Beberapa perjalanan tidak hanya mengajak kaki untuk melangkah, tapi juga hati untuk menahan dan menerima. Menjelang hari-hari besar, ketika agenda mulai padat dan tanggung jawab saling berdatangan, rasanya ujian pun ikut naik kelas. Ada lelah yang tak bisa selalu ditunda. Ada pikiran yang berputar bahkan saat tubuh hanya ingin rebah sejenak.
Namun di tengah hiruk-pikuk itu, selalu ada satu ruang kecil yang ingin dijaga yaitu ruang syukur. Ruang untuk tetap berbisik pelan, “Ya Allah, mampukan…”
Malam itu, di sela kesibukan dan rasa lapar yang menyeruak bersamaan, saya memutuskan berhenti sejenak. Mencari tempat makan sederhana, duduk sendiri, mencoba menenangkan diri. Tepat di seberang meja, seorang pria paruh baya sedang makan bersama keluarganya. Caranya menyendok nasi, senyumnya saat berbincang, semuanya terasa familiar. Terlalu mirip.
Dan tiba-tiba, ada yang sesak. Ada bagian dalam diri yang memanggil kembali satu sosok: pelindung, teman cerita, dan tempat bersandar yang diam-diam selalu saya rindukan. Bapak.
Andai bisa, ingin rasanya beliau ada di sini. Menemani, melihat sejauh mana anak perempuannya telah melangkah. Tapi malam itu, yang bisa saya lakukan hanya diam. Menahan air mata di sela suapan. Mengingat, lalu merindukan dalam sunyi. Sambil berbisik dalam hati: “Pa, saya sudah sampai di titik ini. Doakan ya…”
Rindu, kadang datang dengan cara paling halus sekaligus tajam. Dalam momen-momen kecil yang tak terduga. Dalam suasana makan malam sederhana, yang tiba-tiba terasa penuh kenangan.
Sepanjang jalan pulang, mata masih berkaca-kaca. Hati sedang sangat terbuka. Dan mungkin… memang seperti inilah cara Allah mengingatkan bahwa mereka yang kita cintai, meski telah tiada, tetap hidup dalam setiap langkah yang sedang diperjuangkan.
Untuk setiap rindu yang tak terucap, semoga sampai.
Untuk setiap langkah yang tak terlihat, semoga diberkahi.
Dan untuk setiap momen kecil yang mengaduk hati, semoga menjadi penguat di hari-hari mendatang.