07. Wangsa Syailendra
Wangsa Syailendra adalah wangsa/dinasti Buddha yang akhirnya akan menguasai Kalingga, Mataram Kuno, dan Medang.
Informasi Wangsa
Corak: Buddha (aliran Mahayana (mengacu pada motivasi spiritual)) Letak: dataran Kedu
Syailendra berasal dari kata Saila dan Indra, yang berarti Raja Gunung.
Kebudayaan
Gelar ‘Ratu’ yang berarti ‘datu’/pemimpin di Mataram Kuno, serta gelar ‘Dapunta’ yang berarti penguasa di Sriwijaya, sama-sama digantikan dengan gelar Wangsa Syailendra yaitu ‘Sri Maharaja’.
Asal Usul
1. Teori India (pencetus: Moens & Sastri)
Wangsa Syailendra berasal dari Kalingga di India Selatan, lalu menetap di Palembang pada abad ke-7. Namun, setelah kedatangan Dapunta Hyang dengan pasukan tentaranya, Wangsa Syailendra melarikan diri ke Jawa.
2. Teori Funan/Kamboja (pencetus: George Coedes)
Wangsa Syailendra berasal dari sisa-sisa Kerajaan Funan (pada saat itu ada kerusuhan di Funan). Anggota Kerajaan Funan melarikan diri ke Jawa dan mendirikan Wangsa Syailendra, lalu menjadi raja di Kerajaan Medang.
Kelemahan: ada bukti bahwa Wangsa Syailendra sudah lebih lama bermukim di Sumatra (Palembang) sebelum pindah ke Jawa.
3. Teori Nusantara (pencetus: Purbatjaraka)
Wangsa Syailendra sudah lama menguasai Nusantara (terutama di Jawa dan Sumatra), lalu setelah Sriwijaya mengekspansi kekuasaannya, Syailendra berpindah ke Jawa Tengah.
Dalam teori ini juga disebutkan bahwa Sriwijaya (di bawah Dapunta Hyang) melakukan penyerangan pada Bhumi Jawa, dan menyebarkan kultur terkait dengan penggunaan gelar ‘dapunta’ pada nama Dapunta Syailendra.
(sumber teori ini adalah Carita Parahyangan. Bukti teori ini adalah ditemukannya Prasasti Kedukan Bukit dan Kota Kapur)
Dalam teori ini juga dijelaskan bahwa Wangsa Sanjaya sebenarnya merupakan keturunan dari Syailendra di India Selatan yang menganut Hindu aliran Siwa. Namun, setelah Panamkaram berubah agama menjadi Buddha Mahayana, raja Mataram juga mengikuti.
Sumber: dalam Cerita Parahyangan, Rakai Sanjaya menyuruh anaknya, Rakai Tamperan, untuk berpindah agama dari Hindu Siwa karena agama Hindu Siwa ditakuti oleh banyak orang.
Bukti: perubahan agama dari Hindu Siwa menuju Buddha Mahayana ditulis dalam Prasasti Raja Sankhara.
Lalu dalam Prasasti Canggal, Sanaha melahirkan anak bernama Sanjaya yang kemudian menjadi Raja Sanjaya dan memimpin Wangsa Sanjaya. Sanaha sendiri merupakan keturunan Galuh yang kemudian berkaitan dengan Kerajaan Kalingga.
Bukti Kerajaan
1. Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Jawa Tengah.
Ditulis dalam aksara Kawi dengan bahasa Melayu Kuno (abad 7-8 M). Prasasti ini menceritakan tentang agama Hindu dengan aliran Siwa, juga berisi silsilah Dapunta Syailendra (cikal bakal Wangsa Syailendra): ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, istrinya bernama Sampula.
Isi:
“Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa... dari yang agung Dapunta SelendraSantanu yaitu nama bapaknya, Bhadrawati yaitu nama ibunya, Sampula yaitu nama bininya dari yang agung Selendra.”
2. Prasasti Kalasan
Berupa peninggalan Mataram Kuno yang ditemukan di Kalasan (Sleman).
Prasasti Kalasan menceritakan pembangunan Candi Kalasan untuk Dewi Tara (dari Wangsa Soma, lalu menikah dengan Samaragrawira dari Wangsa Syailendra). Juga Desa Kalasan yang diperuntukkan untuk sanggha (umat Buddha), serta biara di dalamnya untuk pendeta.
3. Prasasti Klurak
Berupa peninggalan dari Mataram Kuno yang ditemukan di Prambanan.
Prasasti Klurak menceritakan tentang pendirian kuil untuk arca Manjusri (dewa meditasi) atas perintah Raja Indra. Kuil yang dimaksud adalah Candi Sewu dalam Kompleks Candi Prambanan.









