Corak: Hindu Syiwa
Berdiri: abad ke-11
Letak: Daha, Jawa Timur (sekarang Kediri)
Kerajaan Kediri adalah pemisahan Kerajaan Medang di bawah pemerintahan Airlangga.
Bukti Kerajaan
Prasasti Pamwatan
Prasasti Pamwatan dikeluarkan oleh Airlangga, menceritakan tentang kota Daha yang berarti ‘kota api’.
Prasasti Turun Hyang
Prasasti Turun Hyang adalah prasasti yang menceritakan perang saudara antara Kediri dan Jenggala. Prasasti ini dikeluarkan oleh Kerajaan Jenggala sebagai apresiasi untuk warga Turun Hyang yang membantu Jenggala.
Prasasti Ngantang
Diturunkan sebagai prasasti saingan pada Turun Hyang. Berisi tentang apresiasi Kediri kepada warga Ngantang yang membantu Kediri saat melawan Jenggala. Dalam prasasti ini ada slogan yaitu ‘Panjalu Jayati’ yang berarti ‘Panjalu (Kediri) menang’. Di bawah kepemimpinan Jayabaya, Kediri berhasil menang melawan Jenggala dan mempersatukan Jenggala dengan Kediri.
Prasasti Sirah Keting
Prasasti Sirah Keting menceritakan tentang Jayaswara memberikan hak istimewa (seperti tanah) kepada rakyatnya yang bernama Marjaya karena telah berbakti pada Jayaswara.
Kakawin Bharatayuda
Ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, ditulis pada masa pemerintahan Jayabaya. Ceritanya tentang peperangan dengan tokoh Prabu Salya dan permaisurinya, Dewi Setyawati.
Additional info: Ketika ingin menggambarkan kecantikan Dewi Setyawati, Mpu Sedah membutuhkan referensi. Maka diberikanlah putri Jayabaya, tetapi Mpu Sedah berbuat kurang ajar sehingga ia dihukum dan Kakawin Bharatayuda dilanjutkan oleh Mpu Panuluh sendirian.
Babad Tanah Jawi
Serat Jayabaya
Jayabaya berguru ke ulama bernama Maulana Ngali Samsujen. Ia lalu mendapatkan gambaran tentang Pulau Jawa dari zaman Aji Saka hingga datangnya hari kiamat (kemudian dikenal dengan Ramalan Jayabaya)
Negarakertagama
Menceritakan tentang Majapahit di zaman Hayam Wuruk. Juga kemudian menceritakan tentang perselisihan di Kediri pada zaman Kertajaya.
Pararton
Menceritakan kerajaan Singasari (Ken Arok), juga perselisihan antara Ken Arok dengan Kertajaya yang kemudian memicu perang.
Struktur Kerajaan
Samarawijaya, raja pertama Kediri.
Jayaswara.
Jayabaya, raja terbesar Kediri.
Kertajaya.
Jayasabha (dalam masa penaklukan Singasari)
Sastrajaya.
Jayakatwang.
Peristiwa Penting
Kebijakan Jayabaya
Menyatukan Janggala sebagai bagian dari Kediri.
Membentuk angkatan laut untuk mendukung sektor maritim.
Perekonomian di bidang maritim dan agraris meningkat.
Keruntuhan Kediri (Perang Ganter)
Perang Ganter adalah perang antara Kertajaya (Kediri) melawan Brahmana dan Ken Arok (Singasari). Berlokasi di Ganter (sekarang Malang).
Penyebab dari Perang Ganter adalah keinginan Kertajaya untuk disembah seperti Tuhan. Brahmana langsung menentang ide Kertajaya dan mencari cara untuk menghentikan Kertajaya.
Brahmana akhirnya meminta tolong pada Ken Arok dari Singasari.
Ken Arok akhirnya menang melawan Kertajaya dan menjadikan Kediri sebagai kerajaan di bawah Singasari.
Pemberontakan Jayakatwang
Setelah Ken Arok mengalahkan Kertajaya dan menjadikan Kediri di bawah kekuasaan Singasari, Ken Arok mengangkat Jayasabha (anak Kertajaya) menjadi bupati Kediri. Setelah Jayasabha, Sastrajaya diangkat sebagai bupati. Setelah Sastrajaya, Jayakatwang diangkat sebagai bupati.
Namun, karena Jayakatwang memiliki dendam terhadap perbuatan Ken Arok, Jayakatwang memberontak, ia pun membunuh Kertanegara yang saat itu menjadi pemimpin Singasari. Jayakatwang kemudian membangun lagi Kerajaan Kediri, tetapi hanya bertahan satu tahun karena serangan Pasukan Mongol dan Pasukan Raden Wijaya (menantu Kertanegara).
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Corak: Hindu
Berdiri: abad ke-10
Letak: Watan Mas, Sungai Brantas, Jawa Timur (setelah dipindahkan Mpu Sindok)
Kerajaan Medang disebut juga sebagai Wangsa Isyana. Merupakan kerajaan lanjutan dari Mataram Kuno.
Bukti Kerajaan
1. Prasasti Gemekan
Berisi tentang penetapan tanah sima (tanah batas) oleh Mpu Sindok untuk membuat tempat peribadatan. Di samping tanah sima, dibeli juga tanah untuk keperluan saluran air supaya tanahnya menjadi bermanfaat.
Lalu di sisi lain Prasasti Gemekan, disebutkan kutukan bagi siapa pun yang mengganggu kebijakan penetapan tanah tersebut.
2. Prasasti Tangeran
Berisi tentang pemerintahan Mpu Sindok dan permaisurinya yang bernama Sri Wardhani.
3. Prasasti Bangil
Berisi tentang perintah Mpu Sindok untuk membangun candi sebagai tempat peristirahatan mertuanya (Rakyan Bawang).
4. Prasasti Lor
Berisi tentang perintah Mpu Sindok untuk membangun Candi Jayamrata dan Jayamstanbho di Lodang.
5. Prasasti Kalkuta/Pucangan
Berisi tentang hancurnya istana Dharmawangsa karena Pralaya Medang, juga berisi silsilah raja-raja Medang. Disebutkan juga bahwa Airlangga berhasil kabur ke hutan setelah peristiwa Pralaya Medang.
6. Kakawin Arjunawiwaha
Ditulis oleh Mpu Kanwa sebagai satu-satunya karya sastra selama kekuasaan Airlangga. Berisi tentang:
Arjuna, diminta oleh saudaranya untuk bertapa memohon senjata ampuh yang dapat memenangkan Pandawa dalam Perang Bharatayuda melawan Kurawa.
Ketika Arjuna bertapa di Gunung Mahameru, dewa tidak langsung memberikan senjatanya. Dewa menguji Arjuna dengan mengirimkan 7 bidadari cantik. Arjuna ternyata tidak tergugah oleh 7 bidadari tersebut, sehingga dikirimkan Batara Indra yang menyamar sebagai seorang brahmana tua.
Arjuna dan Batara Indra yang sedang menyamar kemudian berbincang mengenai agama, lalu Batara Indra mengungkap jati dirinya dan pergi. Setelah itu, datang babi yang mengamuk dan Arjuna langsung memanahnya. Di saat yang bersamaan, seorang pemburu juga memanah babi tersebut.
Arjuna dan pemburu itu pun berdebat tentang siapa yang membunuh babi itu. Si Pemburu akhirnya mengungkap bahwa ia adalah jelmaan Batara Siwa. Ia lalu memberikan panah sakti (pasupati) kepada Arjuna.
Dewa akhirnya memberikan syarat terakhir pada Arjuna yaitu ia harus membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Ternyata Arjuna mampu menyelesaikan syarat tersebut. Arjuna pun mendapatkan senjata sakti dan menjadi raja di kahyangan selama beberapa waktu.
7. Arca Airlangga
Disebut juga arca Wisnu Garudanayaranamurti ditemukan di depan Pemandian Belahan (makam Airlangga) dan diduga menjadi penggambaran Airlangga sebagai Wisnu yang sedang menunggani Garuda.
Struktur Kerajaan
Mpu Sindok, pendiri Kerajaan Medang.
Sri Lokapala
Makuthawangsawardhana
Dharmawangsa Teguh (akhir Kerajaan Medang)
Airlangga (anak dari Raja Bali Udayana, keponakan Dharmawangsa)
Peristiwa Penting
Kerajaan Medang Melawan Kerajaan Sriwijaya (Serangan Pralaya)
(Lihat di catatan ‘Keraaan Sriwijaya’ tentang kerajaan Medang)
Dari POV Teguh Dharmawangsa: Teguh Dharmawangsa menurunkan tentara guna merebut perdagangan yang dikuasai Sriwijaya. Tetapi, Sriwijaya mendorong mundur Medang dan Teguh Dharmawangsa terbunuh.
Tidak hanya Teguh Dharmawangsa, seluruh anggota kerajaan Medang terbunuh dalam Serangan Pralaya sehingga Airlangga (keponakan Dharmawangsa) menggantikan. Airlangga akhirnya berhasil memulihkan kondisi Medang, lalu memindahkan ibukota Medang dari Jawa Timur ke Kahuripan.
Lebih lanjutnya, Peristiwa Pralaya Medang
Teguh Dharmawangsa memiliki seorang putri bernama Dewi Galuh Sekar yang kemudian ia nikahkan dengan Airlangga (dari Udayana). Raja Wurawuri yang sebelumnya sudah berniat untuk menikah dengan Dewi Galuh Sekar pun merasa kecewa.
Sriwijaya lalu memanfaatkan Raja Wurawuri untuk membalas dendam kepada Kerajaan Medang. Balas dendam itu dilangsungkan pada saat pesta pernikahan digelar dengan cara dibakar. Keluarga Dharmawangsa semuanya tewas kecuali Airlangga dan Dewi Galuh Sekar yang berhasil melarikan diri ke hutan.
Kebijakan Airlangga
Membangun pelabuhan di daerah Hujung Galuh
Membangun waduk waringin sapta sebagai pencegah banjir
Membangun jalan untuk mempermudah aksesbilitas
Keruntuhan Kerajaan Medang
Airlangga memutuskan membagi 2 kerajaan menjadi: Kediri (Sri Samarawijaya) dan Jenggala (Mapanji Garasakan) untuk mencegah terjadinya perang saudara. Airlangga sendiri dan putrinya memutuskan untuk menjadi seorang pertapa.
Setelah berapa lama, Airlangga yang sudah menguasai ilmu pertapa akhirnya kembali dengan nama Kerajaan Kahuripan untuk menaklukkan wilayah-wilayah yang dulu melepaskan diri dari Medang, juga Kerajaan Wurawuri.
Corak: Hindu-Buddha hidup berdampingan karena ada 2 dinasti berbeda (Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang beragama Buddha)
Berdiri: abad ke-8
Letak: Jawa Tengah (Dieng)
Kerajaan Mataram Kuno merupakan kelanjutan dari Kalingga (Holing) & Galuh melalui Sanjaya (kemudian Mataram Kuno dilanjutkan oleh Medang).
Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan dengan basis agraris, sementara saingannya (Sriwijaya) adalah kerajaan dengan basis maritim.
Bukti Kerajaan
Candi Prambanan
Dibangun oleh Rakai Pikatan dengan persembahan Candi Sewu untuk Pramodawardhani. Lalu pembangunan Candi Prambanan disempurnakan oleh Dyah Balitung sebagai penanding kemegahan Borobudur.
Candi Borobudur
Dibangun oleh Samaratungga dengan arsitek bernama Gunadharma. Borobudur terdiri dari 10 tingkat yang mencerminkan 10 tingkat kesempurnaan hidup.
Prasasti Canggal
Menceritakan Sanna, seorang penguasa di Jawa, lalu digantikan oleh Sanjaya (anak dari saudaranya Sanna). Lalu pemerintahan Sanjaya yang menciptakan suasana aman di Mataram Kuno.
Isi:
Bait 1 : Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung
Bait 2-6 : Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu
Bait 7 : Pulau Jawa yang sangat makmur, kaya akan tambang emas dan jumlah memproduksi padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan bantuan dari penduduk Kunjarakunjadesa
Bait 8-9 : Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat ahli, tidak sewenang-wenang dalam tingkah laku yang dibuatnya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat Negara berkabung, sedih kehilangan pelindung
Bait 10-11 : Pengganti raja Sanna yaitu putranya bernama Sanjaya yang diibaratkan dengan matahari. Kekuasaan tidak langsung diserahkan kepadanya oleh raja Sanna tetapi melintasi kakak perempuannya (Sannaha)
Bait 12 : Kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman Negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau akan terjadinya kejahatan yang lain. Rakyat hidup serba senang.
Tanah Kunjarakunjadesa: tanah pertapa Hindu di India Selatan.
Prasasti Kalasan
Menceritakan Rakai Panangkaran sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Syailendra). Juga menceritakan pembangunan Candi Kalasan untuk Dewi Tara, serta dipakai sebagai tempat beribadah Buddha. (Selengkapnya di catatan ‘Wangsa Syailendra’)
Prasasti Mantyasih
Berisi tentang silsilah Wangsa Sanjaya (tapi dibantah oleh Slamet Muljana yang mengatakan ini bukan silsilah keturunan Wangsa Sanjaya, melainkan raja yang pernah berkuasa). Gelar rakai sendiri berarti penguasa.
Isi:
Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya,
Sri Maharaja Rakai Panangkaran,
Sri Maharaja Rakai Panunggalan,
Sri Maharaja Rakai Warak,
Sri Maharaja Rakai Garung,
Sri Maharaja Rakai Pikatan,
Sri Maharaja Rakai Kayuwangi,
Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, dan
Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Dharmmodaya Mahasambhu.
Prasasti Klurak
Tentang pembangunan arca Manjusri di dalam Candi Sewu (selengkapnya di catatan ‘Wangsa Syailendra’)
Struktur Kerajaan
Wangsa Sanjaya (aliran Hindu Syiwa)
Sanna (disebut di Prasasti Canggal oleh Sanjaya. Sanna adalah penguasa sebelum Sanjaya (Kerajaan Galuh) dan setelah Sanna meninggal, keadaan negara menjadi tidak teratur).
Sanjaya (pendiri), disebut juga Rakai Mataram
Rakai Pikatan (menikah dengan Pramodawardhani dari Syailendra), membangun kompleks Candi Prambanan
Dyah Balitung, berhasil menyatukan seluruh Jawa dan Bali.
Dyah Wawa
Wangsa Syailendra (aliran Buddha Mahayana)
Rakai Panangkaran, membuat Candi Kalasan (anak Sanjaya)
Dharanindra (Maharaja Indra)
Samaratungga, membangun Candi Borobudur (menikah dengan Dewi Tara dan melahirkan Pramodawardhani dan Balaputeradewa (tapi ini masih ada perdebatan, aku tulis di Peristiwa Penting)
*Dalam teori van Naersen, Rakai Panangkaran adalah bawahan dari Dharanindra (Dharanindra disebut dalam Prasasti Klurak)
Dalam teori Marwati, Rakai Panangkaran adalah nama lain dari Dharanindra karena dalam Prasasti Kalasan, dia disebut sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Syailendra). Prasasti Klurak dan Kalasan dikeluarkan dengan selisih waktu 4 tahun sehingga mungkin dikeluarkan oleh raja yang sama.
Lalu dalam teori Slamet Muljana, Dharanindra sesungguhnya adalah pengganti/raja penerus Rakai Panangkaran dan mempunyai nama lain Rakai Panunggalan.
Peristiwa Penting
Keruntuhan Mataram Kuno
Awalnya, Mataram Kuno dipimpin oleh Sanjaya dan menjadi pusat penyebaran agama Hindu.
Sanjaya wafat dan digantikan putranya, Rakai Panangkaran. Karena perbedaan agama (beda wangsa), Mataram Kuno dibagi menjadi 2: Mataram Utara untuk Sanjaya dan Mataram Selatan untuk Syailendra.
Lalu setelah Rakai Pikatan menikah dengan Pramodawardhani, Mataram Kuno kembali bersatu.
Sayangnya di tahun 928, Mataram Kuno hancur karena bencana meletusnya Gunung Merapi. Mpu Sindok akhirnya memindahkan Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur dan menjadi Kerajaan Medang.
Rakai Pikatan Melawan Balaputeradewa
Dalam teori Bosch, Balaputeradewa adalah anak dari Samaratungga. Karena kecemburuan terhadap Rakai Pikatan (menantu Samaratungga yang mendapatkan tahta), Balaputeradewa akhirnya menyerang Rakai Pikatan. Namun, Balaputeradewa kalah dan melarikan diri ke Sumatra dan menjadi Raja Sriwijaya.
Dalam teori Slamet Muljana, Samaragawira (bapak Samaratungga) memiliki 2 orang anak yaitu Samaratungga dan Balaputeradewa, sehingga mereka sebenarnya saudaraan. Lalu Slamet Muljana menjelaskan kalau kedatangan Balaputeradewa di Sumatra bukan karena kekalahan, melainkan Balaputeradewa memang tidak memiliki hak di atas tanah Jawa.
(Gimana pun, teori yang lebih populer itu teori Bosch)
Wangsa Syailendra adalah wangsa/dinasti Buddha yang akhirnya akan menguasai Kalingga, Mataram Kuno, dan Medang.
Informasi Wangsa
Corak: Buddha (aliran Mahayana (mengacu pada motivasi spiritual))
Letak: dataran Kedu
Syailendra berasal dari kata Saila dan Indra, yang berarti Raja Gunung.
Kebudayaan
Gelar ‘Ratu’ yang berarti ‘datu’/pemimpin di Mataram Kuno, serta gelar ‘Dapunta’ yang berarti penguasa di Sriwijaya, sama-sama digantikan dengan gelar Wangsa Syailendra yaitu ‘Sri Maharaja’.
Asal Usul
1. Teori India (pencetus: Moens & Sastri)
Wangsa Syailendra berasal dari Kalingga di India Selatan, lalu menetap di Palembang pada abad ke-7. Namun, setelah kedatangan Dapunta Hyang dengan pasukan tentaranya, Wangsa Syailendra melarikan diri ke Jawa.
2. Teori Funan/Kamboja (pencetus: George Coedes)
Wangsa Syailendra berasal dari sisa-sisa Kerajaan Funan (pada saat itu ada kerusuhan di Funan). Anggota Kerajaan Funan melarikan diri ke Jawa dan mendirikan Wangsa Syailendra, lalu menjadi raja di Kerajaan Medang.
Kelemahan: ada bukti bahwa Wangsa Syailendra sudah lebih lama bermukim di Sumatra (Palembang) sebelum pindah ke Jawa.
3. Teori Nusantara (pencetus: Purbatjaraka)
Wangsa Syailendra sudah lama menguasai Nusantara (terutama di Jawa dan Sumatra), lalu setelah Sriwijaya mengekspansi kekuasaannya, Syailendra berpindah ke Jawa Tengah.
Dalam teori ini juga disebutkan bahwa Sriwijaya (di bawah Dapunta Hyang) melakukan penyerangan pada Bhumi Jawa, dan menyebarkan kultur terkait dengan penggunaan gelar ‘dapunta’ pada nama Dapunta Syailendra.
(sumber teori ini adalah Carita Parahyangan. Bukti teori ini adalah ditemukannya Prasasti Kedukan Bukit dan Kota Kapur)
Dalam teori ini juga dijelaskan bahwa Wangsa Sanjaya sebenarnya merupakan keturunan dari Syailendra di India Selatan yang menganut Hindu aliran Siwa. Namun, setelah Panamkaram berubah agama menjadi Buddha Mahayana, raja Mataram juga mengikuti.
Sumber: dalam Cerita Parahyangan, Rakai Sanjaya menyuruh anaknya, Rakai Tamperan, untuk berpindah agama dari Hindu Siwa karena agama Hindu Siwa ditakuti oleh banyak orang.
Bukti: perubahan agama dari Hindu Siwa menuju Buddha Mahayana ditulis dalam Prasasti Raja Sankhara.
Lalu dalam Prasasti Canggal, Sanaha melahirkan anak bernama Sanjaya yang kemudian menjadi Raja Sanjaya dan memimpin Wangsa Sanjaya. Sanaha sendiri merupakan keturunan Galuh yang kemudian berkaitan dengan Kerajaan Kalingga.
Bukti Kerajaan
1. Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Jawa Tengah.
Ditulis dalam aksara Kawi dengan bahasa Melayu Kuno (abad 7-8 M). Prasasti ini menceritakan tentang agama Hindu dengan aliran Siwa, juga berisi silsilah Dapunta Syailendra (cikal bakal Wangsa Syailendra): ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, istrinya bernama Sampula.
Isi:
“Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa... dari yang agung Dapunta SelendraSantanu yaitu nama bapaknya, Bhadrawati yaitu nama ibunya, Sampula yaitu nama bininya dari yang agung Selendra.”
2. Prasasti Kalasan
Berupa peninggalan Mataram Kuno yang ditemukan di Kalasan (Sleman).
Prasasti Kalasan menceritakan pembangunan Candi Kalasan untuk Dewi Tara (dari Wangsa Soma, lalu menikah dengan Samaragrawira dari Wangsa Syailendra). Juga Desa Kalasan yang diperuntukkan untuk sanggha (umat Buddha), serta biara di dalamnya untuk pendeta.
3. Prasasti Klurak
Berupa peninggalan dari Mataram Kuno yang ditemukan di Prambanan.
Prasasti Klurak menceritakan tentang pendirian kuil untuk arca Manjusri (dewa meditasi) atas perintah Raja Indra. Kuil yang dimaksud adalah Candi Sewu dalam Kompleks Candi Prambanan.
Corak: Hindu (aliran Siwa)
Berdiri: abad ke-5
Letak: Jepara, Cepu, atau Pekalongan (Jawa Tengah) lokasi belum dapat dibuktikan kebenarannya.
Bukti Kerajaan
1. Naskah Carita Parahyangan
Dalam Carita Parahyangan yang ditulis di abad ke-16 (dengan cerita berpusat pada Perang Bubat, Majapahit, dan Galuh), diceritakan bahwa Ratu Shima menikah dengan Mandiminyak, raja kedua dari Kerajaan Galuh.
Carita Parahyangan membahas silsilah sebagai berikut:
Ratu Shima menikah dengan Mandiminyak (raja kedua Galuh).
Memiliki cucu bernama Sanaha yang menikah dengan Brantasenawa (raja ketiga Galuh).
Sanaha dan Brantasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya (raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh).
Ratu Shima meninggal tahun 732, Sanjaya menggantikan Shima menjadi raja di Kerajaan Kalingga, yang kemudian berubah nama menjadi Bumi Mataram.
Setelah ini, Kalingga terbagi 2 menjadi Kalingga Utara (Bumi Mataram/Shana) dan Kalingga Selatan (Bumi Sambara/Dewa Singha).
Mendirikan Wangsa Sanjaya di Mataram Kuno.
Menikah dengan Sudiwara (anak dari Raja Bumi Sambara).
Memiliki anak bernama Rakai Panangkaran (raja kedua Mataram Kuno).
2. Berita Dinasti Tang
Berisi tentang informasi Kalingga, isi:
Kalingga terletak di Jawa, di Laut Selatan. (Di utara ada Kamboja, di timur ada Bali, dan di barat ada Sumatra)
Ibukota Kalingga dikelilingi tembok kayu.
Istananya beratap daun palem dan singgasananya terbuat dari gading.
Warga Kalingga pandai membuat miras dari bunga kelapa.
Menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah.
Dipimpin Shima dari 674, Kalingga sangat tenteram dan aman.
3. Catatan Perjalanan It-sing
Berisi tentang informasi Kalingga, isi:
Pada abad ke-7, Kalingga menjadi pusat penyebaran Buddha Hinayana (aliran Buddha yang berpaku pada ajaran asli Sidharta Gautama, yaitu prinsip kebajikan).
Memiliki pendeta Cina bernama Hwining yang bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra, bersama menerjemahkan kitab Buddha ke bahasa Tionghoa (kitabnya berisi kisah tentang Nirwana).
4. Ditemukannya Prasasti Tukmas
Ditemukan di lereng Gunung Berapi, Lebak (Jawa Tengah). Berisi tentang mata air Sungai Gangga yang sangat jernih, juga gambar-gambar (trisula, kendi, kapak, cakra, bunga teratai - semuanya menjelaskan hubungan antara manusia dengan dewa Hindu).
5. Ditemukannya Candi Angin.
6. Ditemukanya Candi Bubrah.
Struktur Kerajaan
Ratu Shima.
Setelah dipecah, Shana (Kalingga Utara).
Dewa Singha (Kalingga Selatan).
Peristiwa Penting
Ada sebuah kisah yang berkembang di Jawa Tengah mengenai keberadaan Kalingga yang dipimpin oleh Maharani Shima (Ratu Shima). Ratu Shima dikenal sebagai orang yang sangat jujur dan taat hukum.
Ada sebuah peraturan di Kerajaan Kalingga: barangsiapa yang mencuri hak yang bukan miliknya, maka dikenakan hukuman potong.
Suatu hari, seorang raja dari kerajaan seberang mendengar tentang ketaatan Kerajaan Kalingga sehingga memutuskan untuk mengujinya. Raja tersebut mennggalkan kantong berisi emas di pasar.
Selama bertahun-tahun, tidak ada yang berani menyentuh kantong tersebut. Namun, tiga tahun setelah kantong tersebut ditaruh, anak Ratu Shima menyentuhnya.
Mendengar kabar anaknya tidak berlaku jujur, Ratu Shima marah dan menjatuhkan hukuman potong kaki terhadap anaknya. Dewan Kerajaan memohon ampun terhadap Ratu Shima dan meminta kemurahan hati supaya hukuman tersebut dibatalkan. Namun, karena Ratu Shima ingin berlaku adil, hukuman tersebut tetap dilaksanakan.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Corak: Buddha
Berdiri: abad ke-7 (671)
Letak: Palembang, Sumatera Selatan (membentang ke Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Singapura, Jawa, dan Kalimantan)
Sriwijaya adalah kerajaan bercorak Maritim.
Sriwijaya menjadi pusat persebaran agama Buddha di Indonesia (orang yang akan mempelajari agama Buddha di India dianjurkan untuk belajar bahasa Sansekerta dulu di Sriwijaya).
Bukti Kerajaan
Berita dari Dinasti Tang: pendeta Tiongkok, It-sing, mengunjungi Sriwijaya pada abd ke-7 dan menetap di sana selama 6 bulan. It-sing bersama Sakyarkirti (pendeta Sriwijaya) menerjemahkan kitab.
"... banyak raja dan pemimpin yang berada di pulau-pulau pada Samudra Selatan percaya dan mengagumi Buddha, di hati mereka telah tertanam tingkah laku adun. Di dalam benteng kota Sriwijaya dipenuhi lebih dari 1000 biksu Budha, yang berusaha bisa dengan tekun dan mengamalkannya dengan adun... Bila seorang biarawan Cina akan berkunjung ke India untuk berusaha bisa Sabda, lebih adun ia tinggal dulu di sini selama satu atau dua tahun untuk mendalami ilmunya sebelum dilanjutkan di India". - Berita Dinasti Tang
Ditemukannya surat kepada Khalifah Abdul-Aziz dari Bani Umayyah pada abad 8 yang berisi tentang persahabatan dengan raja kedua Sriwijaya.
“Surat itu dikirim dari seorang Maharaja, yang memiliki ribuan gajah, memiliki rempah-rempah dan wewangian serta kapur barus, dengan kotanya yang dilalui oleh dua sungai sekaligus untuk mengairi lahan pertanian mereka dan mengantarkan hadiah untuk khalifah pada waktu itu. Khalifah Umar bin Abdul-Aziz juga memberikan hadiah untuk utusan Sriwijaya dan mereka kembali dengan membawa hadiah Zanji (budak wanita berkulit hitam).”
Ditemukannya Candi Muara Takus di Riau.
Ditemukannya Candi Gumpung di Muaro Jambi (Kerajaan Melayu) yang ditaklukkan oleh Sriwijaya.
Ditemukannya Candi Kaew yang dibangun Sriwijaya di Thailand.
Ditemukannya 7 prasasti, yaitu:
1. Prasasti Kedukan Bukit, ditemukan di tepi Sungai Tatang (dekat Musi)
Prasasti tertua yang ditemukan dalam aksara Pallawa berbahasa Melayu Kuno.
Isi:
“Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
sampan mengambil siddhayātra (perjalanan). di hari ke tujuh paro-terang
bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
dua ratus cara (peti) di sampan dengan berlangsung seribu
tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
sukacita. di hari ke lima paro-terang bulan....(Asada)
lega gembira datang menciptakan wanua......
Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna......”
Prasasti Kedukan Bukit berisi tentang tahun berdirinya Sriwijaya yang dimulai dari penaklukan Dapunta Hyang (pendiri Sriwijaya) terhadap wilayah Minangtamwan (daerah di dekat Sungai Musi). Prasasti ini juga menceritakan perjalanan Dapunta Hyang merayakan bulan waisak. Kedukan Bukit berarti keduk (menggali) bukit, permulaan atas tanah Sriwijaya.
2. Prasasti Kota Kapur, ditemukan di Pulau Bangka
Prasasti pertama yang ditemukan mengenai keberadaan Sriwijaya. Prasasti ini merupakan prasasti kutukan Dapunta Hyang yang isinya mengancam penduduk Jawa supaya tidak melakukan tindak tidak terpuji (termasuk tidak tunduk terhadap perintah Sriwijaya).
Prasasti ini kemudian memicu serangan terhadap Tarumanegara di Jawa Barat dan Kalingga di Jawa Tengah oleh Sriwijaya yang dipimpin Dapunta Hyang (Sri Jayanasa). Penyebabnya adalah orang-orang Jawa (Bhumi Jawa) tidak mau tunduk terhadap Sriwijaya.
Isi:
“Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tidak berbakti, yang tidak setia pada aku, biar pelaku tingkah laku tersebut mati kena kutuk. Akan tetapi bila orang takluk setia kepada aku dan kepada mereka yang oleh aku diangkatkan sebagai datu, karenanya moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya dengan kesuksesan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, kelimpahan segalanya untuk seluruh negeri mereka ! Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi), pada saat itulah kutukan ini diucapkan”
3. Prasasti Talang Tuwo, ditemukan di Bukit Seguntang
Prasasti Talang Tuwo menceritakan tentang Taman Srisetra.
Taman Srisetra adalah taman yang dibangun oleh Dapunta Hyang pada 684 M.
Isi:
“Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk.”
4. Prasasti Telaga Batu, ditemukan di Kolam Telaga Biru
Prasasti Telaga Batu ditujukan sebagai prasasti kutukan untuk siapa saja (di sini spesifiknya pejabat) yang tidak tunduk terhadap perintah dari kedatuan (ibukota Sriwijaya alias di Candi Muara Takus).
5. Prasasti Ligor, ditemukan di Thailand
Prasasti Ligor dibagi menjadi 2 bagian:
Sisi depan (Ligor A): Sriwijaya mendirikan Trisamaya Caitya/bangunan sebagai tanda persahabatan dengan Ligor.
Sisi belakang (Ligor B): ditulis kemudian oleh Wangsa Sailendra (raja-raja Buddha Sriwijaya, sebelumnya adalah kaum lokal di Palembang yang mengungsi dari India sebelum kedatangan Dapunta Hyang) mengenai raja bernama Wisnu dengan gelar Maharaja. Maharaja Wisnu digambarkan sebagai ‘pembunuh musuh-musuh yang perwira’.
6. Prasasti Nalanda, ditemukan di India
Prasasti Nalanda menceritakan tentang Sri Maharaja dari Sriwijaya (Balaputradewa) yang memerintahkan pembangunan biara di Nalanda dengan tujuan sebagai tempat berlindung, pemujaan, dan penyebaran agama.
Isi:
“Kami diminta oleh Maharaja Balaputradeva yang termasyhur, raja Suwarnadvipa (Sriwijaya) melalui seorang kurir yang aku buat untuk membangun sebuah biara di Nalanda yang dikabulkan oleh dekrit ini untuk dipersembahkan bagi Sang Buddha yang terberkati, tempat tinggal semua kebajikan utama seperti prajnaparamita, untuk pemujaan, persembahan, pengetahuan, tempat berlindung, sedekah, tempat tidur, kebutuhan orang sakit seperti obat-obatan.”
7. Prasasti Palas Pasemah, ditemukan di Lampung
Prasasti Palas Pasemah berisi tentang kutukan terhadap orang-orang yang tidak mau tunduk dan berbakti terhadap Sriwijaya.
Struktur Kerajaan
Masa kedudukan di Palembang:
Sri Jayanasa/Dapunta Hyang, pendiri Kerajaan Sriwijaya. ‘Dapunta’ adalah gelar penguasa pada masa itu dan ‘Hyang’ adalah sebutan untuk hal-hal mistis, disinyalir bahwa Dapunta Hyang melakukan perjalanan ‘mengalap berkah’ dan mendapat kekuatan mistis untuk menaklukkan daerah bawahannya.
Sri Indawarman, menjalin persahabatan dengan Arab (Bani Umayyah) dan Cina dengan memberikan hadiah zenji (budak wanita).
Masa peralihan Wangsa Syailendra:
Sri Maharaja Wisnu, raja dari Wangsa Syailendra yang dipercaya menaklukkan Sriwijaya.
Masa kedudukan di Jawa:
Dharaindra/Raja Indra, keberadannya masih jadi teori.
Ada yang menyatakan: punya ikatan dengan Mataram Kuno (Rakai Panunggalan, raja ketiga Mataram Kuno) karena sama-sama berasal dari Wangsa Syailendra.
Ada juga yang menyatakan: Dharaindra dan Maharaja Wisnu itu orang yang sama (di beberapa teori mereka justru jadi ayah & anak) karena ditemukannya Prasasti Kelurak (prasasti Mataram Kuno) yang menyebut Indra sebagai ‘penumpas musuh-musuh’, mirip sama sebutannya di Prasasti Ligor.
Samaratungga.
Balaputradewa, raja terbesar Sriwijaya.
Wijayatunggawarman, kemunduran Sriwijaya (dikalahkan oleh Cola)
Peristiwa Penting
Kemunduran Sriwijaya
1. Faktor alam, perubahan tanah di Sungai Musi menjadi berlumpur dan menghambat kegiatan maritim.
2. Faktor geografis, Palembang kurang strategis.
3. Kekuatan maritim Sriwijaya (di Indonesia bagian barat) terancam oleh kedatangan Kerajaan Airlangga (dari Indonesia bagian Timur).
4. Serangan Dharmawangsa dari Medang Kamulan ke Sriwijaya (992 M). DIjelaskan di Prasasti Hujung Langit tentang pemberian tanah sima/suci dan pertempuran antara Jawa (Medang) dan Sumatra (Sriwijaya).
Sumber: Berita China.
“Pada suatu hari, Medang dan Sriwijaya bersaing untuk menguasai Asia Tenggara. Mereka juga sama-sama melancarkan diplomasi ke Cina. Pada 988 M, Sriwijaya diserang oleh Medang dan mengakibatkan utusan Sriwijaya di Cina (Guangzhou) tidak bisa pulang karena Sriwijaya diserang Medang.
4 tahun kemudian (992 M), utusan Sriwijaya ketahan lagi di Champa (Vietnam) karena Sriwijaya belum aman dari serangan Medang. Utusan Sriwijaya akhirnya meminta bantuan ke Kaisar Song supaya Kaisar Song berpihak ke Sriwijaya.
Medang akhirnya nyaris berhasil merebut Palembang (ibukota Sriwijaya) di 992 M, tetapi langsung dipukul mundur oleh Sriwijaya.”
Alasan serangan Medang Kamulan gagal:
Pengaruh Sriwijaya di Sumatra sangat besar.
Sebelum mukul mundur pasukan Medang, Raja Sriwijaya Warmadewa kabur lewat Pelabuhan Selat Malaka dan meminta bantuan dari kerajaan-kerajaan di bawah Sriwijaya untuk memukul balik Medang.
Sriwijaya akhirnya melakukan serangan balas dendam ke Medang pada tahun 1006 dan mengakibatkan Teguh Dharmawangsa tewas dan Kerajaan Medang berakhir.
5. Serangan Colamandala ke Sriwijaya
Alasan penyerangan: Colamandala mau melindungi pedagang Tamil (India) karena Sriwijaya menarik upeti yang besar (istilahnya jasa preman supaya pedagang Tamil nggak digusur dari pelabuhan Sriwijaya).
Sebelumnya, Colamandala dan Sriwijaya berhubungan baik (terbukti dari Prasasti Nalanda ketika Balaputradewa membuat vihara di Nalanda). Hubungan baik ini berakhir ketika Raja Colamandala ganti dari Rajaraja ke anaknya, Rajendracola I (1012). Rajendracola I nggak suka sama Sriwijaya karena kebijakan yang merugikan Colamandala itu (narik upeti).
Kebencian Rajendracola I ada di Prasasti Tamil (yang ditemukan di Lobu Tua/Barus) isinya komunitas Tamil di Sumatra seharusnya bayar pajak ke Colamandala bukan ke Sriwijaya, apalagi dengan beban yang berat.
SERANGAN 1 (1017)
Alasannya: persaingan bidang perdagangan & pelayaran
Waktu itu Colamandala masih kerajaan kecil.
Sasarannya Semenanjung Malaya.
SERANGAN 2 (1023-1030)
Alasannya: memberi pengaruh
Rajendracola I menculik Raja Sriwijaya tetapi cuma sebagai bentuk gertakan agar Sriwijaya nggak macam-macam.
Nggak berpengaruh banyak di ibukota kerajaannya karena waktu itu rakyat Tamil cuma nyerang dan nggak berniat buat menduduki wilayah Sriwijaya.
SERANGAN 3 (1068-1069)
Alasannya: motif politik & ekonomi, penguasaan wilayah
(nggak begitu jelas kenapa dan apa dampaknya)
Corak: Hindu (aliran Wisnu)
Berdiri: abad ke-4
Letak: Sundapura, Jawa (dekat Bekasi)
Tarumanegara, kata Tarum berasal dari Sungai Citarum.
Kerajaan Tarumanegara merupakan lanjutan dari Kerajaan Salakanegara.
Bukti Kerajaan
Percandian Batujaya dan Percandian Cibuaya di dekat Sungai Citarum.
Ditemukannya 7 Prasasti Batu (5 di Bogor, 1 di Jakarta, 1 di Banten).
1. Prasasti Kebon Kopi
Isi: Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
Ditemukan di Perkebunan Kopi milik Jonathan Reig di Bogor. Isinya lukisan telapak kaki gajah (disinyalir lukisan dari telapak kaki gajah Airwata/gajah Dewa Wisnu) yang membuktikan bahwa Kerajaan Tarumanegara menganut agama Hindu beraliran Wisnu.
2. Prasasti Tugu
Ditemukan di Tugu (Bekasi/Jakarta Utara). Isinya pembangunan Sungai Gomati sepanjang 12 km untuk saluran irigasi (perintah dari Purnawarman) dan penggalian Sungai Candrabraga (sekarang dikenal sebagai Kali Bekasi) oleh Rajadirajaguru.
Selain itu, ada juga penanggalan di bulan Februari (phalguna) dan April (caitra) meskipun tidak lengkap. Ada juga keterangan upacara selamatan Brahmana di Kerajaan Tarumanegara dan persembahan sebanyak 1.000 ekor sapi.
3. Prasasti Cidanghiyang/Lebak
Ditemukan di Lebak (Banten). Berisi pujian terhadap keberanian Raja Purnawarman dan baris-baris puisi.
4. Prasasti Ciaruteun/Ciampea
Ditemukan di tepi sungai Ciaruteun Bogor. Ada lukisan laba-laba dan lukisan telapak kaki Raja Purnawarman. Telapak kaki Raja Purnawarman diibaratkan sebagai simbol kekuasaan & subtitusi Dewa Wisnu sebagai pelindung rakyat.
5. Prasasti Muara Cianten
Ditemukan di Bogor, berisi lukisan telapak kaki dan ditulis dalam aksara Ikal (belum dapat diidentifikasi isinya).
6. Prasasti Jambu
Isi: Yang termashur serta setia untuk tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu sukses menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri untuk musuh-musuhnya.
Ditemukan di Perkebunan Jambu di Bogor. Juga berisi lukisan telapak kaki dan pujian terhadap pemerintahan Raja Purnawarman.
7. Prasasti Pasir Awi
Ditemukan di Bogor, juga ditulis dengan aksara Ikal yang belum dapat dibaca.
Struktur Kerajaan
Rajadirajaguru, pendiri Kerajaan Tarumanegara. Dimakamkan di Sungai Gomati.
Dharmayawarman, anak dari Rajadirajaguru. Dimakamkan di Sungai Candrabraga.
Purnawarman, anak dari Dharmayawarman.
Suryawarman, raja Tarumanegara ke-7.
Linggawarman, raja terakhir Tarumanegara.
Peristiwa Penting
Menjalin Persahabatan dengan Cina.
Berita Dinasti Sui: pada tahun 500, ada utusan dari Tolomo yang berkunjung.
Berita Dinasti Tang: pada tahun 600, ada utusan dari Tolomo yang berkunjung.
Dalam berita Cina, Tarumanegara disebut sebagai Tolomo.
Pembangunan Ibu Kota Baru
Purnawarman membangun ibukota baru bernama Sundapura pada tahun 397 yang terletak di sekitar pantai. Sebelumnya (saat masih menjadi Kerajaan Salakanegara dan dipimpin oleh Jayasingawarman) beribukota di Kota Perak.
Kerajaan Salakenegara runtuh karena kawasannya diduduki oleh Kerajaan Magada, lalu Jayasingawarman mengungsi ke Jawa dan mendirikan Kerajaan Tarumanegara.
Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara terpecah menjadi Kerajaan Sunda/Padjajaran yang dipimpin Tarusbawa dan Kerajaan Galuh yang dipimpin Wretikandayun.
Corak: Hindu (aliran Siwa)
Berdiri: abad ke-4 (300-an M)
Letak: Muara Kaman, Kalimantan Timur (tepatnya di hulu Sungai Mahakam)
Bukti Kerajaan
Ditemukannya 7 Yupa/prasasti yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf Pallawa (menunjukkan berakhirnya masa pra-aksara).
Yupa menceritakan tentang upacara vratyastoma/kenduri yang dilakukan Mulawarman di Padang Waprakeswara (tempat pemujaan Dewa Siwa).
Isi: Sang Mahārāja Kundungga, yang amat agung, ada putra yang mashur, Sang Aśwawarmman namanya, yang seperti Angśuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat agung. Sang Aśwawarmman ada putra tiga, seperti api (yang suci). Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mūlawarmman, raja yang berperadaban patut, kuat, dan kuasa. Sang Mūlawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.
Vratyastoma harus dilakukan sebelum seseorang masuk ke Hindu. Sebelumnya, raja Kutai baru beragama Hindu saat Aswawarman melakukan mutasi agama ke agama Hindu. Oleh karena itu, Mulawarman belum dapat disebut sebagai Hindu karena lahir dalam keadaan orangtua yang belum menganut agama. Mulawarman akhirnya melakukan upacara vratyastoma.
Dalam upacara vratyastoma, Mulawarman memberikan persembahan berupa:
20.000 ekor sapi (simbol keinginan)
Api dan obor (simbol dewata)
Minyak kental berbentuk gunung (simbol dewata ada di tempat tinggi)
Kumpulan bunga malai (simbol tempat dewa berada)
Struktur Kerajaan
Kudungga (Anumerta Dewawarman), pendiri Kerajaan Kutai Martapura tetapi bukan raja karena saat itu Kutai memakai konsep primus interpares untuk menentukan pemimpin (dari yang terkuat).
Kudungga diduga datang dari Champa (Kamboja) dan belum menganut agama saat mendirikan Kerajaan Kutai Martapura (lihat dari namanya belum berakhiran -warman yang merupakan nama yang lazim di India bagian Selatan)
Aswawarman, anak dari Kudungga, raja pertama Kerajaan Kutai Martapura.
Mulawarman, anak dari Aswawarman, raja terbesar Kerajaan Kutai Martapura.
Peristiwa Penting
Keruntuhan Kerajaan Kutai Martapura
Dharma Setia (raja terakhir Kutai Martapura) tewas dalam pertempuran dengan Kutai Kartanegara yang dipimpin (Pangeran Mendapa).
2. Kutai Kartanegara
Informasi Kerajaan
Corak: Hindu
Berdiri: abad ke-13 (1200-an M)
Letak: Tepian Batu, Kutai Lama, Kalimantan Timur
Bukti Kerajaan
Dalam Kakawin Negarakretagama (ditulis Mpu Prapanca) yang menceritakan tentang Majapahit, Kerajaan Kutai Kartanegara disebut sebagai Kerajaan Tanjung Kute dan menjadi sebuah kerajaan taklukan Majapahit.
Struktur Kerajaan
Aji Batara Agung Dewa Sakti, raja pertama Kerajaan Kutai Kartanegara.
Aji Pangeran Mendapa
Aji Raja Mahkota Agung, yang kemudian berubah nama menjadi Sultan Muhammad Idris
Peristiwa Penting
Penyerangan Terhadap Kutai Martapura
Di bawah kepemimpinan Aji Pangeran Mendapa, Kutai Martapura berhasil ditundukkan. Dari kemenangan ini, Kutai Kartanegara memutuskan untuk meleburkan Kurta Martapura sehingga Kutai Kartanegara berganti nama menjadi Kutai Kartanegara Ing Martapura.
Masuknya Islam ke Kutai Kartanegara
Pada abad ke-17, Kutai yang saat itu di bawah pimpinan Aji Raja Mahkota Agung menganut agama Islam (yang dibawa oleh Tuan Tunggang Parangan dari Makassar) dan mengganti namanya menjadi Sultan Muhammad Idris. Ia pun langsung membangun masjid dan pusat studi Islam.
Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martapura juga berganti nama kembali menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martapura.
1. Teori Brahmana (dibawa oleh pemuka agama)
Pencetus: JC Van Leur
Pernyataan: prasasti ditulis oleh huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang hanya dikuasai oleh Brahmana.
Kelemahan: kaum Brahmana tidak boleh menyebrangi lautan/keluar dari wilayah India.
2. Teori Ksatria (dibawa oleh kerajaan/prajurit)
Pencetus: CC Berg
Pernyataan: prajurit dari India melarikan diri ke Indonesia dan membentuk suatu kerajaan.
Kelemahan: tidak ada bekas prajurit dari India di Indonesia.
3. Teori Waisya (dibawa oleh pedagang)
Pencetus: NJ Krom
Pernyataan: interaksi pedagang India dengan warga lokal Indonesia.
Kelemahan: kaum pedagang tidak bisa membaca huruf Pallawa.
4. Teori Timbal-balik (oleh pelajar)
Pencetus: FDK Bosch
Pernyataan: kaum terpelajar dari Indonesia pergi ke India untuk belajar, lalu membawa budaya dari India setiba kembali ke Indonesia.
Kelemahan: pada waktu itu, pemikiran Indonesia belum terbuka.
Sejarah, diambil dari kata dasar Syajaratun (bahasa Arab) atau pohon.
Sejarah memiliki ciri yaitu unik, penting, dan abadi.
Unik: hanya terjadi satu kali.
Penting: berpengaruh bagi masyarakat.
Abadi: akan terus diingat.
Pengertian Menurut Ahli
1. Herodotus (bapak sejarah): sejarah bergerak seperti lingkaran yang disebabkan manusia.
2. Ibnu Khaldun: catatan mengenai kehidupan manusia.
3. Collingwood: penyelidikan terhadap kehidupan manusia di masa lampau.
4. Sartono Kartodirjo: sejarah dibatasi oleh lingkup subjektif dan objektif.
Fungsi Sejarah
1. Sebagai peristiwa: terjadi di masa lalu dan digunakan untuk merekontruksi kejadian tersebut. Contoh: Peristiwa Indonesia menjadi anggota PBB.
2. Sebagai ilmu: disusun secara sistematis & memiliki metode. Contoh: teori masuknya agama Islam ke Indonesia.
3. Sebagai kisah: dibangun melalui interpretasi/penafsiran dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Contoh: Kisah raja-raja pada masa Hindu-Buddha yang diketahui dari penafsiran prasasti.
4. Sebagai seni: sejarah bersifat unik, menarik, dan tidak membosankan. Contoh: peninggalan berupa wayang.
Sumber Sejarah
A. Berdasarkan Sifat
Sumber Primer
Sumber Primer Kuat (Strict primary sources): sumber yang mengalami langsung peristiwa sejarah. Contoh: korban-korban selamat dari suatu kebakaran gedung.
Sumber Primer Kurang Kuat/Sezaman (Less-strict primary sources): sumber yang juga ada saat peristiwa tersebut terjadi, tetapi tidak membuat kontak langsung dengan peristiwa tersebut. Contoh: media sosial memberitakan kebakaran gedung.
Sumber Sekunder
Sumber yang berasal dari orang lain. Contoh: seorang peneliti membuat buku tentang sejarah Indonesia, lalu mengumpulkan berbagai sumber primer dan menyatukannya dalam buku tersebut. Peneliti tersebut tidak mengalami langsung peristiwanya, tetapi bukunya dapat dijadikan sumber sekunder.
B. Berdasarkan Bentuk
Sumber Tulisan: sumber yang berbentuk tulisan.
Contoh: prasasti, catatan perjalanan.
Kelebihan: bentuknya jelas dan dapat diverifikasi.
Kekurangan: hanya memaparkan dari sudut pandang pemenang.
Sumber Lisan: sumber yang disebarkan melalui mulut-ke-mulut, dibagi menjadi 2 lagi, yaitu sejarah lisan dan tradisi lisan.
Sejarah Lisan: berkaitan dengan terjadinya suatu peristiwa.
Contoh: keterangan seorang saksi mata peristiwa penculikan yang diwawancarai oleh pihak televisi.
Tradisi Lisan: berkaitan dengan tradisi turun-temurun suatu kebudayaan.
Contoh: nyanyian tradisional rakyat, mitos, legenda.
Kelebihan: dapat ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan (karena sumbernya dari pernyataan langsung/wawancara), dapat menjadi pelengkap informasi apabila sumber tulisan & benda minim.
Kekurangan: ingatan bisa pudar, bersifat subjektif.
Sumber Benda: sumber yang berbentuk benda.
Contoh: arca, patung, candi.
Kelebihan: bentuknya jelas dan sulit untuk dimodifikasi.
Kekurangan: apabila rusak, sulit untuk dibentuk seperti sedia kala.
Cara Berpikir Sejarah
Diakronik (memanjang dalam waktu, terbatas dalam ruang)
Berkaitan dengan kronologi terjadinya suatu peristiwa.
Apabila peristiwa diakronik disatukan dalam rentang waktu yang lama maka disebut periodisasi (contoh: Demokrasi Terpimpin, Orde Baru)
Contoh: Perang Diponogoro pada tahun 1925-1930.
Sinkronik (memanjang dalam ruang, terbatas dalam waktu)
Berkaitan dengan tempat terjadinya suatu peristiwa.
Lebih fokus pada peristiwa/apa yang terjadi di hari itu dibanding rentang waktunya.
Contoh: Peristiwa Proklamasi 1945.
Langkah Penelitian Sejarah
Metodologi sejarah, sejarah disusun sebagai berikut:
Tahap Penentukan Topik (apa yang akan dibahas).
Heuristik (pengumpulan & penelusuran sumber sejarah).
Verifikasi (atau kritik, untuk meneliti keaslian dan kevalidan sumber)
Kritik intern: berfokus pada isi sumber tersebut, apakah valid atau tidak
Contoh: membandingkan apakah isi suatu prasasti itu benar dengan kejadian yang terjadi pada masa tersebut.
Kritik ekstern: membandingkan apakah sumber tersebut autentik atau tidak.
Contoh: membandingkan jenis kertas atau jenis batu saat sumber tersebut ditemukan.
Interpretasi (penafsiran sumber sejarah).
Historiografi (penulisan kembali sumber sejarah/membuat kesimpulan).
Historiografi
1. Historiografi Tradisional (kerajaan Hindu-Buddha hingga prekolonial)
Istana-sentris dan regio-sentris.
Bersifat politik dan ideologis.
Contoh: menceritakan tentang kerjaan yang menganut agama Islam.
Kerajaan di sini adalah unsur politik dan Islam adalah unsur ideologis.
Tidak ilmiah.
Kerajaan digambarkan dalam kejayaan dan kebebasan sebagai struktur kekuasaan yang dominan.
Contoh: kemenangan Kerajaan A terhadap Kerajaan B.
Subjektivitas tinggi karena ditulis dari 1 sudut pandang saja.
Ada anakronisme (ketidaksesuaian dengan fakta)
Sulit ditelusuri kebenarannya.
Dibuat untuk melanggengkan kekuasaan.
2. Historiografi Kolonial (masa kolonial hingga sebelum kemerdekaan)
Eropa-sentris.
Menceritakan kehidupan orang Eropa di Indonesia.
Dibuat untuk kepentingan Eropa/Belanda sendiri.
Pengecualian: karya JC Van Leur (Perdagangan dan Masyarakat Indonesia) digolongan sebagai historiografi tradisional karena menceritakan tentang kehidupan rakyat Indonesia.
3. Historiografi Modern (masa setelah kemerdekaan hingga sekarang)
Menceritakan tentang bangsa Indonesia sendiri.
Bersifat kritis dan memiliki metode (ilmiah).
Tidak hanya bangsawan, rakyat kecil juga menjadi bagian sejarah.
Memiliki berbagai sudut pandang karena pendekatannya multidimensional.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming