الأمانُ أعلى منزلةٍ من الحب، فلا تقترب حين تنبهر، اقترب فقط حين تطمئن
Rasa aman adalah fase yang lebih tinggi daripada cinta. Jangan mendekat saat kamu terpesona, mendekatlah hanya saat kamu merasa damai.
Game of Thrones Daily

roma★
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Not today Justin
Lint Roller? I Barely Know Her

Jar Jar Binks Fan Club

if i look back, i am lost
ojovivo
noise dept.

❣ Chile in a Photography ❣
RMH
Cookie Run:Kingdom Official!
h
Sweet Seals For You, Always

pixel skylines
Phantogram Three
The Bright Sessions
official daine visual archive
I'd rather be in outer space 🛸
Fai_Ryy

seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from Bangladesh
seen from United States

seen from Ukraine

seen from United States

seen from Russia
seen from United States
seen from Ecuador

seen from Malaysia
seen from Iraq

seen from United States
seen from Iraq

seen from Malaysia
seen from Mexico
seen from Canada

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from India

seen from Malaysia
@mencaritenang
الأمانُ أعلى منزلةٍ من الحب، فلا تقترب حين تنبهر، اقترب فقط حين تطمئن
Rasa aman adalah fase yang lebih tinggi daripada cinta. Jangan mendekat saat kamu terpesona, mendekatlah hanya saat kamu merasa damai.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kiamat Jiwa
Ter-summon Kak @yunusaziz di postingan terbarunya dan kebetulan ada bahan tulisan yang mengendap di draft, jadilah aku mencoba membantu menambahkan alternatif jawaban. Disclaimer, ini juga bukan jawaban orisinil dariku, tapi hasil sintesis dari pemikiran orang-orang.
Pertanyaan sang penanya seperti ini:
Pikiranku langsung connect ke kutipan dari akun instagram seorang coach kesadaran, (at)muhammadfahmico, yang isinya:
"Ketika kamu ingin mengalami realitas eksternal yang baru (misal dari jomblo jadi menikah, dari jobless jadi bekerja) maka hal pertama yang harus diubah adalah realitas internalnya terlebih dahulu, berupa identitas, pemahaman, emosi, pemikiran dan keseluruhan identifikasi atas itu semua yang merupakan diri fiksi kita."
Kalau orang mau menarik rezeki, jodoh, jabatan, pekerjaan, dan pertolongan Allah lainnya, maka dia harus masuk ke state kesadaran tertentu (catat: taqwa = consciousness). Ketika diri fiksi versi lama kita runtuh, maka akan lahir diri kita dengan versi yang lebih baru, dan tentunya dengan realitas yang baru juga.
Selaras dengan penelitian yang sedang aku kerjakan, di antaranya ada ayat yang pernah aku kumpulkan mengenai hak istimewa orang yang bertakwa (orang yang berkesadaran):
Allah akan memberikan jalan keluar baginya dan akan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah akan memudahkan pekerjaannya. Allah akan menghapus dosa-dosanya dan menambah pahala atas amal-amalnya. (65:2-5)
Kami (Allah dan 'aparat-Nya') mudahkan baginya jalan menuju kemudahan. (92:5-7)
Allah akan memberikan furqan atau akal budi (judging ability dan kemampuan decision making) dan akan menghapus serta mengampuni dosa-dosa. (8:29)
Satu hal lainnya yang langsung terkoneksi adalah postingan lama dari akun X Kak Tika Almira yang pada intinya menjelaskan, alih-alih fokus untuk mencari jabatan, fokuslah untuk memperbesar tabungan jiwa. (logika yang sama bisa di-apply untuk konteks pekerjaan tetap, jodoh, dll.)
Kenapa nasihat ini ngena banget? Karena hari ini banyak anak muda yang fokusnya pada personal branding dan mencari rezeki semata tapi wadah rezeki atau tabungan jiwanya gak ditambah. Gurunya Kak Tika (Pak Ridwan) menggambarkan ini ke dalam bagan 3 dimensi.
Dewasa ini kita banyak melihat orang "meminta jabatan" (atau pekerjaan, atau jodoh) atau "menampilkan dirinya" lebih besar dari tabungan jiwanya sendiri. Entah emang narsistik atau over valuing dirinya sendiri, tapi intinya nggak ber-haunan (nggak memiliki self awareness yang berketuhanan).
Banyak yang sampai mati-matian mengubah aturan dan menempuh jalan yang tidak dibenarkan secara moral, agar tabungan jiwa yang minim itu dipaksakan untuk "membayar" apa yang hendak dia peroleh. Artinya sebenernya kapasitas dia belum di situ.
Padahal ya sebuah posisi pilihannya cuma dua: memuliakan atau menghinakan. Kalau tabungan jiwa kita lebih kecil dari posisi kita hari ini, biasanya "utang" itu harus dibayar di kemudian hari. Cepat atau lambat, kekurangan itu akan muncul dalam bentuk konsekuensi. Entah berupa hilangnya integritas, rusaknya karakter, runtuhnya kepercayaan, atau penderitaan yang harus ditanggung di kemudian hari (kalau kitanya nggak menyusul bertumbuh).
Lagipula, menurut Carl Jung, perkembangan eksternal yang nggak diimbangi perkembangan kesadaran bisa menimbulkan ketidakseimbangan. Kita sama-sama tau bahwa jabatan, kekayaan, atau relasi baru pasti datang dengan tuntutan psikologis baru.
Sebenarnya bisa aja rezeki-rezeki itu datang waktu kitanya belum siap. Maka aku sepakat dengan Kak @yunusaziz di postingan terbarunya tentang mempersiapkan.
Jadi kalau kapasitas jiwanya belum berkembang tapi waktu dan takdir udah keburu menghadirkannya, outcome-nya entah bakal anxiety, depresi, narsis, atau hampa. Intinya nggak balance. Diagram ini mungkin bisa membantu memetakan skill dan challenge kita ada di spektrum mana. Penjelasannya cari aja di google.
Maka ber-isti'ablah (tingkatkan kapasitas diri). Semakin matang kapasitas batinnya untuk memikul amanah, Allah akan membukakan pintu-pintu baru dalam hidup. Based on diagram ini, makin high skill-nya, maka bakal semakin mudah (dibukakan pintu kemudahan). Dan semakin skill issue, bakal semakin takut menghadapi realitas eksternal yang baru (contoh: takut menikah).
Dan latihlah diri untuk peka dengan ayat/tanda kekuasaan Allah (not in a geer way) tapi dengan cara yang membuat kita mampu melakukan refleksi, retrospeksi, introspeksi, dan prospeksi secara adil dalam pikiran. Mana tau ternyata emang ada hal-hal yang dilakukan (in present) yang justru kontraproduktif dengan tujuan yang mau dicapai.
Terakhir, aku connect juga ke postingan Abdur Arsyad (ada di highlight ig beliau) mengenai rezeki yang datang lewat jalur silaturahmi. Intinya, jalan rezeki mah banyak dan semoga dalam menempuh jalan itu, kita nggak sambil menjauhi Sang Pemilik Rezeki.
Selamat menghidupi hidup dan stay excited!
— Giza, mengoleksi permata hikmah di kehidupan orang yang udah lebih dulu hidup
الوقت جزء من العلاج
Kebiasaan baru yang sedang coba saya biasakan saat ini adalah: memperlambat ritme.
Kebiasaan itu lahir dari satu malan, ketika itu saya coba merenung "Kenapa jika ada yang mengatakan kita hidup dengan linimasa dan lintasan pacu masing-masing, kenapa seolah kita harus berpacu dengan orang lain?"
Sampai saya menyadari, bahwa memang ada semacam pergeserah tren hidup yang menuntut untuk segalanya serba cepat. Cepat sukses, cepat mengambil keputusan, cepat merespons segalanya. Seakan-akan mengambil jeda sejenak saja adalah sebuah bentuk ketertinggalan. Kita tanpa sadar terseret ke dalam ilusi bahwa siapa yang paling cepat sampai adalah juaranya.
Padahal, memaksakan diri untuk terus berlari sprint di lintasan yang sebetulnya adalah marathon, saking terburunya bahkan dalam ajang laripun ada tempat untuk beristirahat bahkan mengisi energi lagi. Dalam ketergesaan itu, kita jadi luput memperhatikan hal-hal kecil di sekitar, atau bahkan lupa alasan mengapa kita mulai melangkah sejak awal.
Oleh karena itu, saya mulai belajar menarik rem. Mengambil napas sedikit lebih panjang. Saya mulai untuk menikmati proses-proses yang membosankan, membaca buku cetak lagi, melamun sehari sekali, berjalan kaki cukup jauh, dan semua aktivitas yang biasa saya kerjakan cepat, betul-betul saya atur agar melambat temponya.
Hasilnya apa?
Hidup lebih tenang, lebih bisa menikmati proses yang 'tidak seberapa itu' kata orang. Saya lebih bisa dengan jeli dan bijak memaknai setiap hikmah di balik peristiwa "oh ini tuh kaya gini karena ini toh". So far, benar-benar tidak ada paksaan untuk harus sama dengan apa yang dicapai orang lain, lebih-lebih bisa ikut happy dengan kabar baik teman-teman, sebelum itu gusar dan takut akan nasib diri😂
So, buat kamu yang mungkin sedang merasakan hal yang sama. Coba untuk pelankan tempo, tetap dikerjakan tetapi dengan ritme yang santai tapi tetap kalkulatif. Kamu nggak sedang lomba kok, jadi gaperlu buru-buru. Ingat, karena waktu juga bagian dari solusi :)
Boyolali, 10 Agustus 2026
pil pahit yang kutelan di usia 20an
kita gak sepenting dan sespesial itu di hidup orang lain. dulu, saat remaja, aku sering kali berpikir bahwa hidup ini berporos ke diriku seorang. semua orang menaruh perhatian dan memikirkanku setiap waktu. lambat laun, aku baru sadar bahwa itu hanya kegeeranku semata. gak ada orang yang lebih penting dalam hidup seseorang kecuali dirinya sendiri. kita mungkin penting oleh keluarga dan orang-orang terdekat kita. tapi di hidup orang lain? kita hanya orang asing yang bukan siapa-siapa. kita adalah pemeran utama dalam hidup kita tapi hanya seorang figuran dalam hidup orang lain. kesadaran ini menjadikanku lebih mudah melepaskan keterikatan dan lebih cuek atas penilaian orang lain.
setiap orang bertanggungjawab atas hidupnya masing-masing. gak ada orang lain yang bertanggungjawab membuat sebuah keputusan, mengambil pilihan, dan menjalani setiap konsekuensi dan risiko selain diri kita sendiri. semua orang punya prioritas dalam hidupnya masing-masing. bukan tugas mereka untuk mengurusi hidup kita. kitalah yang bertugas mengurusi hidup kita sendiri. orang lain gak akan selalu siap sedia membantu dan menerangkan sesuatu kepada kita. maka dari itu amat penting bagi kita untuk berlatih bermandiri dalam berkeputusan yang sekiranya mampu kita pertanggungjawabkan.
kritik itu memang pahit seperti obat. dan selayaknya obat, kita perlu menelannya supaya jadi lebih baik dan gak sakit lagi. belajarlah memisahkan kritik dan bagaimana perasaan kita menerimanya. karena kritik atau saran perbaikan apa pun tidak pernah menyenangkan untuk didengar apalagi diterima selama ego masih kita prioritaskan. di usia 20an kita memang cenderung merasa selalu benar. bebal dengan nasihat. maka dari itu lembutkan dan lapangan lah hati kita menerima masukan terutama dari orang-orang yang sudah lebih lama hidupnya dibanding kita.
dunia ini adil, karena tidak adil untuk semua orang. setiap orang punya kesulitan dan perjuangan hidupnya masing-masing. jadi berhentilah mengeluh, membandingkan, dan terus merasa menjadi korban. tau kan kenapa nabi adam diturunkan di bumi oleh Allah? karena sebagai hukuman. bukan buat senang-senang. jadi salah tempat kalau nyari kebahagiaan yang sempurna di sini.
hanya orang-orang tertentu yang terlahir sebagai pewaris. sisanya kebanyakan harus merintis dari bawah. maka sudah pasti miskin di awal karir. jangan mudah termakan dengan konten-konten sosmed ✨ umur sekian sudah punya uang sekian. ✨. hidup gak semudah konten-konten sosmed dek. percayalah apa yang didapatkan dengan cepat, akan cepat juga hilangnya.
hidup ini selayaknya anak tangga. ada fase-fasenya. jadi jangan nekad buru-buru pengen loncat ke tangga kesepuluh padahal kaki baru napak di tangga kesatu. setiap usia ada masanya dan bentuk perjuangannya. kesimpulannya apa? ya sabar. gak usah kepikiran pakai jalan pintas kalau maunya selamat sampai ke atas.
skill kampus ≠ skill kerja. segala nilai dan gelar yang kerap kita banggakan semasa sekolah itu hanya menyumbang 31% dari skill yang dibutuhkan di dunia kerja. saat sekolah kita banyak dihadapkan oleh teori, tapi saat sudah masuk ke dunia kerja, kita tidak lagi ditanya apa yang kita tahu. tapi apa yang kita bisa dan mampu? maka jangan terlalu bergantung dari nilai dan gelar yang kita dapatkan. penuhi diri dengan berbagai macam keahlian, serta bentuk kepribadian yang banyak dibutuhkan sebagai persyaratan kerja.
kesalahan dan kekeliruan itu dibutuhkan. tidak ada orang yang bersih dari berbuat salah. jangan terlalu berlarut-larut dalam penyesalan dan menyalahkan diri sendiri. maafkan diri, segera evaluasi, perbaiki dan bertanggungjawab, ambil pelajarannya, kemudian move on. it easier said than done indeed. tapi mau sampai kapan kita terjebak dalam masa lalu, takut mengambil keputusan, dan terus dibayangi kesalahan? apa gak capek?
ada yang mau nambahin? ^^
(مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا)
{Whoever seeks honour, then all honour belongs to Allah}
[َQuran - Fatir 35:10].

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku datang kepada-Mu
bukan membawa bunga-bunga indah.
Aku membawa keranjang tua
berisi takut, malu, dan kesalahan.
Beberapa isinya hampir busuk,
beberapa ingin kusembunyikan.
Tapi aku tahu,
tidak ada tempat yang lebih aman
untuk membawa semuanya
selain kepada-Mu.
Bersabarlah. Tidak ada hamba yang Allah uji sendirian; selalu ada rahmat yang berjalan diam-diam bersamanya.
Dunia tidak pernah menjanjikan keabadian.
Namun anehnya, di tempat yang sementara ini kita menaruh harapan yang terlalu besar.
Kita menangis ketika kehilangan, seolah yang pergi memang ditakdirkan untuk selamanya bersama kita.
Kita kecewa ketika keadaan berubah, seolah dunia pernah berjanji akan selalu sesuai keinginan kita.
Padahal sejak awal, Dunia hanya persinggahan.
Tidak ada yang benar-benar menetap.
Maka jangan terlalu dalam mencintai dunia yang bahkan tidak mampu mempertahankan dirinya sendiri.
Cintailah secukupnya, genggamlah seperlunya.
Karena setiap yang ada di dunia sedang berjalan menuju perpisahannya masing-masing.
Dan pada akhirnya, yang akan tersisa bukan apa yang kita miliki, melainkan apa yang kita bawa menghadap Allah.
Sebab dunia bukan tempat tinggal, Ia hanya ruang tunggu sebelum pulang.
tentang tabur tuai
Allah Swt. dengan tegas bilang: tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula. Allah juga bilang: setiap perbuatan manusia pasti ada ganjarannya. seharusnya, kalimat-kalimat ini cukup untuk membuat kita berpikir seribu kali sebelum berkata, sebelum bersikap, sebelum bertindak--bahkan sebelum berpikir. seharusnya, kita hati-hati.
jangan perlakukan orang lain dengan cara yang kita tidak ingin diperlakukan. perhatikan caramu bicara, melirik atau menatap, bahkan memposisikan badan. adakah yang berpotensi menyakiti?
jangan mengambil yang bukan hak kita apalagi menzhalimi hak orang lain. kalau sesuatu yang kamu punya diambil / direbut orang lain, kamu mau?
jangan mendoakan keburukan bagi orang lain. bagaimana kalau malaikat mengaminkan agar doa itu justru kembali kepadamu? kepada keluargamu?
jangan membicarakan keburukan orang lain. ingat kamu hanya beda dosa. mudah sekali bagi Allah untuk menjerumuskan kamu ke sana juga.
jangan mencela keputusan hidup orang lain. kamu nggak pernah tau apa yang ada di bawah permukaan. belum tentu kamu bisa mengambil keputusan yang lebih bijak kalau kamu ada di posisinya.
jangan iri dengan hidup orang lain. mungkin kamu menginginkan kebahagiaannya, tapi percayalah kamu tidak menginginkan penderitaannya.
jangan manipulatif: menyakiti orang lain dan malah teriak-teriak kalau yang disakiti membela diri. apalagi menggunakan ketidakbenaran untuk menyerang. bereskan luka pengasuhanmu supaya kamu nggak meneruskannya kepada siapa-siapa.
jangan menyalahkan orang lain atas perbuatanmu, ketidakmampuanmu, atau ketidakbahagiaanmu. pada satu titik, ketenangan hidupmu adalah tanggung jawabmu sendiri. selanjutnya tetap begitu.
jangan suka mengolok-olok. ingat Allah Maha Memuliakan, tetapi juga Maha Menghinakan. jangan menertawakan orang lain kalau kamu tidak mau ditertawakan malaikat.
jangan merasa lebih baik apalagi mulia dari orang lain. kamu tidak tau taubatnya. barangkali Allah lebih menyayanginya. lagipula, mudah sekali bagi Allah untuk membuka aibmu di hadapan seluruh dunia.
jangan menyimpan dendam. yang pelan-pelan mati karena dendam itu kamu, bukan orang lain yang kamu dengki terhadapnya. belajar memaafkan. mulai dari dirimu sendiri mungkin?
urusan sama manusia rumitnya berkali-kali lipat. bisa jadi suatu hari kamu menyesal, tetapi akibat yang kamu perbuat masih tertinggal pada orang lain. bisa jadi suatu hari kamu meminta maaf, tetapi belum tentu dia memaafkan.
balasan atas perbuatan kita itu bukan soal akan atau tidak, tetapi soal kapan. tetapi ingatlah, Allah Maha Pemaaf dan rahmat Allah tiada terhingga. mumpung masih ada waktu, minta maaflah. kalau malu, mintalah maaf melalui Allah. minta Allah menyembuhkan siapa saja yang pernah kamu lukai. minta Allah melembutkan hatinya untuk memaafkanmu.
semoga rahmat Allah melingkupi kita.
sunyi yang utuh
ada orang-orang yang—kita tahu mereka punya akun medsos—tapi hidupnya hampir tidak terlihat di timeline
tidak ada update karier. foto liburan, atau cerita pencapaian
tapi kalau kamu duduk ngobrol dengan mereka di dunia nyata, kamu akan melihat sesuatu yang jarang muncul di media sosial
wajah yang tidak terlalu lelah, tawa yang tidak dibuat-buat dan hidup yang berjalan pelan tapi utuh
mereka tidak sedang menyembunyikan kebahagiaan, namun mereka tahu bahwa beberapa kebahagiaan akan kehilangan maknanya jika terlalu banyak penonton

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Selamat jalan, Abi!
Halo, Tumblr! Lama tidak bersua di sini ya :)
Banyak mungkin yang mengenal Abi disini—meskipun hanya sebatas pesan-pesan yang beliau sampaikan lalu saya bagikan melalui tulisan. Terlepas dari itu, saya rasa tetap perlu mengabarkan disini juga bahwa, Abi akhirnya Allah 'jemput' Ahad lalu—setelah lebih kurang 3 tahun berjuang melawan penyakit yang beliau alami. Sebuah perjalanan panjang dan nggak mudah, baik untu Abi maupun kami yang ditinggalkan.
Sedih betul rasanya kehilangan figur Ayah yang lembut, pintar, tulus, dan peduli ke siapapun. Tidak heran banyak yang begitu kehilangan. Tamu dari berbagai daerah, lapis golongan, dan yang belasan bahkan puluhan tahun tidak bertemu, menyempatkan untuk hadir, hanya untuk mengantarkan di saat-saat terakhirnya.
Setiap orang yang bertamu, pasti memiliki kesan yang begitu membekas dalam perjalanan menuju baik hidup mereka. Satu per satu saya menyimak bagaimana mereka mengenal sosok Abi kami—ustadz yang seru diajak diskusi apapun, bijak dalam menyikapi keadaan, bersemangat dalam kebaikan, tidak segan minta maaf duluan, dsb. Tentu berderai air mata ini mendengarnya.
Saya, atau kami menjadi saksi betul betapa Abi kami adalah orang yang bahkan mementingkan orang lain di atas dirinya. Bahkan beberapa menit sebelum sakaratul maut, Abi entah ada energi dari mana berjalan keluar kamar, duduk di dekat perpustakaan, lalu bertanya:
"Sekarang jam berapa?" tanya Abi dengan suara lirih sembari menunjuk jam dinding.
"Jam 10 bi." jawab Umi yang terus setia mendampingi.
"Sekarang jam berapa?" Abi kembali bertanya.
"Jam 10 bi." jawab Umi.
Begitu sampai 3 kali. Kemudian Abi kembali ke tempat tidurnya. Sehari setelahnya Umi baru tersadar bahwa itu adalah kebiasaan Abi tiap kali menunggu jam untuk mengisi di tempat selanjutnya. Umi bilang, Abi orangnya selalu ontime—jangan sampai jamaahnya menunggu, justru sebaliknya beliau yang menunggu agar tidak terlambat untuk mengisi di tempat selanjutnya.
Betapa tidak menangis saya mendengar cerita itu, bahkan disaat-saat terakhirnya masih ia sempatkan untuk memikirkan orang-orang yang begitu ia cintai. Saya tahu betul Abi rindu sekali bisa berdakwah kembali. Barangkali dakwah sudah melebur dalam dirinya—bayangkan saja dulu sebelum sakit lebih kurang 5 tempat setiap hari beliau berkhidmat untuk membina umat. Iya setiap hari. Sayapun juga bingung bagaimana bagi waktunya.
Kepergiannya begitu indah. Tenang dan insyaallah Abi mampu mengucapkan lafadz Lā ilāha illallāh kata Umi yang terus membimbingnya saat itu. Wajahnya terlihat bersih, dan segar, seperti tidak sakit padahal di malamnya wajahnya pucat dan Abi mengeluh luar biasa. Seolah kerinduannya akan berjumpa dengan Rabb-nya sudah tidak tertahan rasa sakit lagi.
Sedih sekali sebetulnya, namun melihatnya kesakitan juga saya tidak mampu lagi. Puluhan tahun saya mengenalnya dari kesaksian orang lain, baru ketika beliau sakit kami membongkar 'barier kecanggungan' di antara Ayah dan Anak lelakinya, dan mulai bercerita banyak hal secara empat mata.
Pesan-pesan hidup yang beliau titipkan, kisah-kisah yang selalu membakar semangat tiap kali futur, solusi dengan pendekatan sirahnya, dsb.—suatu saat akan saya bagikan satu persatu disini, semoga menjadi amal jariyah baginya. Setelah semua energi ini kembali.
Bagi saya beliau adalah Ayah yang penuh perencanaan dan manajemen diri yang baik. Baik itu untuk dirinya, maupun ke anak-anaknya. Abi selalu punya treatment berbeda kepada tiap-tiap diri kami. Selalu membimbing, hampir tidak pernah menuntut, namun begitu bijak menyikapi ketika kami berjumpa dengan kegagalan atau kesalahan.
Selamat jalan Abi, kami bersaksi bahwa Abi adalah Ayah yang baik, bertanggung jawab hingga akhir amanah Abi, semoga Allah berikan tempat terbaik disisi-Nya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Jika kamu sudah memutuskan pilihan untuk menjalani sesuatu, dan kamu sudah mengukur konsekuensi baik buruknya, serta memiliki komitmen penuh dalam menjalaninya, sembari tetap merawat kesadaran bahwa segala sesuatu menuntut pertanggungjawaban pada-Nya, maka penilaian orang, seburuk apapun itu bukan menjadi soal. Tetap jalankan. Wakafa billahi syahida.
Ujian
Di pekan ini, berturut-turut mendapat kabar ujian sakit dari orang-orang di lingkaran terdekat, penyakit yang bisa dibilang selama ini hanya sekedar tahu karena pernah muncul di timeline media sosial dari orang yang ingin berbagi informasi tentang penyakit itu atau dari grup kantor tempat ku bekerja, karena lingkup kerja ku di dunia kesehatan. Lalu, mendapati juga kabar kepergian prajurit TNI yang bertugas di lebanon, yang dimana salah satunya adalah sahabat dari sahabat ku sendiri.
Kaget, ketika mendapati kabar seorang teman mengalami stroke hemoragik pasca melahirkan, ia mengalami kelumpuhan total pada tubuh nya, hanya isyarat mata saja yang bisa ia tampilkan kepada orang di sekitar nya. Hanya bisa berbaring, tanpa bisa berbuat apa-apa, untuk sekedar memasukkan makanan pun di bantu oleh bantuan alat medis. Seorang yang kesehariannya selalu energik, ceria, yang sebelumnya begitu sehat, tiba-tiba di uji dengan sakit nya.
Lagi - lagi di waktu yang berdekatan, seorang rekan kerja senior meminta doa untuk kesembuhan istri nya, yang ternyata di vonis tumor otak dimana harus segera dilakukan tindak operasi. Pasca operasi, kondisi nya masih belum sepenuh nya pulih, belum kembali ke ruang ranap pasien. Beliau sendiri tidak menyangka istrinya harus mengalami sakit ini, keluhan sakit kepala belakangan dikira hanya sebuah reaksi dari tekanan darah tinggi. Istrinya yang begitu cekatan, ceria, mungkin semua orang yang mengenal nya pun akan kaget, dan bertanya-tanya kenapa bisa.
Kita semua juga pasti tau berita tentang kepergian prajurit TNI yang sedang bertugas di lebanon, dan ternyata salah satu nya adalah sahabat dari sahabat ku sendiri. Di usia yang sama dengan ku, tidak terbayang bagaimana perasaan keluarga nya saat ini, terutama istrinya yang selalu berharap kepulangan suaminya pasca menjalani tugas dalam keadaan utuh seperti saat ia pergi pamit bertugas. Bagaimana perasaan istrinya ketika notifikasi pesan di hp nya berisikan ucapan duka atas kepergian suaminya selama-lamanya di dunia. Bagaimana perasaannya, ketika mulai detik ini ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia akan membesarkan kedua anak nya tanpa suami yang dicintai nya.
Ujian setiap orang memang berbeda-beda ya :") di tengah kebahagian yang sedang di rasa, di tengah hangat kehidupan keluarga, di antara rasa yang penuh warna, tanpa kita duga, Allah hadirkan sesuatu yang kita tidak suka. Kita mungkin tidak menerima pada awal nya, kita mungkin sedih atas kondisi ini semua. Namun satu hal yang perlu kita tau, bahwa Allah tidak akan memberi kita ujian untuk menyakiti kita, justru dengan ujian Nya, mungkin jadi jalan untuk kita semakin dekat pada Nya. Mungkin dengan ujian Nya, menjadi kan kita semakin ingat bahwa kenikmatan yang kita terima di dunia ini memang bersifat sementara. Mungkin dengan ujian Nya, menjadi jalan bagi orang yang mencintai diri kita untuk mengingat Nya dan lebih mencintai Nya. Tidak ada yang menyakitkan, semua ujian diberikan pada kita sudah sesuai takaran Nya, kita hanya perlu berlapang diri, menerima ketetapan Nya.
Siapapun yang sedang diuji, semoga Allah senantiasa meluaskan hati, memberikan ketenangan pada diri, mengetuk hati untuk selalu berbaik sangka pada Nya yang tau segala kebaikan untuk diri nya bahkan melebihi diri nya sendiri.
Bandung, 04 April 2026
Yang Tidak Selesai di Kepala Saya
Barangkali seperti dapur yang api kompornya tak pernah benar-benar padam.
Di sana, ia menjadi juru masak bagi pikirannya sendiri.
Ia menaruh segalanya ke dalam satu panci—kekhawatiran, harapan, rencana, juga sisa-sisa hal kecil yang tak kunjung usai. Diaduknya pelan, dengan harap yang sederhana: semoga rasanya cukup, tak terlalu pahit, tak pula hambar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Semakin lama dimasak, semakin sulit dibedakan mana rasa asli, mana yang sudah berubah.
Yang manis bisa tiba-tiba getir, yang sederhana mendadak terasa berat.
Ia mencoba menakar, menambah ini, mengurangi itu, seolah semuanya bisa dikendalikan hanya dengan sedikit penyesuaian. Padahal, ada hal-hal yang sejak awal memang tak bisa ia masak menjadi baik-baik saja.
Ada yang terlalu lama ia biarkan di atas api, hingga gosong tanpa ia sadari.
Ada yang sebenarnya cukup dipanaskan sebentar, tapi ia terus mengaduknya seakan takut kehilangan.
Dan di tengah kepulan itu, ia lupa satu hal sederhana.. bahwa tak semua harus dimasak hari ini.
Bahwa ada yang cukup disimpan, ada yang memang belum waktunya diolah, dan ada yang justru akan lebih baik jika tak dipaksakan menjadi apa-apa.
Hingga akhirnya, ia mematikan api itu.
Bukan karena semua sudah matang, melainkan karena ia mulai memahami batasnya sendiri.
Ia duduk di hadapan dapur yang perlahan mendingin, membiarkan aroma yang tersisa menguap tanpa perlu ia kejar.
Dan dari sana ia belajar, bahwa hidup bukan tentang memastikan semuanya terasa pas, melainkan tentang tahu kapan harus berhenti mengaduk hal-hal yang hanya akan semakin keruh jika terus dipaksakan.
Di sisa hangat yang pelan-pelan hilang itu, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia dapatkan saat sibuk memasak ketenangan… yang tak dibuat-buat.
Kapasitas
Hati yang tidak diluaskan dengan sabar, akan menyempit karena kekhawatiran. Setiap jengkal takdir yang menjadi bagian dari episode hidup kita sejatinya untuk memaksimalkan kapasitas. Maka jika kita mau mengaku, sejatinya sabar itu bukan opsi, tapi solusi. Menjalani hidup yang tidak pernah sesuai ekspetasi tentu tak mudah, itulah kenapa menjadi penting memiliki seni untuk menemukan titik sabarnya masing-masing.
Semoga tidak pernah lupa. Kita selalu punya doa, Allah yang punya cara. Doa yang diulang dengan sabar, dinanti dengan tenang. Menjalani hidup yang singkat ini perlu strategi untuk memaksimalkan amal sebanyak-banyaknya. Biar membesar kapasitas kita, meninggikan value sebagai hamba yang pantas masuk surga.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika dia memiliki karakter yang bagus, dia akan lebih menghormatimu, namun jika dia memiliki karakter buruk, dia akan merasa dirinya paling baik dari semuanya."
Ali bin Abi Thalib
memohon doa yang sama
bagaimana rasanya memohon doa yang sama selama sebulan penuh? bagaimana rasanya memohon doa yang sama selama setahun? sepuluh tahun? seumur hidup?
hingga kamu sadar. yang lebih penting bukanlah bilamana doamu dijawab iya sekarang. yang lebih penting adalah undangan Allah untukmu berdoa.
bagimu, memohon doa yang sama tidak masalah. yang penting Allah tetap mengundangmu untuk berdoa.