Menjadi "dewasa" rupanya seperti ini ya, di mana pelan-pelan notifikasi grup kelas zaman SMA hanya akan muncul karena tiga kategori kabar.
Pertama, kabar bahagia. Entah itu pernikahan, kelahiran, atau momen-momen yang patut disyukuri.
Kedua, ajakan untuk kembali bertemu dalam sebuah reuni, besar ataupun kecil, sekadar melepas rindu dan mengenang masa-masa sekolah.
Dan ketiga, yang paling membuat hati terdiam: kabar duka.
Bulan Juli ini, bahkan masih dalam minggu yang sama, alumni kelas kami menerima dua kabar duka sekaligus.
Pertama, guru Bahasa Jerman favorit kami.
Kedua, guru Fisika sekaligus wali kelas kami.
Saat masih duduk di bangku sekolah, rasanya guru-guru adalah sosok yang akan selalu ada. Baru ketika usia bertambah, kita menyadari bahwa waktu terus berjalan. Satu per satu orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita berpulang, meninggalkan kenangan, ilmu, dan kebaikan yang semoga terus mengalir pahalanya.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka, melapangkan kuburnya, menerima amal-amal kebaikannya, dan memberikan kesabaran serta keteguhan kepada keluarga yang ditinggalkan.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ.
"Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, berilah keselamatan dan maafkanlah dia. Muliakan tempat singgahnya, lapangkan kuburnya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan embun, serta bersihkanlah dia dari dosa-dosanya sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran."
(Hadist Riwayat Muslim)
Semoga Allah juga menjaga kita yang masih diberi kesempatan hidup agar dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, memperbanyak amal saleh, dan meninggalkan jejak kebaikan yang kelak tetap dikenang setelah kita tiada.












