Another part of Me
Saya menyadari bahwa salah satu bagian dari diri ini adalah seniman amatir yang suka sekali berkarya dalam media apapun, yang bahkan tak perlu pengakuan. Sementara bagian lainnya, sangat saintifik dan begitu melebur dengan alam, yang dengan serius mencintai salah satu cabang dari Biologi, yang dikenal sebagai Ekologi.
Kenapa Ekologi?Â
Bahkan super percaya diri untuk tulis biodata diri sebagai Ecologist?Â
Hehehe...
Definisi Ekologi
Mengutip dari salah satu website, ekologi adalah studi saintifik dari proses yang dipengaruhi oleh distribusi dan kelimpahan organisme, termasuk interaksi dalam satu populasi maupun interaksi antar-populasi, serta transformasi dan aliran dari energi dan materi, yang terjadi pada suatu ekosistem.
Well, ini definisi terbaik sih. Menggambarkan terperinci apa yang sesungguhnya jadi bahasa utama orang Ekologi.Â
Ekologi, ya persisi di definisi ini...
Definisi Ecologist
E·col·o·ɥist / ÄËkĂ€lÉjÉst / noun
an expert in or student of ecology.
Ekologi dalam Ilmu Biologi
Ekologi adalah satu dari banyak sekali cabang dalam Ilmu Biologi. Seperti yang sudah umum diketahui, cabang dari Biologi itu ada yang aplikatif banget, sehingga bahasannya sangat teknis, dan ada yang saintifik banget, yang sebagian besar isinya tentang teori. Nah, Ekologi itu salah satu cabang Biologi yang saintifik, alias ilmu murni, dan praktiknya aslinya teoritis banget đ€ . Hanya saja kelihatannya ringan, mudah, dan bahagia...
Untuk bisa belajar Ekologi, biasanya mahasiswa Biologi harus sudah mempelajari terlebih dahulu ilmu-ilmu dasar lainnya, misalnya soal zoologi, botani, mikrobiologi, apalagi morfologi, anatomi, dan fisiologi. Makanya, biasanya Ekologi adalah mata kuliah yang munculnya di semester-semester tengah hingga lanjut. Karena pembahasannya harus sudah menggunakan bahasan-bahasan ilmu dasar lain sebagai penopang teori Ekologi itu sendiri.
Nah, si Ekologi ini punya sekitar 10 cabang lagi, loh. Satu dari sepuluh cabang itu, yang kurang lebih menjadi judul pada apa-apa yang hampir sepuluh tahun ini, secara aktif maupun pasif, saya geluti adalah Aquatic Ecology.
Sesuai paririmbon dan hobi main air đ
Sekalipun sama-sama Ekologi, teori-teori yang dipelajari antara yang belajar Aquatic dan Terrestrial itu luar biasa berbeda. Piramida biomassanya aja terbalik. Itu baru cerita soal darat dan air, belum lagi mengerucut per-ekosistem... Sesama ekologi akuatik, dipecah lagi jadi Laut, Sungai, Danau, yang sudah pasti beda teori lagi. Terus samplingnya di bagian mananya bada air? Kolom air, permukaan, atau benthic zone? ............dst......dll.....dkk.... đŽ
Intinya setiap bidang ilmu nggak ada yang lebih pintar dari yang lain, lebih jago dari yang lain, lebih hebat dari yang lain... selayaknya tidak perlu membandingkan antara Matahari dan Rembulan, yang keduanya sama-sama bersinar dan berperan pada waktu dan daerah edarnya masing-masing.
Setiap bidang justru saling menopang dan ditopang satu sama lain. Mari kita pakai contoh dari foto di bawah ini, foto Keramba Jala Apung (KJA), yang sudah pasti bagian dari cerita Biologi.
KJA itu, termasuk dengan teknik budidayanya, pemberian pakannya, dan lain sebagainya, adalah kerjaannya orang-orang di bidang Aquaculture. Nggak sembarang perairan bisa dicemplungi KJA macam itu, loh. Semuanya harus terlebih dahulu dikaji mendalam, termasuk soal kedalaman perairan, suhu air, arus, arah angin, upwelling, dll dkk yang jadi bahasan dari orang-orang Aquatic Ecology. Tapi kalau cerita soal komoditinya, biasanya orang Fish Biology kenal sama ikan-ikannya dan bagaimana kondisi optimum mereka di alam untuk pemijahan, bertelur, dan lain sebagainya. Belum lagi kalau gen bibit-bibitnya dimodifikasi supaya tahan terhadap penyakit, pasti orang-orang Biologi Sel dan Molekuler turun tangan. Dan seterusnya...Â
Jadi soal satu KJA, bisa banyak sekali orang Biologi dari berbagai Laboratorium dan bidang keahlian, bekerjasama đ.
Oh iya, kalau mau lihat lebih rinci soal cabang Biologi yang lain beserta turunannya masing-masing, bisa lihat di referesi ini. (link).
Susah Senangnya jadi anak Ekologi
Harus di-italic, dicetak-tebal, dan digaris-bawahi kalau:
Tidak ada hal yang susah dari melakukan hal yang kita sukai. Karena sesusah apapun, pasti akan tetap terasa menyenangkan, sepanjang itu kita sukai.
Intinya, kita sukai. đ
Yang pasti ada beberapa point catatan, bahwa anak ekologi:
Harus punya banyak teman. Kenapa? Karena ilmunya itu bisa dibilang sebagai aplikasi dari banyak ilmu dasar Biologi. Kalau nggak bisa identifikasi tapi punya teman pintar identifikasi, kan Bahagia. Nggak perlu bayar Lab atau jauh-jauh ke LIPI đ/ Belum lagi samplingnya ke Lapangan. Emangnya mau ke lapangan, tidur di tenda, masuk ke hutan, sendirian?đ/ Terus kalau tiba-tiba analisisnya butuh data molekuler, kan harus banyak main di Lab Biomol. Kalau nggak ngerti pakai alat dan malas tanya sama laboran, yang kadang suka sibuk, kan bisa tanya sama teman satu Lab./ Analisis data statistik, misalnya udah blank, bisa tanya ke teman yang masih fresh jadi mahasiswa kelas Statistika, atau minimal pinjam bukunya, daripada sibuk sit-in lagi di kelas Statistik dan belajar dari nol đŽ.
Temannya pasti banyak. Iyalah... Soalnya kalau ke lapangan, pasti kenalan sama orang baru, minimal sama supir yang jemput di Bandara, deh. Kalau lagi penelitian, biasanya ketemu teman baru, yang berakhir jadi sahabat baru, bahkan keluarga baru. Yang misalnya tadinya ikut ke Lapangan jadi volunteer karena kenalannya teman, bisa-bisa pas pulang nanti malah jadi sahabat satu gank. Terus, karena terbiasa melatih diri selalu siap menghadapi apapun kondisi di lapangan, jadinya kebawa-bawa ke lingkungan pergaulan, yang menyebabkan rentang toleransi terhadap macam-macam jenis manusia juga jadi luas. Jadi biasanya anak ekologi muncul sebagai sosok yang menyenangkan dijadikan teman đ€. Apalagi pengalaman jalan-jalannya bikin nggak pernah kehabisan banyak cerita.
Harus tetap excellent di Laboratorium. Yaiyalah. Nggak mentang-mentang sibuk di Lapangan terus jadi nggak mau ngerti alat-alat Laboratorium đ€š. Justru preparasi alat dan bahan untuk di bawa ke lapangan itu jauh lebih rumit. Preservasi sample yang kita angkut sampai tiba di Laboratorium juga penuh perhitungan, karena kerjanya bukan cuma bolak-balik kosan-laboratorium kampus. Desain penelitian sudah harus jelas sebelum akhirnya tiket pesawat dibeli, karena menentukan berapa botol sample yang harus dibawa. Kalau kebanyakan kan males banget nambah biaya bagasi nggak penting dan pemborosan. Kalau kurang, siap-siap dibego-begoin dosen hihihi đ .
Terpaksa suka Matematika. Tools utama anak Ekologi itu Excel. Sekalipun angkanya nggak akan semumet yang kerja di laboratorium dengan duplikasi ratusan kali, tapi di luar statistika umum, Ekologi punya segambreng rumus sendiri, khusus untuk menghitung, mengukur, memprediksi, dan membaca banyak kejadian dan kasus yang terjadi di alam. Jadi kalau memang berniat lari dari Matematika SMA, maka memilih S1 jurusan Biologi, lalu berakhir penelitian Ekologi artinya kamu blunder (kaya saya)Â đ.
Hidupnya ringan dan gampang. Makanya banyak yang ngegampangin Ekologi. Tapi percayalah, itu cuma âkelihatannyaâ aja. Sisanya sama, kok. Di lapangan LDR sama pacar, lagi pedih-pedihnya kehujanan ambil data terus pacarnya happy-happy nonton bioskop di kota đ. Atau bahkan turun gunung keluar hutan, berakhir jadi jomblo. Udah lumrah, lah. Tapi ya memang susah depresi. Iya lah! Orang penelitian kita jalan-jalan, gimana mau depresi? Dibandingkan sama teman-teman yang sehari-hari habis waktu di laboratorium dan cuci petri disc satu ember đ€§, jangankan masalah cinta, masalah cucian aja udah mumet.
Kontemplatif. âEcologist is speak for nature, and that is why they do speak with Natureâ. Jadi nggak jarang, anak-anak Ekologi jadinya kontemplatif banget. Gimana enggak, kalau lagi ambil data sering kali sendirian di tengah hutan sepi cuma ditemani sama pohon, serangga, hewan calon sample. Tendanya nggak ada sinyal dan hiburan malamnya cuma lihat api unggun sambil melamun. Cuma angin atau bintang-bintang yang bisa diajak ngobrol. Apalagi kalau samplingnya nyelam atau snorkeling... yang kedengeran cuma suara nafas, gelembung udara dari alat sendiri, atau suara gumaman diri sendiri di dalam kepala sendiri đ€Ș.
Traveling itu bukan tipe liburan. Tapi Gaya Hidup. Emang kerjaannya begitu soalnya. Mulai dari penelitian sendiri, bantuin penelitian temen, volunteer penelitian dosen, akhirnya kerja proyekan yang digaji, akhirnya berprofesi dalam bidang keahlian sendiri, semuanya membutuhkan perjalanan yang bukan cuma transit hotel ke hotel, tapi juga ke tenda, ke perahu, ke hutan, ke shelter, ke laut, kemana-mana you name it, yang ada mahkluk hidup butuh disampling, ya dihampiri.
Good under pressure. Ini udah jadi pakem sih, karena tantangannya adalah bagaimana bisa menyearaskan semua sesuai dengan kebutuhan data, kondisi alam yang suka-suka hatinya banget, dan waktu yang telah direncanakan, yang erat kaitannya dengan uang, preservasi sample, alat bahan kimia yang ada waktu kadaluwarsanya, dan lain sebagainya. Sehingga dalam tekanan, sangat bisa mengambil keputusan. Alhasil, ketika hidup di kota, jadinya easy going banget.
Bahagianya sederhana. Pasangan hidup idaman banget sih ini. Hahaha... Selain karena jago P3K, bahagianya sederhana banget. Diajak kemana aja hidup. Dibawa kemana aja bahagia. Dikasih nginap di tenda aja bisa senyum girang, apalagi ditaro di hotel. Jalan kaki naik turun gunung atau panas-panasan susur pantai aja masih bisa  ketawa-ketawa, apalagi dikasih naik mobil pakai AC keliling-keliling. Makan indomi kornet tiga kali sehari aja sehat, apalagi makan di restoran pake minum susu. Sederhana banget...
Foto Petualangan
Mandiri banget, nggak di kasih makan, bisa cari sendiri di sungai đđđ
Penginapan mewah kami waktu saya penelitian di Sancang.
Keluarga baru waktu jadi volunteer penelitian di gunung Rinjani. Paling cantik, loh... soalnya dari tujuh pendaki, perempuan satu-satunya đ
Favorite playground : Mangrove.
Mati lampu waktu preparasi sample? Ada headlamp kan?!
Waktu survey pesisir dengan snorkeling di Sumbawa.
Main-main di Gunung Papandayan, sekalian temenin teman ambil sample serasah.
Bagaimana saya tidak cinta, kalau karena bidang ini, saya bisa jalan-jalan keliling Indonesia tanpa nabung, bahkan pulang justru dibayar đ€. Ekologi membawa saya naik gunung, masuk hutan, gelantungan di mangrove, main air di sungai, sampai nyelam di lautan.Â
Ekologi yang memfasilitasi seluruh keinginan saya untuk berpetualang dalam segala kondisi dan mencicipi masuk ke dalam beragam ekosistem dan bertemu dengan teman-teman sesama penghuni Planet ini. Terbaik.












