Corak: Hindu Syiwa
Berdiri: abad ke-11
Letak: Daha, Jawa Timur (sekarang Kediri)
Kerajaan Kediri adalah pemisahan Kerajaan Medang di bawah pemerintahan Airlangga.
Prasasti Pamwatan dikeluarkan oleh Airlangga, menceritakan tentang kota Daha yang berarti ‘kota api’.
Prasasti Turun Hyang adalah prasasti yang menceritakan perang saudara antara Kediri dan Jenggala. Prasasti ini dikeluarkan oleh Kerajaan Jenggala sebagai apresiasi untuk warga Turun Hyang yang membantu Jenggala.
Diturunkan sebagai prasasti saingan pada Turun Hyang. Berisi tentang apresiasi Kediri kepada warga Ngantang yang membantu Kediri saat melawan Jenggala. Dalam prasasti ini ada slogan yaitu ‘Panjalu Jayati’ yang berarti ‘Panjalu (Kediri) menang’. Di bawah kepemimpinan Jayabaya, Kediri berhasil menang melawan Jenggala dan mempersatukan Jenggala dengan Kediri.
Prasasti Sirah Keting menceritakan tentang Jayaswara memberikan hak istimewa (seperti tanah) kepada rakyatnya yang bernama Marjaya karena telah berbakti pada Jayaswara.
Ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, ditulis pada masa pemerintahan Jayabaya. Ceritanya tentang peperangan dengan tokoh Prabu Salya dan permaisurinya, Dewi Setyawati.
Additional info: Ketika ingin menggambarkan kecantikan Dewi Setyawati, Mpu Sedah membutuhkan referensi. Maka diberikanlah putri Jayabaya, tetapi Mpu Sedah berbuat kurang ajar sehingga ia dihukum dan Kakawin Bharatayuda dilanjutkan oleh Mpu Panuluh sendirian.
Jayabaya berguru ke ulama bernama Maulana Ngali Samsujen. Ia lalu mendapatkan gambaran tentang Pulau Jawa dari zaman Aji Saka hingga datangnya hari kiamat (kemudian dikenal dengan Ramalan Jayabaya)
Menceritakan tentang Majapahit di zaman Hayam Wuruk. Juga kemudian menceritakan tentang perselisihan di Kediri pada zaman Kertajaya.
Menceritakan kerajaan Singasari (Ken Arok), juga perselisihan antara Ken Arok dengan Kertajaya yang kemudian memicu perang.
Samarawijaya, raja pertama Kediri.
Jayabaya, raja terbesar Kediri.
Jayasabha (dalam masa penaklukan Singasari)
Menyatukan Janggala sebagai bagian dari Kediri.
Membentuk angkatan laut untuk mendukung sektor maritim.
Perekonomian di bidang maritim dan agraris meningkat.
Keruntuhan Kediri (Perang Ganter)
Perang Ganter adalah perang antara Kertajaya (Kediri) melawan Brahmana dan Ken Arok (Singasari). Berlokasi di Ganter (sekarang Malang).
Penyebab dari Perang Ganter adalah keinginan Kertajaya untuk disembah seperti Tuhan. Brahmana langsung menentang ide Kertajaya dan mencari cara untuk menghentikan Kertajaya.
Brahmana akhirnya meminta tolong pada Ken Arok dari Singasari.
Ken Arok akhirnya menang melawan Kertajaya dan menjadikan Kediri sebagai kerajaan di bawah Singasari.
Pemberontakan Jayakatwang
Setelah Ken Arok mengalahkan Kertajaya dan menjadikan Kediri di bawah kekuasaan Singasari, Ken Arok mengangkat Jayasabha (anak Kertajaya) menjadi bupati Kediri. Setelah Jayasabha, Sastrajaya diangkat sebagai bupati. Setelah Sastrajaya, Jayakatwang diangkat sebagai bupati.
Namun, karena Jayakatwang memiliki dendam terhadap perbuatan Ken Arok, Jayakatwang memberontak, ia pun membunuh Kertanegara yang saat itu menjadi pemimpin Singasari. Jayakatwang kemudian membangun lagi Kerajaan Kediri, tetapi hanya bertahan satu tahun karena serangan Pasukan Mongol dan Pasukan Raden Wijaya (menantu Kertanegara).