Yang Kukembalikan Pada-Mu
Angin sore menyusup melalui celah jendela kamar, membawa aroma tanah basah yang samar. Di atas meja belajar, secangkir coklat panas mengepul pelan, sementara halaman-halaman buku catatan terbuka tanpa sengaja. Tanganku berhenti di atas kertas, seolah menunggu waktu yang tepat untuk mulai menulis.
Aku menarik napas panjang.
Sudah berapa lama aku memendam ini? Berapa lama aku berpura-pura tidak apa-apa, sementara hatiku menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar kuhapus?
Di luar, langit berubah warna. Jingga bercampur ungu, seperti dua perasaan yang tak ingin bertabrakan, tapi juga tak bisa benar-benar menjauh. Dan di momen itu, aku menyadari sesuatu yang sederhana namun berat untuk diakui:
Bahkan sejak dulu. Yang terasa selama ini bukanlah amarah, bukan pula dendam.
Yang ada hanyalah ingatan yang sesekali kembali. Tentang kata-kata yang pernah menyakitkan, sikap yang pernah membuatku merasa kecil, dan tindakan yang dulu kucoba maklumi, meski kini terasa begitu jelas meninggalkan luka.
Aku memejamkan mata. Bukan untuk menghapus ingatan itu, tapi untuk berdamai dengannya.
"Aku memaafkan," bisikku, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada siapa pun.
Ada jeda yang panjang antara memaafkan dan mengikhlaskan. Tapi hari-hari yang kulalui perlahan menuntunku pada proses itu. Ada sesuatu dalam diriku yang akhirnya mampu berkata, “Relakan. Bukan untuknya, tapi untuk dirimu sendiri.”
Aku tersenyum tipis. Bukan karena semuanya tiba-tiba ringan, tapi karena aku tahu aku sedang melangkah ke arah yang benar.
Aku pernah berusaha keras mengubah banyak hal. Mengubah sikap seseorang, mengubah cara orang memperlakukan aku, bahkan mengubah jalan cerita yang sebenarnya sudah jelas bukan untukku. Hingga pada akhirnya, aku belajar bahwa kendali itu bukan milikku.
Itulah sebabnya, aku memilih mengalah. Bukan tanda kekalahan, tapi bentuk penghormatan pada diriku sendiri.
“Aku punya rencana,” kataku pelan, “tapi Allah pemilik kuasa.”
Kalimat itu terasa menenangkan, seperti meletakkan beban di tempat yang semestinya.
Aku menatap langit yang perlahan gelap. Malam membawa kesunyian yang mengizinkan seseorang berbicara dengan dirinya sendiri tanpa terdengar egois.
Segala hal yang menyesakkan, segala hal yang membingungkan, segala hal yang pernah membuatku terjatuh, malam itu aku serahkan semuanya pada Tuhan. Tak ada lagi yang perlu kupertahankan. Tak ada lagi yang perlu kusimpan.
"Maaf, ya Rabb," suaraku nyaris tenggelam oleh suara azan yang mulai berkumandang dari kejauhan,
"karena aku sering lalai. Sering menjauh. Sering lupa bahwa Engkaulah tempatku kembali."
Di saat itulah, rasanya aku benar-benar ditatap dengan kasih sayang.
Teguran-Nya bukan untuk menyakitiku, tapi untuk menyadarkanku bahwa aku berjalan terlalu jauh dari cahaya-Nya.
Aku membuka mata. Menatap halaman kosong di buku catatan. Lalu menuliskan kalimat pertama malam itu:
“Untuk segala hal yang telah terjadi, aku memaafkan. Dan aku kembali pada-Mu.”
Di luar sana, malam turun dengan lembut. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatiku merasa tenang.