga apa iya apa ngga. Mau iya tapi takut puyeng. Mau ngga, tapi kemarin dipake jalan kaki dari stasiun ke rumah rasanya ngga se-prima biasanya, sepertinya karena udah lama ngga kardio (atau ya karna abis sakit aje dan capek balik kerja wk si sotoy).
Tibatiba di tengah kegamangan itu, kis fm muterin lagu ajaib ini
Anjir. Roh-roh yang gelantungin gue juga kebakar dengernya wk.
Yaudah. Gue finisher. Di akhir gue dengerin lagu ini on loop pas energi tinggal sisa-sisa dan gue merasa kaki tangan gue udah dingin. But I was till moving, energetically, on the beat of the song, while smiling ear to ear.
Kelar workout, gue bengong bentar masih dengerin lagu ini, and I felt my eyes wet.
I am brave, I am bruised, I'm who I meant to be, this is me
Ah :')
I'm not scared to be seen, I made no apologies
๐๐๐๐
This is me.
Yaudah iya, bisa yah besok kita lanjut lagi. Hari ini aja bisa, ya kan.
Bisa dong. Bisa lah.
Ngga, ami, lo ngga perlu beli semua yang masuk daftar pendek kusala sastra 2026. Ngga perlu.
NGGAK PERLU.
Kejadian sakit kepala di tengan workout kemarin ternyata lumayan sedikit mengguncang dunia mundane gue.
Gue sadar rasa sakitnya ngga wajar. Aneh. Nyeri, tapi bukan pulsating terus menerus gitu. Sesekali mereda. Tapi begitu bergerak atau lihat cahaya, bertambah. Gue masih punya 4 gerakan workout lagi harusnya hari itu, tapi di gerakan yang sedang gue lakukan dan itu juga udah gue turunin bebannya itu aja, kepala gue bertambah sakit ketika gue bergerak. Nggabisa. Rasanya aneh. Gue yakin banget somehow kalo gue paksain bisa pingsan. Tapi di pikiran gue masih kayak; ini sinyal buat udahan apa sinyal buat coba dulu??? Gblk, i know.
Untung akhirnya gue memutuskan udahan. Lalu gue ke sauna buat nyari efek relaksasi. 15 menit kemudian nyerinya agak turun skala dikit, lalu gue pelan-pelan pesen ojek dan pulang.
Sampe rumah minum obat, ngga pake mandi, rebahan aja di ruang tengah sambil merem dan dalam kondisi gelap dan ngompres kepala pake icepack. Bangun-bangun udah lumayan banget. Bisa gue pake nyuci baju, ngajak main anak-anak, dan siangnya main serumah makan enak di luar, cosplay jadi karyawan karyawati gaji melebihi umr dulu wk.
Besokannya entah kenapa pas lagi di tengah nyetrika baju, jenis sakit kepala serupa muncul lagi. Persis. Ya gue udah nyetrika around 3 hours sih ya wk. Mungkin lelah. Tapi ngga nyaman banget dan gue akhirnya nurut ybs untuk berhenti dulu diem dan rebahan merem. Gue bangun lagi dalam keadaan masih sakit tapi udah bisa dipake gerak dan lanjut kelarin setrikaan. Meski akhirnya selesai, gue tetep ngga sanggup nyusunnya ke dalem lemari, jadi gue biarin aja di sisi kasur. Lalu turun buat seafood party serumah, nonton CoC, lalu mandi dan tidur lagi kelonan sama Bowu, karena ybs mau nongton pinal bola.
Bangun tidur besokannya, nyerinya masih. Ngga seheboh sebelumnya tapi gue merasa kayak abis mabok darat gitu. Ngawang. Nauseous. Padahal harus kerja.
Hhh yaudah. Selain minum obat, gue dengan sangat berat hati membatasi segala hal yang bikin kepala gue kenceng. No workout. No less sleeps. No caffein. No too much screen time. Aaaargh. Bherad shekali. Shiyalan.
Kegiatan bangun tidur jadinya hanya gusel-gusel di kelek, endus-endus perut bulu, lalu baca buku, lalu minum teh dengan kafein terendah, makan, lalu baca buku lagi, kerja, snacking in between pokonya nggabole perut kosong, pulang, makan, tidur sesegera mungkin.
Meski pake ada adegan harusnya beli peppermint tea malah kepencetnya green tea, lalu adegan ngemilin keripik singkong pedes yang kepedesan sampe perutnya panas, ditambah kegiatan tetep larilarian nemenin main atau kebangun super pagi karena diteriakin anak-anak, tapi yasudah kita jalani sahaja semua ini dengan dada yang lapang dan hati yang besarrr.
Olahraga terus dan ngopi terus juga mau jadi apasi, kisanak. Dahlah. Dengerin itu badan mintanya apa. Adjust everything. Mending sadar diri daripada meledak segala isi kepala lalu mati konyol kurang seru jadi cerita-cerita viral ibukota.
Sekian jurnal harian mundane life kali ini. Sesungguhnya memanglah pembunuh paling mematikan itu adalah diri sendiri yang kehilangan kendali.
Salam super.
Super sambal.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch โข No registration required โข HD streaming
๐: aku baru tidur sejam
๐ฆฅ: langsung pulang
๐: tapi aku mau gim
๐ฆฅ: besok aja
๐: *tetep gym*
๐: (setengah jalan tbtb tension headache sampe pandangan goyang) (melayang rasa ngga napak tanah)
Entah apa yang anda kejar di dunia ini, ami. Atlet bukan, coach bukan. SIAPA YG BILANG BOLEH OLGA KALO KURANG TIDUR HAH??HAH??!! Untung ada sauna, bisa relaxing tension dulu. Kalo ngga sih fix pingsan trus viral.
Tobat deh kata gue.
Benci banget efisiensi efisiensi tai kuda, stylet buat ett yang baru MELEHOY PARAH alias kaga ada harga dirinya lo jadi stylet?????? Lebih ngaceng sedotan point coffee anjirlah emosi gue jam tiga pagi itu mata udah sepet liat lobang trakea, pake MELEYOT pula itu ett allahuakbarrrrrr.
Sekian dan YAALLAH AKHIRNYA LIBUR JUGAAAAA ๐ญ
A cup of hot n cold dirty latte. A cute little biscuit. A small plate of red velvet soft cookies. All these unnecessary breakfast to fuel morning workout sesh, and to wind down the stressfull workload and a brand new trigger that came up just at the end of the xyzab!$&)- kind of night shift.
Now I'm sipping this confusing temperature of the drink, while continuing to read a crime-thriller novel, and I might need to thank the barista for playing ERK's songs.
What a way to have a morning, to finally call it a day,
and to be ready welcoming another workload at the start of the day this night.
Hhhh jadi sarung payung aja ngga sih kayanya enak.
Another pick me-kind of story:
It's so uncomfortable to be called 'dok' when I'm not on duty, alias stop u smua dak dok dak dok I HAVE NAME AND IDENTITY AND MY IDENTITY IS NOT MY JOBBBBBBBBB
hhhh.
So, it's true. Some men see their mothers as a standard, as a benchmark, while some women see their mothers
as a trauma.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch โข No registration required โข HD streaming
Siklus bulan ini aneh banget.
Lagi ngga konsumsi obat hormon apapun, tapi sejak akhir bulan lalu sampe awal bulan ini, sekitar semingguan full nge-flek. Kadang keluar di pembalut, kadang baru pas pipis atau pup baru keluar. Warnanya juga bukan merah seger kayak orang mens. Baru seminggu terakhir ini beneran mens serius tapi itupun keluarnya dominan gumpalan yang bikin dua hari kebangun dari tidur karena sakit pinggang dan perut bawah ngga kelar-kelar. Capek banget.
Efek emosi biasa aja. Energi level tentu turun terutama pas gym, berasa banget lemesnya sampe ngga bisa sebanyak reps biasanya. Tapi gejala paling aneh adalah lutut kiri suka tiba-tiba nge-lock nggamau fleksi pas lagi jalan. Sakit.
Hari ini masih ada tuh adegan lutut ngunci tiba-tiba, tapi udah jarang. Yang sebel, hari ini abis yoga biasa trus iseng mau bakasana. Cuy, ngabisa. Wrist sakit. Ngangkat, tapi nggabisa nahan >3s.
Dari semua keanehan gejala, ini yg paling sad.
๐ tapi tetep akan gue catat. I'll soon bounce back better after this.
I've been warned tapi kirain dah gapapa baca topik beginian di status mental yang sekarang. Ternyata tetep stres. Buku stres. Smua stres.
Hhhhh. Capek banget nyeleseinnya hhh sini kak Esther ayok pelukan hhhhhhhhhhhh.
Gue cuma punya waktu kurang lebih 10 jam di Makassar. Harusnya lebih cepet, tapi flight gue mundur. Biasalah, maskapai murih muriah.
Inilah dia secuplik kehorean gue di Makassar
hari kelima ๐ฝ๏ธ.
Karena waktu gue ngga banyak, hampir semua kegiatan yang gue lakukan adalah makan. Makassar dan kuliner tentu dua hal yang tida bisa dipisahkan, ya kan.
Kita berempat hampir aja ngga boleh masuk kamar karena kapasitas kamar cuma boleh dua orang, sedangkan mereka cuma punya sisa 1 kamar kosong. Dengan kekuatan satu temen gue, si perempuan tangguh ini bilang "terus kita gimana mas jam lima pagi begini kalo ngga boleh masuk? Perempuan semua lho ini".
Berhasil. Masnya kasihan. Kita boleh masuk berempat dengan syarat kalo ketemu bosnya harus bilang cuma berdua sisanya numpang naro barang. Which not really wrong, toh dua orang temen gue memang akan cabut jam 10 pagi karena flight mereka siang.
Sampe kamar, lumayan banget bisa ngelurusin tulang belakang sampe ke kaki. Enak banget. Meskipun tu kamar super gajelas wk mana ada blackmold di dinding, pintu kamar mandinya nggabisa ditutup, ngga dapet handuk dan keset, ngga dapet toilet paper pun. Yaudala jam segitu mungkin belum ada room service standby. Bisa dapet kamar cuma modal 60rebu per orang mah udah bagus bener, bisa check in jam 5 pagi pula.
Selanjutnya kita gantian mandi. Gue si lupa bawa anduk ini terpaksa pake kaus tidur ybs yang udah belel gue pake tidur tiga hari berturuturut ini sebagai handuk. Yaudala yang penting mah cuci kelek tangan kaki meki. Toh semaleman juga di ruangan ber-ac, ngga keringetan ini.
Btw malemnya pas di bis tuh jujur berkat antimo kan gue berhasil tidur yah, tapi tidurnya tentu saja mimpi absurd. Masa gue mimpi disuruh duduk di kursi prioritas karena dikira hamil. Yakwa amitamit. Trus gue kebangun dengan perut bawah super sakit. Ternyata bener pas gue mandi, gue mens. Emang udah tanggalnya sih. Bahkan ini itungannya udah telat. Tapi makasih banget rahim dan segenap hormonq atas kerjasamanya baru meluruh saat trip hampir usai ini.
Setelah kelar bebersih, jangan lupa dopping analgetik agar perjalanan hari ini tidak mengsle.
Karena sudah janji dengan mas front office untuk menjaga kerahasiaan ini, kami turun ke lobi bergantian. Gue pertama, lalu dua lainnya menyusul. Satunya lagi masih mau bebersih lebih lama jadi nyusulnya agak nantian.
Agenda pertama pagi itu adalah ke kedai kopi. Awalnya ini itinerary gue personal, tapi karena itu masih pagi banget banyak tempat belum buka, jadi gue tawarin ke yang lain kali ada yang mau. Mau semua ternyata. Okela. Kebetulan kedainya ngga jauh dari hotel, walking distance aja ngga sampe 30 menit. Yauda kita jabanin.
Sepanjang jalan seru banget karena kayanya ini kawasan banyak warga peranakan tionghoa. Ada beberapa klenteng juga. Bahkan jalan-jalan random kayak gini aja view-nya menarik semua. Duhh.
Namanya kedainya adalah Kopi Phoenam.
Konon kedai ini udah buka dari tahun 40an. Lo akan tau betapa legend suatu tempat ketika: di temboknya banyak ragam kalender daaaan yang dateng bapakbapak paruh baya atau mbah-mbah bugar bau minyak wangi jadul. Mantap.
Kita minta ruangan no smoking. Di dalem ada sederet foto dibingkai, sepertinya wajah-wajah owner sekeluarga.
Sebenernya signature-nya tuh kopi mereka ditambah telur rebus sama madu. Mirip stmj. Tapi karena tentu saja gue nggasuka telor mentah, gue pesen kopu susu standar. Temen gue ada yabg pesen si kopi stmj itu sama signature dish-nya alias kaya toast. Semacam roti bakar doang tapi
buset rotinya aja tanpa apapun enak banget??? Ini kayanya tipikal roti yang mereka bikin biangnya sendiri.
Kopinya jangan ditanya. Juara! Nggamungkin ada tempat legend begini rasanya gagal. Duhhhhh enak bener heraaaan.
Ngga lama temen gue satu lagi menyusul. Kita masi ngobrol banyak hal, kali ini nyerempet hal-hal sensitif seperti era pandemi kemarin, financial stability, dan ehm, teror keluarga nyuruh kawen wk jadi kebetulan berempat ini bunda bundi cukup umur yang MALAS meniqa. Sungguh sebua kesamaan yang aduh ๐
Tibatiba ruangan itu rame banget sama rombongan keluarga, segala generasi ada. Mana ngomongnya kenceng semua. Yauda kita cabut. Sebelum cabut, kita ke kasir dulu. Seru banget bahkan kasirnya pake.... sempoa ๐ ngga ada print struk, adanya nota. Untungnya bisa transfer meskipun ngga bisa qris. Bahkan bapak kasirnya sudah berumur dan bahasa indonesianya masih terbata-bata. Aduh gemas.
Kali ini rombongan terpisah. Mereka bertiga mau makan baso, gue masih belum siap dengan menu seberat itu. Jadi gue misah sendiri ke tujuan berikutnya, yaitu makan kue. Ada satu tempat makan kue yang gue udah tandain dari sebelum berangkat trip, namanya Toko Kue Mama.
Konon ini juga toko kue legend, isinya kue-kue khas Makassar dan Bugis, yang bahkan jarang ditemukan di tempat lain dan dahulu kala sering dijadiin kudapan bangsawan. Sebenernya banyak sekali yang mau gue cobain, tapi yang akhirnya gue makan di tempat ada dua asin dan tiga manis.
Dua asin tentu saja adalah jalangkote dan satu risol rogut ayam yang katanya salah satu best sellernya. Manis-manisnya ada barongko, pelita pandan dan tentu saja salah satu yang gue selalu beli bahkan di jabodetabek: bugis mandi. Dari semua itu, favorit gue nomor satu si pelita pandan. Gue nggapaham dia terbuat dari apa tapi gue nggapernah makan yang kayak gitu sebelumnya. Manisnya pas. Teksturnya juga bukan yang benyek berlendir tapi kayak ada serat kelapa gitu. Duhhh pengen lagiiii.
Jalangkotenya juga best sih. Kayanya salah satu jalanglote terenak yg pernah gue makan deh.
Oh gue juga pesen satu minuman yang enak banget di perut, namanya sarabba. Anget anget buat perut dismenore gue. Rasanya juga familiar karena gue pernah minum sebelumnya. Jujur itu analgetik mulai ilang efeknya padahal kayak baru 4 jam dari minum terakhir. Jadi yaudah gue minum lagi aja.
Abis jajan kue, bungkus beberapa buat makan di bandara dan dibawa pulang, lalu lanjut ke destinasi berikutnya.
Jadi ada satu kofisop yang varian beans-nya menarik banget. Namanya Noice Coffee. Bukan yang orisinil toraja atau makassar, tapi biji-biji impor yang sama dia kayak di ((mocktail)) gitu. Sayangnya mereka ngga jual bijinya, dan gue lagi ngga pengen nambah kopi lagi buat diminum hari itu, jadi gue cabut.
Pas banget di depannya tuh ada petshop! GEDE BANGET!! Sumpah girang. Tanpa mikir gue langsung masuk dan membawa pulang mainan dan beberapa snacks buat anak-anak. Snack-nya sebagian besar memang impor, tapi gue nggapernah liat di jabodetabek jadi gue beli aja. Kapan lagi ya kan oleole liburan malah makanan dan mainan meng ๐
Dari situ gue jalan dikit ke arah kofisop lain yang sempet disebut sama geng serumah. Tapi kayanya variannya ngga jauh beda sama yang udah-udah, di tas gue juga udah ada hampir sekilo kopi giling siap dibawa balik. Jadi yauda gue cuci mata aja abistu cabut lagi.
Tujuan berikutnya adalah toko oleh-oleh buat ngambil pesenan otak-otak geng serumah. Namanya Otak-otak Ibu Elly. Karena udah pesen dari hari sebelumnya, jadi gue tinggal nongol aja dan ambil barangnya. Trus nambah beli minyak telon titipan warga juga dan gue si kepo banget pengen punya satu sarong dari makassar ini akhirnya beli satu wk.
Kelar belanja belunji, bawaan mulai berat, hari mulai agak siang, gue lanjut ke tempat makan agak berat, salah satu rekomendasi makan konro yang legend juga; konro Bawakaraeng.
Gue pesen konro bakar aja pake nasi, soalnya dapet kuah juga kadi nggausa sop-nya. Beh. Ampun. Itu daging copot sendiri nggausa dibelek sepenuh tenaga juga mah. Dikunyah juga lembut. Kuahnya gurih seger anget. Memang agak perlu diracik sedikit tapi tetep enak. Cuma bumbu kacang di konro-nya agak ganggu dikit yeh karena ketebelan tapi overall mantaps.
Tempatnya ngga ber-AC, cuma kipas angin dan pintunya kebuka lebar tepat di pinggir jalan besar. Ada banget tuh teriknya sama keringetan trus makan makanan anget wk tapi yauda gapapa worth all the sweat!!.
Biar ngga gumoh, kelar makan konro gue jeda dulu dengan main ke toko buku. Ada satu toko buku indie yang juga jadi rekomendasi orang Post Santa, namanya Toko Buku Dialektika. Lokasinya deket kampus.
Jujur tempatnya kebuka gitu ngga pake ac juga, ada kipas angin. Panas, memang. Tapi ngga sepanas itu juga sehingga gue betah banget di dalemnya. Ada kali hampir sejam beneran gue telusur satu demi satu raknya, gue bacain tiap judul beneran satu persatu. Menarik-menarik sekali!
Sebenernya hampir semua judul gue pernah denger. Tapi ada juga buku-buku unik yang pembahasannya spesifik banget dan menarik. Jujur sejak mengikuti dan dengerin podcast Hannah sama Nadine, gue jadi sering memantau rekomendasi buku-buku dari kak Hannah terutama buku bahasa indonesia. Seru-seru banget pilihannya. Ini bikin gue ngulik lagi toko buku indie yang koleksinya mepet kiri atau mepet kanan wk atau yang soshum parah mentok bisa jadi bahan diskusi abangabangan sastra.
Salah satu rekomendasi kak Hannah yang gue kepo banget tuh gue temukan di sini. Judulnya Ibuisme Negara. Sayangnya ini udah susah banget dicari dan gue girang pas liat dia ada di Dialektika meskipun udah agak berjamur dan berdebu. Buku berikutnya yang gue beli sebenernya udah sering liat seliweran di Post tapi tiap mau beli dia abissszz. Judulnya Disabilitas dan Narasi Ketidaksetaraan. Satu buku lagi yang gue beli, ini gue baru banget liat di situ, nggapernah tau sebelumnya itu buku apa tentang apa, trus pas baca blurbnya dan cek goodreads score-nya yang tinggi, ah! Gue harus baca ini!! Judulnya Hikayat Mitobotani.
Duh sumpah masih ada sebenernya beberapa judul yang menarik tapi gue menahan diri. Ngga semua harus dibeli yakan. Yakan. Yakan????? Hhhh.
Anyway, selama di sana tuh yang jaga cuma satu orang masmas. Dia sibuk ngebungkusin beberapa buku yang mau dipaketin. Dia diem juga ga banyak bacot. Yang bikin gue tibatiba senyum lebar tuh playlist-nya yang seru-seru banget, masa tibatiba ada lagunya Aftertones yang I Hope Your Boyfriend Dies Tonight???? WKWK kalcerrrrrr.
Setelah puas belanja, gue pipis dulu bentar lalu lanjut ke tujuan makan besar berikutnya. Ini the best part of the day. Ini makanan terbaik di hari itu. Makanan yang kayaknya ditakdirkan buat gue.
Sup kepala ikan.
I repeat, this is the BEST makanan makassar yang pernah masuk ke mulut gue.
ENAK BANGET.
BANGET.
Kalo ngga mikirin sakit perut atau jam boarding mungkin gue beli lebih dari satu. Ini tipikal makanan yang kalo gue di Makassar seminggu, seminggu itu juga gue makan ini tiap hari.
Nama tempatnya Warung Kepala Ikan Mappanyuki. Pada dasarnya dia tuh pallumara. Gue udah sering makan pallumara di jakarta. Kebetulan kami serumah cukup sering eksplor makanan Makassar. Tapi this one place, gilak. SURGAWI.
Supnya tuh ada rasanya, ngga kayak makanan makassar lain yang harus diracik dulu baru cocok. Ini gue langsung tuang aja ke nasi anget udah mantep bener. Dagingnya manis tapi gurih tapi manis??? Trus itu kan kepala ikan kakap, gede banget. Sebenernya ada yang versi jumbo tapi lagi-lagi gue menahan diri karena gue tau gue nggabisa makan sebanyak itu dalam waktu berdekatan. Kapasitas lambung gue cupu.
Tau ga sih level enaknya tuh, sampe bawang gorengnya aja gue cemilin SAKING BAWANGNYA AJA ENAK???? Allahuakbar apa gue beli pallumara yah libur besok hhhh.
Sebenernya pas perjalanan kesini tuh agak ngga nyaman, karena gue dapet driver ojek yang bacooot banget udah gitu tipikal agamis konserpatip mentok banget yang merasa agamanya terbaik sejagat raya yang lain harus ikut agama dia dan kayanya di segala situasi dia akan mengubah agama orang yang berbeda. Kebayang ngga si nyebelinnya orang kayak gini? Nah dia sepanjang jalan beneran ngomong mulu banggain dia mualafin istrinya dll dll dll to the point gue udah ngga percaya sama apa yang dia omongin tentang keluarganya. Tapi yaudah, gue di negeri orang, iyain ajadah biar cepet. Gue bahkan nggamau nyebut agama asli gue dan memilih nyebut agama yang gue asumsikan dia ngga tau apa-apa tentang agama itu. Dan gue berhasil. Dia diem dan ganti topik tibatiba ngomongin makassar lagi musim mangga. Hadeh.
Pas sampe tempatnya tuh gue rada bingung karena posisinya masuk gang. Ternyata dia beneran di mulut gang itu. Tempatnya juga ngga besar, dan karena jualannya ikan doang jadi pas masuk ke dalem yaaaa bau ikan. Itu udah siang jadi pas primetime orang-orang pada makan, hampir aja gue ngga dapet meja tapi untung ada sisa satu deket kasir. Itu juga hampir sharing meja sama orang tapi untung ada yg pulang lagi jadi tu orang pindah.
Tapi asli sih enak banget. Enak banget. Enak bangetttt. Hhhhh.
Udah gumoh makan nasi ikan, gue sudah merencanakan satu kali lagi aja jajan buat dessert abistu balik hotel.
Tujuan gue tentu saja tidak lain tidak bukan: pisang ijo. Gue memilih salah satu warung pisang ijo tida kalah legend bernama Pisang Ijo Bravo.
Pas gue kesana kosong, udah lewat jam makan siang. Cuma ada satu ibu-ibu yang jaga. Suka banget vibes-nya tuh homy, nyaman meski cuma pake kipas angin juga. Trus masa muter radio tapi khusus lagu-lagu mandarin seru bangett.
Begitu pisangnya dateng, beh, goda banget bessss wk langsung ngga ada harga dirinya tu pisang-pisang ijo yang pernah gue makan di jabodetabek.
Kulit pisangnya pas, ngga yang tebel banget. Pokonya semua komponen di piring itu tuh pas. Bahkan awalnya gue kira kebanyakan tuh skm, ternyata pas esnya leleh malah pas banget. Ngga kemanisan. Sungguh keputusan tepat makan ini abis makan sup ikan dan di tengah cuaca seterik ini.
Pas piring gue udah mau abis, gue celingak celinguk ngecek lambang qris di sekitar kasir. Ngga ada. Mampus, cash gue tinggal dikit. Gue itung cash yang tersisa, KURANG SERIBU bgstttttt itu beneran udah ngorek sampe dasar terdalam. Akhirnya gue coba samperin si ibu dengan pelan dan terbatabata bertanya apakah bisa transfer atau qris. Bisa, tapi minimal belanja 50rb, gue cuma 20sekian ribu. Beli lagi, tapi udah ngga sanggup nampung, trus ngga ada menu yang mungkin dibungkus sampe Jakarta juga. Jadi gue sempet nyeletuk ke ibunya kalo cash gue kurang seribu, gue mau cari atm dulu.
Tau ga
kata ibunya
gapapa ๐ฅฒ๐ฅฒ jadi gue bayar aja kurang seribu ๐ฅฒ gue sampe nanya berkalikali bilang "beneran bu??" Ibunya gapapa gapapa juga katanya ๐ฅฒ๐ฅฒ gue sampe overwhelm parah dan cuma bisa ngucap makasih ngga berenti sampe ojek gue dateng.
Terharu banget dibaikin tuh yah ๐ฅฒ semoga ibunya laris manis kaya raya terus melimpah limpah ngga kurang apapun selama hidupnya amin!!!!!!
Gue akan bayar seribu itu nanti kalo balik ke Makassar. Amin juga!
Dah. Selesai sudah petualangan gue di Makassar. Gue balik ke kamar, temen gue udah di kamar juga. Gue beberes ganti baju bebersih badan dikit trus rapihrapihin bawaan. Sempet rebahan bentar sebelum akhirnya bersiap untuk berangkat. Kita checkout, pesen taksi, sampe bandara deh.
Untungnya pesawatnya ngga delay lagi jadi semua tepat waktu. Gue sempet bawa beberapa cemilan buat di pesawat tapi jujur kenyang bener bok ga boong dah. Gue minum doang aja sama nambah dopping analgetik biar ngga makin mengsle. Di pesawat tentu saja gue nggabisa tidur, jadi yaudin mending baca buku.
Pas udah mau landing, pas banget lagi mau sunset ๐ค si anak window seat ini beruntung sekali bisa melihat prosesinya lengkap mulai dari matahari turun, masuk cakrawala, langit berubah gelap, trus si crescent yang tadinya samar-samar lama kelamaan tampak terang di tengah langit yang masih jingga gelap. Cantik sekali, as it always is.
Selama momen ini berlangsung, di telinga gue lagi terputar Moon Song -nya Norah Jones pula ๐ค
... lines and colors fall. Gonna watch her through the window.
Keluar pesawat gue udah kebelet banget langsung cari toilet. Toilet pertama antrinya ngga tertib, semua pada serabat sorobot berdiri depan pintu. Akhirnya gue pindah toilet. Pipis, ganti popok, lalu mendapat kabar ybs sudah sampai. Keluar terminal, and there he was.
... the moon is in your eyes.
Ngga sempet pelukpelukan centil kayak muda mudi pada umumnya karena beliau lapar. Yasuda langsung meluncur mencari makanan adat khas bandara alias mm juice. Meski sebenarnya gue masi kenyang tapi kalo mm juice sih ngga nolak.
Dah. Selesai sudah akhirnya kisah trip kali ini. Buseeeet panjang benerrrr ada kali seminggu ini nulisin semuanya satusatu biar detil.
Tapi puas! Puas banget asli. Kebayar tuntas semua sebel gue ketemu agent bapuk di trip sebelumnya dengan dipertemukan sama agent sekeren dan se-well managed ini. Peserta tripnya juga seseru dan seberagam itu. Senang sekali. Senang sekali.
Gini ternyata rasanya berhasil bertahan hidup. Kejutannya adaaa aja. Siapa sangka mimpi asbun anak SD bertahun-tahun lalu ternyata bisa terwujud? Duh, masih merinding kalo kebayang.
Jadi kalo hidup lo lagi kayak tai sekarang, siram aja tainya pelan-pelan pake gayung atau kalo cuma mampu pake sendok ya pake sendok dah gpp. Tapi jangan berhenti. Karena lo ngga akan tau ada apa di bawahnya kalo masih ketutupan tai.
Semangat.
Karena tidur ngga begitu malem, sebenernya gue udah bangun cukup pagi. Di setengah nyawa yang baru kekumpul, gue denger ada yang ngetok kamar. Kayanya temen sebelah kamar gue mau naro barang.
Inilah kelanjutan cerita toraja gue di
hari keempat ๐๏ธ
Jadi, di hari terakhir ini tuh beberapa kamar di-checkout, sehingga penghuninya kudu packing dan naro barang di kamar yang belum checkout. Kebetulan kamar gue ngga kena, makanya temen sebelah gue ngetok mau naro barang dia. Namun, sepersekian detik gue ngga sadar ada ketokan, gue kira mimpi. Pas gue sadar, gue cepet-cepet buka pintu, tapi temen gue udah nitip ke kamar satu lagi. Maap ini mah heuheu.
Hari itu destinasinya jauh dan aksesnya ngga gampang, jadi beneran cuma satu tujuan aja buat satu hari. Kitapun dikasih sarapan box aja, isinya sandwich biar cepet dan gampang. Anyway gue tu sebenernya bukan anak sarapan, perut gue lebih siap nerima kopi item dalam keadaan lambung kosong ketimbang karbo. Tapi gue tau kalo liburan tuh sebisa mungkin perut ngga kosong dan jangan banyak lagak, jadi gue tetep makan meski cuma setengah porsi.
Sambil menunggu mobil ready, kita mampir ke coffeeshop di depan hotel yang ternyata udah buka. Lumayan buat jajan kopi biar melek. Again, long black doang enak banget. Ga paham lagi.
Kelar sarapan bentar di lobi, kita masuk ke mobil. Kali ini udah ngga bisa naik hiace, karena treknya terlalu ekstrim. Udah disediain 3 mobil tipe 4x4 sempat tidak sempat harus dibalas, dan rombongan duduknya juga udah dibagi, kurang lebih satu mobil 4 peserta. Di mobil gue ada 4 peserta tapi ditambah 1 kakak guide dan si bapak guide juga di mobil yang sama.
Perjalanan dari hotel ke tujuan hari itu lumayan, sekitar 3 jam, tapi dengan trek menanjak, menukik, mengelak-ngelok. Pada dasarnya kita beneran akan mendaki gunung lewati lembah, jadi jalanan yang dibuka buat pengunjung memang 'membelah' bukit.
Mobil yang gue naiki sempet mampir salah satu tempat dulu untuk ambil lunchbox buat konsumsi siang nanti. Kemudian kita menyusul iring-iringan mobil rombongan lainnya.
Oh rombongan gue juga sempet mampir lagi nyari warung nasi random pinggir jalan buat beli lauk ekstra untuk salah satu temen trip gue yang nggaboleh makan daging merah, sedangkan menu makan siang nanti tu dari ketring dapetnya ayam. Jujur ini agent sabar dan considerate banget sampe beneran dicariin pengganti lauk dan si temen gue ini disuruh pilih sendiri mau lauk apa. Akhirnya dia milih ikan sama telur. Untungnya juga temen gue ini ngga rewel, beli random juga nggapapa asal bukan daging. Mana makanan di toraja tuh murah-murah pula.
Ah terbaik deh pokonya.
Sepanjang jalan kita ngobrol ngalor ngidul lagi, tapi sebagian besar topiknya adalah membahas kisah si temen gue tadi yang nggabisa makan daging merah itu. Sisanya, kita semua pasrah merem aja daripada gumoh dengan jalanan yang bener-bener gujlak gajluk, nukak nukik, mabok deh pokonya.
Ada dua kali pemberhentian sebelum kita sampe. Dan kedua pemberhentian itu, saking cantiknya itu tempat rasanya kayak udah sampe di tujuan. Ya gimana, baru separo jalan aja bentukannya udah begini:
Mana hari itu tuh cerah banget, dominan panas sih, tapi bukan yang terik ngegigit kulit juga. Ini cuma spot berhenti bentar buat pipis doang, ada warung makan kecil rumah warga gitu, tapi buset kayak lagi liat lukisan.
Merindingnya ada banget.
Trus kita masuk lagi ke mobil buat lanjut, berhenti di spot berikutnya yang sebenernya ngga ada apa-apa, ngga buat pipis, ngga ada plang penanda ini vieweing spot official, cuma hamparan ijo-ijo dengan dikelilingi bukit-bukit menjulang dan lembah yang sepanjangnya cuma ijo-ijo aja. Alias:
Bengong-able banget asli. Udah gitu jalanan yang jadi satu-satunya akses tuh jarang banget nget ada mobil, kalopun ada ya ngga sampe 10 menit sekali. Paling sering motor tapi itupun ngga sampe 5 menit satu. Hening. Cuma suara gemuruh angin aja. Gimana ngga pengen bengong??? Kalo aja cuacanya agak adem dikit atau agak berawan dikit, gue bisa sih tidur siang di situ. Hhhh.
Di sepanjang jalan kita banyak banget ketemu sapi. Iya, kali ini bukan kerbau tapi sapi. Sapi di sini memang mungil-mungil. Jauh lebih besar kuda. Sapi-sapi ini ada yang stray, ada yang sebenernya dipelihara tapi dilepas liar. Si sapi peliharaan ini biasanya ada loncengnya atau ada tato di badannya yang menandai dia tu sapi siapa. Biasanya sapi peliharaan ini cuma akan nyautin dan nurut sama yang punya, jadi hampir nggamungkin dimaling orang. Makanya dijembreng gitu aja disuruh cari makan sendiri. Nah nanti kalo udah waktunya dijual atau dikonsumsi sendiri, baru deh ditangkepin.
No wonder di beberapa spot kita berhenti tadi tu banyak ee sapi. Tapi bukan yang bau banget sampe ganggu juga sih. Malah dengan adanya "view" sapi, jadi ngasih warna sendiri di tengah pemandangan ijo-biru ini. Mana si sapi-sapi inituh bisa loh berada di kemiringan bukit sambil nyamnyamnyam aja gitu santuy, macam kambing gunung. Vibes-nya mirip kayak di Sumba dengan segenap kuda-kudanya, bedanya ini less depressive aja wk.
Setelah menempuh perjalanan penuh gujlak gajluk, akhirnya kita sampe di desa (probably) terindah yang pernah gue datangi, yaitu desa yang ada di
Lembah Ollon.
Kayanya kalo di-googling lembah Ollon tuh fotonya ngga ada yang ngga cantik. Mau asal jepret aja bagus banget. Gapaham lagi di negara ini ada tempat se-magical itu. Udah gitu penghuninya cuma 50 kepala keluarga. Ngga berisik, ngga kotor, ngga banyak ornamen-ornamen wisata yang norak gitu. As it is aja. Virgin at its best. Orang-orang kesana ya buat duduk menikmati aja, beberapa buka tenda buat camping, tapi tetep tertib dan ngga merusak apapun.
Kali ini udah ngga ada materi tentang kematian dan ritual adat, udah murni sightseeing aja. Agenda pertama begitu sampe lembah Ollon adalah main ke satu-satunya sekolah SD yang ada di sana.
Jujur ngga expect sih ada agenda ini, pas pertama baca itinerary dulu tuh kirain kita "numpang" aja karena viewing spot-nya di sini. Ternyata ada agenda CSR, kak. Jadi agent gue bekerjasama dengan satu produk pastagigi anak, kita kesana buat bagi-bagi produk, lalu sekalian ngasih beberapa alat olahraga buat para siswa yang bahkan jumlahnya ngga sampe seratus itu.
Sekolahnya kecil banget, cuma ada 5 ruangan kalo ngga salah. Udah sama ruang guru. Kayanya ngga semua kelas ada di situ, dibagi ke gedung sekolah lain yang jaraknya lumayan dari situ. Anak-anak yang ada di situ juga ya akamsi aja.
Prosesi baksos berjalan seru dan antusias. Meskipun sebenernyee gue lebih cocok ikutan duduk bersama para bocili ๐ค alias seukuran ga tu.
I'm not a fan of any kids jadi kegiatan di sini ya yaudah aja gapapa. Seru sih ada sekolah dengan pemandangan se-lukisan ini.
Ada sedikit momen awkward dimana salah satu driver kita cerita kalo ada anak di situ yang sekeluarganya abis meninggal karena kecelakaan. Tapi nyeritainnya sambil ketawa (?) dan becanda (?) yang disahutin juga sama guru-gurunya. Si anak yg dimaksud juga cengengesan aja. Kita yang denger be lyke..... uhm, excuse us? Lagi-lagi bingung harus pake ekspresi apa...
Kelar baksos, gue pikir udah tuh kita di situ aja sampe kelar. Ternyata ngga, kita pindah ke spot yang lebih tinggi.
Di spot ini ternyata lebih "touristy". Ada beberapa bale-bale yang disiapin buat duduk-duduk, ada kuda yang bisa disewa juga. Lucu bener kuda-nya dipasangin bantal wk.
Di sini view-nya juga lebih magical, mungkin karena lebih tinggi. Gila yah itutuh beneran ada bukit, lembah, sungai, sama langit yang super duper cerah menuju terik. Semua jadi satu pemandangan. Ngga paham. Kayak lagi ngga di planet ini. Satusatunya yang bikin off tuh cuma: Itu udah menuju tengah hari jadi ada banget momen kita semua overheat ๐
Lunchbox sudah dibagikan, kita ngumpul di bale buat makan siang. Makan siang dengan view paling megah kayanya di trip kali ini.
Selama makan, ada banyak sekali stray dogs atau sepertinya peliharaan orang ada juga, yang ngerubungin bale selama kita makan. Thank God di trip kali ini hampir semua pesertanya punya pets, jadi toleransi terhadap hewan amat sangat tinggi. Ngga keitung berapa kali selama trip kita semobil cemas tiap ada anjing yang mepet jalan atau bahkan TIDURAN di jalan yang dilewati kendaraan. Kita kompak teriak "ADEEEK AWASS" setiap kali momen itu muncul. Bahkan ngga cuma anjing, kucing kerbau sapi babi juga kita panggil ADEEEEEK ๐ค
Nah, selama momen dikerubutin adek asu ini, beberapa temen gue yang di rumahnya juga punya banyak anak asu pada standby menghalau dengan penuh cinta dan kasih supaya ngga pada naik ke bale. Karena porsi makan siang kali itu lumayan banyak, hampir semua dari kita tuh nyisa, ngga habis makannya. Akhirnya kita sepakat mau dibagi ke semua adek di sana.
Kakak guide membagi rata sisa makanan kita ke semua wadah lunchbox. Setelah semua siap, satu orang pegang satu box dan berjalan menyebar ke berbagai arah biar para adek ngga berantem rebutan.
Entah kenapa, dari segitu banyak temen gue, adek yang ngikutin gue ada 4, alias KENAPEYE KE GUE SEMUAAAA??? Hadeh.
Tapi akhirnya tiga lainnya berhasil dipancing temen-temen gue dan menyisakan satu oren buat gue. Iye, oren lagi oren lagi. Wk.
Pas si oren ini belum kelar makan, ada tuh si item dateng nyerobot mau ngerebut. Ih. Dia nggatau aja gue udah biasa melerai sengketa makanan. Dengan membentang payung, gue menghalau si item sambil ngomel-ngomel macam mamak-mamak anak dua pada umumnya, lyke: "HEH KAMU KAN TADI UDAH!! NGGABOLE NGAMBIL PUNYA TEMENNYA!!! MUNDUR!!! NGGABOLE RAKUS AYO GANTIAN!!!", dan diketawain temen gue wk. Ngabole y nackal nackal!!
Setelah selesai pembagian mbg alias makan bergizi guguk, kita sempet ambil foto dan video rame-rame meski udah pada tantrum karena kepanasan. Ada adegan foto-foto segala di atas atap mobil yang ada tulisan mytripmyadventure-nya. Wk. Sumpah gaboong itu posisi siang panas bangetnget ngga ada satu pohon atau awanpun yang jadi tudung. Beneran matahari langsung helo guys ke kulit. Maknyus.
Kelar semuanya, kita balik masuk mobil. Awalnya gue kira udah nih, pulang, ya kan. Eh ternyata justru kita baru mau jalan ke bintang tamu utama kali ini. Satu viewing spot lagi.
Mobil kembali melintasi jalanan berkelok meliuk mendaki merosot dan jalanan banyak sapi-sapi. View kanan kiri beneran kayak adegan suting pilem dinosaurus atau pilem-pilem nyasar di planet lain gitu. Bukit tinggi besar, dibelah sungai di tepinya, trus tibatiba ada sapi makan, ada kuda sendirian lagi ngaso, dan langit biru merekah tanpa filter.
Sampe tibatiba mobil kita berhenti di sebuah tempat agak datar buat parkir, lalu kita diarahin ke atas bukit kecil. Begitu sampe sana, beh.
Diem semuanya. Mengheningkan cipta. Nggatau mau ngomong apa, nggatau mau ngapain. Bengong. Diem. Dengan binar mata yang sama takjub. Gila. Gila. Gila. I mean:
Gila. Gila. Gila.
Meski kadang bikin emosi sama harga tiket pesawatnya yang di luar nalar, meski harus menempuh medan yang di luar kemampuan lambung alias bikin hoek, meski harus menyiapkan waktu cuti yang cukup dan mengorbankan waktu bersama yang terkasih,
yang gini-gini ini yang bikin gue akan terus berpetualang dari satu tempat ke tempat lain di negeri brengsek tapi magis ini.
Kalo di pedalaman Toraja aja bisa ada beginian, gimana di daerah-daerah lain yang bahkan namanya aja ngga ada di peta?
Duh gusti, mau kaya, gusti. Hhhh.
Di sini angin lumayan kenceng, tapi lebih ngga nyaman sama teriknya sih. Meski semua itu kebayar banget dengan pemandangan semegah dan se-AI ini. Ngga sampe sejam deh kayanya di sini, kita langsung turun dan balik ke mobil untuk kembali menempuh perjalanan memabukkan itu.
Tenang aja. Setiap trek perjalanan yang bikin perut ter-kopyakopyak itu akan selalu ada pemandangan yang bikin semua perjalanan masuk akal. Makin ((hidden)) sebuah gem, memanglah akan makin susah menggapainya.
Di kaki bukit kecil yang kita naikin tadi sempet ada serumpun tanaman perdu yang kata bapak guide itu adalah salah satu tanaman yang dipake buat mengawetkan jenazah tapi bisa juga dipake buat jadi obat kalo daunnya ditumbuk.
Kita sempet berhenti satu kali lagi di perjalanan pulang buat pada pipis. Gue juga kebelet. Kali ini kembali nebeng rumah warga, ada warung dan bengkelnya, trus di belakangnya ada kandang babi yang babinya GEMESGEMES BANGET???
Gue selalu merasa babi tuh mukanya gemes. Mau warna apapun. Ada satu piglet yang malu-malu ngintip dari belakang kandang, dia lagi dilepas kayanya, trus pas disamperin kabur. Lucu amatttttt pen gendongggg adekkkkk!!
Trus ada juga babi gembrot kayak anak w di rumah yang galak lagi tidur dipanggil malah GROK sambil judes. Y kayak anak w di rumah. Wk.
Abis pipis, jajan dikit di warung, lalu balik lagi ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Di jalan tuh sinyal sempet ilang dan timbul, di Ollon sih sempet ada tapi ngga banyak. Seringnya sih ngga ada sama sekali, which was perfect for a real gateaway anyway.
Pas mulai mendekati daerah yang lebih ramai, sinyal mulai kembali 4G. Di situlah chat ybs baru masuk, yang bilang kalo dia udah otw bandara mau jemput gue.
... anu bang, jemput di bandara toraja apa gmn? ๐ฅฒ ternyata dia salah liat tanggal di boarding pass, dia kira gue nyampe CGK hari itu. Padahal harusnya besok sore. Ckckck tdk sabar kh ~
Sebelum turun di hotel, kita mampir toko oleh-oleh dulu. Sebuah toko kecil banget cuma ada satu rak display doang, plang-nya juga ngga niat udah berkarat pudar gitu. Tapi biasanya tampilan begini tuh justru yg legend. Bener aja pas gue beli salah satu signature-nya alias sirop markisa... beuh, kalah dah tuh sirop yang viral di Makassar. Enak banget! Otentik parah.
Abis jajan oleh-oleh, kita diturunin di hotel sekaligus pamitan sama bapak guide dan semua driver. Huhu seneng banget ketemu sama guide super informatif, pinter, ditanya apa aja bisa jawab, warga lokal mentok pula. Ramah banget, sabar, lucu pun! Gue ngga akan pernah lupa gimana dia menunda sebuah jawaban dari pertanyaan salah satu temen gue, alasannya "itu materi untuk besok, kalo saya jawab sekarang, besok saya habis bahan". WKWK.
Kita masuk ke hotel dan sudah disambut pesenan kopi yang udah digilingin itu ditaro di meja resepsionis dengan nama masing-masing. Wanginyaaaaa.
Abistu kita masuk kamar. Gue beberes dikit dulu sebelum mandi, jadi beberapa temen gue yang kamarnya udah di-checkout pada mandi dulu di kamar mandi gue. Setelah semuanya beres mandi, baru gue mandi paling terakhir.
Kelar mandi dan packing buat sepenuhnya checkout, kita ke restoran sekaligus coffeeshop depan hotel dulu buat dinner. Sebenernya bookingannya jam 7 tapi jam 6 kurang sebagian dari kita udah nyampe karena pengen ngopi dan ngemil lucu aja dulu. Pas jam dinner tiba, semua sudah lengkap dan makanan satu persatu keluar. Kali ini menunya standar aja ngga aneh-aneh. Gue pesen nasi goreng aja kayanya biar gampang.
Salah satu temen gue ada yang pesen kopi dan tetep, enak banget banget banget. Salah satu mbak yang bantuin pesenan kita selama di sana terlihat sedang hamil besar, tapi masih aktif banget mondarmandir mndahin kursi lah, angkat angkat baki lah, dll. Terakhir gue iseng nanya hpl ternyata udah bulan itu juga. Duuuh sehatsehat, kak!
Btw di sini gue hampir banget beli satu photo book buatan orang yurop tentang funeral ceremony di Toraja. Harganya kayak kuda, dan dijualnya cuma di hotel gue sama hotel tempat gue dinner tadi. Trus gue tanya ke ybs apakah harga segitu worth it. Trus kata dia sih itungannya masih overpriced yah. Pas gue cek di website harusnya bisa lebih murah. Pas gue coba baca sekilas isinya juga kayanya.... memang sebagaimana buku fotografi aja sih, more photos and less infos. Kayanya gue lebih butuh buku yang banyak narasinya. Yaudadeh nggajadi beli. Terima kasih, self control ๐
Kelar makan, kita balik ke hotel buat ambil barang lalu jalan dikit ke pinggir jalan besar untuk menunggu bis yang akan mengantar kita balik ke Makassar.
Jadi kali ini kita naik bis umum, ngga di-booked privately, gabung sama umum, jadi harus behave. Wk. Kita sempet luntang-lantung nunggu pinggir jalan karena bis-nya nggapunya pool, beneran kayak ngeteng. But it was fun! Beberapa kali salah nebak tiap ada bis lewat kirain bis kita ternyata bukhang.
Begitu bis kita sampe, semua langsung menuju seat masing-masing yang udah di-brief sebelumnya. Gue dapet di posisi paling depan, dan di atas.
Iya, tipe bisnya sleeper gitu. Atas bawah. Ini pertama kalinya gue naik sleeper bus.
Kemarenannya pas tau gue dapet seat di atas, gue udah mikir "ih seru nih di atas ga kena orang lewat. Bisa nonton bisa baca bisa ngemil". Yauda dong gue jajan tuh di indomar deket hotel. Cikicikian gue beli tuh.
Awal perjalanan sih gue masih makan taro sambil nonton. Lamalama, lamalama, lamalama.....
mabok, ges.
Buset tu abang driver bisabisanya ngebut padahal jalanan Toraja - Makassar meliuk-liuk sempit kanankiri hutan???? Bjir. Terkopyak lambung gueeeh ๐ฅฒ
Sempet ada momen berenti bentar di rest area. Gue turun buat ngosongin buli karena di dalem bis ngga ada toilet. Abistu masuk bis lagi, minum antimo, oles minyak di udel, lalu berusaha merem. Kebangun sesekali karena kecium bau rokok dari arah depan, which was the driver. Iyeee pasti merokok sih, dibuka jendelanya sih, ada pintu pembatas juga sih ke seat penumpang, cuma yah gimana yah kan tu pintu juga kadang pas kekopyak jalanan agak kebuka gitu jadi asepnya masuk. Tapi yaudah. Akhirnya gue ketiduran juga.
Tentu saja sebenernya dapet bantal dan selimut tapi gue pake bantal dan selimut gue sendiri, just in case.
Perjalanan harusnya sekitar 7-8 jjam. Tapi baru 6 jam perjalanan, gue kebangun karena kernetnya nyalain lampu dan bilang udah sampe bandara. Jujur harusnya di sini gue turun yeh biar gampang istirahatnya. Tapi gue antara sadar ngga sadar jadi ngga jadi turun. Yauda gue bangun ngumpulin nyawa trus beberes rapih-rapih karena berarti bentaran lagi gue sampe.
Bener dong, yang tadinya perkiraan jam 6 sampe, ini setengah 5 juga belom tapi dah sampe pool bis-nya di Makassar. Yauda kita turun.
Nah sebagian besar geng trip ini sebenernya mau lanjut ke Tanjung Bira. Agak tempted tapi sayangnya gue baru tau pas udah h1 trip, jadi gue nggamungkin extend cuti. Hari itu yang akan balik ke kota asal ada 4 orang, dua orang diantaranya termasuk gue akan terbang di jam sore dengan pesawat yang sama. Duanya lagi lebih pagi.
Sempet agak cingakcinguk bingung mengatur rencana. Pilihannya either nunggu di bandara aja, atau ke bandara naro barang abistu main ke kota, atau sewa hotel di kota yang bisa early checkin dan per jam aja.
Gue si clumsy yang udah merelakan 150rebu kena scam hotel nggajelas ini diem aja manut. Gue sempet ikutan nyari taksi online ke bandara karena rencana awal kita semua titip barang dan numpang mandi di bandara. Untungnya satu temen gue berhasil nelpon salah satu hotel di pusat kota yang bisa early check in. Yaudah kita berempat cus ke sana sementara sisanya nyari kafe 24 jam buat nunggu jemputan ke Tanjung Bira.
Dengan terpisahnya rombongan kali ini, berakhirlah sudah trip super seru ini huaaa. Senang sekali semuanya berjalan sesuai rencana, minusminus dikit nggapapa karena kesempurnaan bukanlah milik manusya. Gue sangat yakin akan repeat order di agent yang ini buat cobain trip kultural lainnya. And I think you should too!! Let me know if you need a cultural gateaway, this one cool agent might help you.
Perjalanan gue belum sepenuhnya berakhir. Masih ada sisa hari menuju flight yang akan gue habiskan di Makassar. Up to the next post ~
Berikut lanjutan dari petualangan seru di Toraja, di
hari ketiga ๐ (bagian kedua).
Selesai sarapan, kita semua melanjutkan perjalanan. Kenyang, adem, tentu saja apa? Ya benul. Antuk.
Untungnya jarak ke destinasi berikutnya ngga sampe sejam, jadi ngga sempet merem dulu. Kali ini kita kembali mendatangi varian lain dari pemakaman toraja.
Nama tempatnya Londa.
Pada dasarnya Londa mirip kayak Kete' Kesu. Sama-sama tempat pemakaman kuno, sama-sama ada tebing yang dijadiin malam. Tapi kali ini, juga ada gua, sebenar-benarnya gua besar, yang bisa dimasuki manusia.
Pas turun dari mobil, di deket parkiran kita disambut sama the OG kerbau paling mahal yang jadi ultimate penanda status sosial ekonomi di kalangan warga. Kerbau ini konon matanya biru. Pas kita samperin sih ngga biru-biru amat ya, lebih ke abu-abu. Tapi emang gede banget kayak sapi. Kata si bapak guide, kerbau macam ini tuh di sini bisa miliaran.
Di sepanjang jalan tadi, kita sempet liat beberapa kali ada kerbau di depan rumah warga atau di deket pohon gitu, diiketnya di hidung. Literally 'kerbau dicocok hidungnya'. Kata bapak guide, tujuannya biar si kerbau badannya tegak, tulang punggungnya ngga bungkuk, jadi nanti ganteng dan gagah sebelum dijual atau disembelih pas upacara. Ini cuma pas pagi ke sore aja. Malemnya biasanya dimasukin kandang.
Sepenting dan se-berharga itu kerbau di sini, jadi masuk akal kalo harganya bisa sefantastis itu. Bahkan kata bapak guide, kadang sampe susah nyari kerbau di Toraja sehingga harus 'diimpor' dari luar, entah luar kota atau luar pulau. Di torja sendiri ada 8 macam jenis kerbau, semuanya beda-beda bentuk, warna dan ukurannya, sehingga beda juga harga dan peruntukannya dalam upacara.
Siang itu Londa ngga begitu rame. Kita jalan ke arah gerbang masuk, lalu disambut beberapa pohon kopi dan buah apa nggapaham, sama beberapa ayam hutan yang beneran bertengger di dahan pohon. Cool.
Di Londa ada gua besar sekali, yang di atasnya menjulang tebing batu yang ngga kalah besar. Di bagian luar ada banyak tumpukan peti dan beberapa keliatan tengkoraknya. Messy, eerie, but again, in a good way. Apalagi dengan cuaca yang sejuk dan sekitar yang hening, makin-makin pas suasananya untuk funeral tour kali ini.
Kita menyewa satu guide lagi, yang memang bertugas di situ. Dia yang akan mandu kita masuk ke dalam gua, bermodalkan lampu petromak sederhana yang mompanya manual banget itu.
Ada dua pintu masuk menuju gua yang sama. Kita masuk dari sisi paling ujung. Celahnya kecil sekali. Di dalem beneran gelap gulita dan satu-satunya cara dapet cahaya ya cuma lampu atau senter, nggabisa ngandelin matahari karena ngga masuk. Sinyal juga ngga ada begitu masuk. Pokonya beneran gua.
Meski celahnya cuma muat satu orang, sebenernya akses di dalemnya ngga begitu sempit. Ya beberapa sampe harus agak nunduk atau manuver biar bisa lewat, tapi banyak juga sudut lebar yang bisa dipake berkerumun bahkan foto rame-rame.
Kita langsung disambut dengan banyak tumpukan peti, mulai dari yang ada erong babi, peti modern, sampe peti masih baru ditutup kain berenda yang juga keliatan masih baru. Di sekitar peti juga banyak tulang belulang manusia betulan, yang jadi penghuni makam itu. Saking padetnya isi gua, bahkan nengok ke atas dikit tuh tiap ada celah, ada peti, atau ada patahan peti yang tulangnya udah setengah kececer keluar. What a view.
Kesannya memang berantakan sekali di sini. Tapi justru di situ daya tariknya menurut gue.
Pas rombongan kita di dalem, kita cuma papasan sama satu rombongan lain yang jumlahnya lebih sedikit. Kayanya emang nggabisa rame-rame biar ngga rebutan oksigen. Kita dibolehin beberapa kali ambil foto atau foto bareng, dibantuin lighting pake petromak. Yang ngga boleh, adalah megang tulangnya. Pernah ada kejadian turis megang tulang trus foto bareng, langsung kasus besar disidang adat dan disuruh bayar sejumlah dua babi. Babi itu harganya juga belasan sampe puluhan juta, btw.
Ya lagian buat apesi segala tulang mayit mau lu pegang trus difoto pula? Ini tu kuburan orang beneran, ada keluarga yang beneran kehilangan, itu tulang orang yang pernah hidup kayak lu pada. Dipegang-pegang juga biar apeeee gue tanya hm? Biar apeeeee hadeh. Gue aja yah selama di dalem situ bingung mau berekspresi apa tiap adegan foto bareng. Kayak... mau senyum tuh ngga etis rasanya. Awkward. Ya lo lagi di kuburan masa senyum-senyum?? Makanya akhirnya di beberapa foto gue di dalem situ keliatannya canggung.
Anywayyy,
salah satu yang menarik di dalem gua adalah dua peti yang ditaro berdampingan di salah satu ceruk batu. Di antara kedua peti itu ada papan salib, dan di bawah papan salib ada dua tengkorak kepala yang disusun berhadapan dan dua tulang panjang di dekatnya.
Konon, kedua orang itu adalah sepasang kekasih yang ngga direstui keluarga untuk menikah karena masih ada hubungan sepupu. Akhirnya mereka bunuh diri berdua. Ini kejadian th 1972. Sekarang keduanya dikubur bersama, side by side, di dalem ceruk gua yang sama.
Oh dear ๐ฅฒ
Selain tulang belulang, ada banyak, banyaaaak sekali mangkuk kecil, atau benda kayak asbak gitu yang bertebaran di beberapa sudut gua, isinya masih sama: permen, uang, air mineral, dan rokok. Temen gue ada yang sempat nanya kenapa rokok? Guides ngga ada yang pernah bener-bener bisa jawab, tapi kayanya memang rokok tuh udah jadi benda 'budaya' yang secara ((antropologis)) dekat sekali di berbagai periode kehidupan masyarakat.
Tapi kali ini punten banget ngga ada yakul ๐
Perjalanan kita terhenti di tengah gua. Sebenernya ada dua celah di kanan dan kiri, harusnya manusia dewasa bisa masuk, tapi posisi merangkak. Keduanya bertemu di satu sisi dan nanti ujungnya akan keluar di pintu gua satu lagi. Tapi karena kesepakatan bersama, akhirnya kita memutuskan keluar dulu dan masuk dari sisi pintu satunya lagi aja.
Pas masuk dari pintu satunya, ternyta ukurannya lebih besar dan lebih lega. Lebih banyak tulang berserakan di sini. Kata guide gua, satu celah bisa diisi satu rumpun keluarga, atau bahkan satu peti bisa diisi lebih dari satu jenazah. Pada prinsipnya ini cuma salah satu pilihan memakamkan keluarga mereka, mungkin dimasukin ke dalem gua tuh cenderung lebih murah karena nggaperlu bayar proses mahat tebing dulu atau bikin rumah-rumahan dulu.
Namanya pemakaman, tempat ini tentu masih rutin dikunjungi keluarga buat ziarah, makanya "sajen" tuh selalu baru dan fresh. Kadang keluarga dateng ngga cuma buat membaharui persembahan tapi juga mengganti peti yang lapuk, daaan
mengganti baju si yang di dalem peti dengan baju yang bersih. Kayanya baru udahan dibajuin kalo udah bener-bener berbentuk tulang aja.
Tapi yah, meskipun ini tuh pemakaman, gue ngga pernah sama sekali melihat wewangian ataupun bunga yang beredar di sekitar peti atau di mangkuk persembahan. Tapi ngga jadi bau bangkai juga. Ya kayak bau ruangan lembab atau bau kayu lapuk aja. Mungkin ini juga yang bikin suasananya ngga makin merinding in film-horor-indonesia- way. Karena bau bunga begituan kan lebih 'terafiliasi' ke kuburan.
Keluar dari gua, kita jalan menuju parkiran lagi tapi lewat sisi jalan setapak yang juga ada pemakaman di tebing tapi versi 'rakyat jelata' alias bolongan gitu aja. Trus ada satu sisi seberang tebing yang bisa liat tebing dan gua tadi dari kejauhan. Kata bapak guide, sebenernya di toraja ada banyak sekali pemakaman di tebing, di gua, di batu, dll kayak gitu, tapi ngga semua keluarga bersedia dibuka untuk umum dan dikunjungi as a part of tourism. Amat sangat bisa dipahami, sih. Yang dibuka untuk umum inipun tentu sudah melewati deal-deal-an serius sama keluarga terkait uang retribusi wisata.
Sampe di parkiran, kita masuk ke mobil, lalu jalan menuju rumah salah satu temannya bapak guide yang sedang mempersiapkan upacara kematian untuk ayahnya.
Kita memasuki materi terbaik dari ini semua: ritual atau upacara kematian.
Orang toraja itu pada beberapa aspek kultural tuh mirip dengan orang Sumba, salah satunya adalah menyimpan jenazah keluarga mereka di dalam rumah sampai beberapa waktu.
Ketika ada anggota keluarga usia dewasa yang meninggal, sampai orang itu dimakamkan, namanya bukan jenazah, tapi 'orang sakit'. Jadi ya masih diperlakukan kayak orang hidup: dianterin kopi dan sarapan setiap pagi, dibersihin dan diganti bajunya, diajak ngobrol, diajak ibadah, bahkan ditaro di kamar dan tidur bersama yang masih hidup. Hanya saja, posisi jenazahnya dibuat menghadap ke barat (barat: kematian).
Supaya ngga bau, sejak teknologi formalin ada, jenazah langsung diisi formalin selama disimpan di dalam rumah. Nanti ketika sudah mau mulai ritual pemakaman barulah jenazah diputer menghadap selatan (selatan: dunia roh), dan dia bisa disebut 'orang mati'.
Salah satu dari kami ada yang tanya; "apa ngga makin sedih, melihat anggota keluarga di dalem rumah tapi sudah ngga merespon apa-apa?"
Bapak guide senyum lebar sebelum jawab pertanyaan ini.
Lalu katanya, orang Toraja itu ya manusia biasa. Ya sedih, ya menangis, tapi mereka percaya sebelum dimakamkan tuh roh orang yang meninggal itu masih beredar di sekitar rumah, sehingga mereka tetap memperlakukan jenazah seperti masih hidup. Seiring berjalannya waktu, proses berduka itu akan sampai di titik menerima, sehingga ketika prosesi pemakaman tiba, kesedihan mereka sudah siap dirayakan, dan mereka yakin bahwa setelah almarhum(s) sudah di dunia roh, mereka akan menjadi berkat untuk mereka yang masih hidup sehingga kehidupan terus berlanjut dan bisa berubah menjadi lebih baik kalau mereka memperlakukan the almarhum(s) dengan baik.
Kematian, buat orang toraja, adalah awal kehidupan yang lebih baik.
Jenazah keluarga yang sudah meninggal bisa disimpan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Mirip seperti upacara ngaben di Bali yang menghabiskan dana banyak sekali, ritual pemakaman di toraja juga ngga murah. Apalagi berlangsungnya itu bisa berhari-hari. Makanya, in this economy, festival Rambu Solo alias puncak ritual pemakaman yang kita si peserta trip ini sempet harapkan, itu ngga bisa presisi waktunya. Ya kalo duitnya belum cukup, bisa jadi mangkrak atau ketunda upacaranya.
Tapi, biasanya upacara pemakaman itu terjadi di pertengahan tahun, sekitar Juni Juli, karena itu waktu-waktu mereka sudah selesai panen sehingga tetangga sekitar punya cukup waktu untuk bantuin semuanya sampe selesai.
Dalam urutan ritual pemakaman, yang pertama dilakukan saat persiapan itu ya masukin jenazah ke peti dan geser dulu posisi jenazahnya, ngga cuma jadi menghadap ke selatan tapi juga dipindah ke lumbung depan rumah. Rumah itu simbol ibu, lumbung itu ayah. Jadi setelah beberapa waktu dia ada di 'pelukan' ibu, jenazah dipindah selama dua hari ke 'pelukan' ayah.
Lalu keluarga besar dan rumpun keluarga beserta tetangga-tetangga sekitar sedesa itu dateng buat bantuin bikin banyak rumah-rumahan sementara kayak tongkonan gitu. Sama bikin keranda juga tentu.
Jenazah kemudian akan diarak pake keranda keliling kampung, buat ngasih tau warga kampung mau ada upacara sekaligus ngasih liat alm kampungnya untuk terakhir kali.
Besokannya, ada ritual 'manarima tamu'. Di sini keluarga dari kampung sebelah akan berdatangan. Jumlahnya bisa banyak sekali karena misal nih alm punya anak di desa X, nanti yg dateng dari desa X bukan cuma si anak tapi juga tetangga-tetangganya si anak. Bisa sampe satu truk, cenah, orang yang dateng dari satu kampung. Mereka bebawaan juga, tentu, bentuknya biasanya yang paling umum tuh babi. Ada juga kerbau dan sapi. Nanti sebelum masuk ke dalem, bawaan mereka akan didata, ditimbang dan dicatet. Sampe diumumin segala. Misal kayak
"atas nama ibu Queensha membawa dua ekor babi betina, satu beratnya 30kg, satu 50kg".
Nah diumumin gitu biar tuan rumah punya data, nanti kalo si Queensha upacara juga, berarti minimal ngasihnya segitu.
Ini mirip kayak lu pada ngamplop pas takziyah, kali yah.
Setelah setor barang bawaan, rombongan akan disambut di rumah-rumah semi permanen tadi yang dibuat sama warga sebelumnya. Dikasi makan, minum, dipersilakan ngobrol-ngobrol, trus nanti bawaan tamu hari itu akan disembelih dan dagingnya dibagi-bagi lagi buat dimakan bareng-bareng. Khusus bagian kepalanya, dikasih ke ketua rumpun keluarga atau orang yang paling dihormati di situ.
Keesokan harinya lagi, masuklah ke upacara inti. Ini salah satu bagian dari Rambu Solo.
Dimulai dari mantunu atau ritual penyembelihan hewan suci alias kerbau. Jumlah yang disembelih tergantung status sosial dan ekonomi keluarga. Biasanya kalo bangsawan bisa 12-24 ekor. Kerbau-kerbau ini dibeli oleh keluarga yang ditinggalkan dari uang hasil patungan sekeluarga. Mereka percaya, kerbau-kerbau ini akan jadi kendaraan yang mempermudah alm melintasi dunia roh.
Acara berikutnya berupa tarian, nyanyian, arak-arakan, bahkan konon ada yang bilang kadang "jenazah"nya dibangunkan agar ikut bernyanyi dan menari bersama segenap keluarga. Ah :')
Besoknya lagi adalah ritual terakhir yaitu ritual ibadah pemakaman. Jenazah akan dibawa beramai-ramai dengan segenap rumpun keluarga dan tetangga sekitar menuju tempat pemakaman, entah itu batu, gua, tebing, dll.
Nanti, secara berkala, biasanya sehabis panen, akan ada ritual namanya Manene. Keluarga akan datang ke pemakaman membawa sedikit hasil panen, sirih sama rokok, lalu peti dibuka, jenazah dikeluarin dari peti lalu dibersihin, bajunya diganti, petinya juga dibersihin. Ini bentuk syukur mereka karena mereka percaya berkat panen itu juga datang dari leluhur mereka yang sudah meninggal.
Katanya juga, konon di pemakaman pun jenazah kadang bangun dan keluar dari makam lalu masuk sendiri ke dalam makam. Ya pengen jalanjalan ajasi mangnya gabole.
Nah, ketika kita sampe di rumah temennya si bapak guide, prosesinya baru sampe jenazah dipindah posisi dan dimasukin ke peti. Kita disambut di halaman rumah yang lagi banyak sekali tongkonan mini sedang dibangun.
Gambar pertama, itu lumbung yang akan jadi tempat alm "dipeluk bapak" selama dua malam. Gambar kedua, clockwise, adalah contoh bentuk tongkonan kecil-kecil yang jadi tempat menerima tamu. Kita duduk di situ beralaskan tiker dengerin cerita bapak guide.
Oh iya harini karena kita emang konsepnya "melayat", jadi semua sudah di-brief pake baju hitam.
Kita dipersilakan masuk oleh keluarga yang berduka, ke dalam rumah duka. Adeeem banget sumpah rasanya kayak pengen rebahan di ubin. Ini tipe rumah biasa tapi atapnya tinggi banget jadi rasanya di dalem tuh sejuk. Kita disambut sama istri mendiang, yang gue ngga nyangka umurnya 80 tahun tapi masih keliatan bugar, cerah, cantik, bahkan ngga bungkuk sama sekali. Keren ibuu ๐ค
Gambar ketiga adalah peti alm yang sudah berisi jenazah yang diposisikan menghadap selatan, siap dipindah ke lumbung. Bisa diliat itu temboknya warna merah. Itu kain, lebar sekali ditempel ke tembok. Merah itu simbol darah atau kehidupan, jadi kayak ini tempat terakhir alm "hidup" sebelum diantar ke dunia roh.
Alm ini dulunya tentara, lalu sakit menahun karena stroke, dan kemudian meninggal tahun lalu. Selama setahun alm berada di kamar itu, di-formalin dan tetap dianggap ada atau 'orang sakit' oleh segenap keluarga. Bahkan di sebelah peti itu masih ada kursi roda yang dilipat dan bekas tongkat alm selama hidup.
Gambar keempat adalah salah satu minuman khas yang disediakan tuan rumah buat kami: arak toraja. Sebenernya dari kemaren kita sempet kepo pengen beli, ada yang jual 50 rebu sebotol akua 1 liter. Tapi bapak guide bilang tar juga kita dapet. Eh bener disini disediain.
Rasanya ya arak aja sih, kayak air tape. Tapi ini versi yang light dan seger ngga lengket. Kecut, tapi ada hint manisnya. Salah satu cara menikmatinya adalah dengan mencampurnya dengan kopi toraja. Kita nyobain juga and that was one of the best drink I drank that day. Seru banget perpaduan rasanya, asli.
Gambar kelima adalah calon keranda yang hampir jadi. Atapnya tuh atap tongkonan, tapi bawahnya lebih kecil. Lukisannya juga padet banget dan kali ini didominasi warna item.
Di sini ada dua anjing besar, salah satunya lagi hamil besar. Si bumil ini manjaaaaaa sekali sama temennya bapak guide itu. Nempel ngelendot lucu. Sama kita juga ramah sekali. Sehat-sehat sampe lahiran ya bumil!
Prosesi berikutnya yang akan dijalani oleh keluarga ini adalah manarima tamu. Tapi mungkin baru minggu depannya karena mereka masih nyiapin rumah-rumah tongkonan lainnya.
Gila yah, mewah dan megah banget. No wonder keluarga butuh waktu lama sekali setiap mau memakamkan karena pasti butuh biaya yang ngga sedikit. Walaupun sebenernya masih dibantu sama segenap keluarga berdasarkan kemampuan ekonomi masing-masing, kadang kalo yang meninggal itu orang yang jasanya banyak juga yang bantu banyak, tapi tetep aja sih, berat cuy. Sampe bapak guide sendiri aja sempet nyeletuk: "generasi toraja yang muda-muda ini sudah mulai banyak yang ragu, seolah kita kerja keras hanya untuk mempersiapkan kematian"
Well, aren't we all?
Gue jadi berpikir, apa yah alasan paling masuk akal yang bikin mereka merasa perlu merayakan kematian melebihi merayakan kehidupan? Sungguh sebuah metode menghadapi duka yang menarik.
Sepulang dari rumah alm, kita lanjut menuju tempat makan siang. Di sini perut gue mulai ngga enak, kayanya gara-gara si arak + kopi tadi WK mampus. Tapi bagus sih, emang hari itu gue belum pupup.
Pas di perjalanan menuju tempat makan siang, kita papasan sama rombongan ambulans. Sepertinya ada yang meninggal. Trus yang ngiringin, behhhhhhh banyak buanget nget nget nget. Sekampung, kata bapak guide. Ya begitu memang kebiasaannya, susah senang yang nanggunh bareng-bareng. Itu bahkan segenap keluarga dan tetangga tuh ngejemputnya udah dari RS, dianter ke rumah, serame dan serombongan itu.
Kita sampe di tempat makan siang udah agak kesiangan. Gue langsung ke toilet menuntaskan segala hajat. Btw sebagian besar toilet di toraja itu jongkok, dan posisinya hampir serendah lantainya. Ya gapapa juga sih, daripada kayak di Sumba dulu, udahlah toilet duduk tapi kaga dikasih tutup, dijongkokin gabisa, didudukin mlengse. Ck.
Menu makanan kali ini masih seafood, dan gue kembali hooked sama ikan bakarnya. Yaallah ngebayanginnya aja masih ngeces. Enak enak banget banget. Di hari kesekian ini udah pada hapal gue suka kepala ikan, jadi hari itu gue kembali menghabiskan 4 potong kepala ikan hingga tetes terakhir. Ampun enak banget.
Kita ngobrol ngalor ngidul, termasuk membahas preferensi makanan gue yang cenderung menghindari makanan berlendir, atau temen gue yang ngga bisa makan sayur jenis apapun. Kali ini kita juga dikasih fruit platter yang manis-manis dan seger dimakan di siang yang sumuk ini.
Kelar makan, perjalanan kita selanjutnya kembali menuju "variasi" dari pemakaman orang toraja.
Nama tempatnya adalah Kalimbuang Bori.
Di situs yang sebenernya bisa dibilang cukup purbakala ini, varian pemakaman yang kita lihat adalah batu-batu besar dan pohon. Beberapa artikel bahkan menyebutnya sebagai situs megalitikum, karena diyakini udah ada dari jaman itu.
Kita disambut dengan barisan batu-batu besar menjulang tinggi alias menhir. Kabarnya sih ada lebih dari 100 buah. Ini hanya beberapa di antaranya.
Di deket batuan besar itu ada batuan kecil, konon itu yang ditanem duluan sebagai penanda, mungkin kurang lebih kayak 'nisan'-nya. Batuan besar ini mirip seperti fungsi tao-tao, yang mewakili jenazah yang dimakamkan, tapi tentu saja yang bisa dimakamkan dengan cara ini adalah bangsawan. Jenazahnya ada di bawah batu itu, dikubur. Posisi batu menjulang ke atas menjadi simbol bahwa raganya ada di bawah tapi jiwanya sudah diantar ke atas.
Batu-batuan itu dipahat, manual. Pilihan batunya tergantung jenis apa yang ada di sekitar tempat tinggal almarhum/almarhumah. Konon, selama proses pemahatan, ngga boleh ada perempuan yang mendekat ke arah pemahatan, terutama perempuan yang sedang menstruasi. Katanya itu bikin batu jadi rapuh dan gampang hancur.
Ya biasalah. It's always woman.
Dari lokasi menhir, kita jalan menuju pemakaman di dalam pohon. Selama perjalanan kesana, kita melewati beberapa makam yang bentuknya mirip rumah-rumah kecil. Beberapa sudah ditandai dengan foto terbaru, bahkan ada yang masih baruuu banget.
Di sini, ada beberapa 'bekas keranda' yang dibiarin tergeletak di sekitar makam. Ya memang sih biasanya keranda itu nggaboleh dibalikin ke rumah. Cuma posisinya beneran dibikin berantakan gitu aja. Sayang aja sih.
Di beberapa dinding batu udah ada tuh ditandain pake pewarna pigmen oren yang menandakan itu udah di((booking)) buat jenazah berikutnya dari rumpun keluarga itu. Cuma belum dipahat. Sama kayak di tebing, pemakaman di batu tuh satu liang bisa lebih dari satu jenazah.
Setelah berjalan melintasi hutan (yang kurang terurus dan keliatan banget "hutan"-nya, trus banyak nyamuk juga sehingga gue gatel-gatel), kita sampe di salah satu tempat pemakaman yang gue pengen banget banget liat sejak SD:
pemakaman bayi.
Di situs ini, ada satu pohon doang yang dibolehin buat dikunjungi oleh publik. Namanya pohon Tarra. Sebenernya, kata bapak guide, ada 3 jenis pohon yang kerap dipake untuk memakamkan bayi, tapi yang paling sering memang si pohon Tarra ini. Ketiga jenis pohon itu sama-sama bergetah putih, yang merupakan simbolis dari air susu ibu.
Bayi yang dimakamkan di sini adalah bayi yang belum tumbuh gigi. Ritual pemakamannya lebih sederhana dari jenazah dewasa.
Jadi setelah meninggal, bayi disemayamkan di rumahnya semalaman. Selama di rumah, bayi dimasukkan ke dalam sarung lalu diayun. Tujuannya agar roh bayi ngga tinggal di dalem rumah. Selama disemayamkan, di sekitar bayi dijaga segenap keluarga karena ada kepercayaan roh bayi sering dibawa yang jahat-jahat.
Pagi harinya, ibu bayi diminta memerah asinya, lalu ditetesin ke kapas, dan kapasnya ditaro di dalam genggaman bayi. Selanjutnya bayi dibawa ke pemakaman oleh ayahnya dan keluarga yang laki-laki, ibu bayi nggaboleh ikut. Alasannya karena takutnya nanti roh bayi nggamau ditinggal ibunya dan mikut lagi balik ke rumah. Jadi ibunya baru boleh dateng nanti beberapa hari setelahnya.
Batang pohon tempat bayi dimakamkan itu sebelumnya dilubangi dulu seukuran jenazah, lalu bayi diletakkan dengan posisi seperti saat menjadi janin, lalu ditutup dengan ranting dan kulit pohon atau semacam ijuk dari daun-daunan. Jadi pohon diibaratkan sebagai 'rahim' baru yang memeluk si bayi. Semakin tinggi posisi lubang di pohon, semakin tinggi berarti kasta keluarga si bayi.
Nah kalo bayinya udah keburu tumbuh gigi, maka pemakamannya sudah bisa di kuburan batu atau rumahrumah kecil, dengan prosesi ritual mirip pemakaman orang dewasa tapi versi lebih cepat dan jarang ditunda-tunda.
This actually felt so uncomfortable to hear but also interesting. Cara orang toraja dalam mengambil banyak simbolisasi dari alam untuk menjalani kehidupannya sungguh unik. Konon ritual ini masih dijalankan sampe sekarang, hanya saja ngga semuanya diizinkan dikunjungi publik secara umum. Yaiyasih gue juga gamau kuburan anak gue jadi tontonan warga rame-rame. Biarlah keluarga bayi berduka dalam tenang dan di ruang personalnya masing-masing.
Ngga jauh dari pemakaman bayi ini, ada satu lagi tempat menarik. Kita jalan agak menanjak tapi aksesnya untungnya sudah diaspal. Kalo di keterangan penunjuk jalan, ini namanya tongkonan unik.
Jadi pada dasarnya inituh ya rumah tongkonan, tapiiiiii look at the horns! Coba dah, kalo satu tanduk aja harganya paling ngga 50 juta atau bahkan 500 juta, itung dah tu ada berapa ~
Ini konon adalah rumah salah satu bangsawan penting di sana. Semua tanduk-tanduk itu ngga dipasang dalam satu waktu dan dari satu upacara pemakaman, tapi sudah beberapa tahun dan dari banyak upacara. Ibarat kata mah, kalo si tanduk melambangkan status sosial ekonomi suatu keluarga, pemilik rumah ini adalah The Sultan, in grieving way. Alias sebenernya dia kaya raya namun sudah banyak juga dukanya.
Again, another moment not to know how to express; senyum salah, sedih juga asa teu kudu. Ck.
Di sini kita ngobrol-ngobrol agak lama sama bapak guide, termasuk gimana regulasi jual beli kerbau di toraja setelah ada intervensi (ehm dalam bentuk pajak) dari pemerintah. Sore itu udah adem banget, nyaman. Di sekitar rumah unik itu juga ada rumah panggung besar yang keliatan masih dihuni aktif oleh keluarga. Kita juga sempet disamperin anak laki-laki yang berkebutuhan khusus, menyapa dan ikut duduk dengerin kita ngobrol.
Kelar ngobrol, sebelum kesorean, kita balik ke parkiran dan siap-siap kembali ke hotel.
Sebenernya ngga bisa dibilang sore banget sih, masih di bawah jam 5, tapi trip hari itu sudah selesai, sisa dinner aja. Jadi ini semacam dikasih downtime bentar buat istirahat karena sebelumnya kan bangun subuh banget kurang tidur. Tuh agent yang bener tuh yang beginiiii wk.
Beberapa dari kami balik ke kamar, satu temen gue minta di-drop di gereja buat ibadah, sisanya melanjutkan sore nyobain makan daging babi olahan khas toraja di deket hotel. Gue memilih pulang aja mandi dan tidur sore.
Enak banget bisa nap bentar tuh. Recharged!
Gue kebangun sekitar setengah tujuh untuk siap-siap dinner. Kali ini lokasi makannya ngga jauh dari hotel tapi dijemput pake mobil biar ngga capek. Kita mau cobain makanan khas toraja lainnya.
Tempat makannya lagi-lagi jadi satu sama coffeeshop. Kali ini lagi rame banget nih tamunya banyak dan berombongan. Kita dapet di lantai dua. Sebelum masuk sini, salah satu dari temen gue jajan gorengan random di pinggir jalan. Surprisingly enak banget??? Wk. Sayangnya lagi enak ngunyah gorengan anget-anget ditegor mbaknya karena nggabole bawa makanan dari luar. Huft yadeh.
Ada 3 makanan khas yang disajikan malem itu.
Yang pertama, di foto kanan bawah, itu namanya Pamarrasan. Ini mirip rawon tapi ngga terlalu berkuah, cenderung kering. Isinya daging ikan, ayam atau babi yang diolah bareng kluwek. Rasanya gurih agak pedes tapi ngga se-berempah rawon. Yang dihidangkan malem itu adalah ayam. Gue cukup menikmati meski beberapa potongan ayam kayanya dada mentok jadi agak alot.
Yang kedua, sudut kanan atas, itu namanya Pa'piong. Ini juga dibuat dari daging ikan/ayam/babi, yang dicincang dan dicampur sayur yang namanya daun miana, lalu dicampur bumbu-bumbu sampe jadi warna kuning, trus dimasukin ke dalem bilah bambu lalu dibakar. Rasanya ya tentu saja smoky dan berempah, tapi jujur gue kurang cocok. Bisa makannya, tapi kayanya ada rasa aneh mungkin si daun itu yang bikin lidah gue kurang nyaman. Sensasinya kayak makan apa yah.... botok? Gitu deh. Tapi ini dagingnya kerasa lebih empuk.
Yang paling gue suka dari ketiganya adalah yang sudut kiri atas, itu adalah steak kerbau.
Sumpah saking sukanya, gue dan tementemen nambah 1 plate lagi. Enak banget???
Jadi itutuh daging kerbau aja disuir-suir, lalu dimasak kayak masak steak, ada kuahnya dikit. Rasanya gurih, smokey, asin, ngga keasinan banget, trus pas aja gitu dimakan pake nasi anget. Dagingnya empuk, ngga prengus, bahkan tetelannya juga empuk. Enak banget bahkan dicemil tanpa nasi sekalipun. Aaaa jadi ingin lagiiii.
Pada dasarnya ketiga menu itu adalah menu-menu yang biasa dimasak dan disajikan saat Rambu Solo atau puncak ritual pemakaman. Dulu, konon ngga sembarangan momen yang bisa makan olahan kerbau, hanya momen-momen sakral aja. Kebayang sih, kan mahal anjir si kebo teh. Sekarang beberapa restoran diperbolehkan mengolah daging kerbau, meski tentu saja sebagian besar ya kerbau-kerbau non endemik.
Kelar makan, kita di-brief dulu buat kegiatan besoknya karena agak rumit segala ada koreo pindah kamar tapi masih di hotel yang sama. Untungnya kamar gue bukan termasuk yang dipindah.
Setelah selesai brief, kita dianter driver dan bapak guide kembali ke hotel.
Anyway, di tempat dinner itu gue hampir beli beans lagi karena penasaran, tapi ngga keburu. Agak kesel. Trus inget di hotel tuh ada roastery juga, tapi malem sebelumnya ngga ketemu karena kita balik udah malem. Nah malem ketiga itu pas kita kesana pas bangettttt mereka baru panen kopi dari kebun sendiri!!!
Jadi mereka punya kebun kopi di salah satu sisi gunung yang kita sempet lewatin di perjalanan hari itu. Mereka panen, roast sendiri dengan peralatan sederhana di situ, lalu dipake sendiri buat kafe di hotel itu dan sebagian besarnya diekspor dan diimpor. Pas kita kesana beneran tu biji-biji masih anget digiling. Bapaknya juga sampe nunjukin video pas mereka manen tadi pagi. Ah senang sekalii!
Akhirnya gue beli dua varian, trus temen-temen ngga napak tanah gue tentu saja pada beli semua varian. Sama mereka digilingin dulu, besok sebelum cekot mereka anterin ke kamar masing-masing. Yey!
Kelar urusan kopi, gue pamer dulu ke geng serumah karena senang dapet akses langsung dari petani kopi lokal yang udah settled. Gue bahkan dikasi kartunama ownernya, biar kalo mau pesen ke jabodetabek dikirimin. Yawla agak berat di ongkos tapi kalo jajannya patungan sih worth it yah.
Malam berakhir setelah gue mandi, packing, lalu bersiap bobok.
Up to the next adventure!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch โข No registration required โข HD streaming
Di malam kedua ini, tidur gue ngga sebanyak malam pertama. Ngantuk sih, tapi ngga capek, jadi nggapapa.
Karena destinasi pertama adalah sunrise spot, tentu saja kita harus sampe sebelum sunrise. Jam 5 udah standby di lobi hotel untuk siap-siap berangkat. Ngga mandi lah, ya kan. Gosok gigi aje udeh. Inilah dia kisah seru petualangan toraya di
hari ketiga ๐ (bagian pertama).
Harus dibagi dua bagian karena detilnya terlalu banyak dan sayang sekali dilewatkan.
Gue udah duduk di deket lobi dan saat itu belum ada siapa-siapa. Lobi gelap gulita. Kayanya cuma ada si Tor. Gue melihat ada semacam lemari kecil berisi banyak buku di deket lobi. Gue liat-liat, eh kok banyakan buku bahasa asing?? Wk bahkan ada The Handmaiden-nya ibu Freida tapi dalam bahasa jerman?? Gemes bener. Kayanya ini sumbangan tamu-tamu bule deh. Gue sempet liat sebelumnya di front office ada semacam photobook gitu tentang funeral ceremony, tapi dibuat sama researcher dan jurnalis dari eropa. Di kolom ucapan terima kasih, memang disebut langsung nama hotel ini.
Ngga lama kemudian temen-temen dan guides berdatangan, kita siap-siap masuk mobil.
Gue masih kebagian duduk di tempat yang sama. Beberapa temen gue ada yang udah bawa kopi buat melek, namun gue takut kebelet berak, jadi ntar aja. Perjalanan dari hotel ke lokasi berikutnya ini ngga sampe sejam. Jadi nggabisa sampe merem pules juga.
Karena masih subuh, jadi udara lumayan dingin. Takut banget pengen pipis di jalan ribet. Untungnya ngga.
Lokasi pertama di hari ketiga ini namanya Lolai To'Tombi.
Lolai itu nama daerahnya. Gue lupa To'Tombi apa maap. Tapi intinya ini semacam viewing spot, posisinya di ketinggian, 1300an mdpl, aksesnya amat sangat gampang alias mobil bisa naik sampe deket puncak, lalu lanjut jalan dikit doang. Tempat ini disebut sebagai negeri di atas awan, karena saking tingginya, awan-awan keliatan deket banget.
Mungkin bisa dibilang ini least favorite of all places buat gue, karenaaaa rame banget ๐ซ banget banget bangettttt ๐ซ mungkin karena itu udah masuk weekend (kayanya malah long weekend), trus aksesnya terlalu mudah sehingga semua golongan bisa naik tanpa effort bermakna. Jadi yang ada kita cuma nontonin manusia yang menonton awan. Belum lagi orang-orang yang bawa tripod buat bikin timelapse. Duh mau mendekat ke pinggir buat ambil foto aja susah benerrr takut masuk rekaman orang.
The worst of all adalah, tentu saja karena dingin, ada aja bangsat-bangsat yang merokok. Hhhhh kesal. Udah enak-enak udara subuh di ketinggian, eh diracun pake asep rokok. Dahlah.
Tapi sebenernya tempatnya tuh bengong-able. Ngga jelek, gue aja yang dateng di saat kurang tepat, jadi kurang enjoy.
Gue akhirnya nyari spot duduk menjauh dari keramaian tapi tetep menghadap ke view. Biar ngga dingin, gue ngunyah snack bar aja. Ngga lama temen-temen gue gabung. Trus ngobrol-ngobrol yang berujung ke topik... ehm, drinking habit ๐ ah masamasa itu ~
Setelah langit cukup terang, rombongan gue memutuskan cabut dan balik ke mobil. Sayang sekali sunsetnya pun ngga keliatan sama sekali karena mendung. Yauda gapapa. Ngga semuanya harus sesuai rencana, ya kan.
Hari itu rencana besarnya adalah inti dari semua perjalanan ini: funeral ceremony. Well, not the ultimate one, actually. Tadinya agak kecewa dikit karena ngga dapet pas Rambu Solo. Tapi setelah denger banyak penjelasan dari bapak guide selama trip, kecewanya berkurang karena sebenernya aneh juga sih orang lagi berduka tapi dijadiin tontonan wisata. Ngga etis aja rasanya.
Meskipun demikiaaan, kita beruntung dapet kesempatan mengunjungi rumah temannya bapak guide yang sedang persiapan Rambu Solo, which itu aja rasanya tetep kurang etis.
Rambu solo itu acara puncak pemakaman orang Toraja, yang ramerameannya itu suka ada di yutupyutup. Sebenernya agent kita ngga janjiin dapet itu sih, soalnya kan namanya jadwal orang lain bikin acara ya kita gapernah tau kapan bakal berubah. Cuma mungkin lain kali judul tripnya jangan "funeral ceremony" kali yah, biar gue ngga ngarep lebih. Tapi tetep gapapa, really.
Sebelum masuk ke (((materi))) rangkaian upacara pemakaman, kita kenalan dulu sama rumah adat orang toraja, yakni Tongkonan. Kita dibawa ke salah satu desa wisata buat belajar soal tongkonan, namanya Kete' Kesu. Kete' tuh intinya pusat kekuasaan. Kesu nama tempatnya.
Pas sampe, mungkin karena masih pagi banget belum jam 7, jadi masih sepi dan cuacanya enak banget seger adem (no baru rokok). Kita langsung disambut barisan tongkonan yang rapih dan megah sekali. Gue akan selalu menggunakan kosakata megah untuk trip ini karena itu yang paling mewakili kekaguman gue. Oh dan satu lagi: magical.
Kita duduk di bawah salah satu lumbung, dan mulai mendengarkan cerita bapak guide.
Rumah adat ini dikasih nama Tongkonan, yang kalo diharfiahin tongkon tuh artinya duduk. Rumah tongkonan ini memang mostly dipake buat duduk bareng rumpun keluarga untuk menyelesaikan permasalahan yang ada atau ya silaturahmi aja. Jadi tongkonan itu isinya bisa banyak generasi keluarga.
Iklan. Di tengah-tengah kisah bapak guide, saat itu banyaaaaak sekali burung-burung terbang di atas kami. And they all were tweeting! Gemes. Meski buat salah satu temen gue mungkin ga gemes karena out of nowhere tibatiba aja ada satu burung yang pupup di atas baju dia.... ๐
Lanjut.
Dalam kepercayaan orang Toraja, setiap arah mata angin itu ada maknanya. Utara simbol penciptaan atau keberadaan sang pencipta, selatan itu dunia roh, barat kematian, timur kehidupan. Tongkonan dibangun menghadap utara, bentuk syukur memuja sang pencipta. Tongkonan selalu berpasangan atau berhadapan sama lumbung di depannya. Ukuran lumbung sedikit lebih kecil.
Bentuk atap tongkonan itu kayak tanduk kerbau. Seperti yang gue bilang sebelumnya, hewan dengan kasta tertinggi alias simbol kemakmuran buat orang toraja itu kerbau. Ada 8 jenis kerbau di toraja, yang paling mahal hampir seharga rumah petak di jakarta itu matanya konon warna biru.
Kalo rumah-rumah orang bugis pada umumnya ada tuh hiasan bentuk tanda silang di puncak atapnya. Tongkonan ngga ada, tapi kalo diperhatiin detailnya lebih rumit lagi.
Lukisan di tongkonan didominasi warna bold gitu kan, kayak merah, hitam, putih, kuning. Kayanya selain emang pigmenwarna-warna itu yang gampang ditemuin di hutan, keempat warna dominan itu juga simbolis. Merah, darah. Putih, tulang. Kuning, kehidupan (sinar matahari), dan hitam (kematian).
Ada 3 hal penting yang jadi pedoman hidup orang toraja (tallu lolona): lolo tananan (tanaman), lolo patunan (hewan) dan lolo tau (manusia). Intinya menjaga dan melindungi segala mahluk hidup. Ini kadang muncul di lukisan-lukisan hiasan rumah atau ornamen lain dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sedih, ada>100 simbol dalam ukiran orang toraja, kata bapak guide baca bukunya aja karna dia aja udah baca berkalikali gapernah hapal wk.
Yang ngga kalah seru, di depan atau sisi luar tongkonan itu ada banyak benda-benda amat menarik.
Yang pertama, kepala kerbau atau kabongo. Itu biasanya ada di satu rumah yang jadi kepala di rumpun keluarga itu, semacam penanda status sosial. Kedua, sebuah bentuk kayak campuran setengah naga setengah ayam namanya katik, semacam mahluk mitologi, yang jadi simbol kalo semua ritual adat pernah dilakukan di rumah itu.
Ketiga, deretan gantungan tulang rahang dari kepala kerbau. Itu biasanya tongkonan milik pemimpin adat tertinggi, karena dia selalu dapet bagian kepala tiap ada upacara adat, jadi rahangnya dijejer tuh di situ. Keren banget asli gue paling amaze liat ini.
Trus ada juga yang di depan rumahnya ada moncong buaya, itu biasanya simbol mereka pernah "menyelamatkan" buaya. Maap banget gue kurang paham kenapa konteksnya menyelamatkan. Kayanya orang toraja emang sayang semua hewan.
Nah, last but not least, koleksi tanduk kerbau. Itu adalah simbol jumlah kerbau yang pernah dipotong di keluarga itu untuk sebuah upacara. Secara ga langsung sekaligus menunjukkan rumah itu udah pernah ngadain upacara kematian.
Btw konon dulu banget sekitar tahun 1600an, sempet ada ((ritual)) human sacrifice, alias kanibalisme di toraja. Jadi kalo ada bangsawan di salah satu desa meninggal, warga desa itu akan ((berburu)) 1 manusia di desa lain, diselesaikan hidupnya, lalu dibawa ke desanya buat disantap bersama daging kerbau. Setelah agama samawi masuk, ritual ini diganti dengan mengebiri kerbau. Ada cirinya kerbau yang udah dikebiri dan bisa diliat dari tanduknya tapi maap bet gue lupa.
Kita dapet kesempatan masuk ke dalem salah satu tongkonan. Sebenernya satu tongkonan harusnya bisa menampung banyak orang. Tapi karena ini udah lapuk kayu-kayunya jadi takut rubuh kalo keramean. Dibagi deh jadi 6 orang se-kloter. Gue dapet kloter pertama.
Jujur creepy dikit ketika ngelewatin deretan tulang rahang trus pas mau naik ke tangga tuh di samping rumah ada ayam mati, ayamnya masih utuh tapi udah bau, literally ayam mati bukan disembelih, mati aja.
Sampe di atas, kurang lebih isinya begini:
Seperti rumah panggung pada umumnya, di dalem rasanya lembab tapi sejuk. Di area dapur ada beberapa butir telur ayam kayanya belum menetas. Kemungkinan dipake ayam random numpang beranak. Maap ya, yam, aku mampir bentar.
Isi dalemnya mirip kayak rumah adat di lombok. Ada tiga bagian besar: kamar utama, kamar sekunder buat anak yang sudah besar atau extended family kalo ada, dan di antara keduanya ada ruang keluarga. Agak ngga kebayang kalo anggota keluarganya banyak pasti cukup sumpek yah.
Setelahnya gantian kloter kedua yang naik. Gue turun dan eksplor sendiri sisanya. Di ujung kiri barisan tongkonan tuh ada satu tongkonan yang dipasang plang kecil bertuliskan "library". Sayangnya pas kita samperin, dia tutup. Ngga keliatan siapa-siapa juga di sekitarnya buat ditanyain. Mungkin masih terlalu pagi. Tapi keliatan ada wisatawan lain mulai berdatangan sih,
buat foto-foto ๐ gapapa juga bebas.
Di deket library itu ada satu toko souvenir. Pas banget bapak yang jualan lagi ngewarnain salah satu ornamen hiasan. Beliau jelasin kalo pigmen pewarna yang dipake itu berasal dari sejenis batu atau tanah yang memadat dan dicampur air. Warnanya oren. Kuas yang dipake juga bukan kuas pada umumnya, tapi semacam bambu yang diruncingin ujungnya. Kita dibolehin nyoba ngelukis kalo mau.
Ngga susah, tinggal cocol, tetes di ruang pola yang udah dipahat. Yang susah, buat gue si paling nyeni ini, adalag kerapihan ๐ jadi daripada gue disuruh ngulang atau beli yang gue rusakin, gue nyoba bentar aja abistu dah wk.
Si bapak juga sempet ngasih tunjuk cara dia mengukir pola di atas potongan kayu. Temen gue salah satunya ada yang tergoda beli satu. Mahal, tapi menurut gue sih harus mahal yah. Susah ini tu buatnya. Well, every art is.
Pas lagi nongkrong di toko ini, ngga lama kita dicariin kakak guide satunya untuk geser ke salah satu sudut desa, tepatnya di balik barisan tongkonan itu. Ada sebuah penunjuk jalan kecil bertuliskan: kuburan.
Kalo di Lemo kemarin kuburannya dalam bentuk liang di tebing, kuburan yang di kete' kesu ini ada juga yang dipahat di tebing tapi ada juga varian lain: "digantung" di dinding batu dan dibikinin "rumah".
Sisi pertama yang menyambut kita dari depan jalan adalah yang dibikinin rumah. Gue bilang rumah karena beneran bentuk rumah. Di dalem rumah itu ada peti. Konon di dalem peti itu ada lebih dari 1 jenazah, tapi masih satu keluarga.
Salah satu yang mencolok banget adalah peti besar warna merah. Itu isinya bangsawan sekeluarga, totalnya 10 jenazah. Di atasnya bukan tao-tao tapi foto asli beserta cv singkat. Ada yang pahlawan, ada yang guru, ada yang tentara dll.
Di depan pintu peti atau pintu rumah itu biasanya ada beberapa "persembahan". Paling sering bentuknya uang, permen, atau... ehm, rokok.
Kayanya bangunan "rumah" ini isinya jenazah yang terbilang baru (setidaknya udah ada teknologi foto), bahkan ada yang baru tahun lalu banget.
Naik sedikit ke arah tebing batu, the creepier it got.
But for me, it's creepy in a good good way.
Ada beberapa peti kayu yang ditaro di atas papan dan papannya menempel ke tebing batu. Peti kayu itu cukup lapuk sehingga beberapa ada celah dan bisa ngintip sisa-sisa tulang di dalemnya. Bahkan, ada yang beneran tulangnya dijejer di atasnya, saking udah ngga muat di dalemnya tapi space yang keluarganya punya ya peti itu aja.
Itu semua bukan display, atau props. Itu literally punya manusia yang pernah hidup, dan itu makam beneran yang masih dikunjungi keluarga.
Peti-peti ini juga ada ornamennya di salah satu ujung. Ada yang bentuk kepala babi atau sebutannya erong babi (biasanya buat perempuan) atau kepala kerbau.
Ada satu makam lagi yang juga mencolok di sisi tebing ini:
Di dalem situ ada lebih dari lima tao-tao dibikin duduk berbaris kayak lagi foto keluarga. Tao-tao kayu, pula. Baju yang dipake udah mulai lapuk, pudar warnanya, pokonya setting yang pas buat film-film mockumentary tribal horror gitu. Again, it's so eerie in a good good way, in a way that I liked.
Dia keliatan mencolok karena saking gedenya liang yang ini, sampe bisa dipagerin pake semacam rolling door (?). Di depannya ada mangkuk kayu gitu isinya uang kertas dan koin, tapi uang kertasnya udah disobek dan ada bekas dibakar, mungkin biar ngga diambilin. Trus ada juga rokok, dan yang paling bikin gue mengernyit... ada sebotol yakul.... masih utuh...
If I were the one inside with that big kind of tao-tao sih gue minta tuku yah sehari satu trims ๐
Di ujung tebing kabarnya ada makam lagi di dalem gua. Tapi depan gua-nya dijaga dua orang, sepertinya dimintain bayaran. Karena sudut tebingnya terlihat kurang aman, udah gitu cenderung sepi, gue dan temen gue ngga jadi masuk. Bapak guide juga bilang ngga usah, nanti kita akan masuk gua juga tapi ngga di sini, katanya. Yaudah.
Karena udah mau jam 9 pagi, kita jalan ke deket parkiran buat sarapan. Di sana ada tempat makan sekaligus roastery.
Keren banget deh, hampir semua coffee shop di toraja yang gue datengin tuh punya roastery sendiri, punya signature beans sendiri. Bahkan ada beberapa yang punya petak kebun kopi sendiri.
Posisi kafe ini pas banget ngadep bentang desa. Pas naik ke lantai dua lebih cantik lagi karena bigger view. Di cuaca adem sejuk ini tentu saja akan seru kalo sarapan.. indomie rebus pake telor ๐๐ป sungguh sarapan yang mewah dengan pemandangan lebih mewahhh.
Sebelum cabut, gue nyobain kopi signature mereka. Asli enak banget. Asem tapi manis tapi asem tapi manis (?). Duh. Enak yah orang sini ngopi dimana aja enak hhhh iri.
Abis sarapan, kita balik ke mobil untuk destinasi berikutnya yang lebih menarik lagi.
Akan dilanjutkan di tulisan bagian kedua setelah pesan-pesan berikut ini.
Gue terbangun dengan segar bugar karena tidur yang amat cukup dan itinerary yang mulai di atas jam 8 pagi. Jadi gue masih sempet banget bangun santuy, liat-liat keluar jendela, ngemil biskuit, mandi sambil nyanyi-nyanyi, lalu beberea dikit ngerapihin back pack dan turun ke lobi buat check out dan sarapan. So this is the story of my trip diii
hari kedua ๐ฟ
Pas gue ke lobi ternyata udah rame pada sarapan. Menu makan pagi itu beneran Makassar banget alias nasi goreng merah. Ada coto juga tapi gue kayanya nggamau mengulangi kebodohan yang sama di hari pertama dimana gue makan santen buat sarapan dan kolik sepanjang siang sampe sore. Jadi gue memilih nasi goreng merah dan putih total seperempat piring aja, lalu telor dadar, perkedel jagung, sama semangkuk pallumara alias ga mungkin gue melewatkan makan ikan di Indonesia bagian timur manapun karena sebagai anak ikan mania mantap, ikan-ikan diolah di dapur area timur itu surga kecil banget si.
Sambil sarapan, gue duduk bersama dua guides dari agent-nya, sambil ngomongin sister guide yang mengenalkan gue ke mereka itu. Gue juga cerita dikit soal kekecewaan gue salah milih agent pas ke Banyuwangi akibat ngga nanya si sister wk. Sekarang kayanya gue akan berkiblat sepenuhnya ke beliau dalam segala urusan travelling ini.
Kelar sarapan, kita masukin barang ke mobil satunya lalu semua manusianya masuk ke hiace lagi. Terjadi sedikit perubahan tempat duduk. Gue kira ngga cuma gue tapi akhirnya gue doang yang tuker posisi sama salah satu kakak guide, gue jadi pindah ke belakang supir. Mayan.
Perjalanan kali ini langsung ke Toraja, yang akan ditempuh dalam kurang lebih 4 jam. Jadi bisa tidur lagi.
Sebenernya Makassar - Toraja tuh jauh, kak. 7-8 hours, biasanya. Tapi perjalanan gue kemaren dipecah jadi mampir Pare-Pare dulu baru dilanjut pagi besoknya. Salah satu transum yang tersedia tuh bis besar. Bis AKAP gitu. Jalanannya lumayan memabukkan karena meliak liuk mendaki gunung, literally membelah bukit demi bukit sampe ke dataran tinggi. Aspalnya sij jarang bolong ya. Tapi kanan kiri tebing jurang dan meliuknya bisa beneran patah sikusiku trus tautau nanjak gitu macam roller coaster. Udah bener gue duduk tengah sih.
Meskipun tidur cukup malemnya, gue tetep merem-merem dikit menghindari liat jalanan kelak kelok di depan yang bikin vertigo. Gue jarang pake earphone dalam perjalanan selama trip apapun karena memang mau menyerap suara dan bunyi apapun ke dalam memori. Jadi malah seru dengerin bapak guide yang tiba-tiba ngasih info trivial lah, atau celetukan temen-temen yang asbun lah, atau sekedar dengerin salah satu kakak guide promoin benda-benda rekomendasi dia di shopee dan tiktok WK mangat kakaaaaa ~
Akhirnya setelah sekitar 4 jam, kita sampe di salah satu viewing spot yang juga adalah tempat kita lunch. Beranda restorannya menghadap langsung ke depan area perbukitan, terutama sebuah gunung ikonik bernama Gunung Nona. Dikasih nama 'Nona' tentu saja karena objektifikasi perempuan WK itu lho liat deh bentuknya kayak vulva. Iya dehhh iyaaa.
Tapi ni restoran best banget sih view-nya. Meski jam segitu masih ketutup sisa-sisa kabut tapi sungguh megah. Tunduk kalian semua di depan labia raksasa!!
Sambil nunggu makanan dateng, bapak guide sempet cerita soal pemberontakan DI TII di Toraja yang bikin kita semua bergidik dan yang seagama merasa "hah??" karena disodori fakta oleh warlok keturunannya langsung. Baca ajadah di internet kalo ini. Tar akun gue dibilang (that agama)-phobia pula ya kan.
Salah satu cerita yang menarik dari bapak guide adalah tentang gunung yang ada di deket Gunung Nona. Namanya Gunung Bambapuang. Saat itu puncak Bambapuang ngga begitu keliatan dari samping resto karena ketutup awan.
(Menarik mengetahui di dekat vulva ada tuhan alias even the highest one stand tall in front of our pubes since forever...?)
Bamba artinya bertahta. Puang itu artinya Sang Pencipta. Bambapuang artinya Sang Pencipta bertahta atau tahta sang pencipta. Masyarakat Toraja percaya gunung itu dulu adalah tangga menuju kerajaan langit atau tahta dimana Sang Pencipta berada. Mereka bukan penganut agama abrahamik ya, arah kepercayaannya memang cenderung animisme.
Dahulu kala, masyarakat Toraja percaya kalo penciptaan manusia toraja tuh dari gunung. Lalu suatu ketika ada manusia serakah yang nggamau harta keluarganya jatuh ke tangan orang lain sehingga memutuskan menikahkan sesama anaknya sendiri. Hal ini bikin murka sang pencipta, dinyatakan dosa pertama manusia kala itu. Akhirnya sang pencipta merobohkan tangga yang menghubungkan langit dan bumi yang ada di gunung itu sebagai hukuman.
Waktu cerita ini di kepala gue terputar gambaran bifrรถst-nya Thor. That rainbow bridge yang menghubungkan Asgard ke realm lain. Hmm apakah Thor aslinya adalah manusia thor-aja? Apakah di puncak bambapuang ada bifrรถst????
๐คฏ๐คฏ๐คฏ๐คฏ
Cerita seru disudahi sementara karena makanan sudah datangg. Karena kita lagi di Enrekang, jadi menunya adalah makanan khas Enrekang, namanya nasu cemba.
Nasu itu (sama kayak nasu palekko kemarin) adalah sebutan buat makanan yang ada kuahnya. Nah cemba ini adalah nama taneman, daun cemba. Dia tuh semacam tanaman perdu, daunnya kecil-kecil kayak daun petai cina, baunya seger gitu rasanya asem kecut pas dimakan langsung. Nasu cemba intinya adalah sup dengan potongan daging sapi atau kerbau dan ada daun cemba-nya yang dipercaya bisa menetralisir lemak dari si daging. Gitu.
Rasanya seger, mirip kayak pindang tulang di Palembang. Lebih 'gurih' dan nendang dibanding makanan berkuah di Makassar lainnya. Gue sempet dapet daging yang agak alot tapi daging lainnya empuk dan copot gitu aja dari tulangnya. Nom nom!
Di Toraja, hidangannya mostly daging hewan kaki empat, kayak kerbau, sapi, babi. Kata bapak guide, masyarakat setempat percaya kalo pelihara binatang itu simbol tahapan kehidupan. Pas baru menikah, hewan yang pertama kali dipelihara adalah anjing. Bukan buat dimakan, tapi buat jaga rumah dan bantuin berburu ke hutan. Nanti kalo taraf ekonomi keluarga sudah membaik, mereka akan 'naik level' ke pelihara babi, lalu sapi, dan yang tertinggi adalah kerbau. Kerbau di sini besar sekali lebih besar dari sapi dan amat sangat ditinggikan nilainya. Bisa kebeli rumah petak di ibukota, harganya.
Mereka juga percaya, kerbau itu akan jadi kendaraan mereka menuju dunia roh kembali ke sang pencipta. Semacam ritual penebusan dosa dari kisah bambapuang tadi.
Di sini kita semua nyobain kopi toraja. Gila yah, salah satu highlight perjalanan ini tuh memang kopinya. ENAK SEMUA??? Kayak.. beli random yang di bandara pas gue ketumpahan air panas itu aja enak. Makanya gue sampe bawa pulang 3 bungkus kopi dari dua roastery berbeda saking doyannya.
Selain nasu cemba, restoran ini juga menjual beberapa kudapan khas Enrekang juga. Gue ngga jajan karena kayak... ya masih baru hari kedua ga sii wk. Tapi temen gue ada yang beli bolu gula merah gitu sama semacam dodol. Kudapan manisnya Enrekang ternyata bukan yang manis giung lengket di lak-lakan, tapi manis cukup dengan sdikit hint gurih karena memang tujuannya adalah pendamping minum kopi pahit.
Perjalanan selanjutnya memasuki Toraja memakan waktu sekitar 2,5 jam. Udah kenyang, ngantuk, ya kan.
Tapi ternyata sepanjang jalan mulai seru. Jadi gue ngga merem sama sekali dan sibuk tengak tengok kanan kiri.
Udah mulai keliatan banyak rumah adat dan bapak ibu mondar mandir pake baju adat. Vibes-nya teduh sejuk gitu, no more matahari terik kayak kemarin. Bapak guides juga sesekali cerita soal kehidupan masyarakat Toraja, terutama pas kita ngga sengaja ngelewatin acara hajatan nikahan di pinggir jalan yang bikin macet. Ada satu ibuibu abis kondangan pake pakaian adat, cantiiik banget mana outfitnya tuh match head to toe. Sambil nyirih, sambil berjalan dan ngobrol sama temannya, perempuan tuh emang keren keren dimana aja.
Tapi kata bapak guide, di Toraja tuh pernikahan dirayakan biasa aja, bahkan kadang ngga dirayakan. Mereka lebih merayakan โจkematianโจ
Itulah judul besar dari trip gue kali ini. Funeral ceremony.
Setelah sempet kejebak pohon tumbang sampe harus muter jalan, akhirnya kita masuk ke Toraja, ditandai sama "gapura" alami alias bukit karst dan gereja putih kecil di kakinya. Cantik, tapi gagah. Tapi cantik.
'Toraya Masero', kata bapak guide, artinya toraja bersih. Sambil cengengesan, si bapak nunjuk ke sisi pematang sawah yang mepet jalan besar, di situ banyak sampah plastik. Kata dia "yaaaaa bersih". Wkwk. Gapapa pak, paham kita mah.
Masuk Toraja, hampir semua pemandangan sekitar tuh worth to be taken seriously alias magical banget, beneran kayak di planet lain. Ibarat kata mah lo snap random pinggiran jalan juga cakep. Bukit karst yang mengelilingi area ini kunciannya sih.
Karena itulah juga kita beneran acting like tourist alias liat cakep dikit minta driver berhenti dan turun buat liat-liat atau foto-foto. Bahkan ada momen si bapak driver sampe kudu muter bunderan gitu sekali lagi karena pada mau turun liat patung monumen gitu sekalian ada kolam air mancurnya. Begitu doang ada ceritanya tapi. Namanya patung Lakipadada. Baca sendiri aja yah panjang ceritanya ini postingan masih lebi panjang lagi nanti wk.
Destinasi kita berikutnya adalah dataran tinggi yang ikonik karena di puncaknya ada patung Yesus raksasa. Namanya Buntu Burake.
Jadi pada dasarnya ini tuh wisata religi. Tapi baru beberapa tahun terakhir dibuka buat umum alias semua agama. Mobil cuma bisa parkir di lereng bukit, masih harus agak trekking dikit ke atas buat sampe ke kawasan patung. Tapi aksesnya gampang, tangganya nyaman, trus meski ada matahari terik nyelekit di ketinggian, tapi anginnya enak, ngga lengket di badan. Gue ngga lupa bawa sunnies kali ini, karena sayang banget ngeliat view sebagus itu tapi mata harus micing-micing karena silau.
Sampe atas sih ngga gitu rame yah. Tapi ya ada aja bocil-bocil berisik dibawa ortunya. Di sisi tebing ada pager pembatas yang bawahnya berlapis kaca. Pengen kesitu tapi sayangnya ditutup.
Patung Yesus ini konon tingginya around 40-45m. Klaim-nya sih tertinggi di dunia. Ya dia juga udah ditaro di puncak bukit begitu, dari kejauhan aja udah keliatan tuh tadi pas kita di jalan, padahal kayak masih berjarak beberapa belas menit lagi.
Pose patungnya lagi meluruskan tangan ke depan dengan posisi supinasi, jadi seperti sedang memberkati. Tana toraja diberkati Tuhan Yesus, begitu.
Pengunjung kebanyakan berkerumun di bagian paling bawah patung itu, tapi disediakan juga akses masuk mendekat ke atas ke arah patung dengan bayar sekian ribu (lupa euy dibayarin temen gue) tapi kayanya ngga sampe 20rb. Awalnya naiknya sih ngga susah, mengingatkan gue pada salah satu mercusuar pinggir pantai di daerah Gunung Kidul. Tapi pas puncak tertinggi, tangganya vertikal banget tuh bun, ada banget degdegannya.
Gue cuma berdua sama temen gue cewek juga naik sampe paling atas. Begitu keluar, beuh..... rasanya kayak lagi melayang di atas awan.
Mungkin view-nya ngga beda jauh sama view Toraja lainnya, tapi sudut POV-nya jadi lebih gede dan lebih ((merinding)) aja. Udah gitu ngeliat ke atas kerasa deket sekali dengan tangan Tuhan. Ngga boong, ini momen agak emosyenel dikit karena rasanya di ketinggian se-tinggi ini tuh badan gue lagi ngawang sengawang pikiran gue ๐
Trus kan ini tinggi buanget yeh. Jadi anginnya beuuuuuuuh melayang semua rambut baju gue berkibar ngga kekontrol. Apalagi kalo gue lagi jalan muter yang ngelawan arah angin, aduh rasanya kayak gue ketiup. Beberapa kali bahkan gue literally geser sekian cm karena ketiup. Gue cuma sekali dua kali aja ngeluarin hp buat foto, sisanya ngga berani karena takut hp gue terbang.
But it was magical, really.
Abis puas sekian puteran tawaf di puncak, kita turun dan balik ke rombongan. Ada beberapa sudut viewing spot yang ngga kalah magical, katanya kalo malem lebih cantik lagi karena banyak lampu-lampu kota keliatan dari atas. Ah, pasti sih.
Setelah muterin semua sudut dan matahari juga muali teduh, kita balik ke mobil untuk lanjut ke destinasi berikutnya. Kali ini jaraknya ngga begitu jauh, ngga sampe sejam.
Kita sampe di destinasi terakhir sebelum dinner, namanya Lemo.
Lemo adalah tempat pemakaman batu. Ini juga salah satu tempat yang gue baca di Bobo waktu itu. And I still couldnt believe I was finally there ๐ฅฒ
Katanya dikasi nama Lemo karena tebingnya bolong-bolong mirip jeruk limau atau lemo. Tempatnya beneran dikelilingi tebing karst dan hampir semua sisi tebing sudah ada 'penghuninya', alias jenazah.
Kayanya mulai dari destinasi ini, gue dan mungkin hampir semua temen gue merasakan mixed feelings, kayak... ini tuh pemakaman, something closed to sad and dark emotion, tapi kalo denger ceritanya si bapak guide tuh kayak ngga sesedih itu. Jadi beberapa kali gue bahkan bingung mau berekspresi apa pas foto bareng mandatory di depannya. Harusnya tuh sedih ga si? Eh apa gmn?
Tapi bapak guide yang sepertinya menangkap kebingungan ini nyeletuk,
gapapa senyum aja, kematian di sini itu dirayakan kok. Bukan ditangisi.
Ah :')
Pemakaman di tebing batu ini namanya Liang Pa', atau gua yang dipahat. Yang di Lemo ini udah dari abad ke-16, cenah. Jadi dinding tebing itu bener-bener dipahat, buat masukin jenazah. Satu liang itu biasanya diisi jenazah satu keluarga. Setelah masuk agama samawi, beberapa masyarakat setempat mulai ada yang memakamkan keluarga mereka di tanah, tapi masih banyak juga yang sampe sekarang punya tempat di Liang Pa' dan prefer menyimpan keluarganya di sana, salah satunya karena ngga selembab di tanah sehingga bentuk jenazah lebih awet. Alasan lainnya karena mereka percaya kuburan itu adalah rumah, jadi mereka mau bisa berkunjung kapanpun ke rumah dan ketika mereka meninggalpun maunya ada di ruangan seperti rumah, bukan di tanah.
Kata bapak guide, dimanapun orang Toraja meninggal, jenazahnya harus kembali ke tanah dimana plasentanya dikubur atau dengan kata lain ya tanah kelahirannya. Kecuali memang ngga memungkinkan, jenazahnya bisa dimana aja tapi nanti tetep diritualkan di tanah kelahirannya.
Orang Toraja percaya kalo kematian itu bukan akhir, tapi justru awal dari kehidupan yang baru.
Di bawah tebing itu ada benda seperti rumah adat yang ukurannya ngga begitu besar. Itu adalah 'keranda' yang dipake buat bawa jenazah sebelum ditaro di liang. Konon keranda ini konsepnya sekali pake, jadi kalo udah dipake ya ditaro gitu aja di deket makamnya.
Nah, di foto kedua yang tengah, itu ada bolongan yang ada manekinnya. Itu namanya Tao-Tao atau Tau-Tau.
Tao-tao adalah patung yang dipahat, biasanya dari kayu nangka, yang merupakan personifikasi orang yang meninggal itu. Jadi dia dipahat menyerupai jenazah, dan dipakaikan pakaian jenazah selama hidup. Kalo tao-tao versi dulu mungkin lebih abstrak bentukannya. Tapi tao-tao makin kesini makin mirip manusia wujudnya. Pahatan wajahnya lebih spesifik, lebih realistik, dan tentu at first, lebih kerasa creepy.
Kata bapak guide, pada masa itu belum ada teknologi foto, jadi satusatunya cara mereka memelihara ingatan akan penampilan keluarganya adalah dengan memahatnya.
Tapiiiii ngga semua makam boleh dibikinin tao-tao. Yang boleh dan bisa bikin hanyalah keluarga bangsawan, orang penting dan keturuannya, daaan, di satu upacaranya harus dipotongkan minimal 24 kerbau. To put a context, harga kerbau di sana bisa sampe 700 juta per ekor. Nanti gue bahas lebih detil soal ini.
Si keranda tadi juga kalo ukurannya besar, itu motong 24 kerbau juga. Kalo ukurannya kecil, itu 12 kerbau.
Kalo diperhatiin, tangan tao-tao itu posisinya yang kanan di atas, yang kiri di bawah. Itu simbol bahwa leluhur tuh kasih berkat dari atas untuk yang masih hidup di bawah.
Agama kepercayaan asli orang toraja itu namanya Alok Todolo. Tapi, beberapa orang yang sudah menganut agama abrahamik misalnya kristen, tetep ada yang menjalani ritual pemakaman semacam ini. Bedanya biasanya keliatan dari tao-tao yang dibuat itu posenya bersimpuh.
Nah kalo yang dimakamkan adalah rakyat jelata biasa, bentuk makamnya ya bolongan petak gitu aja. Ngga ada tao-tao-nya, kayak di foto paling kanan. Di berbagai sisi tebing lainnya banyak yang begini. Ukurannya sebenernya ngga besar, tapi ketika udah sisa tulang belulang aja ya masuk akal kalo di dalem situ bisa naro satu keluarga dari beberapa generasi.
Kebayang ngga mahatnya gimana? Gue jujur engga, tapi bapak guide menjelaskannya dengan sangat mudah. Proses nyiapin batu sampe bolong juga beberapa minggu sampe bulan. Keren, sih.
Selama di Lemo, cuacanya makin sejuk karena menuju ke sore. Jujur bikin auranya jadi makin cocok. Kayak... creepy tapi nyaman tapi creepy gimana yak. Pada dasarnya itu kan pedesaan ya, jadi wangi daun, angin adem, suara-suara burung hewan dll tuh ada banget. Tapi pemandangan yang lo liat tuh kuburan. Harus ngerasain sendiri sih biar kebayang.
Gue dan tementemen muterin banget itu tebing sampe akhirnya ada akses turun ke bawah dan ngelewatin beberapa toko sampe akhirnya ada pematang sawah dengan sawah yang keliatannya baru kelar panen.
Btw di sore itu entah kenapa toko-tokonya dibuka dan semua display barang ada tapi ngga ada yang jaga. Masalahnya yang dijual tuh... tao-tao dan benda-benda pahatan lainnya yang menyerupai hewan atau ukiran simbol-simbol yang gue gapaham. Bayangin nih ada toko jual patung kayu bentuk manusia, seukuran manusia pula, trus beberapa ngga ada lampunya alias cuma pake cahaya matahari, dan itu udah sore which matahari mulai rendah, trus gaada yang jaga. Trus sekitarnya juga hampir ngga ada orang dan ngga ada suara apa-apa.
Satu-satunya mahluk hidup yang keliatan di situ cuma dua ekor adek lucu alias asu yang lagi leyeh-leyeh.
Bagus banget ini buat opening scene film-film tribal thriller....
(ngaaaaa)
Akhirnya kita ketemu deretan toko yang ada manusianya, ada lampunya, dan ada 'silakan mampir lihat lihat dulu boleh'. Bahkan ada salah satu ibu penjual dengan semangat memeragakan cara merajut kain dari serat bambu.
Gue sempet jajan kain di sini karena selain motifnya gemas, bahannya nyoy banget. Selain kain, setelah jalan-jalan muterin berbagai toko, gue juga jajan biji cokelat yang bisa langsung dimakan as it is. Unik banget!
Sebenernya gue kepo sama salah satu buatan ibu penjual yang bentuknya wine. Dia ngga cuma pake anggur, tapi ada juga yang dicampur pisang, lemon, apel, dll. Hampir banget gue beli kalo ga mikirin bawanya gimana botol kaca begitu since gue cuma bawa bagasi kabin berbentuk ransel.
Gue juga nyari gantungan kunci tao-tao tapi maunya yang kayak patung kayu biar lebih otentik. Sayangnya yang dijual kebanyakan yang terlalu mirip manusia dan dibajuin terlalu rapih.
Oh kita juga sempet mampir liat bapakbapak pembuat tao-tao yang lagi nyiapin pesenan. Seru sekali.
Karena hari makin gelap dan kita nggamau kemaleman di kuburan, kita balik ke mobil dan bersiap menuju tempat dinner.
Dari Lemo ke tempat makan juga ngga sampe sejam. Kayanya perjalanan kali ini kerasa banget capeknya mungkin karena jalanan juga meliak-liuk yah. Jadi pas nyampe udah lowbat semua posisinya.
Tempat makannya sih lebih ke kafe, sebenernya. Gue bisa liat di temboknya banyak sertifikat terkait kopi. Karena penasaran, gue beli aja satu bungkus minta digilingin buat geng serumah.
Gue lupa di sini gue makan apa tapi kayanya nasi goreng merah deh. Trus yaudah aja makan, sambil ngobrol-ngobrol, sambil manas-manasin salah satu kakak guide buat buka trip Banggai tapi sampe Mbuang-mbuang ๐ trus si kakak juga cerita pengen buka ke Mentawai juga tapi belum. Ah itu juga bolela!
Kelar makan ternyata energi recharged. Jarak dari kafe ke hotel cuma 15 menit tapi naik mobil aja biar ngga ribet bawa barang. Kita check in dulu, taro barang, trus karena masih sore juga tuh belum jam 8, kita keluar lagi buat eksplor sekitar sambil jalan kaki. Ini di luar itinerary sih.
Tapi surprisingly, fun!
Awalnya kita juga nggatau mau kemana, cuma taunya jalan ke arah keramaian aja. Beberapa kali kita papasan sama bule-bule yang juga jalan ke arah yang sama. Tadinya ketemu kafe lagi ada live musicnya, konon itu kafe punya... parjo. Gkdl.
Trus pas salah satu ada yg cek map, ternyata di depan lagi ada alun-alun. Pas kita kesana, rejeki banget lagi ada semacam pasar malem daaaaan
ada yang lagi nari!!!
Jadi awalnya ada sekumpulan anak muda membentuk lingkaran dengan diiringi lagu yang sama diulang-ulang. Gerakannya dominan di kaki dan hentakan badan tapi tipis-tipis banget. Sepanjang mereka nari, ada satu dua atau lebih orang dari barisan penonton yang masuk ke dalem lingkaran untuk ikut menari. Gitu teruuuss sampe lingkarannya membesar. Konsepnya mirip sekali dengan flashmob.
Kata bapak guide, itu namanya tari Dero. Bukan tarian dari toraja, sebenernya. Tapi dari Suku Pamona di Poso. Tarian syukur dan pemersatu, katanya.
Kita sempet amazed lama banget ngeliatin betapa effortless-nya sampe gue aja sempet mengira yang baru pada masuk lingkaran itu sebenernya talent yg sama wk padahal murni kaga kenal, cuma orang lewat yang pengen gabung aja. Trus semuanya gerak as if itu kegiatan hari-hari dan semua bisa melakukannya in harmony dalam hitungan detik. I mean, look at this.
Tapi emang sih orang timur tuh kalo udah nari dan nyanyi... beh. Juarak!
Tarian sebenernya belum selesai, tapi kita memutuskan eksplor dulu aja liat-liat ada jualan apa. Sayangnya, isinya ngga ada yang menarik banget sampe pengen dibeli. Mostly jajanan nasional aja kayak gorengan, risol beraneka isi, dimsum, sosis bakar dll gitu-gitu aja. Nothing new. Tapi tentu, selalu ada yang menyenangkan melihat orang sedang senang-senang. Jadi tetep seru.
Pas kita ngelewatin area nari tadi, mereka masih menari dan lingkarannya udah memenuhi lapangan utama itu. Gede banget. Gemasss.
Karena udah makin malem dan besoknya ada agenda berangkat subuh, kita jalan balik ke hotel. Mampir indomaret bentar beli jajan-jajan dan gue akhirnya ambil cash. Karena udara malem itu dingin, gue juga jadi pengen popmi. Ya masa di dataran tinggi ngga ngemil popmi ya khaan. Trus udah deh ke hotel.
Hotel kali ini konsepnya kayak cottage. Bedeng-bedeng gitu. Konon ini salah satu yang terknal dan jadi inceran bule-bule. Pas masuk, kita disambut anjing hitam besar yang gemasss namanya Tor (i mean, of course). Sayangnya dia agak galak karena sebel lagi enak-enak tidur eh ada rombongan dateng. Wk.
Sebagian tementemen gue dah pada masuk kamar. Tinggal gue dan tiga temen gue beserta satu kakak guide. Mam popmi.
Kelar mam popmi, gue masuk kamar.
Kamar mandinya tuh gemes banget deh, masa jarak antara toilet sama shower dibatasin sama sejenis batu? Beneran kasar?? Wk ya bagus sih jadi ga licin. Tapi kaget aja kayak... angling dharma vibes gitu.
Tapi yang lebih bikin gue kaget adalah, pas gue mau nutup pintu, di cantelan belakang pintu gue ada kolor.
Kolor warna ijo.
Literally, kolor ijo.
Jujur kalo trip ini bapuk atau agentnya kayak yang sebelumnya, gue pasti uda tantrum minta pindah kamar. Tapi karena gue had so much fun dan gue tau masalah ini akan ditangani dengan baik, gue cuma foto lalu kirim ke grup sambil dibecandain. Ya geli sih, ada sempak orang di dalem entah bekas siapa, tapi yaudah. Gue ga sempet megang juga dan gaakan gue biarkan gue kepegang juga.
Setelah heboh di grup, kakak guide langsung bilang dia mau ambil. Tapi karena posisi gue udah setengah bugil mau mandi, yauda gue pungut tu benda pake tisu berlapislapislapis (sampe tisu gue hampir abis), trus gue lempar ke luar kamar nyangsang di bawah pot. Kata kakak guide, resepsionis udah minta maap karena kurang teliti. Dia aja mungut tu benda pake... sapu wk.
Yauda aja abistu gue lanjut mandi dengan tidak menutup pintu karena gue gamau liat tkp kolot ijo itu. Meski tementemen gue lainnya ikutan marah dan ngomel, gue sebel dikit aja abistu sisanya diketawain aja. Ya kok bisaaa gue nemu kolor ijoooo wk mana tu kolor gede banget ges asli. Karetnya keliatan molor. Buto ijo fix. Takod.
Oh iya air angetnya juga ngga cukup anget sebenernya. Tapi yaudahlah. Gue ngga kedinginan banget juga.
Yaudah, gue mandi, trus tidur. Besoknya harus bangun subuh, soalnya.
Akan dilanjutkan di hari berikutnya yang jauh lebih seru! Nantikan!!