How am I supposed to rest when I'm too tired to rest????

@theartofmadeline

YOU ARE THE REASON
he wasn't even looking at me and he found me

Kaledo Art
cherry valley forever

Love Begins
todays bird

oozey mess
hello vonnie
Misplaced Lens Cap

blake kathryn
DEAR READER
Stranger Things


Origami Around

祝日 / Permanent Vacation
ojovivo
dirt enthusiast
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Netherlands
seen from United States
seen from China
seen from Indonesia

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@melepaskata
How am I supposed to rest when I'm too tired to rest????

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pagi dan kopi;
Secangkir kopi hitam pagi ini, diam-diam menyeduh harapan yang semalam sempat hilang arah. Uapnya mengepul pelan, seperti doa-doa yang tak pernah benar-benar usai, meski tak terdengar tp tetap setia memeluk pagi dengan tenang.
Pahitnya bukan tentang getir, tapi tentang keberanian untuk memulai lagi, meski hati masih lelah. Ada hangat yang menenangkan dalam setiap tegukan, seolah dunia yang dingin pun bisa sedikit mengerti.
Dan di antara sunyi yang belum sepenuhnya bangun, kopi ini mencintai caramu bertahan tanpa banyak kata, tapi penuh makna.
Ia tahu, kadang cinta tak harus manis, yang penting, tetap hadir… dan menguatkan.
Selamat pagi jiwa-jiwa tangguh, biarlah pahit ini jadi alasanmu untuk kembali berani. Karena hidup, selalu butuh lebih dari secangkir keyakinan…
Dan kamu, yang tetap memilih berjalan meski perlahan, kamu hebat!!
Seandainya Tuhan memberikan kesempatan, aku ingin menemukanmu lebih cepat
I know you probably won't love me again, but thank you for loving me once, that was the happiest I've been in a long time..
Seperti lagu yang dinyanyikan Sal,
"Selamat jalan, kekasih. Kaulah cinta dalam hidupku. Aku kehilanganmu untuk selama-lamanya.."
-- soon, 2025
Aku adalah Perempuan paling keras kepala yang mungkin pernah Tuhan ciptakan.
Bayangkan, Tuhan perlu menyadarkanku berkali-kali bahwa kita tidak bisa bersama. Tuhan mencegahku berulang kali untuk kita bertemu. Dan bodohnya aku masih memintamu, kini IA mengingatkan lewat perasaan. Jalan terakhir yang bisa IA lakukan untuk melindungiku. Tolong lembutkan cara-Mu Tuhan, hingga ikhlas tak hanya kata yang kuucap semata.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pantas saja terasa sulit untuk kita bersama. Aku mencintai lautan yang kau lihat itu menyeramkan. Aku mengajakmu ke lautan, yang kamu inginkan pegunungan. Aku mengajakmu ke Pesisir Yogyakarta, kau rindukan dinginnya Braga.
Penghujung September
Di akhir bulan, hujan mengetuk jendela, kopi yang dingin menatapku bisu, seakan ikut menyimpan segala percakapan yang tak pernah selesai dengan diriku sendiri.
September ini riuh dan hampa sekaligus, ramai tawa di luar, tapi sunyi di dada, aku tertawa sambil mengantongi lara, belajar mensyukuri meski hati masih meraba.
Hari-hari berjalan seperti barisan pasukan, berangkat pagi, pulang malam, upah singgah sejenak di rekening, lalu pergi entah ke mana seperti hidup orang dewasa yang sering lupa bermimpi.
Aku menghitung detik dengan hati yang resah, bertanya pada waktu, berapa lama lagi aku harus begini menjadi mesin di siang hari, lalu penyair kesepian di malam yang lengang.
Namun aku percaya, ada janji yang sedang ditenun Tuhan di atas langit, semoga ia segera jatuh tepat di pangkuanku, agar kelak aku bisa berkata: “lihat, semua penantian ini ternyata tidak sia-sia.”
Bandung, Hujan, dan Tanda Tanya yang Abadi
Bandung itu curang.
Di kota lain, hujan hanyalah air yang jatuh dari langit. Tapi di sini, hujan adalah mesin waktu. Begitu rintik pertama menyentuh aspal Jalan Braga atau Dago, aroma petrichor-nya langsung menyeret paksa ingatan yang sudah susah payah kususun rapi di Surabaya.
Dinginnya kota ini tidak hanya menembus jaket tebal, tapi menyelinap masuk ke sela-sela rusuk, mencari satu nama yang belum selesai kulepaskan.
Masalah kita bukanlah perpisahan yang meledak-ledak. Tidak ada piring pecah, tidak ada teriakan, tidak ada blokir nomor telepon. Masalah kita justru karena semuanya hening. Kita menguap begitu saja seperti kabut pagi yang disapu matahari. Tanpa penutupan. Tanpa "selamat tinggal". Tanpa kejelasan siapa yang salah dan siapa yang harus pergi.
Itulah yang membuatku gila sore ini.
Rasa "belum usai" ini lebih menyakitkan daripada patah hati yang jelas. Ia menyisakan ruang kosong bernama "andai saja".
Andai saja waktu itu aku bicara lebih dulu.
Andai saja jarak tidak menjadi alasan.
Andai saja kita berani menurunkan ego barang satu sentimeter.
Di balik jendela kafe yang mengembun, aku melihat bayanganmu di setiap punggung orang asing yang lewat. Hujan di luar sana seolah menertawakanku: "Kau sudah menempuh ratusan kilometer dengan kereta untuk lari, tapi kenangan itu ternyata sudah menunggu di stasiun kedatangan."
Bandung sore ini bukan hanya basah oleh air. Ia basah oleh penyesalan.
Aku memesan kopi lagi, kali ini lebih pahit. Mencoba menelan kenyataan bahwa mungkin, hanya mungkin, kisah kita memang ditakdirkan menjadi naskah yang tak pernah rampung. Sebuah buku yang halamannya robek tepat sebelum bab terakhir.
Dan aku, dengan bodohnya, masih berdiri di sini menunggu sisa halamannya jatuh dari langit.
Bandung dan Hujan
Menelusuri jejak rindu pada gerimis ibu kota Priangan. Rintiknya perlahan menuju sukma rindu yang tak kunjung temu. Beberapa raga meminta hujan datang, melepaskan rindu berwujud kenangan. Di kejauhan ku lihat empat bola mata sedang beradu, menikmati tatap kemudian sedikit maju. Ah, sudahlah, biarkan mereka bercengkerama di tengah derasnya hujan dan gairah. Aku pun tersenyum melihat dedaunan jatuh, mencium aroma tanah basah sembari menggengam erat telapak tangan seseorang ; namanya Biru.
Bertahan Hidup di Tengah Krisis: Kisah Tentang Jatuh, Bangkit, dan Menemukan Jalan Baru
Krisis itu datang seperti hujan deras di tengah hari yang cerah—tiba-tiba, tanpa aba-aba, dan membuat semua rencana yang tadinya rapi berantakan dalam hitungan jam.
Bagi Rani, semuanya bermula pada suatu pagi yang seharusnya biasa saja.
Dia bangun, membuat kopi, dan bersiap berangkat kerja. Tapi telepon dari kantornya mengubah segalanya. Perusahaan tempat ia bekerja lima tahun terakhir mengumumkan pengurangan karyawan. Dan namanya… ada di daftar itu.
“Untuk kebaikan perusahaan,” katanya.
Kalimat yang terdengar sopan, tapi menghujam seperti pisau dingin di dada.
Hari itu, Rani pulang dengan langkah lebih berat dari biasanya. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada penghasilan. Sementara tagihan tetap datang setiap bulan seperti tamu tak diundang yang tak tahu diri.
Namun hidup tetap berjalan. Mau tidak mau.
--
1. Saat Hidup Memaksa Kita Berhenti Sebentar
Malam itu, Rani duduk lama di kamar, memandangi lampu neon yang berkedip seperti memaksa dirinya berpikir cepat.
Tapi hidup punya cara lain.
Kadang, saat kita sedang panik dan ingin berlari, justru saat itulah kita harus berhenti sejenak.
Rani akhirnya mematikan ponselnya, menarik napas panjang, dan berkata dalam hati:
“Aku harus tenang dulu. Besok aku pikirkan jalan keluarnya.”
Dan anehnya, itu adalah keputusan paling bijak yang ia ambil di tengah kekacauan.
---
2. Belajar Mengatur Ulang Hidup yang Tiba-Tiba Berantakan
Keesokan harinya, setelah tidur dengan kepala berat, Rani mengambil buku catatan kecil yang sudah lama ia abaikan.
Ia mulai menulis:
“Pengeluaran wajib | Pengeluaran bisa dipotong | Hal yang harus dihindari.”
Tadinya ia pikir daftar itu akan membuatnya semakin stres.
Tapi ternyata, melihat masalah tertulis di atas kertas membuat semuanya lebih kecil, lebih bisa dihadapi.
Ia memang harus hidup lebih hemat.
Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa punya kendali.
---
3. Ketika Pintu Lama Tertutup, Pintu Baru Pelan-Pelan Terbuka
Tiga hari kemudian, Rani bertemu temannya saat berbelanja sayur di pasar pagi.
Temannya bertanya, “Kamu masih nulis? Dulu kamu sering bikin artikel, kan?”
Pertanyaan sederhana itu seperti menyalakan lampu di kepala Rani.
Ia ingat—dulu ia suka menulis. Bahkan punya beberapa artikel yang belum pernah dipublikasikan.
Malamnya, ia membuka laptopnya yang sudah lama tidak disentuh.
Ia mulai menulis lagi.
Tanpa tuntutan. Tanpa deadline. Tanpa target uang.
Hanya menulis untuk menghidupkan sesuatu yang sempat mati: dirinya sendiri.
---
4. Mengubah Kemampuan Kecil Menjadi Sumber Bertahan
Satu artikel ia unggah ke media sosial.
Tidak ia sangka, beberapa orang menyukainya.
Satu komentar masuk:
> “Kamu terima jasa nulis? Aku butuh artikel untuk toko online.”
Dari satu pekerjaan kecil itu, datang pekerjaan berikutnya.
Tidak besar, tapi cukup untuk membayar kebutuhan bulanan.
Rani tidak langsung bangkit tinggi.
Tidak ada keajaiban tiba-tiba.
Tapi ada langkah kecil, konsisten, dan terus berulang.
Itulah yang membuatnya bertahan.
---
5. Belajar Bahwa Setiap Manusia Punya Kekuatan
Dua bulan berlalu, dan hidup Rani memang belum kembali seperti dulu.
Tapi yang berubah adalah dirinya.
Ia lebih tenang.
Lebih berhati-hati.
Lebih kuat dari yang ia bayangkan.
Ia sadar bahwa krisis tidak datang untuk mematahkan.
Krisis datang untuk mengajarkan.
Mengajarkan bahwa hidup tidak selalu mulus.
Tapi kita juga punya kekuatan untuk tidak selalu hancur.
---
Akhir yang Baru, Bukan Sekadar Akhir
Pada akhirnya, Rani menemukan sesuatu yang tidak ia sadari sebelumnya:
bahwa setiap jatuh selalu membawa peluang untuk berdiri lebih baik.
Ia tersenyum kecil sambil menatap layar laptopnya.
Pekerjaan baru menunggu.
Pelajaran baru telah ia pahami.
Dan yang paling penting, ia berhasil melewati salah satu masa paling berat dalam hidupnya.
Tidak dengan cara yang sempurna.
Tapi dengan cara yang manusiawi.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Source: Bertahan Hidup di Tengah Krisis: Kisah Tentang Jatuh, Bangkit, dan Menemukan Jalan Baru

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Masih;
(𝘚𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘪𝘳)
Aku masih disini, ditempat ini. Masih duduk di antara sisa kenangan yang tak mau pulang. Masih dengan perasaan yang dulu, perasaan yang tak pernah tahu cara menyerah, meski semesta sudah berulang kali memberi tanda untuk berhenti. Waktu telah berlari jauh, tapi rasaku tetap terjebak di detik saat kau menoleh terakhir kali.
Sore ini, senja kembali berair. Ingatan kembali hanyut pada bayangan tentangmu, seperti gelombang yang tak pernah lelah memeluk pantai, meski tahu ia akan selalu pecah oleh tebing karang.
Mereka bilang aku bodoh, terlalu setia pada sesuatu yang mungkin tak pernah nyata. Tapi bagaimana bisa aku menyangkal hati yang sejak awal memilihmu, bahkan ketika dunia tak lagi berpihak pada rasa ini. Aku masih yakin, entah karena cinta atau luka, bahwa sebagian dari diriku akan selalu tertinggal di matamu.
Dan jika suatu hari takdir menertawakan keyakinanku, biarlah. Sebab aku sudah terlalu dalam mencintaimu, bukan untuk dimiliki, tapi untuk diingat.
Aku masih di tempat ini, masih dengan perasaanku yang dulu: tak berubah, tak sembuh, dan mungkin memang tak seharusnya.
Ada hari ketika aku bangun tanpa ambisi, hanya ingin hidup tanpa harus menang. Tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapa pun. Tapi mereka menatapku seolah itu dosa. Seolah diamku adalah kemalasan, dan tenangku adalah kegagalan.
Lucu, ya. Kita diajarkan mencintai diri sendiri, tapi juga ditakuti agar tak terlalu nyaman dengan diri yang belum “jadi”. Kita disuruh menerima kekurangan, tapi juga diukur dengan hasil yang tak boleh kurang.
Setiap pagi, dunia bangun lebih cepat dari doa.
Orang-orang terburu-buru mengejar sesuatu yang tak tahu bentuknya,
menyebutnya rezeki, nasib, takdir, padahal mungkin hanya rasa takut kehilangan.
Aku lihat roda kehidupan berputar liar,
menyeret yang kuat, menindih yang lemah, lalu berhenti sesaat
untuk menertawakan keduanya.
Di setiap wajah, ada garis halus antara usaha dan pasrah
antara mengharap dan menyerah.
Dan di celah itu,
di tempat di mana manusia tak tahu lagi harus berlari ke mana
Tuhan sering menunggu.
Bukan untuk menolong segera
melainkan untuk memperlihatkan betapa kecilnya langkah-langkah kita
dibanding kehendak yang melingkupi segalanya.
Aku melihat lelaki yang semalam berdoa sungguh-sungguh,
kini menunduk lesu karena dagangannya tak laku.
Dia tak tahu, mungkin Tuhan baru saja menunda rezekinya
agar hatinya tak dikuasai angka.
Aku melihat perempuan tua di tepi jalan,
menengadahkan tangan bukan untuk meminta,
tapi untuk menutupi wajahnya dari debu dunia.
Ada ketabahan di matanya—ketabahan yang tak bisa dipelajari dari buku mana pun.
Di bawah langit yang makin redup,
aku merasa kecil tapi tak lagi takut.
Aku tahu kini: roda itu tak pernah benar-benar kejam.
Ia hanya tunduk pada satu poros
dan poros itu adalah kehendak-Nya.
Udane awet koyok pengawet 😅
"Aku mencintaimu dengan amat sangat, oleh sebab itu aku melepaskanmu."
Dulu saya pikir kalimat itu adalah hal paling rancu yang saya pernah dengar. Kenisbian yang mendekati keniscayaan. Namun ketika saya dihadapkan pada situai yang entah bagaimana ceritanya, saya harus melepaskan seseorang yang saya sangat cintai, kata-kata itu menjadi panembrama paling masuk akal di kepala saya.
Ternyata benar,
Hanya karena sama-sama cinta, bukan berarti kalian akan berakhir bersama. Dan hanya karena sudah tidak bisa bersama, bukan berarti rasanya sudah tidak ada. Pada akhirnya, kalimat itu mengejawantah menjadi sesuatu yang sampai sekarang saya percaya.
Semakin kamu sayang sama seseorang, semakin kamu harus sanggup melepaskannya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Berteduh adalah seni merawat diri di tengah derasnya dunia. Saat hujan turun, kita mencari naungan; bukan karena takut basah, tapi karena tahu tubuh dan hati butuh perlindungan. Di balik atap sederhana, kita belajar bahwa jeda sejenak tak pernah mengurangi langkah, justru menyiapkan kita untuk berjalan lebih jauh.
Berteduh juga kadang berarti bersandar pada seseorang—pada bahu yang tak pernah menolak, pada tatapan yang hangat meski langit sedang kelabu. Di sanalah kita temukan rumah yang tak selalu berbentuk bangunan, tapi bisa hadir dalam jiwa yang mengerti.
Sebab hidup bukan hanya soal berlari di bawah hujan, melainkan juga tahu kapan harus diam, kapan harus mencari perlindungan, dan kapan harus percaya bahwa badai pun punya ujung. 🌧️
Allah itu paling tau banget apa yang kita butuhin.
Kita pengen duit banyak, Allah kasih kecukupan kita tiap hari untuk makan, minum, dan istirahat. Bisa tidur yang cukup dan nyenyak ternyata adalah kenikmatan luar biasa di zaman overthinking ini.
Kita pengen punya kendaraan roda empat yang mewah, Allah kasih kita kaki untuk bisa melangkah kemanapun kita mau. Kira-kira kalau kaki kita sakit, bakal terasa nikmat ga ya walaupun punya kendaraan mewah?
Kita pengen punya rumah mewah dan minimalis, Allah kasih kita kontrakan yang bisa buat keluarga kita tertawa terbahak-bahak tanpa harus mikirin besok mau makan apa.
Tidur yang nyenyak. Makan yang kenyang. Bisa ketawa ngakak. Semua itu Allah kasih tanpa biaya.
Sebab, ada yang memiliki semua yang kita ingin, tapi Allah ga kasih semua yang kita bisa miliki sekarang.
Ada yang punya mobil mewah, tapi utangnya banyak, jadinya ga bisa tidur nenyak. Ada yang bisa beli makanan yang paling enak sedunia, tapi ga bisa dimakan karena kondisi kesehatannya yang memburuk. Ada yang punya rumah mewah, tapi hubungan dengan keluarganya seperti perang dingin. Sunyi dan sepi.
Karena boleh jadi
Apa yang paling kita miliki sekarang, ternyata paling diinginkan oleh orang lain. Begitu sebaliknya, apa yang kita inginkan sekarang, boleh jadi orang lain sudah merasa tidak perlu memilikinya.