Sore tadi kami sowan ke rumah ketua yayasan tempat suamiku bekerja. Beliau juga adalah salah satu Ustadz yang mengajar dan mengurus ma'had (pondok pesantren, biasanya berbentuk semacam asrama) tempat dulu suamiku tinggal (dan belajar) saat kuliah. Sebut saja Ustadz Y. Beliau ini tidak terlalu asing juga bagi keluargaku sendiri. Beliau cukup terlibat di lingkaran pertemanan kerja orang tuaku. Beliau juga yang dulu mengurus pelatihan dan keberangkatan haji kedua orang tuaku.
Saat mengetahui suamiku menikah dengan putri dari kedua orang tuaku, kalimat yang dilontarkan Beliau adalah:
"Ini anaknya yang masuk rumah sakit H-2 orang tuanya berangkat haji bukan ya?"
(jawabannya, iya. Akulah yang malah kena DBD H-2 Bapak dan Ibuk berangkat haji)
Suamiku punya pribadi yang supel. Bertemu manusia lain adalah caranya mengisi daya hidup. Aku menghela napas panjang membaca pesannya siang tadi yang menginfokan tentang agenda silaturahim ini. Di sisi lain, ini adalah tanggung jawab yang harus kuambil setelah di tahun 2022 dengan asbunnya aku menyeletuk ingin punya pasangan di spektrum ekstrovert.
Ustadz Y (juga) orang yang supel. Kalimat yang pertama kali kudengar di ruang tamunya adalah,
Dari serangkaian obrolan, aku menyimpulkan sementara bahwa Beliau ini adalah tipikal guru yang disiplin dan galak luar biasa soal aturan--tapi juga jadi yang paling peduli dan pengertian terhadap kondisi muridnya.
"Waktu Fahrudin matur dia akan menikah, saya kaget. Siapa perempuan yang mau dibawa ke pelosok sana?"
Aku memaksa dahiku untuk tidak bertindak spontan dan mengernyit.
Rumah keluarga suamiku memang ada di pedalaman Way Kanan. Masuknya jauh dari jalan utama. Sejauh mata memandang, lebih banyak hamparan kebun karet dan sawit daripada rumah ataupun warung. Jalan masuknya sudah bagus, beraspal atau dibeton. Tapi listrik belum masuk, sinyal minim sekali.
Aku tidak suka pernyataan Ustadz Y. Bagiku, kesannya merendahkan keluarga suamiku, meski itu mungkin pernyataan yang cukup netral. Orang yang terbiasa serba berkemudahan tentu cenderung sulit beradaptasi dengan kondisi tanpa listrik dan alat-alat rumah tangga elektronik.
Keadaan tempat tinggal keluarga suamiku sudah kuketahui tidak lama setelah kami berkenalan. Hal pertama yang kupikirkan adalah,
"Hah, masih ada daerah tanpa listrik di Lampung?"
Sisanya, aku lebih dipenuhi rasa penasaran tentang cara-cara hidup di sana serta bagaimana rasanya slow living yang sesungguhnya itu, tanpa banyak radiasi dan distraksi.
Pembicaraan dengan Ustadz Y dan istrinya bergulir ke arah wejangan-wejangan pernikahan. Rupa-rupanya Beliau berdua mengkhawatirkan kesenjangan ekonomi dan latar belakang di antara aku dan suamiku yang menurut mereka sangat berpotensi menimbulkan pertikaian dalam rumah tangga.
Aku sepertinya gagal mencegah keningku untuk mengernyit di beberapa bahasan, seperti ketika Ustadz Y dan istrinya bertanya,
"Waktu pertama kali ke sana, kaget, nggak?" serta beberapa pertanyaan lanjutan yang seolah mengejar dan menelisik kesenjangan dan pertikaian yang mereka hipotesiskan sepihak itu.
"Biasa saja, karena sudah pernah diberi tahu sebelumnya," jawabku.
Aku tidak pandai berbohong. Kalau kubilang biasa saja, ya memang karena biasa saja. Pertama kali ke rumah keluarga suamiku, aku lebih dipenuhi rasa takut tidak disukai keluarganya daripada rasa takut disuruh hidup tanpa listrik.
Aku tahu aku lahir di keluarga ekonomi menengah dan sejak kecil aku dipenuhi kemudahan material. Bahkan dalam keluarga intiku sendiri, seumur hidup aku dikatai 'anak kaya'--karena lahir saat keadaan ekonomi keluargaku mulai naik--tidak seperti kakak perempuanku yang sempat 'hidup susah'. Saat aku lahir, orang tuaku sudah punya mobil. Lalu saat umurku 2 tahun, rumah orang tuaku selesai dibangun dan kami pindah.
Tapi apakah sebuah dosa--dilahirkan dalam keluarga ekonomi menengah? Menurutku manusia tidak punya banyak kontrol tentang keadaan ekonominya di dunia. Aku percaya Tuhan adil dan punya semua pertimbangan untuk melahirkan manusia dalam keadaan miskin atau kaya--tapi aku juga percaya otak manusia tidak dirancang untuk memahami setinggi itu.
Tuhanku adil, tapi hidup akan selalu terasa tidak adil bagi manusia.
Karenanya aku tidak terlalu mengerti persepsi yang membeda-bedakan nilai manusia dari keadaan ekonomi. Apa yang mau dibanggakan atau direndahkan dari sesuatu yang kamu tidak terlalu punya kontrol atasnya?
Dalam kasusku, apa yang mau kubanggakan dari segi harta, kalau sebagian besar harta dan kemudahan itu berasal dari keberuntungan terlahir dari orang tuaku?
Kami masih berada di ruang tamu Ustadz Y. Obrolan bergulir ke cerita tentang perjalanan hubungan Ustadz Y dan istrinya--yang menurut mereka, punya kesenjangan yang mirip. Ustadz Y berangkat dari keluarga yang harus mengusahakan segala sesuatu, sementara istrinya lahir dari keluarga yang serba berkecukupan. Terselip juga salah satu contoh perbedaan yang ada, seperti tentang kebiasaan mengeluarkan uang.
Aku mengangguk dan mengakui perbedaan itu hadir di antara aku dan suamiku, tapi aku tetap mengernyit ketika Ustadz Y menyebut,
"Misalnya, belanjanya boros, gitu."
Perihal uang, memang sensitif. Tapi aku menikah dalam keadaan berpenghasilan. Tanpa menikah, secara finansial aku sudah bisa hidup cukup mandiri. Sendirian. Peraturan yang kutetapkan adalah, selama kebutuhan rumah terpenuhi dengan baik dan aku masih punya tabungan setidaknya sepuluh kali gaji pokokku--aku bebas membelanjakan sisa uangku. Uangku, ya. Tidak termasuk uang dari suamiku.
Batasan lain yang kutetapkan adalah: uangku tetap kugunakan untuk kehidupan sehari-hari (yang dalam aturan agama, seharusnya ditanggung penuh oleh suami), tapi suamiku tidak boleh secara verbal memintaku untuk melakukannya. Suamiku tidak punya hak mengatur uang-uang yang kuhasilkan dari keringatku, dan akupun tidak mengatur bagaimana suamiku membelanjakan uang hasil kerjanya. Aku diajari ibuku untuk menagih nafkah--karena itu tetap tanggung jawab suami yang akan dipertanyakan di hadapan Tuhan, tapi tidak pula kutetapkan seenak jidatku besarannya atau kuakusisi seluruh pendapatannya.
Setiap rumah tangga punya aturan finansial masing-masing, dan yah, sementara ini, finansial rumah tanggaku baik-baik saja. Aku masih terus belajar untuk lebih bertanggung jawab secara finansial dan meningkatkan tabunganku, tapi aku sedang tidak berselera mendengarkan penghakiman orang lain.
Kurasa dahiku sudah resmi melahirkan keriput karena lagi-lagi mengernyit pada bahasan pekerjaan domestik. Kami sedang membahas perilaku menantu perempuan di rumah mertua. Kebetulan lebaran tahun ini, kami mudik ke rumah keluarga suamiku dan tinggal 4 malam di sana.
"Kemarin sebelum berangkat, saya tanya Mas Fahrudin, saya harus melakukan apa saja, karena itu rumah keluarganya dan saya tidak tahu apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak," ceritaku.
"Tapi kemarin dia tetap jadi princess karena kakak-kakak kami banyak. Dia tidak boleh pegang apa-apa di dapur," sambung suamiku.
"Ya itu kan karena kamu menantu baru. Tapi pandangan mertua tetap ada, tidak bisa begitu terus,"
"Ada tuh, teman saya, dia dari keluarga yang kaya raya yang tidak pernah pegang pekerjaan rumah sama sekali. Terus qadarullah menikah sama suami yang istilahnya orang kampung banget gitu ya. Sebelum nikah dia benar-benar prepare. Sampai beli periuk buat masak di tungku dan latihan cuci baju pakai tangan. Alhamdulillah ketika dia mesti ikut suaminya tinggal di desa, kemarin waktu ngobrol, dia sudah bisa masak macem-macem."
"Jadi gitu, ya, memang harus effort."
Entah karena hormon-hormon fase luteal atau susunan planet dan perbintangan--di momen itu aku merasa tersinggung.
Pertama, aku merasa dianggap tidak pernah pegang pekerjaan rumah sama sekali. Monmaap, niy, pekerjaan domestik bagiku adalah basic survival skill. Semua orang harus bisa,
Kedua, dengan sepihak mereka menentukan bahwa keluarga suamiku sudah pasti memiliki pemikiran buruk terhadap 'menantu-orang-kota-yang-tidak-bisa-apa-apa'. Kemungkinan itu selalu ada, dan pemikiran soal itu sudah otomatis ada di kepalaku. Tapi keluarga suamiku begitu baik memperlakukanku--dan dari cerita-cerita suamiku, memang dasarnya saja mereka baik seperti itu. Aku tidak dibiarkan melakukan pekerjaan domestik di rumah mereka bukan semata basa-basi.
Ketiga, aku merasa dihakimi tidak memberikan usaha (atau katanya, 'effort)--yang cukup.
Meski ada tiga keriput baru di dahiku, aku hanya diam dan tersenyum. Sopan santun. Tidak sampai hati aku menyakiti hati suamiku dengan membantah sosok-sosok yang dihormatinya. Lagipula, buat apa? Orang-orang ini terlalu asing buatku untuk mementingkan penilaian mereka terhadapku.
Kami pamit pulang setelah berfoto--akhirnya.
Dalam perjalanan pulang, tidak kubahas perihal perasaanku sebelum kemudian suamiku menggerutu sepenuh hati,
"Padahal kamu sudah jadi menantu yang sangat baik. Huh, jangan meragukan istriku."
Wajahku membentuk keriput lagi, tapi kali ini di garis senyum.
Selama di rumah keluarganya, suamiku beberapa kali memelukku sambil berkata, "Ah, Ayank keren banget. Terima kasih, ya, sudah menjadi menantu yang baik untuk Biyung."
Yang bagiku biasa dan sewajarnya saja, ternyata bagi suamiku adalah sesuatu yang patut diapresiasi.
Maka akupun akan terus belajar setiap hari untuk bisa dengan tulus dan penuh mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku cukup.
Bandar Lampung, 28 Maret 2026