I won't give up on my dream.... until it's not a dream anymore. Because I made it reality
eL
occasionally subtle

Discoholic 🪩

oozey mess
todays bird
Show & Tell
One Nice Bug Per Day
Lint Roller? I Barely Know Her
Not today Justin
DEAR READER
noise dept.
Stranger Things
cherry valley forever

Origami Around
RMH
AnasAbdin
Cosimo Galluzzi
Misplaced Lens Cap
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
seen from Trinidad & Tobago

seen from United States
seen from T1
seen from Singapore
seen from Slovakia
seen from Saudi Arabia

seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Poland

seen from China

seen from Malaysia

seen from Türkiye
@li-lady
I won't give up on my dream.... until it's not a dream anymore. Because I made it reality
eL

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
I hate a lot of things and I don't like particular things
eL
biarlah aku ingin pergi tak perlulah resahkan hadirku pun ketiadaan jika keduanya tak ada beda karena ternyata, sungguh kau tak sedikitpun memiliki rasa itu ah, maafkan Jika aku tak setegar yang kuucapkan bagaimanalah ini, bagaimana mungkin aku terduduk patah hati atas perasaan yang seharusnya indah kau tau, mencintai saja tidak pernah cukup perasaan itu tak bisa dipercaya perasaan itu kadang berkhianat kau bisa saja merasa cukup dengan me- tapi ia ingin di- Hati ini ia bahkan berani menolak titah tuannya apa lagi yang bisa kulakukan Jika ternyata rasa ini membuatmu tak suka biarlah, aku akan pergi meski tak ingin mengubur semua rasa kemudian tersenyum melihatmu dari jauh
I will never stay with you, but I leave my heart. I was so grateful when you stay here for a while. And think about everything we’ve done, maybe I’ll regret it. However, I love this feeling. I really understand that you don’t want us become too engaged. Thanks for your concern. But, come on.. I am happy. Don’t you see it? Even if at the end you choose her. I won’t interfere. Why would I? Life is full of choices, and when I opt for you, I know the consequences. Don't worry too much about me. I won't be with you every day. Maybe I'm not the one you share everything with. But, when you feeling bad, just remember, there’s a girl from other side of the world who always uphold you in her prayer.
eL
You can’t make someone love you. If they want to cheat, leave them. If they want to leave, let them. It will hurt but you will learn and you will heal.
Tony Gaskins (via onlinecounsellingcollege)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pertemuan (Ter)akhir
Mendung sejak pagi menghiasi langit kota Bandung. Meski udara diluar cukup dingin, aku yang duduk dalam salah satu ruangan ber-AC di gedung rektorat kampus Padjajaran ini tetap merasa gerah, sedari tadi hanya duduk gelisah dan sesekali melirik jam. Seharusnya acara sudah selesai, aku sudah mempresentasikan esai beberapa jam yang lalu dihadapan dewan juri. Disampingku seorang finalis dari Universitas Airlangga duduk tenang sambil menyimak MC yang sibuk bercuap-cuap. Aku tidak terlalu peduli, bahkan ketika salah seorang finalis stand up dakwah tampil "menghibur" dan membuat seisi ruangan dipenuhi oleh gelak tawa. Sungguh, akan lain ceritanya jika aku tak punya janji bertemu seseorang sore ini. Sekali lagi kulirik jam dipergelangan tangan kananku, tersisa satu jam lagi atau aku tidak akan pernah bertemu dengannya. Akhirnya tanpa pikir panjang, tanpa menunggu seluruh rangkaian acara benar-benar selesai aku meninggalkan ruangan, tak peduli pada MC, pengumuman itu tak penting lagi. Aku masuk lift, turun, kemudian terus berjalan secepatnya ke Al-Jihad, sholat ashar, berlari ke tempat parkir ditengah hujan gerimis dan segera meluncur ke kampus lain yang masih tetangga kampus ini.
Sepanjang perjalanan aku sibuk memikirkan kata-kata yang akan kuucapkan nanti. Jujur aku tidak pernah merasa segugup ini. Beberapa hari yang lalu, bukan latihan presentasi esai yang kulakukan, tapi latihan "conversation" saat bertemu dengannya yang –apa mau dikata– jatuh pada hari yang sama. Aku berlatih bagaimana membuka percakapan, bertanya sendiri, menjawab dengan berbagai versi yang mungkin dijawab olehnya, menurutku versiku sendiri tentunya, kemudian menanggapinya lagi. Parahnya, itu tidak hanya kulakukan di kamar kos, tapi juga di kamar mandi, saat berjalan, saat naik kendaraan, bahkan saat tidurpun aku merasa perlu untuk melatih kemampuan bicaraku.
Sebenarnya aku sudah merencanakan pertemuan ini beberapa waktu lalu, tapi tetap saja ketika dia bertanya, "punten, tadi nelepon ada apa ya", aku membutuhkan waktu hampir duabelas jam untuk berfikir, dan kemudian hanya sanggup membalas singkat, "oh itu, maap kepencet". Lala, sahabat dekatku malah tertawa sejadi-jadinya saat kuceritakan kejadian itu, "tak adakah alasan yang lebih canggih?" katanya sambil terus menggodaku. Akan tetapi berkat dukungannya juga aku akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi-nya siang itu.
Aku tidak tahu bahwa menelpon seseorang bahkan sebelum mendengar suaranya diseberang sana,ternyata bisa membuat jantung kita bisa berdegup begitu kencang. Absurd. Tak ada respon, mungkin sibuk, kuputuskan untuk mengirim pesan singkat, "apa kabar ka? Kalo udah megang hape, sms ya". Satu, dua jam menunggu, tak ada balasan. Seharian itu, aku sudah hampir putus asa, lihatlah, bahkan dia tidak berminat untuk sekedar membalas SMS dariku, apalagi bertemu. Duabelas jam kemudian sebuah pesan masuk, "ada apa ya? Punten baru megang hape lagi". Ternyata dia barusaja mengikuti kegiatan himpunan di luar kota dan handphonenya tertinggal di asrama. Saat itu sudah lewat tengah malam, aku yang sedari tadi memang belum tidur, seperti malam-malam sebelumnya, segera membalas "udah malem, besok aja".
Keesokan harinya aku masih berfikir keras tentang rencanaku. Jika benar terjadi, maka itu adalah hal tergila yang pernah kulakukan. Sebenarnya sederhana saja, aku ingin bertemu dan bicara beberapa patah kata, karena minggu depan mulai bekerja di Jakarta. Tapi mengajaknya bertemu jelas tidak sesederhana itu, apalagi tanpa alasan yang jelas, mengapa dan dalam kapasitas sebagai apa. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya dengan segala keberanian yang kumiliki, aku menelpon dan mengatakan bahwa aku ingin bertemu, tepatnya ingin bertemu teman yang sekampus dengannya, jadi sekalian bertemu dia juga. Ternyata ada seorang yang terbiasa lancar dalam presentasi, runut dalam berbicara, sistematis dalam berargumen, harus terbata-bata saat menanyakan kabar, ada.
Aku memasuki pelataran kampus itu, memarkir kendaraan kemudian berlari kecil menuju gerbang. Sebentar lagi aku bertemu dengannya, hatiku mendadak tak karuan. Aku segera menelpon Lala dan mengabarkan bahwa misiku selangkah lagi akan berhasil, "mba, aku bingung mau ngomong apa" nafasku yang tidak teratur terdengar sampai seberang sana. "tenang, cobalah bersikap senormal mungkin, tenang, tarik nafas dalam", instruksinya persis seperti saat dia bertugas menenangkan ibu hamil yang akan melahirkan.
"udah, udah dulu ya, ini dia udah datang" ucapku sambil buru-buru menutup percakapan, masih terdengar teriakan dari ujung sana "ga usah dimatiin, heiiiii" tapi tanganku sudah lebih dulu memasukkan ponsel kedalam saku blazer. Sekarang lihatlah, persis dihadapanku, telah berdiri seorang lelaki dengan jaket biru, jaket yang dulu pernah kugunakan untuk tidur di bandara Schippol. Aku kikuk, ber-say hai sambil terus berjalan, bertanya perlahan, berusaha memutus suasana canggung tiga menit terakhir.
"mau kemana sekarang, mau langsung rapat ya?" tanyaku dengan intonasi senormal mungkin. "iya nih udah jam 4" jawabnya singkat "oh, aku mau ketemu temen sih, di jurusan tambang" jawabku sekenanya "tau kan tempatnya?" tanyanya lagi. Aku diam, hanya ber-emm umm tak jelas, aku tau, sangat tau karena beberapa minggu yang lalu sudah berkunjung kesana dan bertemu bang Imam, dosen muda yang kukenal di sebuah acara. Dia memberiku salinan materi dan latihan soal IELTS yang digunakan untuk belajar sebelum beliau kuliah di Aussie.
Mungkin karena aku yang tak kunjung menjawab akhirnya dia berkata "atau ditunjukin jalannya aja?" aduh, ni anak nggak ngerti-ngerti aku kan masih ingin berbicara dengannya. "tapi janjiannya kan jam 5", kataku. Aku berfikir cepat, berhitung dengan keadaaan, "mmm, boleh nggak aku ikut rapat, maksudnya nunggu aja, daripada ga tau mau ngapain dan nunggu dimana”, aku memasang muka paling memelas abad ini, dan gayaku persis seperti anak yang merengek pada ayahnya agar diijinkan ikut ke pasar. Untunglah dia berjalan didepanku, jadi tak perlu melihat ekspresi mukaku yang pias bercampur gugup.
Dia terus berjalan, sesekali berbicara, ketika bertemu teman atau ada yang menyalaminya, aku sengaja mengambil posisi agak jauh. Sejauh ini aku senang setidaknya sudah bertemu dengannya, mungkin untuk yang terakhir kali sebelum meninggalkan kota ini. Tempat rapatnya ternyata di kantin, bukan di sekretariat organisasi seperti yang kupikirkan. Dia segera berbaur dengan teman-temannya. Aku memisahkan diri, duduk tak jauh dari mejanya. Kantin tersebut sangat ramai dan dipenuhi oleh laki-laki, maklum kampus teknik. Aku merasa risih ketika harus berdiri mengantri untuk memesan makanan. Kulihat dia ikut berdiri diujung sana, aku memilih untuk duduk kembali, ambil hape, SMS, "pengen makan mie, tapi bingung mesennya gimana, pesenin dong" aku lupa kalau tadi sudah berjanji tak akan merepotkan. Ya sudahlah, aku tak mau ambil pusing, kemudian segera pindah mencari bangku yang aman. Dia sempat melirik ke arahku dan memberi isyarat bahwa makanku sudah dipesenin. Aku hanya tersenyum dan kembali dengan buku catatanku.
Tak banyak yang bisa kulakukan disini, tapi setidaknya aku bisa melihatnya dari dekat, mendengar suaranya saat memimpin rapat, berdiskusi dengan teman-temannya. Hingga sebuah SMS masuk, "bismillah aja mbak...jangan ampe keliatan groginya, aku bantu doa yaa, nanti kabar2" kata Lala "haha, aku udah grogi bgt ni, ikut rapat, lagi nunggu mie yang dipesenin ama dia, wkwkwk" "hahahaha...parah2 loh" "kita duduk beda meja sih, mba, tapi dia ga nanya aku pengen nitip apa" "hahaha bilang aja sesuai dgn rencana kita kemaren... aiiiiihhhhh..eksekusi eksekusi" "aduh, kalau sesuai rencana aku kan jam 5 mau pergi..berarti ga akan sempet ngobrol dong..huhuu" "puterr otak dounk...pliss cari cara. Permisi bentar kek bilang mau nitip sesuatu ama si dia itu" "aduhhhduhhh...ga bisa mikirrrr" iyalah mana mungkin bisa mikir jika semua perhatian dan konsentrasi tertuju padanya. "jangan sia2kan kesempatan euyyy... bangun banguuunnnn!!!" tampaknya Lala sudah mulai sebal denganku "mbaa...kan yang penting ketemu ama dia buat terakhir kali sebelum pergi, heu" "alasannn.....huuuufffft! Cuman bilang 'nitip hatiku ya', berat banget po mbak, hehehe" "aduh mbaaa.. mending gue disuru ujian kompre lagi plus ujian sidang dihari yang sama..itu lebih gampang" "aih...masih berharap kamu bisa mengatakannya" "punten tadi ga keburu, kalo mau mesen makan bilang ke yang pake baju pink item aja" kali ini SMS darinya "ya udah ga pa2, ga jadi aja" jawabku singkat. Sebenarnya aku tak ingin makan mie, hanya ingin makanan yang dipesankan olehnya.
Aku kembali mencoret-coret dibuku catatanku, memikirkan alternatif terakhir. Ah ya, mengapa tak kutuliskan memo untuknya. Aku tersenyum antusias dengan ideku sendiri, kemudian segera tenggelam dalam tulisanku.
Aku memandangi catatan itu, melihat tulisan tangan yang bersambung dan meliuk-liuk, jauh dari kata rapi, tapi terbaca. Tersenyum tipis dan segera melipat kertas itu. Beberapa lama kemudian tiba tiba petugas kantin datang dan bilang mau membereskan meja sebelah. Ka Zaf dan teman-temannya bangkit melihat sekeliling, tersenyum ke arahku, hanya aku sendiri di meja yang cukup panjang itu. Aku kemudian membereskan buku catatan, hendak pindah, tapi seseorang dari mereka berkata agar aku tetap disana. Ka Zaf sepertinya tak keberatan duduk semeja denganku, pandangan kami sempat bertemu sejenak, hei dia tersenyum padaku, aiiih. Tanpa bisa dikontrol aku malah berkata, "ka, boleh minjem hp ga?, mau ngeSMS tapi hpku lowbat" padahal di tas ada power bank, hah, tapi memang benar ko hapeku lowbat. Absurd. Kurang dari satu menit, hp itu sudah berpindah tangan. Hal yang pertama kulakukan adalah mengecek namaku di hpnya, ternyata nama lengkap sesuai ijazah, meski ada sedikit kesalahan ejaan.
Ah ya, aku ingat dulu pernah meminta nomor kontak seseorang padanya, dikirim lengkap: Ryan Fikri Husniaputra, Ryan saja tak pernah menyebut namanya selengkap itu, di akun-akun media sosialnya hanya tertulis Ryan Fikri, pun ketika pertama kali berkenalan denganku di Singapore. Kalian tau kan, Ryan adalah sahabat baikku. Persahabatan kami memang unik. Aku dipertemukan dengannya –juga dengan ka Zaf dan teman2 seasrama mereka– saat akan mengikuti sebuah konfrensi internasional. Kami dibagi dalam beberapa kloter. Aku, ka Zaf dan beberapa kawan lain bertemu di Jakarta, kami transit di Changi Airport bertemu Ryan dan yang lain, kemudian singgah di Doha bertemu Riadi, Can, sampai total ada 21 orang dan segera terbang menuju Belanda.
Aku melewati hari-hari yang sangat menyenangkan bersama mereka. Bukan, bukan karena akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di negeri Kincir itu, tetapi karena disana aku benar-benar menjadi seorang wanita, mendapat pengakuan secara de facto maupun de jure. Pagi-pagi aku akan bangun untuk menyiapkan sarapan. Aku senang melihat wajah-wajah antusias mereka ketika beramai-ramai berebut makanan di dapur. Meski hanya kumasakkan nasi goreng, telur dadar atau mie rebus, sekacau apapun rasanya selalu habis, atau terpaksa dihabiskan. Salah satu dari mereka bahkan pernah berkata, "kalaupun teteh memasakkan air campur garam pasti kami habiskan". Dilain waktu sepulang dari jalan-jalan atau berburu oleh-oleh, mereka biasanya menemaniku berbelanja kebutuhan dapur. Memilih sayuran, membawa belanjaan. Tidak hanya itu, mereka bahkan membantuku memasak, ada yang mengiris wortel, kentang, mengupas bawang. Mereka tak segan turun tangan. Belakangan aku mengetahui bahwa orang yang dulu kusuruh mencuci beras ternyata adalah ketua himpunan X, yang mengaduk penggorengan adalah menteri di kabinet Y. Dibalik wajah-wajah polos mereka, dibalik segala kehebohan mereka, dibalik segala kegilaan mereka terhadap anime, mereka bukanlah orang-orang biasa. Aku bisa merasakan kehangatan keluarga bersama mereka. Aku yakin, mereka adalah calon pemimpin masa depan sesuai dengan moto lembaga yang menaunginya "create future leader".
Kisahku dengan ka Zafeer pun berawal dari sini. Aku terlambat menyadarinya. Malam itu dalam perjalanan pulang, aku duduk bersebelahan dengannya. Ada perasaan yang lain. Saat itu masih belum berbentuk, hingga benar-benar terdefinisikan beberapa waktu setelahnya, saat aku tak bersamanya lagi. Ada sesuatu yang hilang.
Ponsel itu masih ditanganku. Kupakai untuk mengirimkan SMS pada seorang teman. Tadinya ingin minta ijin untuk kupakai bermain game karena tak ada lagi yang bisa kulakukan sambil menunggu, tapi urung kulakukan. Pertama karena aku tak mau menginterupsi rapat itu, kedua aku tak hobi main games. Aku tiba-tiba ingat, bukankah dulu aku pernah berfoto menggunakan hp ini saat berada di Rotterdam. Aku belum sempat meminta foto itu. Akhirnya iseng kubuka galery. Minta ijin bisa belakangan, pikirku. Tak butuh waktu yang lama sampai aku menemukan sebuah foto. Aku menghela nafas tertahan. Berusaha menjaga ekspresi sewajar mungkin. Hanya berselang sepersekian detik. Aku membujuk hatiku untuk tegar. Tetapi percuma. Menyakitkan.
Selalu ada bagian yang tidak masuk akal dalam perjalanan cinta. Pertemuan ini, aku tahu persis, hal seperti ini bisa saja terjadi. Tapi aku tak menyangka, melihat sebuah foto ternyata bisa begitu menyakitkan. Aku harus pergi sesegera mungkin, "aku duluan, makasih ka" sambil tanganku menyodorkan ponsel tersebut.
Tanganku bergetar meraih handphone yang masih punya sedikit daya, mengetikkan SMS, "failed!". Hanya berselang sepersekian detik Lala menelponku, bertanya kenapa, aku hanya menjawab bahwa cukup senang bertemu dengannya, hanya bertemu, itu sudah lebih dari cukup. Aku bingung melihat sekeliling, samasekali tak ingat jalan yang kulaui tadi, bagaimana bisa mengingat jika pikiranku hanya tertuju pada foto itu. Aku terus melangkahkan kaki, pikiranku menerawang, seharusnya aku tak melihatnya, aku memejamkan mata berusaha mengusir kejadian beberapa menit yang lalu hingga dikagetkan oleh sebuah mobil yang melaju cukup kencang, maju selangkah lagi aku pasti sudah tertabrak. Hei, bukankah ini masih wilayah kampus, mana boleh bawa mobil sekencang itu. Aku terus berjalan hingga sampai digerbang pertama tempat bertemu dengannya, Lala masih memaksaku untuk bercerita lebih detail, kukatakan padanya bahwa aku akan bercerita nanti. Aku langsung menuju tempat parkir dan meninggalkan tempat itu, meninggalkan kejadian yang akan kuingat sepanjang hidupku.
Lalu lintas sore hari yang semakin padat ditambah kondisi hati yang tak menentu, membuatku tidak konsentrasi. Beberapa kali sopir angkot meneriakiku, tapi foto itu seperti menutup seluruh penglihatanku. Aku tak sanggup lagi melihatnya. Hari mulai gelap, tanpa kusadari kendaraan didepanku berhenti mendadak, aku kehilangan kendali, motor yang kukendarai oleng ke samping menimpa tubuh bagian kiriku. Aku berusaha bangkit meskipun kakiku terasa nyeri, melanjutkan perjalanan pulang dengan sisa-sisa tenaga.
Badanku basah kuyup oleh hujan, hatiku lebih lagi, basah oleh air mata. Memang benar tangisan itu mendera hati, bukan mata. Malam itu Lala menelponku dan kami berbicara hampir dua jam. Kejadian ini membuatku sadar akan satu hal: selama ada sahabat yang akan menghiburmu, kau tak perlu takut jatuh cinta, atau jatuh sakit karena cintamu terlambat datang.
Bandung, 9 Desember 2013
Ternyata berdamai dengan diri sendiri itu tak mudah, sungguh. Berapa kalipun aku bersumpah, sekuat apapun berteriak, sekeras apapun mencoba untuk mengubur semua perasaan itu, ia selalu hadir. Dan itu melelahkan
Alifya Zahrana
Hujan
Bagiku hujan bukan sekedar peristiwa alam yang membuat awan terkondensasi dari langit, yang membuat titik-titik air turun dengan kecepatan tepat akurat, yang tidak membuat rusak apa yang dihantamnya di bumi namun cukup kuat untuk menciptakan sebuah irama. Hujan memberiku semacam energi, energi untuk berfikir, energi untuk menulis. Seperti saat ini, sedari pagi aku hanya leyeh-leyeh dikosan, menanti kejelasan nasib dari dosen yang katanya akan memberi bimbingan senin sekarang, tapi sampai detik ini belum mengabariku lagi. Dan seperti yang umat manusia ketahui bersama bahwa menunggu dalam ketidakpastian itu kadang tidak menghasilkan apa-apa kecuali ngahuleng, mau apa lagi, revisi udah, belajar ujian kompre udah...udah mumet duluan. Baca skripsi lagi, aduh plis deh. Dunia ini bukan hanya tentang skripsi. Urusan itu biasanya akan selesai ketika aku hijrah dari kosan dan mengungsi di you-know-where. Tapi kabar baiknya adalah dospem II udah acc setelah dua kali bimbingan dari yang seharusnya empat, karena telah kuikuti semua maunya. One step closer, yeah. Jadi curcol jeh. Loh, emang blog ini didedikasikan untuk menampung curcol penting-ga penting si gue kan.
Kembali tentang dia, eh tentang hujan. Aku senang menikmati saat hujan, meski disini aku tak bisa mencium bau tanah yang khas itu, dan hujan kali ini, seperti hujan-hujan sebelumnya, selalu mengingatkanku tentang seseorang: tentang dirimu. Ah, mungkin ada yang salah dengan pikiranku, tapi rasanya aku tau, sebab pertama. Ya, sepertinya aku harus menelusuri sebab pertama yang membuatku terseret kedalam kegilaan ini, kegilaan yang membuatku merasa hidup. Jika mereka menyebut cinta adalah perasaaan irrational yang tidak perlu sebab, mungkin mereka tidak benar-benar mengenal apa yang dicintainya. Aku yang seorang pemikir rasional selalu butuh sebab untuk melakukan sesuatu, meski sebab itu kuketahui belakangan. Mungkin itu juga yang membuatku sekilas terlihat cepat mengambil keputusan, terlalu cepat bahkan, seperti keputusan untuk maju atau mundur teratur. Bukan plin-plan, karena plin-plan menurutku tidak mempunyai pendirian, sementara aku punya pendirian, hanya kadang berubah dari waktu ke waktu. Bukankah itu wajar.
Hujan pertama yang kita lewati bersama, hujan pertama yang kudapati di negeri dua benua itu. Setelah sepotong kicauan di socmed yang membuatku berfikir keras malam hari sebelumnya, sadar gak sih, kamu membuatku tak bisa tidur memikirkan kata-kata itu. dan pagi harinya setelah menunaikan kewajibanku di dapur, aku duduk di taman belakang ditemani ais, menuliskan cerita perjalananku. Dan kamu, entah melakukan apa diatas sana. Memang setelah itu semua berjalan seperti biasa, tapi aku masih menyimpan sejuta tanda tanya.
Hujan kedua, saat aku menunggumu dinegeri tempat kita dilahirkan. Sebuah pertemuan yang mungkin tidak seharusnya terjadi. Kalimat seperti, "tak perlu terlalu sempurna di awal" atau, "membangun kepercayaan butuh waktu yang lama, namun untuk menghancurkannya hanya butuh waktu sehari" seperti diasosiasikan denganku. FYI, mungkin penting untuk diketahui bahwa selain sotoy ternyata gue narsis. Tapi tenang saja, aku bisa menempatkan kedua kebiasaan itu pada tempatnya. Dengan kedua paradigma itu, aku ingin memaparkan beberapa temuanku disini, yang membuatku yakin bahwa pertemuan kita saat itu bukan sekedar pertemuan biasa, atau dengan kata lain, meminjam istilah seseorang, pertemuan yang telah tertakdir secara khusus. Aku suka memperhatikan detail suatu kejadian, menerka-nerka, kemudian mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang kadang benar kadang salah, yah, namanya juga mengira-ngira. Tapi, ehem... sepertinya urung disampaikankan disini, kamu pasti akan menertawainya. Sudahlah yang jelas aku sudah punya jawaban atas pertanyaan sebab pertama itu. Kelak akan kusampaikan pada saatnya nanti.
Musim hujan berikutnya, kuharap kita bisa menikmati hujan bersama, lagi.
Bandung, 28 Oktober 2013
Renungan Senja
Senja kali ini terasa begitu berbeda, kalo boleh jujur hatiku masih diwarnai corak merah jambu itu. Perasaan yang tadinya hampir kukubur sebelum ia berkarat, beberapa hari terakhir ini entah mengapa hadir dengan cara yang misterius. Tepat disaat aku berfikir bahwa aku bisa menganggap semuanya biasa, tapi lagi-lagi itu hanyalah angggapan. Nyatanya, aku masih sibuk meredakan debar-debar dihati saat mendengar melihat atau sekedear terlintas apapun yang terkait denganmu. Kau tahu, itu sangat merepotkanku. Jangankan mendengar "merek" disebut, melewati suatu tempat dan ada toko yang menggunakan nama itu misalnya, atau ada angkot jurusan daerah sana, seulas senyum sudah menjadi reaksi alami atas itu semua, seolah segala sesuatu yang kutemui secara otomatis diasosiasikan denganmu, ah... absurd memang dan kalo dipikir-pikir lebay juga sih gue.
Sejenak melihat kebelakang, pada awalnya aku pun berfikir itu bukanlah dirimu. Aku bahkan baru menyadari ada ketergantungan hati disaat-saat terakhir skenario, detik-detik menjelang kisah harus "bersambung". Malam itu, antara langit Istanbul dan Doha, aku menemukan semacam keteduhan saat berada segaris denganmu. Dini harinya aku terlelap bersama jaket biru itu, sementara kau kedinginan disana, ah, maafkan betapa egoisnya aku. Jika nanti diijinkan bersama semoga aku bisa menggantikan kehangatan itu.
Setelah perjalanan panjang itu, kau mungkin bisa menebak siapa orang pertama yang paling ingin aku temui. Berbekal alasan yang dilogis-logiskan, di pagi menjelang siang itu, dua jam menunggu, kemudian berlalu tanpa kata. Bukan, aku samasekali tak marah, hanya bingung harus bersikap seperti apa. Setelahnya, aku hanya menambah rentetan alasan yang membuatku semakin terlihat bodoh. Aku yakin kaupun menyadarinya, bagaimana aku mencoba melibatkanmu. Tapi justru itu yang membuat segalanya jadi rumit, complicated. Pola komunikasi yang sangat tidak sehat. Apalagi setelah menyadari bahwa tahun depan, kau sudah bersamanya, aku mulai mengatur langkah untuk mundur teratur. Ternyata komunikasi yang belum waktunya dan tidak seharusnya serta ekspektasi yang berlebihan hanya memperparah keadaan. Memang tak seharusnya aku berharap padamu, karena ku tau kau tak bisa memberikannya, terimakasih telah mengajarkanku untuk hanya berharap pada Penciptamu saja.
Jika kembali berkaca, sungguh rasa tak pantas. Tapi jika boleh sejenak berandai, dengan segala perbedaan ini, apakah mungkin? Tapi sudahlah, yang kutau Dia tak pernah salah memasangkan, jodoh tak akan tertukar, karena jika tertukar maka bukan jodoh namanya :)
Sebenarnya ada satu hal yang menjadi pemicu utama kegilaan --yang membuatku merasa hidup-- ini, ya tulisan itu. Jika ada orang yang obsesif kompulsif terhadap tulisanmu, merasa belum cukup hanya dengan membaca satu kali, atau terus mengulang aktivitas yang sama padahal sudah dilakukan berkali-kali, bisa jadi itu aku. Bisa jadi. Meskipun aku sendiri tak yakin "kamu" disana adalah "aku" disini,
Kenyataannya hatiku mampu dibuat merona dengan kata-kata yang menyejukkan itu. Ternyata sesederhana itu membuatku bahagia. Tapi, kalaupun itu bukan aku, biarlah aku tetap ingin berterimakasih padamu, dan berterimakasih pada-Nya yang menghadirkan skenario indah ini dalam hidupku. Bagaimanapun kelanjutan kisah ini, telah kupasrahkan pada-Nya, ranahku hanyalah terus memperbaiki diri agar dipantaskan dengan seseorang yang memang pantas untukku.
Bandung, 17 Oktober 2013
110116
I won't try to get you anymore. I'm done. Sendiri memang sepi sepi yang membunuh, perlahan tapi bersamamu yang tak ingin bersamaku Bukankah jauh lebih menyedihkan daripada kesepian itu sendiri? kupikir aku telah merelakan semuanya kupikir aku sudah cukup bahagia meski hanya sesaat bersama tapi Tuhan, ternyata kebahagiaan itu semu aku salah, aku bodoh, aku telah bertindak semaunya dan kini, ketika semua ketakutan itu menjelma dalam sebuah mimpi Menyatu dengan segala kekalutan dalam pikiran aku hanya bisa terduduk lemah hingga tulang dan persendian mati rasa, seperti hatiku sebuah mimpi ternyata bisa terasa begitu nyata ketika akhirnya aku melihatmu bersamanya, Saat itu aku akhirnya menyadari bahwa tak ada lagi ruang untukku tapi lihatlah, aku masih bisa tersenyum untukmu, untuk kalian Aku berjanji tidak akan menangis lagi karenamu, kalaupun pada akhirnya air mata itu jatuh, lagi itu karena aku yang terlalu lemah Kabar baiknya Tuhan Yang Maha Tahu bahwa aku akan bertindak sebodoh ini, telah menciptakan kita dalam bentuk sebaik-baik penciptaan ternyata kita manusia, masih bisa hidup meski dengan hati yang hancur berantakan. Bandung, 13 Januari 2016 10.56 p.m

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Perempuan tidak takut hidup sederhana. Perempuan khawatir pasangannya minim juang dan usaha.
(via celotehsinonapuisi)
Jangan Bunuh Cintaku
Jangan tak memberi kabar Saat aku rela menunggu seharian
Jangan asal pergi tanpa peduli Saat kau tahu kau ditunggu bahkan sampai berlalunya hari
Jangan tak acuh Saat curigaku sedang riuh Bukankah seharusnya kau meyakinkanku dangan penuh?
Jangan memenangkan ego sendiri Saat seharusnya kita belajar mendewasakan diri
Jangan pura-pura tak tahu Dan membiarkan tidurku dipenuhi amarah seisi kalbu Jangan…
Jangan bunuh cintaku Karena aku masih ingin selalu kamu Yang mengisi hari-hari Sampai entah kapan nanti.
Medan, 1 Oktober 2015
- Tia Setiawati
Maafkan Aku yang Tidak Sesabar Itu
Mungkin aku memang bukan perempuan tersabar di dunia Pun masih jauh dari apa yang kau harapkan Yang memang tak mampu melawan ego juga sikap tak acuhmu
Maka di sinilah… Aku kalah
Maafkan aku yang tak sesabar itu Saat kutahu kau begitu mudah ingkar pada janjimu Karena masih kutorehkan prinsip dalam hidupku Bahwa pria sejati mampu memegang kata-katanya Bukan hanya gengsi semata
Maafkan aku yang tak sesabar itu Perlahan hendak pergi saat tahu kau tak lagi peduli Entah bagaimana bagimu Namun masih saja sama bagiku Cinta berarti memberi hati yang penuh Dan itu selalu sepaket dengan peduli yang utuh
Maafkan aku yang tak sesabar itu Pasti akan kuakhiri kisah kita saat tahu kau mendua Tidak bisa tidak Bagiku, setia masih tetap semulia-mulianya cinta
Dan untuk kali terakhir ini Aku tak akan mengucap maaf padamu lagi Karena mencintai diri sendiri Adalah salah satu wujud syukur pada Sang Ilahi.
Medan, 28 September 2015
- Tia Setiawati
281215
Jika sudah seperti ini, Mungkin dulu-dulu aku akan memilih menyerah, pergi tapi sekarang, biarlah aku tetap disini, karena pergi atau bertahan tak ada beda, sama-sama sakit, aku sudah pernah mengalami keduanya Kau tau persis, apa yg ada di hati ini, kau pernah bilang, jangan heran jika dalam perubahan ada sesuatu yg tidak berubah, dan yg tidak berubah itu adalah perasaan cinta itu akan tetap ada, a. mungkin tidak seperti dulu Karena kini ia makin dewasa, menjelma bercabang-cabang menjadi penerimaan, tulus, nyaman, sabar, pengertian, rasa sakit cuma salah satu cabangnya aku pernah kehilanganmu, dan aku tidak ingin itu terjadi lagi Tidak, aku tidak akan menyerah untuk sesuatu yg sudah kurawat bertahun-tahun aku akan tetap pergi ke kota itu, mungkin tidak bertemu denganmu, tapi kenangan tentang kita semoga ia cukup mengobati rasa rindu ini dan memberi kekuatan selama setahun kedepan, jika memang aku harus menunggu, lagi
271215
It has been five years since our first met How surprisingly fast the time was. Banyak hal yg terjadi diantara kita, Kupikir aku cukup mengenalmu tapi terlalu banyak sisi hatimu yang seolah tak tersentuh olehku aku tak tahu siapa atau apa yang ada disana dan itu membuatku merasa seperti tidak diinginkan aku benci perasaan semacam itu karena aku ingin percaya bahwa kau akan selalu ada ah, maafkan jika kehadiranku mengusik waktumu aku hanya takut hatimu pergi meninggalkanku.
Bdg, 271215

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Some daily reminders for you lovely people!
[1. Drink water. 2. Streeetch! 3. You can sleep early.]
Melukai diri sendiri sangat dilarang, termasuk di dalamnya soal hati. Seperti apa melukai hati itu? Mencintai sesuatu yang–kau tahu sampai bulan terbelah dua pun–tak sanggup kau dapatkan.
(via herricahyadi)
Cinta menurut saya tidak hanya masalah perasaan, tetapi juga masalah kenyataan.
(via herricahyadi)
Noted!